NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Derit logam berkarat beradu dengan embusan angin dingin yang menderu dari dasar jurang awan.

Di bawah telapak sepatu bot Ren, bilah-bilah papan kayu hitam yang menjadi lantai jembatan gantung bergetar pelan. Jembatan selebar dua meter itu membentang sejauh ratusan langkah, menggantung di antara dua pulau karang melayang yang terpisah oleh samudra kabut putih tak bertepi.

Tidak ada dinding penahan di sisi kiri maupun kanan. Hanya ada dua utas rantai besi sebesar paha manusia yang berfungsi sebagai tali pegangan darurat, tergantung kendur di atas kehampaan vertikal yang menembus batas pandang.

“Tatap lurus ke depan! Jangan ada yang melirik ke bawah celah papan jika kepala kalian tidak ingin berputar!” seru Vargas dari barisan depan.

Suara parau sang veteran tameng terdengar agak teredam oleh desau angin ketinggian. Tangan kirinya mencengkeram erat rantai samping, sementara tameng bajanya yang berat disandarkan di bahu dengan posisi miring agar tidak tertiup angin samping.

Di belakang Vargas, dua puluh prajurit pelopor berjalan dalam satu barisan tunggal. Masing-masing prajurit telah mengaitkan tali rami tebal dari sabuk zirah mereka ke cincin besi pengaman milik kawan di depan dan belakangnya, membentuk rantai keselamatan hidup yang saling mengunci.

Ren melangkah di posisi tengah barisan, tepat di samping Elise dan Shizuka. Matanya terus menyapu setiap celah papan kayu lapuk yang mereka injak.

[Lantai 16: Koridor Samudra Awan — Anomali Ketinggian Aktif]

[Peringatan: Kerapatan udara menurun 30%, kecepatan angin berkala 45–70 km/jam.]

Pemberitahuan dari inti menara memudar di sudut penglihatan Ren. Rasa dingin yang menggigit mulai meresap menembus lapisan jubah kain tebalnya, membuat ujung-ujung jemarinya yang menggenggam gagang pedang terasa agak kaku.

“Bagaimana pasokan napas kalian di belakang?” tanya Ren seraya menoleh pelan ke arah barisan.

“Daun herbal dari Shizuka bekerja dengan baik, Ren,” sahut salah seorang prajurit paruh baya bernama Danan yang memegang tombak pendek. “Rasa pahitnya membuat dada kami tetap hangat, tapi tiupan angin di bagian tengah jembatan ini semakin lama semakin liar.”

“Langkahkan kaki secara bergantian dengan ritme yang sama,” instruksi Ren dengan nada tenang namun tegas. “Jika jembatan mulai berayun ke kiri, condongkan berat badan kalian sedikit ke kanan. Jangan melawan ayunan rantai dengan gerakan mendadak.”

Shizuka yang berjalan tepat di depan Ren mengangguk mantap. Tangan gadis tabib itu memegang erat tali pengaman di pinggangnya, sementara matanya sesekali memeriksa wajah para prajurit untuk memastikan tidak ada yang mengalami gejala hipotermia atau mabuk ketinggian.

Di sisi lain, Elise berjalan dengan langkah yang luar biasa tenang. Jubah tempur lapis bajanya yang ringkas berkibar tertiup angin kencang, namun postur tubuhnya tetap stabil. Ujung tongkat peraknya memancarkan pendar sihir keperakan tipis yang menyelubungi area sekitar lima langkah dari tubuhnya, sedikit membelah tekanan angin dingin yang menerpa wajah mereka.

“Arus mana di udara terbuka ini sangat kacau,” bisik Elise seraya melirik ke pusaran kabut tebal di bawah mereka. “Ada fluktuasi energi kinetik yang bergerak tidak menentu di antara celah tebing. Menara ini tidak sekadar menciptakan ketinggian fisik, tetapi juga memanipulasi tekanan gravitasi di titik-titik tertentu.”

“Artinya, embusan angin di sini bukan badai biasa?” tanya Ren seraya menyipitkan mata.

“Tepat,” jawab Elise singkat. “Angin ini bisa memadat menjadi gelombang dorong seketika jika ada pusaran mana yang meletup.”

Di barisan paling depan, sekitar sepuluh langkah mendahului Vargas, Riku berjalan sebagai pembuka jalan. Tubuh bocah pemanah yang ringan dan lincah itu memudahkannya meniti bilah papan kayu yang rapuh. Di tangannya, busur kayu komposit telah terpasang sebilah anak panah dengan pita kain merah di ujungnya untuk membaca arah angin.

Tiba-tiba, Riku menghentikan langkahnya di sebuah sambungan rantai besar yang melengkung turun.

“Ren! Ada bagian lantai jembatan yang lapuk parah sekitar dua puluh langkah di depan!” teriak Riku seraya menunjuk ke celah jembatan yang kehilangan empat bilah papan kayu secara beruntun.

“Vargas, tahan barisan di titik jangkar!” perintah Ren seketika.

Barisan prajurit serentak merapatkan punggung ke rantai pengaman kanan. Suara napas mereka yang memburu terdengar berat di tengah udara tipis.

Ren melangkah maju melewati barisan prajurit untuk memeriksa celah tersebut bersama Vargas. Namun, tepat saat kaki Ren menginjak titik tengah bentangan jembatan, udara di sekeliling mereka mendadak berubah hening secara janggal.

Desau angin yang tadinya menderu tiba-tiba lenyap total. Kabut putih di bawah jurang berhenti berputar, seluruh ruang di sekitar jembatan serasa tersedot ke dalam lubang hampa.

Bulu kuduk Ren seketika meremang. Naluri bertarungnya yang diasah dari ratusan kematian mikro menjeritkan bahaya ekstrem.

“Semuanya, turunkan tubuh dan berpegangan—!”

Kalimat Ren belum sempat selesai ketika sebuah dentuman hampa meledak dari dasar jurang di bawah mereka.

KABOOOM!

Badai tekanan udara pekat melesat vertikal dari dasar kabut ke langit. Jembatan rantai raksasa itu terlempar ke atas setinggi dua meter dalam satu sentakan keras.

“Arghhh!”

Jeritan panik pecah seketika. Bilah-bilah papan kayu pecah berantakan berkeping-keping. Salah seorang prajurit muda di barisan belakang terlempar ke udara karena tali pengamannya tersentak putus oleh patahan pasak besi.

“Tolong aku—!”

Prajurit muda itu melayang keluar dari tepi jembatan, meluncur bebas ke arah jurang hampa.

Ren melompat ke tepi rantai, mengulurkan tangan kirinya sekuat tenaga untuk meraih kerah baju prajurit itu. Ujung jemari Ren berhasil menyentuh kain jubah sang prajurit, namun momentum jatuh yang teramat berat justru menarik tubuh Ren ikut tergelincir dari pijakan rantai yang basah oleh embun.

Pijakan kaki Ren hilang sepenuhnya.

Dunia berputar jungkir balik saat tubuhnya melayang jatuh ke dalam samudra kabut putih dengan kecepatan mengerikan. Udara dingin menghantam paru-parunya hingga ia tidak sanggup bernapas, dan dalam hitungan tiga detik, tubuhnya menghantam tonjolan karang obsidian tajam yang tersembunyi di balik kabut.

KRAAAK!

Tulang punggung dan leher Ren remuk seketika.

Gelap total menelan kesadarannya.

[Pemicu Fatal Terpenuhi.]

[Kemampuan Khas: Byōkan Kaiki (Regresi Mikro) Diaktifkan.]

[Memundurkan Waktu: 20 Detik Sebelum Kematian.]

GASP!

Ren menarik napas dalam-dalam secara mendadak. Rasa ngilu yang luar biasa hebat menjalari pangkal leher dan tulang belakangnya—sensasi Phantom Pain yang membakar serabut saraf otaknya seperti sengatan listrik ribuan volt. Setetes darah kental menetes dari lubang hidung kirinya, jatuh ke atas papan kayu jembatan.

Di hadapannya, Riku baru saja menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.

“Ren! Ada bagian lantai jembatan yang lapuk parah sekitar dua puluh langkah di depan!” seru Riku persis seperti dua puluh detik yang lalu.

Waktu masih menyisakan lima belas detik sebelum anomali hampa meletup dari dasar jurang.

Ren tidak membuang waktu bahkan untuk mengusap darah di hidungnya.

“JANGAN MAJU! SEMUANYA REBAHKAN TUBUH KE LANTAI SEKARANG JUGA!” teriak Ren dengan suara yang menggelegar membelah udara dingin.

Vargas yang sudah sangat mengenal nada darurat Ren langsung menjatuhkan lututnya ke papan jembatan tanpa banyak tanya.

“Tancapkan pasak zirah ke celah rantai! Pasang pengait ganda!” sambung Ren seraya berlari cepat ke barisan belakang, tepat ke arah prajurit muda yang tadi tewas terjatuh.

Prajurit muda itu tampak kebingungan melihat Ren berlari ke arahnya dengan wajah tegang dan hidung berdarah. “A-ada apa, Komandan—”

“Kaitkan tali keduamu ke sabukku, sekarang!” potong Ren seraya menyambar gesper besi prajurit itu dan menguncinya langsung ke lingkaran rantai utama yang tertanam di pilar jembatan.

Elise yang melihat gelagat Ren langsung mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. “Perisai Cahaya Penekan: Formasi Datar!”

Pendar perak menyebar cepat dari ujung tongkat Elise, membentuk lapisan pelindung transparan yang menekan seluruh barisan pasukan menempel rapat ke lantai jembatan kayu.

Tiga detik kemudian, keheningan janggal itu kembali melanda. Udara tersedot ke bawah.

“Pegang rantai sekuat tenaga!” teriak Ren seraya mencengkeram besi jembatan dengan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

KABOOOM!

Ledakan tekanan udara vertikal kembali menghantam dari dasar jurang. Jembatan rantai tersentak hebat ke udara, bergoyang liar seperti tali pecut yang diayunkan raksasa. Papan-papan kayu berderak keras dan beberapa bilah rapuh hancur terlempar ke langit.

Namun kali ini, seluruh prajurit telah merebahkan tubuh mereka dan mengunci pasak ganda ke rantai utama. Perisai cahaya Elise menyerap sebagian besar gelombang dorong, mencegah tubuh mereka terlempar ke luar lintasan.

Prajurit muda yang tadi terlempar kini hanya tergantung beberapa jengkal di bibir jurang karena sabuknya tertahan kokoh oleh kuncian ganda Ren.

“Tarik dia naik!” seru Vargas seraya merayap maju dan mencengkeram kerah zirah prajurit muda itu dengan satu tangan kekarnya, lalu menyentaknya kembali ke atas papan kayu yang kokoh.

Prajurit muda itu terengah-engah hebat, wajahnya pucat pasi menatap jurang tak berdasar di bawah kakinya. “T-terima kasih… terima kasih, Komandan…”

“Tetap tenang dan atur napasmu,” sahut Ren seraya menyeka darah di hidungnya dengan lengan baju.

Sensasi pusing berdenyut-denyut di pelipis Ren. Dua puluh detik regresi mikro telah menyelamatkan nyawa pasukannya dari jebakan alam pertama Lantai 16, namun saraf kepalanya mulai merasakan beban berat dari pembongkaran memori maut.

“Ren, kau mimisan lagi,” bisik Shizuka cemas seraya mendekat dan menempelkan kain kasa beraroma mint ke pelipis Ren. “Sarafmu bekerja terlalu keras.”

“Aku tidak apa-apa, Shizuka. Salepmu sangat membantu,” jawab Ren seraya menghela napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya yang berdegup kencang.

Elise menurunkan tongkatnya perlahan dan menatap Ren dengan rasa percaya. Sang putri tidak bertanya bagaimana Ren bisa mengetahui letak dan detik tepat meledaknya anomali udara itu. Ia telah melihat keajaiban taktis Ren sejak Lantai 10, dan baginya, hasil keselamatan pasukan adalah bukti mutlak yang tidak perlu diperdebatkan.

“Pusaran mana kinetik di bawah jurang telah mereda untuk sementara,” lapor Elise seraya memeriksa sisa energi tongkatnya. “Tapi struktur jembatan ini sudah kehilangan sepertiga bilah lantainya. Kita harus menyeberang ke pulau batu di depan sebelum gelombang kedua muncul.”

“Dengar semuanya!” seru Vargas seraya berdiri perlahan dan memeriksa pijakan kakinya. “Gunakan langkah merayap! Tumpukan berat badan kalian pada rantai samping, bukan pada papan kayu tengah!”

Barisan pasukan mulai bergerak kembali dengan ekstra hati-hati. Mereka melangkah satu per satu melompati celah-celah papan yang bolong, saling menopang dan mengulurkan tangan.

Pulau karang melayang Lantai 16-A kini hanya berjarak sekitar lima puluh langkah di hadapan mereka. Tebing batu obsidian yang kokoh dan pelataran tanah berbatu tampak menjanjikan perlindungan yang jauh lebih aman daripada jembatan gantung yang ringkih ini.

Riku yang kembali memimpin di depan telah menginjakkan kakinya di anak tangga batu pertama pulau melayang tersebut.

“Kita hampir sampai, kawan-kawan! Daratan batu sudah di depan mata!” teriak Riku dengan nada lega.

Namun, tepat saat separuh pasukan pelopor mulai melangkah keluar dari jembatan rantai, lapisan awan tebal di atas kepala mereka tiba-tiba berputar membentuk pusaran raksasa.

Suhu udara mendadak anjlok drastis hingga embun di rantai besi membeku menjadi lapisan es tipis.

Sebuah bayangan hitam pekat berukuran lebih dari lima belas meter meluncur menembus lapisan awan dengan kecepatan meluncur yang memekakkan telinga. Angin kencang yang dihasilkan oleh kepakan sayap lebarnya menyapu pelataran tebing, memecahkan kesunyian ketinggian.

KREEEEEE-AAARRRGH!

Pekikan melengking bernada tinggi menghantam gendang telinga mereka, membuat beberapa prajurit spontan menutup telinga seraya meringis kesakitan.

Dari balik kabut awan yang terkoyak, tampak seekor monster predator raksasa berkepala burung pemangsa dengan empat sayap berlapis sisik besi kelabu. Sepasang cakar belati sepanjang satu meter terhunus di bawah perutnya, meluncur lurus mengarah tepat ke arah tali rantai utama penopang jembatan yang masih dipijak oleh Ren dan barisan belakang.

“Predator Langit: Aero-Wyrm Lantai 16!” seru Elise seraya langsung mengarahkan ujung tongkatnya ke udara.

Mata Ren melebar saat melihat lintasan cakar monster itu yang berniat memotong putus rantai jembatan dalam sekali tebas, menjatuhkan seluruh sisa pasukannya ke dalam jurang kematian.

“Riku, tembakkan panah suar ke matanya! Vargas, pasang tameng di sambungan rantai!” teriak Ren seraya menghunus pedang peraknya dari sarung kulit. “JANGAN BIARKAN DIA MENYENTUH TALI UTAMA!”

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!