Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 15
SANGAT SULIT UNTUK DIAKHIRI
“Aku sudah hancur setelah menginjakkan kaki di rumah ini.”
Kalimat itu meluncur tenang, namun menghantam lebih keras dari tamparan mana pun. Esperance menatap Elizabeth seolah melihat sesuatu yang asing tumbuh di balik mata wanita itu—bukan kepatuhan, melainkan keberanian yang dingin dan putus asa.
“Kau belum tahu arti hancur yang sesungguhnya,” ucapnya dingin.
Elizabeth tersenyum tipis. “Kalau begitu, rumah ini akan mengajariku.”
Keduanya sama-sama terdiam, hingga akhirnya Esperance menyeringai kecil. “Keluar dari sini, dan jangan injakan kakimu di sini.”
“Aku tidak bisa berjanji, permisi.” Balas Eliza yang segera melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan tegas.
“Astaga... Dia benar-benar keras kepala.”
...***...
Berada di ruangan yang dingin dan hening, Luis terdiam mendengar penjelasan dari pamannya, Rodrigo. Sambil membawa segelas beer di tangannya, berdiri menatap ke luar jendela, namun telinganya fokus ke suara Rodrigo.
“Dia tidak mudah dihabisi.” Kata Luis menyeringai kecil dan meneguk minumannya.
“Kau benar. Dia sangat berpengaruh. Tapi ada sesuatu yang disembunyikan oleh Vale, dan untuk mencari tahu lebih dalam lagi. Ada baiknya kau temui dia dan berbicara dengan santai. Memilih tenang dan damai, itu lebih baik Luis.” Ujar Rodrigo yang seketika menoleh ke arahnya.
“Kami tidak akan bisa berdamai seperti yang kau pikirkan. Kau tidak tahu siapa Vale dan siapa Luis Holloway.” Ujar Luis yang tatapannya datar namun dalam.
Tentu saja. Rodrigo terdiam, hingga Luis kembali menatap ke luar jendela, mengingat bagaimana pertengkaran antara Holloway dan Vale terjadi. Suara tembakan dan teriakan dari seseorang yang tersiksa kesakitan.
Tak berselang lama, asisten pribadi Luis, datang dengan tegas dan tegap seperti biasa.
Sadar akan kedatangan Greg, Luis tak menoleh dan hanya menatap lurus ke jendela. “Aku ingin malam ini, pria bernama Carlitos Monterrego dihabisi. Dan jangan beri dia ampun kecuali dia mau menyerahkan Kim ke Soraya.”
“Baik, Tuan.”
Rodrigo hanya diam mengamati Luis yang nampak tak baik-baik saja suasananya hari ini usai membahas soal Vale.
.
.
.
1 Bulan berlalu cukup cepat dan cukup lama bagi Elizabeth. Wanita itu berulang kali menutupi luka-lukanya yang masih belum sembuh total, namun 1 bulan itu, Eliza belum sepenuhnya menjadi istri Luis karena mereka sama sekali belum melakukan intim yang lebih dekat.
Bagaimana bisa? Tentu, Eliza selalu memancing emosi Luis agar pria itu memukulinya daripada harus berhubungan dengannya. Dia sudah terbiasa sekarang, pukulan Luis, menutupi luka dan bersandiwara.
“Kau terlihat cantik setiap harinya, Eliza. Aku suka dengan caramu yang tidak berubah!” kata Luis saat dia menyentuh kedua bahu Eliza yang tengah duduk dan menatap di cermin rias usai menutupi luka-luka di wajahnya.
Eliza hanya menatap balik suaminya dengan tatapan sinis saat Luis tersenyum kecil.
“Aku akan pergi keluar untuk bisnis dan mungkin kembali di tengah malam.” kata Luis yang seketika membuat Eliza menatapnya sedikit kaget. “Kau pasti memiliki kesempatan sempurna untuk pergi ke luar bukan?!”
Nada bicara Luis seperti sebuah candaan, tapi Eliza hanya diam sampai pria itu kembali menghampiri nya dan memeluknya dari belakang sembari menatap pantulan mereka di cermin.
“Ibuku dan Soraya juga akan pergi. Tapi bukan berarti kau bebas sayang!” ucap Luis benar-benar membuat Eliza tak bisa bernafas meski jujur saja, dia berpikir akan pergi diam-diam saat rumah sepi. Tapi rasanya mustahil.
Pria itu mencium pipi Eliza, lalu melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangi istrinya.
“Para pelayan dan penjaga, mereka akan menjadi mataku, cctv dan drone akan mengintai setiap langkah mu selagi aku pergi.” Luis berbalik menatapnya lagi. “Aku tidak ingin istriku membuat kesalahan lagi, aku mulai bosan terus memukuli mu.”
“Itu adalah kesenangan mu.” Kata Eliza menahan miris hidupnya.
Luis menyeringai kecil 2 detik sebelum akhirnya menatap serius. “Andai saja kau berada di posisi ku, kau akan lebih gila dari sikapku.”
Ucapan itu seolah menusuk ke hati Eliza. Tatapan Luis yang pasrah, membuat Eliza tak bisa berkata-kata lagi.
Pria itu melangkah pergi, namun—
“Aku ingin bertemu keluargaku.” Langkah Luis terhenti tatkala dia mendengar permintaan istrinya yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
“Setidaknya... Aku ingin menelepon mereka. Aku tidak bisa menelepon mereka, apa terjadi sesuatu?” tanya Eliza dengan cemas akan keluarganya, sehingga dia tak peduli sedang berbicara dengan siapa.
Luis hanya dingin tanpa menoleh. “Mereka menelantarkan mu, dan memberikan dirimu sepenuhnya kepada Holloway!” jawab Luis yang cukup mengejutkan namun Eliza tak percaya begitu saja.
Namun tiba-tiba, pintu terbuka mendadak saat Soraya masuk dengan wajah berderai air mata dan mencoba tenang dalam amarahnya.
“Tolong jangan ikut campur dalam urusanku, Luis. Jangan mengancam Carlitos lagi, ataupun mencelakainya, kita sudah bicarakan hal ini sebelumnya bukan. Aku ingin dekat dengan Kim tanpa harus menyakiti pria itu. Tolong.... Mengertilah.” Jelas Soraya yang seolah menahan rasa takutnya saat harus berbicara dengan nada tinggi seperti itu kepada Luis.
Luis menyeringai kecil. “Apa yang kau bisa lakukan?”
Pertanyaan kecil namun Soraya sangat tertusuk dan tak bisa menjawab, hingga Luis berjalan melewatinya dan sekilas menoleh ke kakaknya yang hanya diam menatap lurus tanpa berani menatap balik.
“Jangan membuatku menjadi orang jahat dengan membunuh kakakku sendiri. Lakukan sesegera mungkin dan jangan membuatku muak dengan mendengar berita-berita tentang kebodohan mu. Atau aku tidak akan segan membunuh kalian bertiga.” Ucap Luis begitu jelas lalu pergi.
Eliza dapat mendengar nya, dan dia sangat terkejut namun seolah sudah biasa melihat kejahatan Luis.
Soraya yang menahan emosi, air matanya menetes dan dia melenggang pergi begitu saja. Sementara Eliza, juga berdiam diri menatap kepergian Soraya yang pastinya terkikis hatinya.
Soraya pergi tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat, seolah mansion itu akan runtuh bila ia tinggal satu detik lebih lama. Gaun tipisnya berkibar, menyapu udara seperti sayap burung yang patah.
Elizabeth masih berdiri di tempatnya.
Sunyi kembali menelan ruangan.
Ia menatap pintu yang tertutup perlahan, lalu menurunkan pandangannya ke lantai marmer yang dingin. Di rumah ini, tangis tidak pernah benar-benar bersuara. Ia hanya mengendap, meresap ke dinding, ke langit-langit, ke tulang-tulang penghuninya.
Elizabeth menghembuskan napas panjang.
“Bahkan kakakmu pun takut padamu,”
gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Luis yang telah pergi.
Tak ada jawaban.
Hanya bayangan suaminya yang masih tertinggal di udara—aroma tembakau, alkohol, dan sesuatu yang lebih pahit dari kebencian.
Malam jatuh perlahan di atas mansion Holloway. Seperti yang Luis katakan, seharian penuh, Elizabeth hanya di rumah sendirian, bersama para pelayan dan penjagaan ketat.
Lampu-lampu kristal menyala satu per satu, seperti mata dingin yang terbangun dari tidur. Elizabeth duduk di tepi ranjang kamarnya, memeluk lutut, memandangi jendela besar yang menghadap taman gelap.
Ia memikirkan Soraya.
Carlitos.
Kim.
Vale.
Nama terakhir itu kembali berdenyut pelan di kepalanya, seperti luka lama yang tidak pernah sembuh.
Vale.
Pria dalam foto. Pria yang membuat Luis berubah seperti binatang terluka.
Pria yang bahkan Esperance tak berani sebut namanya dengan utuh.
Elizabeth bangkit, melangkah ke cermin. Ia membuka sedikit perban di balik riasannya, menatap lebam yang mulai menguning di pipinya.
“Kau bodoh,” bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. “Mencari harapan di tempat seperti ini.”
Namun justru di tempat tergelap, manusia sering belajar memohon pada cahaya sekecil apa pun.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl