NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeratan Sang Ratu Laba-Laba

Penyihir Petir mengira ia telah menguasai medan pertempuran, namun Lembah Kematian menyimpan kengerian yang lebih gelap dari sekadar bayangan. Dari celah tebing yang curam, muncul Arkhne, Tanpa peringatan, Arkhne menyemburkan jaring sutra yang dilapisi racun kelumpuhan.

Sang Penasehat mencoba mengangkat tongkatnya, namun gerakan Arkhne jauh lebih gesit. Kaki-kaki laba-laba yang panjang dan kuat menghantam dada Penyihir Petir dengan kekuatan luar biasa. Tubuh sang penyihir terpental jauh, menghantam dinding batu hingga terdengar suara tulang yang retak. Tongkat kayunya terlepas dari genggaman, berguling jauh ke dalam kegelapan.

Penyihir Petir mencoba bangkit, namun racun yang meresap melalui goresan di jubahnya mulai bekerja. Pandangannya mengabur, dan kekuatannya seolah tersedot habis. Di sekelilingnya, kerumunan siluman bayangan dan roh lapar mulai mendekat, mencium aroma kematian yang mulai keluar dari tubuh sang penyihir. Arkhne merayap turun dengan perlahan, menikmati pemandangan mangsanya yang tak berdaya. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Penyihir Petir melihat ribuan mata merah siluman mengepungnya. Ia jatuh pingsan di tengah kerumunan makhluk nista yang siap merobek dagingnya,

Di tengah keheningan lembah yang mematikan, seorang pengembara misterius bergerak dengan langkah yang hampir tak terdengar. Ia telah lama mengamati pergerakan siluman di wilayah ini, namun pemandangan yang tersaji di depannya sangatlah tidak biasa. Dari balik bongkahan batu besar, ia melihat tubuh seorang pria berpakaian megah—seorang penyihir dari kerajaan tinggi—tergeletak tak bernyawa di tengah lingkaran monster.

Arkhne, sang ratu laba-laba, sedang mempersiapkan taringnya untuk menancap ke leher Penyihir Petir. Siluman itu mengeluarkan suara desisan yang mengerikan, sebuah tanda kemenangan. Para siluman kecil lainnya hanya bisa menunggu sisa-sisa mangsa yang akan ditinggalkan oleh sang penguasa laba-laba. Pengembara itu menyadari bahwa pria yang pingsan itu bukanlah orang sembarangan; jubah dan sisa-sisa energi listrik di sekitarnya menunjukkan ia adalah pejabat penting dari Kerajaan Atlas.

Rasa ingin tahu dan naluri bertahan hidup sang pengembara bertabrakan. Ia tahu mencampuri urusan siluman di tempat ini sama saja dengan bunuh diri. Namun, ia juga melihat peluang di balik sosok yang terkapar itu. Dengan perlahan, ia menarik busur panjangnya, memasang anak panah dengan ujung perak yang berkilau. Ia menunggu saat yang tepat, ketika Arkhne membuka mulutnya lebar-lebar,

Sebuah desingan anak panah membelah udara. Anak panah itu meluncur dengan akurasi mematikan, menancap tepat di mata utama Arkhne yang besar. Siluman itu menjerit melengking, suara yang begitu memekakkan telinga hingga membuat siluman-siluman kecil di sekitarnya terpental mundur karena ketakutan.

Memanfaatkan kekacauan tersebut, si pengembara melompat turun dari tempat persembunyiannya. Ia bergerak seperti bayangan di antara kerumunan siluman yang kebingungan. Dengan kekuatan yang tak terduga, ia menyambar tubuh Penyihir Petir dan memanggulnya. Arkhne yang murka mulai menyemburkan jaring secara membabi buta, namun pengembara itu sudah lebih dulu berlari menuju sebuah celah sempit yang mengarah ke sebuah gua tersembunyi.

Di dalam gua yang gelap dan lembap, pengembara itu meletakkan tubuh sang Penasehat dengan kasar. Ia segera menyusun batu-batu besar untuk menutupi pintu masuk gua, memastikan bau manusia mereka tidak tercium oleh para siluman di luar. Di dalam kesunyian gua, detak jantung Penyihir Petir terdengar lemah. Pengembara itu memeriksa luka-luka sang penyihir, menyadari bahwa tanpa bantuannya, orang ini seharusnya sudah menjadi tumpukan tulang di perut Arkhne.

Di dalam gua yang sempit, pengembara itu mulai menyalakan api kecil yang tersembunyi agar asapnya tidak keluar. Ia mengeluarkan hasil buruannya hari itu: lima ekor kelinci liar yang ia dapatkan sebelum memasuki wilayah berbahaya ini. Dengan tenang, ia menguliti dan menusuk daging kelinci tersebut dengan ranting, lalu memanggangnya di atas api yang berderak pelan. Aroma daging panggang mulai memenuhi ruangan sempit itu, beradu dengan bau tanah yang basah.

Sambil menunggu daging matang, matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Penyihir Petir yang masih tidak sadarkan diri. Ia mengamati setiap detail pakaian sang penyihir, mencoba mencari tahu mengapa orang sekuat ini bisa sampai ke tempat terkutuk seperti ini. Ia tahu Kerajaan Atlas dipimpin oleh Ratu Layla yang kejam, dan keberadaan sang Penasehat di sini pasti membawa misi yang sangat penting atau sangat berbahaya.

Sesekali, suara cakaran siluman terdengar dari balik dinding batu yang menutupi gua, membuat suasana menjadi tegang. Namun, pengembara itu tetap tenang. Ia terus membolak-balik daging kelincinya dengan saksama, memastikan semuanya matang sempurna.

Penyihir Petir tersentak bangun dengan napas memburu. Hal terakhir yang ia ingat adalah kaki tajam Arkhne yang menghantam dadanya. Ia mencoba bangkit, namun rasa nyeri yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Tangannya meraba-raba mencari tongkatnya, namun hanya menemukan tanah yang dingin. Ia terkejut melihat api kecil yang menyala dan seorang asing yang duduk dengan tenang di depannya.

"Siapa kau? Di mana ini?" tanya sang Penasehat dengan suara serak, kilatan listrik kecil muncul di ujung jarinya sebagai bentuk pertahanan diri yang tersisa.

Si pengembara hanya menunjuk ke arah pintu gua yang tertutup batu. Penyihir Petir mencoba berdiri dan berjalan menuju celah kecil di antara bebatuan untuk melihat ke luar. Ia segera menarik kepalanya kembali saat melihat bahwa hari sudah benar-benar gelap. Di luar sana, ribuan mata siluman berpendar di balik kabut, dan suara lolongan makhluk-makhluk malam terdengar jauh lebih mengerikan dibandingkan saat siang hari.

Ia menyadari bahwa keluar sekarang berarti menyerahkan nyawa secara sukarela. Tanpa tongkatnya dan dengan tubuh yang masih terpengaruh racun, kekuatannya tidak akan cukup untuk menembus kepungan siluman. Ia kembali duduk dengan lemas, menatap api unggun dengan perasaan frustrasi

Melihat sang penyihir sudah mulai tenang, pengembara itu mengambil dua ekor kelinci panggang yang paling matang. Tanpa sepatah kata pun, ia menyodorkan daging itu kepada Penyihir Petir. Sang Penasehat awalnya ragu, namun rasa lapar yang luar biasa setelah bertarung habis-habisan membuatnya menerima pemberian itu. Daging kelinci itu terasa sangat nikmat di tengah udara gua yang dingin.

Mereka makan dalam keheningan yang canggung, hanya terdengar suara kunyahan dan api yang meletik. Penyihir Petir mengamati pengembara itu; orang ini tampak sangat ahli dalam bertahan hidup di alam liar, berbeda jauh dengan pasukannya di Atlas yang terbiasa dengan kemegahan dan struktur militer. Di bawah cahaya api yang menari, wajah pengembara itu tampak penuh dengan bekas luka, menceritakan masa lalu yang mungkin sama gelapnya dengan kerajaan yang ia tinggalkan.

"Kau menyelamatkanku dari Arkhne. Mengapa?" tanya Penyihir Petir setelah menyelesaikan makannya.

Si pengembara hanya menatap api, lalu menjawab pendek bahwa ia tidak suka melihat siluman bersenang-senang di wilayahnya. Malam itu, di bawah perlindungan gua yang sempit, dua orang dari dunia yang berbeda berbagi makanan dan tempat berteduh

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!