Seorang gadis bernama Sabrina adelia, dia cewek tomboy, cuek, suka yang gratisan dan juga ringan lidah, namun terkadang juga memiliki lidah pedas jika di usik, mendadak terbangun di dunia novel kerajaan modern. Novel yang dia buat sendiri. Sabrina adalah seorang penulis terkenal, namun ketika dia merilis novel terbaru, banyak para penggemarnya yang marah. Karena kehidupan pemeran utama wanita yang tragis bernama kayana. Dimana pemeran utama wanita yang lemah, di jodohkan oleh pria tokoh utama, pria terkaya dan dingin bernama Pangeran Xavier Maheswara. Namun pangeran xavier telah memiliki kekasih bernama Aruna Lauren, aruna sang figuran yang seharusnya menjadi pelengkap di puja bagaikan tokoh utama wanita.
Sang pemeran utama wanita juga harus menyamar sebagai pria, karena kehidupan yang terancam. Dengan modal otak encer, dan sedikit nekat, dia merubah alur novel yang di buatnya. Hingga menarik perhatian pangeran xavier sang pemeran utama pria dan membuatnya sangat terobsesi dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kayana Menemani Pangeran Xavier Yang Bekerja
Pangeran xavier tanpa banyak bicara menggenggam jemari kayana, dengan wajah dingin sedingin es, dia menuntun masuk kayana melewati barisan petugas keamanan dan pengawalnya yang membungkuk hormat sangat rendah.
Langkah mereka menggema di lobi yang bertiang marmer yang menjulang tinggi. Saat pintu kaca otomatis terbuka, puluhan karyawan serentak berdiri, kemudian membungkuk hormat memberikan salam penghormatan.
Kayana tertegun, takjub dengan perusahaan pangeran xavier yang terlihat megah dan mewah. Kayana tersadar tangannya di genggam pangeran xavier. "Pangeran, lepaskan tangan anda, banyak karyawan anda yang melihat." bisiknya dengan suara pelan.
Pangeran xavier tidak menjawab, dia terus melangkah menuju lift pribadi menuju lantai atas, masih dengan menggenggam tangan kayana. Kayana bingung, tetapi hanya diam.
Hingga pintu lift terbuka, pangeran xavier terus melangkah hingga sampai di sebuah pintu. Pangeran xavier menempelkan kartu aksesnya dan seketika pintu terbuka, kayana langsung terpesona, takjub dengan ruangan yang sangat luas. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, napasnya tertahan oleh udara dingin yang membawa aroma maskulin.
Di tengah ruangan meja kerja dari marmer hitam dengan guratan emas tampak mendominasi, Dinding kaca jendela raksasa yang menampilkan cakrawala kota. Tirai otomatis yang meredupkan cahaya, menciptakan suasana intim dan mengintimidasi.
"Noah, duduklah." Perintahnya dengan nada dingin. Membuat noah akhirnya duduk di sofa kulit berwarna charcoal yang empuk namun kaku, mengelilingi meja kopi rendah yang terbuat dari kristal gelap. Ruangannya menunjukkan penuh kontrol pemilik atas dunianya.
Pangeran xavier berjalan menuju kursi kerjanya. Dia menoleh ke arah kayana, sudut bibirnya terangkat hampir tak terlihat, sebuah senyuman langkah yang hanya di tunjukkan kepada noah sang sopirnya. "Bagaimana noah, ini adalah ruangan ku mengerakkan dunia." Ucapnya dengan nada pelan penuh otoritas dan ketegasan.
Kayana haya tersenyum dengan jantung berdebar karena takut. "Mantap pangeran." Jawabnya dengan nada gugup. Dia menetap wajah pangeran xavier. "Lalu, tugas ku apa?" Tanyanya dengan nada bingung dan penasarannya.
Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuat pangeran xavier urung untuk menjawab. Dia memencet tombol hingga pintu otomatis terbuka.
Hans sang asisten kepercayaan pangeran xavier masuk, dengan membawa seorang pelayan yang membawa makanan dan minuman di nampannya.
"Pangeran xavier, ini makanan yang anda pesan." Ucap hans memberi tahunya.
"Hmm, letakkan di meja." Perintah dingin pangeran xavier.
Pelayan itu langsung menyajikan makanan tersebut, di atas meja yang ada di depan kayana. Mata kayana berbinar melihat makanan dan minuman yang banyak.
Pangeran xavier tersenyum melihatnya. "Hmm, sepertinya kamu sangat berubah, setelah dewasa tambah menggemaskan. Membuat aku tidak akan pernah melepaskan kamu." Batinnya berbisik, senyuman menyeringainya kembali muncul dengan tatapan penuh kilatan obsesi.
Pelayan selesai menyajikan semuanya. "Pangeran, kami pamit." Pamit hans dengan nada sopan dan hormat.
"Hmm." Jawabnya cepat.
Hans pergi bersama pelayan. Pangeran xavier terus menatap kayana. "Makanlah, itu untukmu." Ucap pengeran xavier dengan nada mulai melembut.
Kayana tersenyum tipis. "Oh oke pangeran xavier." Jawabnya dengan nada antusias. "Oh iya pangeran, lalu tugas aku apa?" Tanyanya di sela memakan cokelat.
"Cukup duduk diam." Jawabnya dengan nada santai, lalu menandatangi proposal-proposal yang terlihat menumpuk.
Kayana menatap lekat dan cemberut pangeran xavier. "Memangnya tidak ada tugas yang lain apa?? Masa aku tidak boleh bergerak, hanya duduk diam." Celetuknya terdengar kesal.
Pangeran xavier mengerutkan keningnya. "Noah, kamu boleh bergerak, maksud ku kamu cukup diam saja, tidak perlu mengerjakan apapun. Makan saja makanan yang di sediakan atau mainkan ponselmu." Jawabnya dengan nada lembut.
Kayana menganggukkan kepalanya. Dia sebenarnya mengerti maksud pangeran xavier, hanya dia ingin memastikan, karena aneh, pangeran xavier tiba-tiba memerintah dirinya untuk menemaninya. Kayana langsung bergidik ngeri membayangkan sesuatu. "Tidak mungkinkan, pangeran xavier menyukai sesama jenis." Batinnya bergidik ngeri.
Pangeran xavier yang tahu pemikiran kayana, dia tersenyum kecil. Dia geleng-geleng kepala melihat kelakuan kayana, yang menurutnya sangat menggemaskan. "Noah, jangan berpikir yang tidak-tidak." Ucapnya dengan nada dingin.
Deg..
"Lah, memangnya dia tahu apa yang aku pikirkan ya?? Cenayang kah??" Batinnya bingung.
"Aku masih normal, suka wanita." Sambungnya menatap kayana intens.
Kayana menganggukkan kepalanya. "Iya aku tahu pengaran, buktinya anda punya kekasih si aruna itu kan." Jawabnya dengan santai. "Kalian cocok." Lanjutnya kembali.
Tangan pangeran xavier mengepal. Dia menatap tajam kayana. Kayana bergidik ngeri merasakan aura dingin yang tiba-tiba mencekam di ruangan pangeran xavier.
"Noah, jangan berbicara yang tidak-tidak." Sarkas dengan intonasi yang lumayan tinggi.
Kayana dengan nada santainya hanya mengangguk kepalanya. "Lah, dia marah. kan dia sendiri yang hilang dia sudah memiliki kekasih. Sekarang dia ngegas marah. Apa coba maksudnya." Batinnya dengan nada kesal.
Pangeran xavier meneruskan pekerjaannya kembali.
Sedangkan nathalia sedang berpikir. "Aku membuat novel ini menjadi kerajaan modern. tetapi pangeran xavier disini lebih kaya raya dan kekuasaannya lebih besar. Bapaknya raja, alurnya memang banyak berubah." Batinnya berpikir.
Kayana memakan cemilan, dia mengambil ponselnya. "Hmm, dia menyuruh ku tidak ngapa-ngapain, lebih baik menikmati waktu luang yang diberikannya." Batinnya berbisik. lalu dia memainkan game di ponselnya.
Pangeran xavier yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, sesekali melihat kayana yang sedang asik bermain game.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. "Kayana mulai bosan. Pangeran, aku balik ya?" Tanyanya dengan nada masih santai.
Pangeran xavier langsung menghentikan pekerjaannya. "Kenapa??" Tanyanya dengan nada lembut tetapi masih tetap dingin. Dia bangkit dari duduknya berjalan mendekati kayana, dengan aura dingin yang membekukan menguar dari tubuhnya.
Deg..
"Gila, dia marah kah? Auranya menusuk bangat." Batinnya bergidik ngeri.
Pangeran xavier duduk di samping kayana. Kayana mencoba menggeser sedikit tubuhnya. Namun tangannya di tarik pangeran xavier hingga mereka sangat dekat.
"Mau kemana kamu??" Tanyanya dengan aura sangat dingin.
Kayana tersenyum gugup. "Tidak kemana-mana pangeran, hanya bosan duduk diam saja. Aku ini tipe orang yang tidak bisa diam. Rasanya gatal jika aku berdiam diri." Jawabnya dengan nada santainya.
Pangeran xavier menatap lekat kayana, lalu tersenyum tipis. "Bagian mana yang gatal, biar aku garuk untukmu. biar gatal mu hilang " Jawabnya kembali di luar Nurul.
Deg..
"Wah, ini beneran pangeran xavier setres nih. Ini aku harus jauh-jauh bisa-bisa aku ketularan setres. Wajar sih, kekasihnya saja pulu-pulu. Jadi otaknya terpengaruh oleh aruna si pulu-pulu." Batinnya berbisik ngeri.
Pangeran xavier memegang dagu noah. "Bagian mana noah yang gatal." Ucapnya kembali berbisik lembut.
Mata kayana melotot refleks. "Tubuh ku tidak ada yang gatal pangeran." Jawabnya menggeser kembali duduknya.
Pangeran xavier tersenyum. Membuat kayana tambah bergidik ngeri. Pangeran xavier menarik pinggang kayana. Membuatnya menempel dekat.
Deg..
"Pangeran anda masih normal kan??" Tanya kayana menelan ludahnya.
Pangeran xavier menatap mata kayana yang hitam. "Menurutmu bagaimana noah, aku normal atau tidak?" Jawabnya dengan bertanya balik. Membuat kayana menahan kesalnya. pangeran xavier sengaja menggoda kayana, karena menurutnya kayana sangat lucu dan menggemaskan.
"Tidak tahu." Jawabnya mulai ngegas.
"Bagaimana, jika kamu memeriksa xavier mini ku." Sambungnya lagi.
Kayana refleks memegang kening pengeran xavier. "Tidak panas." Ucapnya dengan nada bingung. "Ini sudah di pastikan anda itu setres alias gila pangeran." Gumamnya kesal.
Pangeran xavier menahan tawanya, melihat wajah kayana yang terlihat sangat marah. Dia menikmati ekspresi itu.
lebih baik hukuman ciuman dripda siksaan...hahahahah🤣🤣
lanjut kak....
langsung di basmi aja lah...hihihu...
smngt terus kak...💪💪