Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat
Annabella tak pernah menyangka bisa menghirup udara bebas secepat ini.
Tiga tahun.
Setelah terkurung di balik jeruji besi selama tiga tahun, pintu penjara akhirnya terbuka lebar untuknya. Namun kebebasan itu tidak membawa kebahagiaan sedikit pun. Apalagi, orang yang menunggunya di luar adalah Lucian Winston.
CEO Wins IT.
Pria paling berkuasa di Jakarta Utara, sekaligus orang yang paling membencinya setelah kejadian penculikan adiknya.
“Apa sebenarnya maksud semua ini?” tanya Annabella. Ia berdiri beberapa langkah di depan Lucian, wajahnya pucat pasi, sementara kedua tangannya meremas erat tali tas kecil yang ia bawa.
Lucian memasukkan satu tangan ke saku celana. Tatapannya datar dan dingin, tak ada secercah kehangatan sama sekali.
“Kau bebas.”
“Aku tahu aku sudah keluar. Hukumanku seharusnya dua belas tahun, tapi aku baru menjalani tiga tahun. Kenapa aku dibebaskan secepat ini?”
Di hati Annabella, kecurigaan tumbuh kuat. Ada sesuatu yang disembunyikan pria ini. Apa sebenarnya yang ia inginkan darinya?
“Bukankah seharusnya kau bersyukur?” ujar Lucian.
“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau rencanakan,” balas Annabella sambil menggeleng pelan.
Sudut bibir Lucian terangkat sedikit. Bukan senyum ramah, melainkan senyum tipis yang membuat bulu kuduk Annabella berdiri.
“Kau akan segera mengerti.”
“Aku tidak mau berurusan denganmu lagi, Tuan Lucian.”
Annabella berbalik, berniat pergi. Tapi suara bariton Lucian segera menahan langkahnya.
“Kalau kau pergi sekarang, hidup pamanmu akan berakhir hari ini.”
Mendengar ancaman itu, tubuh Annabella seketika membeku. Ia menoleh perlahan. “Apa?”
“Pamanmu, Aditya, sedang sekarat,” jawab Lucian sambil terus menatapnya tanpa ekspresi.
“Jangan bercanda!” bentak Annabella tak percaya. “Kenapa kau sampai membawa‑bawa nama pamanku?”
“Karena sepertinya kau belum tahu apa yang terjadi pada satu‑satunya keluargamu itu.”
Jantung Annabella berdegup kencang, dadanya terasa sesak menahan cemas.
“Dia kenapa?”
“Dia jadi korban tabrak lari.”
Tabrak lari?
“Tidak mungkin…” bisiknya lirih.
“Dia sudah koma selama lima bulan,” lanjut Lucian.
Pikiran Annabella langsung kacau balau.
Lima bulan?
Selama satu tahun terakhir, Paman Aditya memang tidak pernah datang menjenguknya. Dulu ia mengira pamannya sedang sibuk mengurus urusan bisnis, lalu mencoba berpikir positif bahwa mungkin ada kesulitan sementara. Ia tidak pernah menyangka kenyataan yang jauh lebih buruk telah menimpa pria itu.
“Bagaimana bisa? Kenapa aku tidak tahu? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?” tanyanya bertubi‑tubi dengan suara bergetar.
“Karena tidak ada seorang pun yang bisa menghubungimu saat kau di dalam penjara,” jawab Lucian datar.
Mata Annabella mulai berkaca‑kaca.
“Bagaimana keadaan Paman sekarang?”
“Selama koma, tidak ada yang mengurus bisnisnya. Biaya rumah sakit terus menumpuk sampai‑sampai sekarang dia tidak punya cukup uang untuk perawatan lagi.”
Lucian berhenti sejenak, membiarkan kata‑katanya menghantam hati Annabella.
“Dokter akan menghentikan perawatannya hari ini.”
“TIDAK!” pekik Annabella histeris.
“Itu tidak mungkin.”
Kedua lututnya terasa lemas. Ia memegang tasnya dengan erat agar tidak terjatuh, sementara air mata mulai mengalir tanpa bisa ia tahan.
Aditya adalah satu‑satunya keluarga yang ia miliki. Ketika semua orang meninggalkannya, pria itu tetap ada di sisinya. Ketika seluruh dunia menghakiminya, hanya pamannya yang masih percaya padanya.
“A‑Aku ingin menemuinya.” Annabella mengusap air matanya dengan punggung tangan. “Tolong, bawa aku ke rumah sakit.”
Lucian diam saja.
“Aku mohon. Aku tidak punya siapa‑siapa lagi selain Paman Aditya. Aku harus menemuinya, aku harus melihatnya.”
“Aku bisa membawamu ke sana,” ujar Lucian akhirnya.
Annabella langsung mengangguk cepat.
“Terima kasih. Aku akan—”
“Tapi ada syaratnya.”
Kalimat itu meruntuhkan harapan yang baru saja tumbuh. Annabella menatapnya bingung.
“Syarat apa?”
Lucian melangkah mendekat. Tatapannya tetap dingin, seolah tidak memberi ruang baginya untuk menolak.
“Kau harus menikah denganku.”
Annabella tertegun.
“Apa?”
“Kau dengar apa yang kukatakan.”
“Tidak akan.” Annabella menggeleng keras. “Aku tidak mau menikah denganmu!”
“Aku belum selesai bicara.”
“AKU BILANG TIDAK!” teriak Annabella.
Untuk pertama kalinya, ia berani meninggikan suara di depan pria itu. Meski ketakutan, ia memaksakan diri menatap mata tajam Lucian.
“Kau membenciku. Kau ingin aku menderita karena apa yang terjadi pada adikmu. Tapi jangan gunakan Paman Aditya untuk memaksaku!”
“Kalau begitu, kau memilih membiarkan pamanmu meninggal?” balas Lucian dengan suara meninggi.
“Jangan! Jangan katakan hal itu!” mohonnya dengan suara pecah.
“Kalau kau ingin dia tetap hidup, menikahlah denganku.”
“Kau tidak boleh melakukan ini kepadaku…”
“Aku bisa.”
Dua kata itu diucapkan Lucian dengan nada tenang, seolah nasib orang lain bukanlah hal yang perlu membuatnya merasa bersalah.
“Kenapa? Kenapa kau ingin menikahiku kalau kau begitu membenciku? Kau bisa meminta hal lain!”
Sesaat itu, tatapan Lucian menjadi semakin gelap.
Membebaskan Annabella bukan berarti ia sudah memaafkan perempuan itu.
Tidak.
Ia hanya tidak ingin Annabella menghabiskan sisa masa hukumannya di balik jeruji besi. Ia ingin perempuan itu berada di bawah pengawasannya sendiri.
Menjadikannya istri, membawanya tinggal di rumahnya, dan membuat Annabella merasakan setiap hari bahwa hidupnya kini berada dalam neraka yang ia buat.
“Itu bukan urusanmu. Kau hanya perlu memutuskan,” jawab Lucian dingin.
Annabella menunduk. Air matanya jatuh satu per satu ke lantai. Ia ingin menolak, ingin lari sejauh mungkin dari pria itu. Tapi bayangan Paman Aditya yang terbaring tak berdaya menghilangkan seluruh keberaniannya.
“Kalau aku menikah denganmu… kau benar‑benar akan menyelamatkan Paman?”
“Aku akan membayar seluruh biaya pengobatannya,” tukas Lucian tanpa berkedip.
“Dan kau tidak akan membiarkan dokter menghentikan perawatannya?” tanya Annabella lagi.
“Selama kau tidak membuat masalah, aku akan terus membiayainya.”
Annabella memejamkan mata. Rasanya seperti berdiri di tepi jurang, dipaksa memilih antara harga dirinya atau nyawa pamannya.
Perlahan‑lahan ia mengangkat wajah.
“Aku tidak menyukaimu, Lucian Winston.”
“Aku tidak butuh cintamu,” jawab pria itu sambil membukakan pintu mobil.
“Aku hanya mau kau menjadi istriku.”
Annabella menatap pintu mobil itu dengan mata masih berkaca‑kaca. Ia berusaha menahan air matanya, tapi hatinya terasa perih sekali.
Hari itu ia sadar, kebebasan yang baru saja ia terima bukanlah akhir dari hukumannya.
Justru, itu adalah awal dari hukuman yang jauh lebih menakutkan.
Karena kali ini, penjaranya tidak memiliki jeruji besi.
Penjaranya bernama Lucian Winston.
“Kenapa diam saja? MASUK!” bentak Lucian dengan nada mengancam.
“B‑Baik.”
__
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???