NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Warisan

Misteri Rumah Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Vhinaa

"tolong....."

"tolong kami..."

"lepaskan rantai inii..."

"toloongg!!!!"


Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.

Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?

yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19.mendapat senjata

Keesokan paginya, Nadira, Elsa Aksara dan Rehan sudah siap dengan semua keperluan mendaki. walaupun niatnya hanya sehari, namun peralatan mereka lengkap termasuk tenda. Untuk jaga-jaga jika situasi tidak memungkinkan.

"Semua udah siap kan? nggak ada yang terlewat?" tanya Aksara

"udah nih tinggal berangkat aja" ucap Nadira

"semangat sekali kalian ya masih pagi udah siap semua" ucap Ki Satya terkekeh melihat mereka berempat

"pastilah Ki, ini pendakian pertama kali pasti seru" ucap Elsa berbinar

"Baiklah, kita jalan sekarang. Yanto sudah menunggu dengan Jeep kesayangannya" ucap Ki Satya

"loh aki nggak bawa apa-apa?" tanya Rehan yang melihat Ki Satya hanya mengenakan kaos lengan panjang dan celana model kargo.

"haisshh ini kuncen gunung Kawi Lee" Ki Satya menepuk dadanya dengan wajah yang terkesan sombong namun mampu membuat mereka tertawa

"pelan-pelan loh Ki jalannya, nanti kesleo" celetuk Elsa

"kamu kira saya ini terlalu Lansia? Lihat ini masih gagah kan nah ini" Ki Satya menunjukkan otot lengannya dan membusungkan dada agar terlihat gagah

kreekk

"adoooiii!!" Ki satya berteriak ketika pinggangnya mengeluarkan suara ketika ia ingin memutar tubuhnya ala atletis

"hahahaha tuhkan Aki, baru juga dibilangin" Elsa tertawa puas

"heh Nggak boleh ngetawain orang tua Sa!" tegur Nadira yang merasa tak enak kepada Ki Satya

"nggak apa-apa, toh dia nanti juga tua" balas Ki Satya

"saya nanti orang tua gen z Ki, bisalah nyari solusi biar tulang tetap kuat nggak gampang kretek kretek" Elsa cekikikan sendiri dengan perkataannya

"Yang namanya tulang tua mau digimanakan pun tetap rapuh, karena mendekati kadaluwarsa " ucap Ki Satya

"kok kadaluwarsa Ki?" tanya Rehan

"lah Udah bau tanah kok hahaha" mereka berempat tertawa sambil geleng-geleng kepala

"nah ini, dia si Yanto Margundi!" Sapa Ki Satya ke arah pria yang seumuran dengannya sendiri.

"heh sembarangan aja? Yanto Marzuki lah!" dengus orang yang bernama pak Yanto

"oohh udah ganti bearti" jawab Ki Satya santai

"mana ada ganti! Dari lahir ceprot masih oek oek juga nama ku Yanto Marzuki!" orang itu kesal karena namanya sering di ubah-ubah oleh Ki Satya

"gitu aja marah Yan Yan" Ki Satya melewati temannya yang nampak kesal itu

"ini jeep siapa Pak?" tanya Aksara

"Jeep saya sendiri lah" ucap pak Yanto dengan bangga

"waahh kereenn" Sorak Aksara dan Rehan

"iya keren kreditnya seumur hidup" celetuk Ki Satya yang sudah duduk duluan dikursi depan

"heh gini-gini juga berguna" jawab pak Yanto

"sudah-sudah lebih baik kita berangkat sekarang, ngejar waktu nanti jam 5 harus sudah sampai di pos 1" ucap Ki Satya

Mereka akhirnya berenam, pak Yanto menemani Ki Satya memandu mereka berempat. biasanya jika ada pendaki yang ingin naik, pak Yanto memang selalu ikut memandu. karena ia yang punya segala sesuatu yang diperlukan jika terjadi hal yang tak di inginkan.

"pendaki kali ini istimewa loh Yan" ucap Ki Satya

"maksudnya?" tanya pak Yanto

"nanti kamu juga bakal tahu, dan terkejut asal jangan jantungan aja di puncak. Repot kami mau gotongi kamu" lagi-lagi Ki Satya membuat pak Yanto kesal.

Ki Satya memang sangat humoris, apalagi dengan yang dekat dengan keluarganya. Namun ia juga bisa jadi sosok yang tegas dan disegani penduduk desa karena wibawanya serta kepahaman Ki Satya dalam hal-hal ghaib.

dulunya Ki Satya dan Kiyai Syafiq merupakan Santri dari salah satu pondok pesantren. Mereka di bekali ilmu agama dan juga ilmu Kanuragan.

"Apa saat ini tidak ada pendaki Ki?" tanya Nadira

"jika saat ini tidak ada karena sengaja saya tutup khusus untuk kalian, agar tidak ada yang melihat dan mengetahui tentang senjata itu" Jawab Ki Satya

"loh itu pak Yanto tau Ki?" tanya Rehan

"alaahhh Yanto mah udah tau duluan dari dia baru lahir" ucap Ki Satya

"bayi aja yang baru lahir belum bisa lihat Dengan jelas" gumam Elsa

.

Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan dan tanpa membuang waktu. mereka langsung mendaki hingga pukul 14.05 menit, mereka sudah sampai di puncak kawinajang.

"memang sangat pantas pos 4 di beri nama tanjakan istigfar hah hah" ucap Nadira ngos-ngosan

"bener banget rasanya pengen pingsan" ucap Elsa.

"buktinya kamu nggak pingsan" ledek Rehan

"heh kamu! Kalo aku pingsan emangnya kamu mau Gendong sampe puncak?" tanya Elsa sambil berkacak pinggang

"males lah, kalo pingsan beneran ya langsung aja gelundungi kebawah. simpel kan" jawab Rehan santai

"wah bener-bener nih bocah sableng" gumam Elsa

Nadira dan Aksara hanya tersenyum melihat perdebatan kedua temannya. sekarang mereka seperti kucing dan tikus. akan ada saja bahan untuk perdebatan

"sudah, sekarang waktunya kalian bersemedi di atas batu itu sebelum itu berwudhu dulu" tunjuk Ki Satya ke batu yang mirip seperti kursi bulat walaupun tidak rata namun bisa diduduki satu orang

"baik Ki" jawab mereka serempak

Nadira, Elsa, Aksara dan Rehan menduduki batu dengan posisi bersila dengan menutup kedua mata. Ki Satya memandu mereka agar tetap tenang dan fokus.

"konsentrasi penuh, abaikan segala sesuatu yang membuat kalian penasaran"

"jangan buka mata kalian sebelum saya perintahkan"

"senjata itu akan memilih kalian dan nantinya senjata itulah yang menentukan, siapa pelindung darah pilihan dan siapa sayap-sayap pelindung" ucap Ki Satya

awalnya keadaan masih biasa dan tenang. Namun, perlahan langit mulai mendung dengan awan-awan hitam menyelimuti puncak gunung kawinajang. suara petir bergemuruh seakan hujan lebat akan melanda. angin kencang menerpa tubuh mereka. namun mereka tetap tegak dan teguh pada posisiny

"waduhh kok ngeri gini ya" pak Yanto berpegangan pada sebuah pohon besar dengan menatap langit

"kayak mau badai ini ya Allah lindungilah kami" pak Yanto tak henti-hentinya memanjatkan do'a

Sebenernya ia Merasa penasaran walaupun sudah tau tentang senjata itu. Tapi tidak menyangka jika akan ada suasana mencekam seperti ini.

Entah darimana datangnya, empat cahaya mengelilingi tubuh Nadira dan ketiga temannya itu

ada dua cahaya biru yang mengelilingi Nadira dan Rehan

"memang benar dia" gumam Ki Satya

Cahaya biru itu perlahan berubah menjadi sebuah pedang putih berukiran naga

sedangkan Aksara dan Elsa dikelilingi oleh cahaya yang berbeda

Aksara dikelilingi cahaya merah menyala dan Elsa dikelilingi cahaya ungu

"bagaimana bisa Aksara merah? Bukankah dulu hijau? kenapa ini merah?" Ki Satya terkejut karena melihat cahaya dari Aksara. Saat pertama kali bertemu ia sudah melihat jika cahaya tubuh Aksara hijau.

"Ki, kok ada warna merah?" tanya pak Yanto

"aku juga tidak tahu, tapi ini bahaya!" ucap Ki satya

"bahaya gimana?" tanya Ki Satya

"dia- dia akan menjadi pelindung sekaligus kehancuran bagi orang yang dilindunginya" ucap Ki Satya lirih

"bagaimana bisa pelindung malah menghancurkan Ki?" tanya pak Yanto yang masih tak mengerti

"ketika mereka berhasil mengalah kolonyowo, maka ia juga akan kehilangan kendali atas dirinya. Dan yang menjadi wadah ternyata dia"

Deg

seseorang tertegun mendengar perkataan Ki Satya. Hanya dia yang mendengar dan tak percaya jika semua ini akan terjadi.

Namun, ia tetap harus menyelesaikan semuanya walaupun nanti akan pahit di akhir. Yang terpenting adalah mengalahkan kolonyowo

"bukalah mata kalian dan lihat senjata kalian masing-masing" perintah Ki Satya

mereka berempat membuka mata dan saling terkejut. Terkejut karena melihat reinkarnasi dari Sekar dan pandu Matanya berubah menjadi biru.

Nadira berambut kuning keemasan dengan mata biru yang mempesona. Begitu juga dengan Rehan yang memilki mata biru laut

"hah? Mata..- mata kalian?!"

ini Nadira versi sekar yaa, maaf kalo nggak sesuai dengan imajinasi kalian. Boleh rekomendasikan yang lebih bagus nanti saya terima dan ganti

Ini Rehan versi Pandu ya.

Nanti visual yang versi Nadira, Elsa Aksara dan Rehan versi kini bakal Othor up lagi di bab selanjutnya

1
Rahmah Dani
lanjut
Rahmah Dani
Ceritanya bagus
Elvi Lusiana: Wah😄🙏
total 1 replies
Rachel.9
🤍🤍🤍🤍🤍
Elvi Lusiana: Makasih sudah mampir😍
total 1 replies
Elvi Lusiana
maksih kakk author hebat😍
Kang Hajun
Semangat thor
Elvi Lusiana: maksih kakak author hebat🤩
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!