NovelToon NovelToon
Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Menikahi tentara
Popularitas:91.8k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.

Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Kota Makassar

Bandara Sultan Hasannudin, Makassar

     Di tempat yang berbeda, jauh dari suasana ketegangan yang dirasakan di kediaman Pak Idris, Nayra baru saja turun dari pesawat Batik Air.   

     Setelah pesawat sempat delay selama dua jam, akhirnya sekitar jam empat sore pesawat Batik Air itu take off. Nayra sudah was-was saat itu, sebab ia takut kalau kepergiannya keburu diketahui atau dilacak Ardana.

     Namun, kini rasa lega menggelayuti dadanya, setelah tadi melewati perjalanan udara sekitar dua jam. Ia tiba dengan selamat di kota Makassar, kota para Daeng, kota yang baru pertama kali ia injakan kaki di sana sepanjang hidupnya.

     Saat ia sampai, hari sudah malam. Ia tiba di kota Makassar tepat jam 18.00 WIB, atau jam 19.00 WITA.

     Nayra keluar dari Bandara Sultan Hasannudin, menuju salah satu kursi tunggu, tepat di emper bandara. Ia sengaja menunggu di sana agar orang yang menjemputnya tidak kesulitan mencarinya.

    Nayra segera merogoh HP di saku roknya, lalu menghubungi seseorang.

     "Bu Ghina, ini saya Nayra. Saya baru sampai di Bandara. Maaf, tadi pesawat sempat delay selama dua jam. Ini nomer baru saya untuk sementara, nomer lama sudah tidak saya gunakan karena beberapa hal," beritahu Nayra pada seseorang di telpon yang ia sebut dengan Bu Ghina.

     "Ya ampun, kamu Nayra? Saya sempat berpikir yang nggak-nggak tadi, karena nomer kamu yang lama tidak aktif. Syukurlah kalau kamu selamat. Oh, ya, kamu tunggu sebentar di sana. Tiga puluh menit lagi supir saya akan datang menjemput kamu," jawab Bu Ghina, sempat terkejut, tapi akhirnya lega.

     "Baik Bu Ghina, maaf merepotkan." Nayra membalas dengan emot kedua tangan ditangkup.

     Untuk beberapa menit, Nayra masih harus sabar menunggu supir Bu Ghina datang menjemput.

     Koper berukuran sedang dan tas jinjing, setia di sampingnya. Sejenak Nayra menatap kedua benda itu. Tidak ada yang istimewa, hanya sedikit pakaian dan benda penting miliknya di dalamnya.

     Kesedihan kembali merasuki dadanya. Padahal Nayra sudah berusaha untuk tidak sedih. Namun, bayangan kedua orang tua dan mertuanya yang sedih karena kepergiannya, justru menari-nari di pelupuk mata. Nayra yakin mereka akan sangat terpukul setelah tahu bahwa dirinya pergi.

     "Mafkan Nay, Pak, Bu. Mama juga Papa. Nay, tidak bermaksud menyakiti hati kalian. Semua terpaksa Nay lakukan, Nay hanya ingin membuang jauh-jauh bayangan Mas Arda dan kenangannya," gumamnya. Air mata kembali meluncur bebas membasahi pangkuannya.

     Nayra memutar kembali memori di mana dirinya memutuskan untuk benar-benar pergi.

     Sesaat setelah kepergian Ardana ke kantor, Nayra pun segera bersiap. Ia berlari menuju Sanggar Mini memasukkan map yang isinya adalah dokumen penting yang sudah ia siapkan beberapa hari yang lalu.

     Tempat pertama yang ia kunjungi adalah kantor kesatuan Ardana. Meskipun Nayra sempat was-was kalau suaminya masih berada di kantor, namun sepertinya siang itu Ardana sudah menuju RSAU untuk menangani Tiana.

      Nayra menyerahkan map yang berisi pengajuan cerai kepada atasan Ardana dengan menyertakan bukti yang kuat salah satunya surat resmi dari dokter yang menyatakan bahwa dirinya tidak bisa hamil.

     "Jadi, surat ini yang membuat Anda mengajukan cerai? Tapi, bukti ini masih perlu diuji dan mendapat persetujuan kedua belah pihak bahwa kalian sepakat berpisah." Sang atasan terlihat mengulur waktu.

     "Tidak hanya itu, Pak, bukti kuat lain adalah, tentang kedekatan suami saya dengan perempuan lain. Saya merasa kegagalan saya menjadi seorang istri karena tidak bisa memberinya keturunan, adalah penyebabnya." Nayra memberi pernyataan bahwa Ardana terbukti telah berselingkuh.

     "Jadi selain alasan Anda tidak bisa memiliki keturunan, adalah suami Anda telah berselingkuh?" Atasan Ardana yang berpangkat Kapten itu menatap Nayra lekat seperti masih meragukan.

     Nayra mengangguk pelan tapi pasti.

     "Tapi, pernyataan saja itu tidak cukup. Harus ada bukti yang menguatkan bahwa perselingkuhan itu ada," tekannya.

     Nayra terpaku untuk beberapa saat.

     "Tapi, keputusan saya bulat, saya tetap ingin bercerai. Sebab saya tidak bisa memberikan keturunan untuk suami saya. Kasihan suami saya jika ia tidak memiliki keturunan," tekan Nayra sempat emosional.

     Kapten itu tidak membalas, ia fokus dengan berkas-berkas pengajuan yang disodorkan Nayra.

     "Prosesnya tidak singkat. Dan berkas pengajuan ini perlu kami pelajari terlebih dahulu. Setelah itu ada tahapan selanjutnya yang harus kedua belah pihak jalani, seperti mediasi dan lain sebagainya. Nanti akan ada pemanggilan kedua belah pihak di pengadilan jika berkas ini sudah resmi diajukan."

     Nayra sempat bimbang setelah mendengar penjelasan Kapten itu. "Tapi, saya yakin suami saya akan setuju dengan perceraian ini. Sebab selama ini dia tidak pernah mencintai saya, dan saya tidak bisa mengandung."

     "Maaf, benar ini dengan Mbak Nayra dari Bandung?" Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan Nayra yang sedang melamun.

     "Oh, i~iya. Saya Nayra. Bapak yang ditugaskan Bu Ghina untuk menjemput saya?" Nayra kemudian bangkit setelah sadar dari rasa kagetnya.

     "Betul Mbak, saya Pak Sakir, supir yang ditugaskan Bu Ghina. Ayo mari, saya masukkan dulu tas dan kopernya." Pak Sakir mengulurkan tangan dan meraih tas jinjing dan koper sedang milik Nayra, kemudian ia masukkan ke dalam bagasi mobil.

     Nayra mengikuti Pak Sakir dan memasuki mobil itu. Kini, mobil itu melaju menuju sebuah tempat di mana Bu Ghina berada.

     Lamunan saat berada di kantor Ardana, sejenak teralihkan dengan perjalanan ke sebuah tempat yang sama sekali belum pernah Nayra singgahi.

     "Selamat datang di kota Tamalanrea." Seorang perempuan paruh baya sekitar 50 tahun, modis, cantik dan berkelas, menyambut Nayra dengan senyum yang merekah. Dia menatap Nayra takjub.

     "Ya ampun, ternyata kamu masih muda, hampir seumuran dengan anak saya. Tapi, sepertinya dia beberapa tahun lebih tua dari kamu."

     Nayra tersenyum malu-malu. Sikapnya masih sangat canggung di hadapan Bu Ghina.

     "Terima kasih, Bu."

     "Baiklah, saya akan bawa kamu ke sebuah apartemen. Kamu bisa tinggal di apartemen untuk sementara. Malam ini kamu bisa istirahat dulu. Besok kita lanjutkan pembicaraan kita." Bu Ghina membawa Nayra ke sebuah apartemen berukuran sedang untuk tempat tinggalnya.

     Untuk saat ini, hatinya sedikit tenang. Namun, tiba-tiba bayang sang Ibu yang bersedih membayanginya. Ternyata Nayra belum bisa tenang meskipun ia sudah berada jauh dari Ardana.

"Ibu... Bapak...."

     Di tempat yang berbeda, di kota Bandung, Ardana masuk RS. Ia segera dilarikan ke RS karena tidak sadarkan diri. Kali ini Bu Karina setia menemani, bagaimanapun juga Ardana merupakan putranya yang dulu saat kecil selalu ia manjakan.

NB: Mohon maaf baru bisa up lagi. 😭😭😭😭. Dan karena di bab ini latar tempatnya berada di kota Makassar, untuk itu saya mohon maaf karena tidak bisa menyertakan dialog logat Makassar.

1
Piyah
masa2 g ketemu sih
kasian tau ardana
Rina
Semoga yang terbaik buat semuanya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Tini Uje
sebelum lahiran harus ketemu suaminya ini thor..tar dikira anak tama lagi
Sri Widiyarti
sekarang liat Ardana kasian ..
Aditya hp/ bunda Lia
wah, ... padahal udah bener ke Makasar udah Deket tapi nyerah dan langsung ke Surabaya ... udah cukup kayaknya Thor kasian juga lagian kayaknya bakalan di pecat yah si Arda dari kesatuannya dia udah kayak buronan
Aditya hp/ bunda Lia
pertemukan ajah Thor tapi bikin Nay gak mudah untuk memaafkan
Patrick Khan
pertemuan yg alot sekali.. enak gk ardan😂😂😂
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
bisa dipecat dg tidak hormat ini si Ardana 🤭👻
Nar Sih
kak thorr sdh cukup kayak nya penderitaan ardana juga penyesalan nya ,tolong sgra pertemukan sja dgn nayra ,sblm ank mereka lahir
Nar Sih
ketemuin aja ardana dgn nayra kak
Arin
Sayang sekali gak ketemu aku di Kalimantan. Coba ketemu...... aku kasih tau dia posisi Nayra ada dimana🤣🤣🤣
Sayangnya aku lagi liburan ke Jakarta. Apel suami
🤭🤭🤭
Arin: iya tinggal di Pontianak
total 2 replies
Sri Widiyarti
ikuti kak author aja semangat up-nya kak 🥰
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak..... 🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
semangat ardan
Lina Zascia Amandia: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
bener Thor siksa dulu lahir batin si Arda tuman ...
Lina Zascia Amandia: Ada yg setuju rupanya..... 🤭🤭🤭🤭🥰🥰🥰
total 1 replies
Yuliana Tunru
hrs mng heejuang tp bodoh jg sih ..apa tak ada yg liat berita lwt hp ya knp jg tak sebarkan biar siapa tau ada yg kenal atau liat 🤭🤭
sunaryati jarum
Nikmati buah perilaku mu pada istrimu,selama ini,Arda. Baru 2 bulan pencarian kamu,belum sebanding dengan lamanya kau menyakiti Nayra.
Atjeh ponsel
ceritanya sangat menarik
Sri Widiyarti
lanjut kak ditunggu up-nya 🥰
Nar Sih
jgn putus asa arda 💪terus cari nayra semoga kak othor sgra mempertemukan kalian
Rina
Semangat Arda tunjukan ketulusan dan keseriusan kamu dalam mencari keberadaan Naura 🫢🫢🫢🫢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!