Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 31: KAU MAU MAKAN?
Mengesampingkan rasa penasarannya akan sosok pria aneh tadi, Mei Zhiyi akhirnya menyimpan pertanyaan itu dalam hatinya. Di depannya sekarang tersaji berbagai jenis hidangan yang baru saja diantarkan oleh pelayan dari dapur restoran. Aromanya begitu menggugah selera.
Dia meletakkan sepasang sumpit kayu di atas mangkuk Liu Yan. Sebagai pelayan, dia harus melayaninya makan dengan baik. Atau jika tidak, gajinya pasti dipotong lagi olehnya meski pada akhirnya dikembalikan lagi. Rasanya menyebalkan saat tahu gajinya dipermainkan jumlahnya.
Liu Yan menyantap hidangan enak itu, mencicipinya sedikit demi sedikit. Tidak banyak, paling hanya dua sampai tiga suap dari setiap menunya. Menyantap hidangan di Restoran Hualou adalah hiburan tersendiri untuknya. Di sini, dia tidak perlu menjaga pantangan makan dan bisa mengabaikan anjuran yang selama ini mengekangnya.
Dasar bos besar. Makan begitu lahap. Kalau di istana, dia pasti selalu pilih-pilih. Tapi saat dia makan dengan tenang seperti ini, dia terlihat seperti seorang pemuda lembut dan berkarakter. Sama sekali tidak ada jejak yang menunjukkan bahwa tangan yang dipakai untuk memegang sumpit itu telah dilumuri banyak sekali darah manusia. Bahkan, dia memang cukup tampan saat keningnya tidak mengernyit. Walau dia memang selalu terlihat tampan.
Liu Yan hampir tersedak begitu dia mendengar kalimat terakhir Mei Zhiyi. Ia meliriknya sejenak, seolah matanya sedang berkata: Apakah kau sedang merayuku?
Liu Yan tidak pernah merasa dirinya tampan. Wajah yang diberikan oleh orang tuanya ini menurutnya adalah sebuah bencana.
Jika bukan karena wajah ini, tidak akan ada begitu banyak wanita yang ingin tidur dengannya dan menjadi selirnya. Jika bukan karena wajah ini, dia tidak akan terus didesak untuk segera punya keturunan.
Dia bahkan sempat berpikir, seandainya wajah ini terlahir cacat, apakah dia tidak akan pernah dikirim ke Nanyu untuk dijadikan sandera?
Apakah dia tidak akan pernah menjadi Putra Mahkota Daqi dan tidak akan pernah mewarisi takhta? Apakah dia tidak akan pernah terlahir di dunia?
“Yang Mulia, kenapa kau bengong? Apakah makanannya tidak sesuai dengan seleramu? Mau mengganti menu?” tanya Mei Zhiyi saat melihat Liu Yan berhenti makan dan terdiam. Seolah pria itu sedang memikirkan sesuatu dalam kepalanya.
“Kau mau makan?” Liu Yan bertanya balik. Seingatnya, Mei Zhiyi belum makan siang karena sedari pagi sibuk bekerja membersihkan kamar mandi dan tempat tidurnya.
“Tidak, Yang Mulia saja. Aku belum lapar.”
“Duduk saja. Ini perintah.”
Mei Zhiyi agak sungkan. Walau ini zaman kuno, rasa hormatnya terhadap orang berkedudukan tinggi tidak pernah hilang. Apalagi yang dia layani sekarang adalah seorang raja suatu negara, seorang kepala pemerintahan yang memegang semua aspek kehidupan. Duduk di sampingnya sepertinya agak tidak sopan.
“Tidak usah. Aku hanya pelayan, jika tersebar, reputasi Yang Mulia pasti tercoreng dan mereka akan menganggapku sebagai siluman penggoda,” tolak Mei Zhiyi dengan nada halus.
“Aku memberi makan pelayanku, siapa yang berani menentangnya? Selain itu, jika kau tidak buka mulut, tidak ada yang akan tahu kalau aku membiarkan seorang pelayan duduk satu meja denganku. Kau rakyatku, tidak perlu merasa rendah diri duduk denganku.”
Mei Zhiyi sempat ragu, tapi karena tidak mau menentang perintah lagi, dia akhirnya duduk di depan Liu Yan. Ada sepasang sumpit di depannya yang tadi disiapkan oleh pelayan restoran. Hatinya tak lagi bertanya-tanya soal keraguan dan ketimpangan status antara dia dengan Liu Yan.
Duduk setara dengan seorang raja penguasa suatu negara memang pertama kalinya bagiku. Tapi, apakah Liu Yan sungguh tidak merasa keberatan? Apakah dia selalu membiarkan pelayannya duduk satu meja dengannya sebelumnya?
“Kau pelayan pertama yang kuberi tempat duduk. Jadi, jangan menyia-nyiakannya dan berpikir sembarangan.”
Mei Zhiyi terkejut. Kenapa Liu Yan tahu apa yang sedang dia pikirkan?
“Kau wanita pertama yang kutunjuk sebagai pelayan pribadiku. Apapun yang kuperintahkan harus kau turuti. Apapun yang kuberikan harus kau terima. Kau paham?”
“Apakah termasuk kematian? Jika Yang Mulia ingin aku mati, apakah aku juga harus mati?”
“Aku bukan raja tidak masuk akal. Untuk apa aku mengambil nyawamu tanpa alasan? Siapa yang menginginkan nyawa kecilmu?”
“Yah, siapa tahu saja. Hati seorang kaisar itu sedalam lautan. Hari ini Yang Mulia menjadikanku pelayan dan baik padaku, tapi siapa yang tahu besok Yang Mulia akan memenggal kepalaku?”
Liu Yan terkekeh. Masih saja takut mati, pikirnya. Lagi pula sekarang dia tidak mau membunuh orang.
“Jika kesalahanmu tak cukup besar, kepalamu tidak akan dipenggal.”
“Lihat, baru saja kau mengatakan tidak akan memenggal kepalaku.”
“Makan saja. Jangan banyak bicara.”
Percakapan soal itu pun tidak berlanjut. Harus Mei Zhiyi akui, masakan restoran ini memang sangat enak. Cita rasa khas makanan zaman kuno begitu terasa.
Walau tanpa penyedap rasa, rasanya tetap gurih. Dagingnya juga dimasak sampai empuk. Sayurnya tidak hambar. Daging ikan bakar yang disiram saus juga matang sempurna.
Tidak heran restoran ini jadi restoran ternama di kota kekaisaran. Shangjing punya satu gedung yang begitu memanjakan lidah dan memanjakan mata. Tidak heran pula harganya jadi cukup mahal, karena memang sepadan dengan pelayanan yang diberikan.
“Yang Mulia, cicipi ikan bakar saus tomat ini. Tubuh orang dewasa mungkin membutuhkan lebih banyak asupan protein hewani.”
“Protein hewani? Benda apa itu?”
“Semacam zat gizi. Bahasa kampung halamanku. Jadi wajar jika kau tidak mengerti.”
“Apakah di kampung halamanmu terdapat lebih banyak benda yang beragam seperti teropong yang kau tunjukkan malam itu? Apakah terdapat banyak benda ajaib seperti kotak obat milikmu dan lebih banyak istilah dan bahasa yang tidak aku ketahui?”
“Bisa dibilang begitu. Di sana, ada kereta super cepat yang dapat menempuh jarak jauh dalam beberapa menit. Ada banyak sekali senjata hebat untuk keperluan militer. Ketika berperang tidak perlu turun tangan langsung, hanya perlu menatap sebuah layar dan senjata dapat ditembakkan menuju sasaran.”
“Jika berperang seperti itu, mungkin tidak perlu mengorbankan banyak tentara.”
“Memang, tapi kerusakan dapat lebih parah dari perang antar manusia. Perebutan pengaruh dapat sangat mempengaruhi tatanan pemerintahan. Manusia juga bisa terbang.”
“Omong kosong. Manusia mana mungkin bisa terbang.”
“Tentu saja bisa. Kau hanya belum melihatnya saja.”
“Bagaimana caranya?”
“Naik pesawat. Semacam kendaraan yang dapat terbang di udara seperti burung dan dapat mengangkut manusia dan barang.”
“Lalu kenapa kau datang kemari? Kampung halamanmu meski terdengar seperti dunia yang tidak pernah ada, tapi aku yakin di sana lebih baik dari sini.”
Mei Zhiyi mengedikkan bahu. Dia juga mau pulang, tapi misinya di sini belum selesai.
“Aku tidak bisa pulang lagi.”
Liu Yan mulai merasa bersalah. Mei Zhiyi pasti kehilangan keluarganya di sana, tidak punya siapapun untuk diandalkan dan terpaksa datang kemari untuk bekerja.
Meski ingin pulang pun, jalannya pasti sulit dilalui. Juga pasti sangat jauh. Tapi dia heran, kenapa Mei Zhiyi bisa tiba di istananya jika kampung halamannya memang sejauh itu? Di negara manakah sebenarnya kampung halaman Mei Zhiyi?
“Jika kau memang tidak bisa pulang, menetaplah di sini. Kau bisa menjadikan Daqi sebagai rumah barumu.”
“Yang Mulia sedang menghiburku?”
“Aku tidak menghiburmu. Mana mungkin aku menghibur seorang pelayan,” elak Liu Yan dengan cepat.
Tapi kau bahkan membiarkan pelayanmu makan satu meja denganmu. Liu Yan, hatimu dan mulutmu tidak selaras.
Liu Yan buru-buru memakan makanannya. Lebih lama mendengar pikiran Mei Zhiyi bisa membuatnya tidak tenang. Dia harus mengendalikan diri dan terus pura-pura tidak tahu apapun.
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei