NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGHASUT

Farid mendudukkan tubuhnya di sofa begitu tiba di rumah ibunya. Sepulang kerja, Bu Neni memang memintanya untuk mampir karena ada hal penting yang ingin dibicarakan.

“Ada apa, Bu?” Tanyanya, suaranya terdengar sedikit lelah.

Bu Neni tersenyum tipis lalu duduk di seberangnya. Tangannya bermain dengan ujung kerudungnya, pertanda ada sesuatu yang berat di kepalanya. “Em… Farid, ada yang Ibu mau bicarakan. Ini soal adikmu.”

Farid diam, menunggu kelanjutannya dengan raut wajah datar.

“Jadi… ada anak temen Ibu. Dia sudah jadi, sekarang tugas di luar kota. Nah, dia bilang bisa bantu lulusin Risky. Tapi dia minta… lima puluh juta.”

Farid langsung menoleh. “Lima puluh juta?”

Bu Neni cepat-cepat mengangguk. “Iya, katanya buat jaminan kelulusan. Ibu tahu ini memang nggak murah, tapi zaman sekarang nggak ada yang gratisan, Farid. Semua teman Risky juga katanya pakai orang dalam.”

Farid menghela napas, tangannya memijat pelipis. “Kenapa nggak coba lewat tes resmi dulu aja, Bu? Umur Risky masih muda. Kalau gagal tahun ini, bisa nyoba lagi tahun depan…”

“Kamu tega lihat dia gagal?” Sahut sebuah suara dari arah dapur. Ana yang Farid tidak tahu kapan datangnya ke rumah itu, tiba-tiba ikut duduk di sisi ibunya. “Kamu enak, udah kerja, punya istri, hidup mapan. Tapi adik kamu? Dia masih cari pijakan. Kalau kamu bisa bantu, kenapa nggak?”

Tatapan Farid mengarah ke Ana sejenak. “Masalahnya ini bukan perkara bantu atau nggak, tapi… ini uangnya besar, Mbak.”

Ana menyeringai kecil. “Besar? Kamu kan udah jadi manajer di perusahaan, terus Maira juga punya usaha restoran besar. Masa sih kamu nggak bisa bantu lima puluh juta buat keluarga sendiri?”

Ucapan Ana membuat Farid terdiam. Ia tahu apa yang dikatakan oleh kakaknya ada benarnya, tapi tetap saja… ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

“Aku udah dua kali pakai uang tabungan bersama kami,” Gumamnya dalam hati. “Kalau sekarang aku pakai lagi, dan Maira tahu….”

Ana menyadari keraguan di wajah adiknya. Ia mendesah lalu berkata, “Udah lah Farid, kalau kamu bantu nanti Risky juga bakal berterima kasih ke kamu seumur hidup. Lagian, dia bisa nyicil pelan-pelan. Yang penting masuk dulu."

Farid hanya menatap kosong ke lantai. Kepalanya berat, pikirannya berputar-putar. Ia tahu jika ia menolak, ibunya akan kecewa.

Ana melirik Bu Neni, lalu ikut memainkan perannya. “Bu, kayaknya Farid nggak bisa bantu deh. Gimana kalau kita minjam ke rentenir aja?”

Bu Neni cepat menoleh. “Jangan ngomong gitu, Na…”

“Kenapa nggak, Bu? Kalau Farid nggak bisa bantu, ya kita cari jalan sendiri. Urusan bunga nanti dipikir belakangan.”

Kepala Farid menegak. “Jangan, Bu. Jangan pinjam ke rentenir.”

Bu Neni menunduk, pura-pura menahan tangis. “Ibu juga nggak mau, Farid. Tapi gimana? Ibu kasihan sama adik kamu. Ini tu udah jadi cita-citanya sejak kecil. Masa iya kita tega ngelihat dia gagal cuma karena nggak mau bantuin?”

Helaan napas panjang terdengar dari arah Farid. Ia menyandarkan punggung ke sofa, berusaha menenangkan pikirannya yang semakin sumpek.

Beberapa saat kemudian, ia melirik ke arah Ana yang duduk di samping Bu Neni. “Emm… Mbak." Farid membuka suara dengan hati-hati. “Uang yang kemarin Mbak pinjam udah ada belum?”

Mata Ana membulat. Ekspresinya langsung berubah. “Loh, kan Mbak udah bilang bayarnya nanti! Ini juga belum sampai dua bulan udah ditagih aja sih!” Sahutnya dengan nada tinggi dan ekspresi tak terima.

Farid menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa serba salah. "Yaudah masalah Risky, nanti aku pikirkan dulu, Bu…” Putusnya.

Bu Neni menatapnya, dan dari sorot matanya jelas ia sudah merasa menang. Ia tahu putranya itu akan luluh.

Ana menepuk lutut Farid pelan. “Udah, jangan kelamaan mikir. Kalau bisa dalam seminggu ini kasih kabar. Soalnya si anak temen Ibu itu juga bilang, kuotanya terbatas. Kalau telat, bisa diganti sama orang lain.”

Farid tak menjawab. Kepalanya menunduk, memikirkan solusi apa yang harus dilakukannya.

“Bu, aku mohon… bantu aku, Bu.” Dini duduk di samping ibunya di ruang tamu. “Kalau Mas Bayu di penjara… siapa yang kerja? Siapa yang nafkahin aku sama anakku?” Lanjutnya. Matanya mulai berkaca-kaca, menggambarkan kelelahan mental dan fisik yang tak bisa lagi ia tutupi.

Ia baru saja pulang dari menjenguk Bayu di tahanan. Suaminya tampak lelah, putus asa, dan mulai kehilangan harapan. Satu-satunya rencana yang mereka miliki sekarang hanyalah menjual motor, dan meminta bantuan ibunya, Bu Susi.

Dini sadar, semua usahanya untuk menemui Maira bahkan sampai mempermalukan wanita itu di hadapan banyak orang berakhir sia-sia. Maira tetap bersikukuh tak mau mencabut laporan jika uang yang diambil Bayu belum juga dikembalikan.

Dengan langkah lesu, Dini pulang ke rumah ibunya. Ia tahu satu-satunya harapan yang mungkin bisa menolong adalah Bu Susi.

“Aku tahu Ibu nggak punya uang tunai buat bantu bebaskan Mas Bayu… Tapi aku mau minta tolong, Bu… Ibu jual perhiasan Ibu dulu ya, uangnya mau kupakai buat nebus Mas Bayu.” Ia bicara hati-hati, matanya melirik ke arah ibunya mencoba menakar reaksi Bu Susi.

Dini tahu, selama ini ibunya rajin menyisihkan uang bulanan yang rutin diberi Maira hanya untuk membeli perhiasan. Dan karena Dini sendiri tak punya simpanan, harapannya kini tertumpu pada barang-barang berharga milik ibunya itu.

Bu Susi terlihat terkejut dengan permintaan tersebut. Ia sudah lama menyisihkan uang sedikit demi sedikit demi membeli perhiasan itu. Rasanya berat kalau harus melepaskan semuanya begitu saja hanya untuk menebus suami Dini dari penjara.

“Ayolah, Bu… tolongin aku. Nanti kalau Ibu udah dapat uang bulanan dari Mbak Maira lagi, Ibu kan bisa beli emas lagi." Rayu Dini, mulai merengek dengan menampilkan wajah sedih.

Bu Susi menarik napas panjang, wajahnya tampak penuh keraguan dan jelas tak rela. “Tapi, Din… kalau dijual… jumlahnya tetap nggak cukup." Ucapnya pelan, mencoba menolak dengan cara halus.

Namun Dini tak gentar. Ia menggenggam tangan ibunya lebih erat, ekspresinya tak lagi memelas—melainkan penuh tekad. “Cukup, Bu… aku juga mau jual motor Mas Bayu. Dan… motor Danu juga.”

Kalimat itu sontak membuat Bu Susi berdiri dari tempat duduknya. “Apa?!” Suaranya meninggi. Matanya membelalak, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Motor Danu? Kamu gila, Din?! Mana mungkin adikmu itu setuju?!”

Dini menatap ibunya dengan dingin. “Setuju tidak setuju itu urusan nanti, Bu. Lagian dia tinggal di rumah aku, cuma makan-tidur. Kerjaan juga nggak ada!”

Bu Susi tercekat, ia sadar perkataan Dini ada benarnya. Rumah yang ditempati Danu memang rumah Dini dan Bayu. Dan sejauh ini, anak laki-laki itu memang belum jelas arah hidupnya.

Pandangan Bu Susi beralih ke arah Pak Bowo yang sedari tadi hanya duduk diam di kursinya, menonton pertengkaran itu dengan ekspresi tenang. “Pak…?” Gumamnya lirih, berharap suaminya memberi dukungan kepadanya, agar bisa membendung rencana Dini.

Pak Bowo mendesah pelan, kemudian berkata datar, “Ya sudah… bantuin aja, Bu.”

Ucapan itu membuat mata Bu Susi membelalak seketika. Dini tersenyum kecil, lalu menutupi senyumnya dengan cepat agar tidak terlalu terlihat menang. “Nah, kan Bu? Bapak aja setuju." Ucapnya cepat.

Dengan langkah gontai dan wajah kesal, Bu Susi pada akhirnya berjalan ke kamar. Tak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah kotak perhiasan. Kotak yang selama ini ia rawat dengan penuh kebanggaan sebagai hasil dari menyisihkan uang bulanan yang rutin diberikan oleh Maira.

Ia menyerahkan kotak itu ke Dini dengan tangan gemetar. Hatinya masih memberontak, tapi mulutnya tak sanggup mengucapkan penolakan lagi.

Mata Dini berbinar. Ia membuka kotak itu perlahan, dan matanya langsung tertuju pada gelang, cincin, kalung, dan anting-anting emas yang berkilau indah di dalamnya.

“Ini semua gara-gara anak itu!” Geram Bu Susi lirih, suaranya nyaris tak terdengar tapi cukup jelas sampai ke telinga Dini.

Dini langsung menimpali. “Iya, Bu. Ini semua gara-gara Mbak Maira. Kalau bukan karena dia, Ibu juga nggak perlu ngasih perhiasan Ibu kayak gini ke aku. Nggak perlu ngemis-ngemis cuma buat bebasin menantu sendiri.”

Ia memejamkan mata sebentar lalu menatap ibunya tajam. “Udah, Bu. Nanti kita kasih aja pelajaran ke dia. Kalau perlu, minta aja uang bulanan lebih dari dia. Atau…” Dini melirik sekeliling, memastikan jika orang yang tengah dibicarakan tak ada.

“…ambil aja barang-barang dia. Perhiasan, tas-tas mahal, parfum, atau apapun, terus jual. Pasti di kamar dia ada banyak barang-barang mahal.

Bu Susi tak langsung menjawab, diam-diam ia memikirkan ulang apa yang dikatakan Dini. Sementara Dini menutup kotak perhiasan itu dengan pelan, matanya menatapnya dengan puas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!