Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Napas mereka perlahan mulai teratur kembali di dalam keheningan ruangan rahasia yang sejuk itu.
Swari menyandarkan kepalanya di bantal, wajahnya masih merona dengan keringat tipis yang membasahi keningnya.
Sambil mencoba mengatur napas yang tersisa, ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan jenaka namun lelah.
"Kamu nakal sekali, Bas..." ucap Swari dengan suara serak yang seksi.
"Kita masih di kantor, dan kamu benar-benar tidak bisa menunggu sampai pulang?"
Baskara terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat puas.
Ia bergeser mendekat, lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang, melingkarkan lengan kokohnya di perut Swari dan menariknya hingga punggung wanita itu menempel sempurna di dada bidangnya.
Ia mencium bahu Swari yang polos dengan lembut.
"Salahkan dirimu sendiri yang tampil terlalu memukau saat presentasi tadi," bisik Baskara sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai suami yang sangat mengagumi istrinya."
Swari mengusap tangan Baskara yang melingkari tubuhnya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh sarafnya.
Rasa lelah karena terapi berbulan-bulan dan kerja keras untuk Proyek Mahameru seolah terbayar tuntas dengan kedamaian yang ia rasakan saat ini.
"Sudah, jangan mulai lagi," protes Swari pelan saat merasakan Baskara kembali menciumi lehernya.
"Perutku sudah lapar. Tenagaku habis gara-gara 'rapat pribadi' versi kamu."
Baskara tertawa lagi, lalu mengecup pipi Swari dengan gemas sebelum melepaskan pelukannya untuk beranjak.
"Setelah ini kita cari makan siang. Aku tahu tempat soto ayam yang tidak kalah enak dari buatan Mbak Ratri, atau kamu mau pasta? Aku akan turuti apa pun keinginan ratuku hari ini."
Swari tersenyum manis, mulai memunguti pakaiannya yang berserakan.
"Apa pun, Bas. Asalkan makannya bersamamu."
Di balik tembok kantor yang dingin dan kaku, mereka telah menemukan kehangatan yang abadi.
Perjalanan dari ambang maut menuju kebahagiaan ini akhirnya mencapai puncaknya, membawa mereka pada babak baru kehidupan yang penuh cinta dan harapan.
Setelah merapikan diri di dalam ruangan rahasia, Swari dan Baskara kembali ke ruang kerja utama dengan penampilan yang kembali profesional, seolah tidak terjadi badai gairah beberapa saat lalu.
Swari duduk dengan anggun di kursi kerjanya, membuka kembali tablet yang berisi jadwal peluncuran proyek.
"Bas, tinggal dua hari lagi kita membuka proyek Mahameru dan beberapa tim sudah disiapkan di lokasi," ucap Swari serius, matanya fokus menatap data teknis.
"Tim keamanan Mas Navy sudah melakukan simulasi terakhir, dan tim marketing sudah memastikan semua undangan VVIP terkonfirmasi."
Baskara berjalan mendekat, berdiri di belakang kursi Swari dan meletakkan kedua tangannya di bahu istrinya, memberikan pijatan ringan untuk meredakan ketegangan Swari.
"Aku tahu, Sayang. Kamu sudah bekerja sangat keras untuk ini. Tim kita adalah yang terbaik, dan dengan kamu sebagai pemimpinnya, aku sama sekali tidak ragu," sahut Baskara dengan suara rendah yang menenangkan.
Swari mendongak, menatap wajah suaminya melalui pantulan kaca jendela besar di depan mereka.
"Aku hanya ingin semuanya sempurna, Bas. Mahameru adalah bukti bahwa kita bisa bangkit dari kehancuran. Ini bukan sekadar proyek bisnis bagiku, tapi simbol kehidupan baru kita."
Baskara membungkuk, mencium puncak kepala Swari.
"Dan itu akan menjadi pembukaan yang luar biasa. Setelah pita itu dipotong dan semua urusan di sini stabil, ingat janji kita. Kita akan meninggalkan semua kebisingan ini dan terbang ke Paris. Hanya aku, kamu, dan anak-anak."
Swari tersenyum lebar, rasa lelahnya seolah menguap begitu saja.
"Janji ya? Jangan ada rapat mendadak atau telepon dari Navy saat kita di bawah menara Eiffel."
"Aku janji, Nyonya Surya. Bahkan aku akan mematikan ponselku jika perlu," jawab Baskara mantap.
Baskara dan Swari melangkah keluar dari lift menuju restoran di lantai bawah kantor.
Begitu masuk, suasana hangat langsung menyapa.
Di salah satu meja sudut yang menghadap ke taman vertikal, terlihat Navy dan Ratri yang ternyata juga sedang menikmati makan siang mereka.
"Wah, sepertinya kita satu frekuensi hari ini," sapa Baskara sambil menarik kursi untuk Swari di meja yang sama.
Ratri mendongak dan tertawa. "Kebetulan sekali. Navy tadi sedang lapar berat setelah mengurus logistik Mahameru, jadi aku menemaninya ke sini."
Pelayan datang membawa menu, namun mata Swari justru tidak berkedip menatap piring di depan kakaknya.
Di sana, tersaji gado-gado dengan bumbu kacang yang kental, kerupuk udang yang melimpah, dan sayuran segar yang tampak sangat menggoda selera.
"Mbak, gado-gadonya sepertinya enak sekali," gumam Swari yang mulai tergoda.
Ia mengabaikan menu steak dan pasta mahal yang ada di tangannya.
Ratri yang sadar adiknya sedang "ngidam" makanan tradisional itu langsung menyodorkan piringnya.
"Baru mau aku makan, Swa. Ambil saja, Mbak bisa pesan lagi."
"Boleh?" Swari tanpa ragu langsung mencicipi satu suapan besar.
"Hmm... ini dia! Padahal tadi aku bilang ingin soto, tapi lihat ini aku jadi berubah pikiran."
Baskara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.
"Baru saja tadi di atas dia sangat berwibawa sebagai pimpinan proyek, sekarang dia sudah berebut gado-gado dengan kakaknya," goda Baskara yang disambut tawa oleh Navy.
Navy ikut menimpali sambil menyeruput es tehnya,
"Nyonya Swari memang selalu punya kejutan, Tuan. Tapi tenang saja, tim sudah saya instruksikan untuk menjaga stamina. Dua hari lagi, kita akan membuat sejarah dengan Mahameru."
Makan siang itu penuh dengan tawa dan obrolan ringan.
Di balik kesuksesan besar yang menanti, momen sederhana seperti berbagi gado-gado inilah yang membuat Swari merasa hidupnya benar-benar telah utuh kembali. Tidak ada lagi ketakutan, hanya ada keluarga dan sahabat yang selalu mendukungnya.
Setelah menghabiskan piring gado-gado milik Ratri, Swari ternyata belum puas.
Ia memanggil pelayan dengan antusias dan memesan hidangan penutup yang sangat spesifik.
"Satu porsi es putar coklat, tapi tolong ya, jangan pakai kacang sama sekali. Tambah coklat cairnya sedikit," ujar Swari dengan mata berbinar.
Baskara, Navy, dan Ratri serentak menggelengkan kepala mereka.
Mereka hanya bisa terheran-heran melihat nafsu makan Swari yang tiba-tiba melonjak drastis. Mengingat beberapa jam lalu ia baru saja menghabiskan soto ayam dan porsi gado-gado yang cukup besar, pesanan es putar itu terasa seperti "puncak" dari sesi makan siangnya yang luar biasa.
"Swa, kamu yakin masih muat? Tadi soto, lalu gado-gado Mbak Ratri, sekarang es putar?" tanya Baskara sambil menatap perut istrinya yang masih tampak langsing itu dengan bingung.
Swari mendengus kecil sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
"Aku lapar, Bas! Lagipula, menguras otak untuk presentasi tadi itu butuh kalori banyak, tahu," bela Swari dengan nada manja yang tidak bisa dibantah.
Ratri terkekeh sambil mengusap lengan adiknya. "Biarkan saja, Bas. Mungkin ini efek dia baru bangun dari tidur panjangnya selama dua bulan. Dia ingin menebus semua makanan yang hilang selama pakai selang ventilator dulu."
Navy hanya bisa tersenyum sopan sambil mencatat beberapa poin di ponselnya, tidak berani berkomentar soal selera makan bosnya.
"Sepertinya stamina Nyonya Swari sudah pulih 100% untuk peresmian lusa. Kalau sudah bisa makan es putar coklat tanpa kacang, berarti moodnya sudah sangat baik."
Begitu es putar pesanannya datang, Swari langsung menikmatinya dengan lahap, mengabaikan tatapan takjub dari tiga orang di depannya.
Di meja makan itu, kebahagiaan terasa begitu sederhana—hanya berupa mangkuk es coklat dan tawa hangat orang-orang tercinta sebelum mereka menghadapi kesibukan besar Proyek Mahameru dan perjalanan romantis ke Paris.
eh skrg muncul lagi mantan kakak ipar swari
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor