Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Jelita tengah menatap lepas Langit dari balkon kamarnya....
Suasana malam, entah mengapa terasa mencekam malam ini.
Langit tak secerah biasanya.
Awan menutupi keindahan cahaya rembulan, rembulan yang terlihat tengah bermuram durja karna tak mampu menyinari bumi seperti biasa.
Seperti itu lah yang jua tengah jelita rasakan.
Dadanya mendadak sesak tatkala teringat tentang Arlan dan Ariana.
Anak yang selalu bertengkar setiap harinya.
Anak yang tak pernah membuat jelita jengkel meski tingkahnya sering kali menghancurkan sudut rumah.
Anak yang selalu menghadirkan tawa.
Anak yang senantiasa mampu menguatkannya dikala hatinya tengah tertekan.
Anak yang dulunya.....Sama sekali tak pernah di inginkan oleh ayahnya, Chandra.
Jelita terpekur dalam keheningan malam....
"Jangan terlalu keras berfikir.... kita jalani saja apa yang sudah di gariskan. Jangan bersedih... aku akan selalu ada untukmu".
Tangan Radhi begitu hangat melingkar pada perut istrinya.
Jelita mengulas senyum tipis.
Setiap waktu, sentuhan Radhi lah ia rindukan.
Dulu, memang Chandra lah yang mampu merobohkan dinding pertahanan seorang Jelita.
Tapi tidak untuk sekarang.
Radhi.....
Hanya sentuhan Radhi lah yang ia rindukan.
Radhi seperti alkohol yang mampu memabukkan, seperti ekstasi yang mampu menenangkan, seperti ganja yang mampu membuat lupa akan banyak kesedihan, seperti wine terlangka dan paling mahal yang mampu melambungkan jiwa seseorang dengan begitu tinggi.
"Aku merindukan putra putriku, Arlan dan Ariana, mas.
Mengapa Chandra begitu tega memisahkan ku dari anak-anakku?
Bukankah dulu ia tak peduli padaku?
Sekarang dia menginginkanku dan menjadikan Arlan dan Ariana sebagai tawanan.
Dimana otak seorang Chandra Adi Prama?".
Jelita menangis, meraung dalam dekapan suaminya.
Radhi paham akan apa yang di rasakan Jelita, Bagaimana pun, tidak ada seorang pun ibu yang rela di pisahkan dari anaknya.
Hanya orang tak waras lah yang biasa saja ketika di pisahkan dari anak-anaknya.
"Dengarkan aku, cinta......
Kau adalah cinta bagiku...
Kau adalah segalanya bagiku dan anak-anakku....
Tangis mu adalah duka untukku.
Sedih mu adalah luka untukku.
Tawamu adalah bahagia ku.
Senyum mu adalah oksigen bagiku.
Bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu dalam nestapa tak berkesudahan?
Aku akan berusaha semampuku untuk merebut kembali anak-anak kita.
Bahkan bila mereka meminta nyawaku, aku bersedia menukarnya demi kebahagian mu bertemu kembali dengan Arlan dan Ariana.
Sudah....
Jangan bersedih lagi".
Radhi mengusap lembut berulang-ulang ujung kepala istrinya. Begitu pula dengan jelita yang terharu dan merasa nyaman dalam dekapan suaminya.
"Aku mencintaimu, mas....
Sangat, sangat, dan sangat.....
Sepanjang hidupku, aku ingin hanya bersamamu.
Terima kasih.....
Terima kasih atas segala nya...
Kau memungutku dari jalanan saat satu-satunya orang tuaku mengusirku begitu saja.
Kau angkat derajat ku....
Kau junjung tinggi hatiku dengan cintamu.
Terima kasih atas segalanya"
Jelita semakin mengeratkan pelukannya.
Hatinya terlampau bahagia saat ini.
Air mata yang sedari tadi menetes tak terbendung, adalah wujud dari kebahagiaan yang ia rasakan.
Ponsel jelita berdering,
Tertera nama Darrel di sana.
Radhi pun meng-kode istrinya agar mengangkat panggilannya.
Jelita segera berdehem untuk menetralkan suaranya yang sedikit parau.
Ia usap air matanya.
"Hallo, tuan Darrel".
Suara Jelita mengalun merdu di telinga Darrel.
Di seberang sana, Darrel menggigit bibir bawahnya. Betapa ia tergoda akan suara Jelita.
Tidak....
Darrel berpikir tak seharusnya begini...
Liana dan putrinya telah menunggunya.
Darrel berpikir, ia tak boleh menyia-nyiakan waktunya.
Tujuannya menghubungi jelita adalah untuk kekasih dan putrinya.
Darrel harus sadar itu.
"Nyonya jelita....".
"Ya...".
"Mari kita bertemu dan menyusun rencana untuk mengambil putra putrimu. Aku sudah mengumpulkan banyak informasi untuk rencana ini."
"Kau bisa melakukannya?".
Tanya jelita, Radhi yang berada di samping Jelita pun jelas mendengarnya.
"Tentu saja.
Aku telah menyusupkan seseorang ke dalam kediaman Adi Prama. Aku tau kelemahan mereka. Itu bukan hal yang sulit untukku.
Mari bertemu untuk berdiskusi".
"Baiklah.... Tentukan tempatnya dan segera kirimkan pesan padaku".
"Bersiaplah. Kita harus bertemu malam ini juga. Aku tak mau membuang waktu lagi".
"Ya.. Aku akan bersiap".
Ponsel di matikan secara sepihak oleh jelita.
******
Darrel tengah menunggu Jelita di sebuah rumah kosong.
Darrel adalah salah satu orang yang memiliki kewaspadaan yang begitu tinggi.
Ia tak mau bila ada seseorang yang mengetahui percakapannya dengan jelita, mengingat ini adalah hal yang sangat sensitif.
Salah sedikit saja, keselamatan mereka semua terancam.
Suara derap langkah beberapa orang datang mendekat, Darrel menebak, pasti itulah Jelita, saat ia menyingkap sedikit gorden yang menutupi celah kecil di dekat pintu, ia tersenyum.
Asumsinya benar, dialah Jelita.
Wanita pertama yang mampu menjerat Darrel dengan pesonanya setelah Liana pergi meninggalkannya.
Sebelum pintu di ketuk, Darrel membukanya lebih dulu.
Jelita tak sendiri.
Di belakang di sisi kanan dan kirinya,
Radhi dan Arman berdiri tegak melindungi. Dengan mengenakan topi dan masker demi menutupi wajah mereka.
Mereka bertiga, mengenakan setelan pakaian serba hitam.
Darrel tersenyum lembut.
"Pengawal mu?", tanya Darrel.
"Salah satu dari mereka, adalah suamiku".
Darrel mengangguk, ia tidak terkejut lagi.
Jelita telah bersuami dan mematahkan harapanya.
Tidak apa......
Cintanya pada Liana tak berkurang sedikitpun.
Darrel tetap mengharapkan Liana kembali ke sisinya.
"Baiklah....
Kita pada intinya saja.
Aku mau salah satu dari mereka yang bukan suamimu, untuk mendampingiku mengecoh dan membuat kericuhan di kediaman Adi Prama.
Sementara suamimu, selagi mereka lengah, suamimu harus bergerak cepat mengambil Ariana dan melumpuhkan beberapa pengawal andalan tuan Reksa".
"Lalu aku?", Tanya Jelita.
Darrel mengernyitkan keningnya.
"Maksudmu?".
"Katakan apa tugasku".
"Kau bisa bela diri?".
"Bahkan mematahkan kaki dan tanganmu dengan tangan kosong saat ini juga, aku lebih dari sekedar mampu, tuan Darrel".
Jawab Jelita dengan sombongnya.
Keangkuhan dan keanggunannya, kembali menguar dari diri Jelita.
Radhi dan Arman tersenyum menyaksikan ekspresi terkejut Darrel.
"Cih, sombong sekali", tukas Darrel dengan mematik korek untuk menghidupkan rokoknya.
"Matikan rokoknya. Aku tak suka. Bila tidak, aku akan segera pergi dan terkuburlah impianmu untuk bertemu Liana dan putrinya, Callista".
Darrel tertegun sejenak.
"Callista?", Darrel membeo.
"Ya, Callista putrimu.
Gadis cantik yang masih berusia tiga setengah tahun."
Jawab Jelita dengan penuh kemenangan.
'Kau benar-benar mampu mengaduk-aduk emosi seseorang, istriku. Kau benar-benar berbakat melumpuhkan lawan hanya dengan kata-kata saja'.
Batin Radhi gemas.
Tanpa kata, Darrel segera mematikan rokoknya.
"Baiklah....
Kau dan suamimu, bisa mengambil putra putri kalian.
Aku tetap pada tugas awal mengecoh mereka.
Jadi, Yang mana suamimu?".
Tanya Darrel kemudian.
Radhi membuka topi dan maskernya.
"Aku.... Radhi praja Bekti.
Pria yang menjadi saksi mata atas kejahatan yang di lakukan ayah dan ibu tiri mu terhadap Liana yang tengah mengandung empat tahun silam, tuan Darrel".
Sekali lagi, Darrel tertegun mendapati seorang Radhi. Radhi yang sama saat ia hampir di bunuh seseorang empat tahun lalu.
🍁🌺🍁