CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GODAAN SEKITAR
Afu dan Alu melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor menuju sebuah minimarket yang tak jauh dari apartemen.
“Gue mau tanya, kita mau ke mana sih,? Kok malah arahnya ke minimarket?” tanya Alu.
“Gue mau cari perlengkapan khusus cowok. Deodoran gue habis, minyak rambut sama parfum juga udah hampir habis.”
Alu pun teringat bahwa barang-barangnya yang disebutkan Alu juga sudah waktunya diganti.
“Wah, kebetulan. Gue juga mau cari deodoran sama parfum. Sekalian gue mau cari mi instan atau bubur instan buat isi perut, soalnya lo nggak nyisain makanan sama sekali di apartemen.”
Mereka pun langsung melajukan kendaraan hingga memasuki area parkir minimarket.
Alu turun dari motor dan langsung membuka jaketnya. Beberapa orang yang berada di parkiran pun mulai memandangi tubuhnya.
Bahkan, ada yang membicarakan cara berpakaian Alu.
“Gila, tuh cewek nekat banget pergi ke minimarket nggak pakai pakaian dalam.”
Mendengar perkataan orang-orang di sekitar mereka, Afu segera mengambil kembali jaket Alu, lalu melingkarkannya ke tubuh saudaranya itu.
“Alu, lo gila, ya? Ini tempat umum. Lo harus perhatikan pakaian lo! Nih, pakai jaket gue buat nutupinnya.”
Alu memandang Afu dengan tatapan kurang senang. Namun, saat menyadari orang-orang memang sedang memperhatikannya, dia akhirnya memakai jaket tersebut.
Mereka kemudian masuk ke minimarket dan bergegas memilih barang-barang yang dibutuhkan.
Setelah selesai berbelanja, mereka menuju kasir untuk membayar. Namun, saat hendak melakukan pembayaran, Alu merasa ada satu barang yang belum dibelinya.
“Tunggu sebentar, Mbak. Gue mau beli pisau cukur. Kayaknya bulu kumis dan cambang gue sebentar lagi mulai tumbuh.”
Perkataan Alu membuat kasir perempuan yang melayani mereka memperhatikan wajahnya dengan agak serius. Kemudian, dia tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Alu menyerahkan pisau cukur itu kepada kasir. Namun, kasir tersebut sempat memastikan sesuatu kepadanya.
“Maaf, Mbak. Ini pisau cukur khusus untuk pria, kan?”
Alu memandang kasir itu dengan perasaan aneh. Namun, rasa percaya dirinya yang tinggi segera membuatnya membusungkan dada dan mengacungkan jempol.
“Betul sekali, Mbak! Itu khusus buat gue. Jaga-jaga kalau jambang gue tumbuh. Takut kelihatan makin ganteng!”
Kasir perempuan itu memandang Afu dan Alu secara bergantian. Kemudian, dia tersenyum aneh dan melanjutkan proses pembayaran.
Setelah menyerahkan belanjaan mereka, kasir itu sempat menggoda Afu.
“Kak, kalau pacarnya udah ganteng, saya titip salam, ya!”
Alu dan Afu saling berpandangan. Alu buru-buru menarik Afu pergi dengan wajah kurang senang.
“Afu, ini semua gara-gara lo! Semua cewek jadinya naksir sama lo, padahal kan lo tahu gue lebih ganteng dan keren daripada lo!”
Afu memukul pundak Alu pelan sambil mencibir.
“Ngomong sama tong sampah aja, sana! Tuh, lihat bayangan lo di kaca minimarket!”
Alu pun menoleh ke arah pintu kaca minimarket. Dia hampir meloncat karena terkejut melihat pantulan bayangan mereka.
“Anjay! Kenapa lo nggak bilang kalau gue masih jadi Awen? Pantas aja dari tadi cowok-cowok brengsek pada godain gue!”
Afu menepuk-nepuk pundak saudaranya seolah-olah sedang menenangkan Alu. Namun, kata-katanya justru terdengar meledek.
“Ya udah, Alu. Kalau gitu, lo harus banyak-banyak beramal, khususnya ke gue. Gue terima, kok, sedekah lo. Mau cash atau transfer?”
Namun, Alu tidak menanggapi candaan tersebut. Wajahnya justru terlihat frustrasi.
“Ya ampun, Afu! Pesona gue kandas gara-gara kecantikan di wajah gue ini!”
Afu segera meraih tubuh saudaranya dan merengkuhnya ke dalam pelukan.
Namun, beberapa pengunjung yang berada di sekitar minimarket memperhatikan mereka. Ada yang tersenyum malu-malu, bahkan ada yang berkomentar bahwa mereka romantis sekali.
Afu akhirnya menggandeng tangan Alu dan membantunya naik ke motor. Sementara itu, tubuh Alu tampak kaku seperti robot yang sedang dikendalikan oleh Afu.
Mereka pun meninggalkan minimarket dengan perasaan yang berbeda, aku tenang karena kebutuhannya sudah dia dapatkan, sementara alu merasa frustasi dengan tubuh baru yang dia dapatkan.