NovelToon NovelToon
SILENCE OF JUSTICE

SILENCE OF JUSTICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Karir / Duniahiburan / Bullying di Tempat Kerja / Cinta Murni / Balas Dendam
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Black _Pen2024

"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "

Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.

Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Kontrak Pertama

Getaran ponsel itu dingin, membekas di tangan Meylie, seolah bukan sekadar notifikasi, melainkan cap kematian yang baru saja disematkan. Foto dirinya di apartemen Yu, memegang buku catatan kulit tua, adalah bukti tak terbantahkan. Mereka tahu. Mereka melihatnya. Ancaman yang menyertainya—“Lupakan. Atau kau akan menyusulnya, tanpa meninggalkan jejak yang lebih baik.”—terngiang di benaknya, tajam dan mematikan. Darahnya mengering, namun di tengah ketakutan yang menusuk itu, bara api di dalam dirinya menyala lebih terang. Ini bukan lagi perburuan rahasia. Ini adalah perang terbuka.

Meylie mengemudi mobil sewaan itu dengan kecepatan sedang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia tidak kembali ke motel. Tidak ada tempat yang aman sekarang. Ia harus terus bergerak. Otaknya bekerja cepat, memproses setiap detail. Kamera tersembunyi itu. Betapa profesionalnya mereka. Mereka tidak hanya mengawasinya dari jauh, mereka telah menyusup ke apartemen Yu bahkan sebelum ia tiba, atau memiliki akses ke sistem pengawasan yang canggih.

Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering lagi. Nomor tak dikenal. Meylie ragu sejenak, lalu mengangkatnya. Keheningan di seberang sana, hanya desisan samar.

"Halo?" Meylie mencoba menjaga suaranya tetap stabil.

Kemudian, sebuah suara. Terdistorsi secara elektronik, dalam dan serak, menghilangkan jejak identitas. Suara itu terasa seperti bisikan dari neraka.

"Nona Ling," suara itu berkata, tanpa emosi. "Kau bermain api. Api yang akan membakar habis dirimu."

Meylie mencengkeram ponselnya erat-erat. "Siapa ini?"

"Kau tahu siapa kami," jawab suara itu, dengan nada mengejek. "Kami adalah tangan tak terlihat yang menggerakkan dunia ini. Dan kau, hanyalah semut kecil yang mencoba menggigit gajah."

"Apa yang kalian inginkan?"

"Kau tahu apa yang kami inginkan. Buku itu. Dokumen Yu. Kembalikan. Lupakan semua yang kau lihat. Lupakan semua yang kau dengar. Hiduplah. Atau kau akan berakhir seperti kekasihmu. Lebih buruk."

Kata-kata "lebih buruk" itu menusuk telinga Meylie. Ia teringat video penyiksaan Yu, adegan brutal yang tak terlukiskan. Mereka tidak hanya mengancamnya dengan kematian, tetapi dengan penghinaan dan penderitaan yang sama.

"Aku tidak akan melupakan," Meylie membalas, suaranya kini lebih tegas, menekan rasa takutnya. "Aku tidak akan menyerah."

Tawa rendah, dingin, dan elektronik terdengar di seberang sana. "Bodoh. Cinta buta memang selalu berujung pada kehancuran. Kami memberimu kesempatan. Jangan sesali pilihanmu."

Panggilan itu terputus.

Meylie melemparkan ponselnya ke jok penumpang. Paranoia mulai menggerogoti. Setiap mobil yang lewat, setiap bayangan yang melintas, terasa seperti ancaman. Ia merasa ada mata yang mengawasinya dari setiap sudut, dari setiap celah. Ia mengubah rute, berbelok tajam di persimpangan yang tak terduga, melaju melewati jalan-jalan kecil yang jarang dilewati. Ia harus memastikan tidak ada yang membuntutinya.

Namun, ancaman verbal itu hanyalah permulaan.

Keesokan harinya, Meylie memutuskan untuk mencoba kembali ke rutinitasnya, setidaknya di permukaan. Ia pergi ke pasar tradisional yang ramai, berharap keramaian akan memberinya perlindungan dan kesempatan untuk mengamati. Ia mengenakan topi lebar dan kacamata hitam, mencoba menyatu dengan kerumunan. Ia berpura-pura mencari bahan makanan, matanya terus-menerus memindai sekeliling.

Awalnya, semua tampak normal. Bau rempah-rempah, suara tawar-menawar, hiruk pikuk kehidupan kota. Meylie mulai merasa sedikit lega. Mungkin mereka hanya mencoba menakutinya.

Lalu, ia melihatnya. Seorang pria berjas hitam, berdiri di dekat kios buah, terlalu rapi untuk suasana pasar. Pria itu tidak membeli apa-apa, hanya berdiri diam, matanya menyapu kerumunan dengan tatapan yang terlalu tajam. Ketika Meylie bergerak ke arah kios ikan, pria itu ikut bergerak, perlahan, menjaga jarak yang sama.

Jantung Meylie berdebar. Ia sengaja menjatuhkan sebuah jeruk, lalu membungkuk untuk mengambilnya. Saat ia membungkuk, ia melirik ke bawah, ke sepatu pria itu. Sepatu kulit hitam mengilap, mahal, tidak cocok untuk pasar. Dan di pergelangan kakinya, ada tonjolan samar yang menunjukkan adanya alat komunikasi tersembunyi.

"Mereka ada di sini," Meylie berbisik dalam hati.

Ia mempercepat langkahnya, menyusup ke lorong-lorong sempit di antara kios-kios, berharap bisa menghilang dalam keramaian. Namun, ketika ia keluar di sisi lain, ia melihat pria berjas lain, berdiri di dekat tukang daging, juga terlalu rapi, juga terlalu diam. Ia tidak melihat Meylie secara langsung, tetapi tatapannya menyapu area itu dengan pola yang terkoordinasi.

Jaringan pengawasan itu sangat profesional. Mereka tidak berteriak, tidak menunjukkan diri secara terbuka, tetapi mereka memastikan ia menyadari keberadaan mereka. Ini adalah permainan psikologis, mencoba menggerogoti kewarasannya, membuatnya merasa terpojok.

Meylie membeli beberapa barang secara acak, mencoba terlihat normal. Tangannya sedikit gemetar saat ia membayar. Ia merasakan tekanan konstan, seperti jaring tak terlihat yang perlahan-lahan mengencang di sekelilingnya.

Dari pasar, ia pergi ke sebuah kafe kecil di pusat kota, tempat ia sering menghabiskan waktu untuk membaca dan merencanakan. Ia memesan kopi, membuka laptopnya, berpura-pura bekerja. Di layar, ia sebenarnya sedang mencoba mencari cara untuk mendekripsi buku catatan Yu, namun pikirannya terpecah.

Ia melihat ke sekeliling kafe. Seorang wanita muda dengan kacamata hitam besar, membaca buku yang tampak terlalu tebal. Seorang pria tua di sudut, sibuk dengan korannya. Semuanya tampak normal.

Namun, ketika Meylie bangkit untuk mengambil gula, ia melihat wanita muda itu mengangkat kepalanya sedikit, matanya yang tersembunyi di balik kacamata melirik sekilas ke arahnya. Dan ketika ia kembali ke mejanya, pria tua di sudut itu sedang melipat korannya, dan di pergelangan tangannya, terlihat sebuah jam tangan digital yang tampak sangat canggih, bukan jam tangan biasa yang dipakai orang tua.

Fei merasakan giginya gemeretak. Mereka ada di mana-mana. Mereka tidak hanya mengawasinya di jalan, tetapi juga di tempat-tempat umum yang ia kunjungi. Ini adalah tekanan konstan yang dirancang untuk mematahkan semangatnya, untuk membuatnya menyerah.

Paranoia mulai menggerogotinya. Setiap suara, setiap gerakan, setiap tatapan, terasa seperti ancaman. Tidurnya terganggu oleh mimpi buruk tentang Yu yang disiksa, dan bayangan-bayangan agen yang mengawasinya. Ia tidak bisa lagi merasa aman di mana pun. Ia terus-menerus mengubah lokasi persembunyiannya, berpindah dari motel satu ke motel lain, menggunakan nama samaran yang berbeda setiap kali. Ia bahkan mulai mengubah penampilannya sedikit, memakai wig, berganti gaya pakaian.

Namun, di tengah semua ini, Xiao Fei yang telah bertransformasi menjadi Meylie/Ling, tidak menyerah. Ia dipaksa untuk terus bergerak, untuk terus beradaptasi. Konflik psikologis ini, alih-alih menghancurkannya, justru mulai mengasah instingnya.

Ia mulai menganalisis pola pengawasan musuhnya. Mereka bekerja dalam tim. Setidaknya dua atau tiga orang. Mereka menjaga jarak, tidak pernah terlalu dekat, tidak pernah terlalu jauh. Mereka menggunakan alat komunikasi tersembunyi. Mereka tidak ingin menarik perhatian publik, tetapi mereka ingin Meylie tahu bahwa ia sedang diawasi. Ini adalah bentuk intimidasi.

"Mereka ingin aku takut," Meylie bergumam pada dirinya sendiri suatu malam di kamar motel baru. "Mereka ingin aku menyerah."

Tapi ia tidak akan.

Ia mulai mencari titik lemah dalam sistem mereka. Bagaimana mereka berganti shift? Apakah ada celah dalam pengawasan mereka? Apakah ada pola dalam cara mereka mengikutinya? Ia sengaja melakukan hal-hal yang tidak terduga—berbelok mendadak, berhenti tiba-tiba, masuk ke toko lalu keluar lagi dari pintu belakang—hanya untuk menguji reaksi mereka.

Ia menemukan bahwa mereka sangat efisien di area terbuka, tetapi sedikit kesulitan di tempat-tempat yang sangat ramai atau di dalam bangunan dengan banyak pintu keluar. Mereka juga tampak enggan untuk berinteraksi langsung, lebih memilih untuk mengamati dari jauh. Ini adalah petunjuk. Mereka tidak ingin menimbulkan keributan. Mereka ingin Meylie menghilang secara diam-diam, seperti Yu.

Tekanan konstan ini, meskipun melelahkan, justru memperkuat tekad Meylie. Ia tidak akan menjadi korban pasif. Ia akan menjadi pemburu yang lebih cerdas. Ia mulai merancang rencana balasan, tidak untuk menyerang mereka secara langsung, tetapi untuk menunjukkan bahwa ia bukan target yang mudah. Ia harus mengirimkan pesan.

Suatu malam, Meylie sedang berkendara di jalan sepi di pinggiran kota, setelah menghabiskan berjam-jam mencoba mendekripsi beberapa kode awal di buku catatan Yu. Pikirannya masih sibuk dengan deretan angka dan simbol. Jalan itu gelap gulita, hanya diterangi oleh lampu depan mobilnya.

Tiba-tiba, ia melihatnya di kaca spion. Sebuah mobil hitam pekat, tanpa lampu menyala, melaju di belakangnya. Tidak ada plat nomor yang terlihat jelas. Mobil itu menjaga jarak, namun Meylie bisa merasakan niat jahat yang terpancar dari keberadaannya. Ini bukan lagi pengawasan pasif. Ini adalah pengejaran.

Jantungnya berdebar kencang. Naluri pertamanya adalah menginjak gas dan melarikan diri. Namun, ia teringat pelajaran bela dirinya, teringat tekadnya untuk tidak menjadi korban. Ia harus menunjukkan perlawanan.

Meylie menarik napas dalam-dalam. Ia melihat ke depan. Jalan itu lurus dan sepi. Tidak ada tikungan tajam atau bangunan untuk bersembunyi. Jika ia melarikan diri, mereka mungkin akan mengejarnya sampai ia terpojok.

Ia membuat keputusan dalam sepersekian detik. Sebuah keputusan yang berisiko, namun berpotensi mengirimkan pesan yang kuat.

Dengan gerakan cepat dan mantap, Meylie menginjak rem, lalu dengan segera memutar kemudi, mengaktifkan rem tangan, dan membalikkan mobilnya 180 derajat. Ban-ban berdecit keras, asap mengepul dari aspal. Mobilnya kini berhadapan langsung dengan mobil hitam pekat itu, lampu depannya menyorot tajam ke arah mereka.

Mobil hitam pekat itu terkejut. Mereka tidak mengantisipasi manuver semacam itu. Mereka menginjak rem mendadak, menyebabkan ban-ban mereka juga berdecit. Jarak antara kedua mobil hanya beberapa meter.

Meylie menatap ke depan, matanya tajam. Di balik kaca depan mobil hitam itu, ia bisa melihat siluet dua pria. Mereka tampak terkejut, panik. Mereka tidak mengharapkan perlawanan yang tak terduga ini.

Alih-alih melarikan diri, Meylie menekan pedal gas sedikit, membuat mobilnya maju perlahan, seolah akan menabrak mereka. Ini adalah gertakan.

Para agen itu, yang terbiasa dengan target yang takut dan melarikan diri, jelas tidak siap untuk ini. Mereka tidak ingin konfrontasi langsung di jalan umum yang, meskipun sepi, bisa saja dilihat oleh siapa pun yang lewat. Mereka tidak ingin menarik perhatian.

Dengan cepat, mobil hitam pekat itu menginjak gas, membalikkan mobil mereka dan melaju mundur dengan kecepatan tinggi, menghilang ke dalam kegelapan jalan.

Meylie menyaksikan mereka pergi, napasnya terengah-engah. Adrenalin memompa kencang. Ia berhasil. Ia telah memaksa mereka mundur. Ia telah menunjukkan bahwa ia bukan mangsa yang mudah.

Ia memutar mobilnya kembali ke arah semula, melanjutkan perjalanannya. Buku catatan Yu tergeletak di jok penumpang, kini terasa lebih berat, lebih berharga. Ancaman itu nyata, pengawasan itu nyata, tetapi tekadnya kini jauh lebih kuat.

Meylie tersenyum tipis, senyum yang dingin namun penuh kemenangan. Mereka ingin menggerogoti kewarasannya? Mereka ingin membuatnya menyerah? Tidak akan. Ia telah belajar menganalisis pola mereka, dan ia telah menemukan titik lemah mereka: keengganan untuk konfrontasi langsung yang dapat menarik perhatian.

Pertarungan psikologis itu telah berakhir dengan kemenangan kecil di pihaknya. Kini, ia siap untuk menghadapi apa pun yang akan mereka lemparkan kepadanya. Ia adalah Ling, dan ia tidak akan berhenti sampai keadilan untuk Yu terpenuhi.

1
Ita Xiaomi
Menegangkan. Kasihan Yu😢
Ita Xiaomi: Berharap keadilan bs ditegakkan.
total 2 replies
Ita Xiaomi
Saat ini hanya Fei sendirian yg menolak utk percaya pd berita yg tersebar.
Ita Xiaomi: Sama-sama kk. Semangat berkarya. Berkah&Sukses selalu.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!