OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Nadira Prameswari tidak pernah menyangka sebuah artikel bisa membuatnya ingin membuang ponsel ke tempat sampah.
Bukan karena tulisannya dikritik.
Bukan juga karena ada penggemar Vex yang mengirimkan pesan panjang tentang betapa tidak berharganya pendapat seorang jurnalis yang tidak pernah bermain di turnamen profesional.
Masalahnya jauh lebih konyol.
Namanya sedang menjadi bahan perbincangan bersama Raka Adhitama, dan internet tampaknya sudah memutuskan bahwa mereka cocok.
Padahal, mereka bahkan belum sepakat tentang cara menyeduh kopi.
"DIRA!"
Nadira hampir menjatuhkan gelasnya ketika Dimas berlari menghampiri mejanya.
"Apa lagi?"
Dimas menyodorkan ponsel dengan wajah penuh semangat.
"Lihat ini!"
Di layar terpampang sebuah unggahan dari akun esports populer.
VEX KETEMU WARTAWAN PALING BERANI SE-INDONESIA. KENAPA KELIHATANNYA KAYAK PASANGAN YANG HOBINYA BERANTEM?
Di bawahnya ada foto Raka yang sedang menatap Nadira ketika mereka berjabat tangan di markas ASTRAL.
Sudut pengambilan gambarnya membuat ekspresi Raka terlihat lebih lembut daripada biasanya.
Sementara Nadira tampak tersenyum.
Komentarnya sudah mencapai ribuan.
Vex senyum ke cewek? SIAPA DIA?
Enemies to lovers in real life, guys.
Gue enggak peduli mereka pacaran atau enggak. Gue cuma mau lihat mereka debat lagi.
Nadira menatap foto itu tanpa berkedip.
"Siapa yang mengambil foto ini?"
"Staf ASTRAL, mungkin. Yang jelas, sekarang foto kalian ada di mana-mana."
"Kami cuma berjabat tangan!"
"Internet tidak peduli."
Nadira menjatuhkan diri ke kursinya.
"Aku benci internet."
"Padahal itu sumber penghasilan kita."
"Aku benci internet secara emosional."
Dimas tertawa sambil kembali ke mejanya.
"Ngomong-ngomong, artikel lanjutanmu bagus. Pembacanya meningkat hampir dua kali lipat."
Nadira meliriknya tajam.
"Jangan bilang kamu senang melihatku dijadikan bahan gosip."
"Gue senang melihat angka pembaca."
"Bedanya tipis."
"Selama gaji kita dibayar, perbedaan itu tidak penting."
Nadira menggeleng pasrah.
Ia membuka laptop dan mulai bekerja, berusaha mengabaikan notifikasi yang terus berdatangan.
Namun, sebuah pesan baru membuatnya berhenti mengetik.
Raka Adhitama:
Anda tahu foto kita sedang ramai dibicarakan?
Nadira mengangkat alis.
Ia bahkan tidak tahu bagaimana Raka mendapatkan nomor pribadinya. Mungkin dari pihak media ketika mengatur jadwal wawancara.
Ia membalas singkat.
Nadira:
Tahu. Selamat, Kapten. Sekarang Anda punya pengalaman baru selain memenangkan pertandingan.
Balasan datang hampir seketika.
Raka:
Saya tidak sedang bercanda.
Nadira:
Saya juga tidak. Selamat atas debut Anda sebagai pasangan idaman internet.
Tiga titik muncul di layar.
Menghilang.
Muncul lagi.
Lalu sebuah pesan masuk.
Raka:
Jangan menyebarkan rumor yang tidak benar.
Nadira mengernyit.
Ia membaca pesan itu sekali lagi sebelum membalas.
Nadira:
Kalau Anda ingin meluruskan rumor, hubungi akun yang mengunggah foto. Saya bukan admin mereka.
Kali ini, Raka tidak langsung membalas.
Nadira tersenyum puas.
Setidaknya, ia berhasil mengakhiri percakapan tanpa berdebat panjang.
Ponselnya bergetar lagi.
Raka:
Anda selalu harus menang, ya?
Nadira mengetik jawabannya sambil tersenyum.
Nadira:
Tidak. Kadang saya membiarkan orang lain menang supaya mereka bahagia.
Ia mengirim pesan itu, lalu mematikan layar ponselnya.
Untuk beberapa detik, ia merasa telah memenangkan sesuatu.
Sampai Dimas berteriak dari mejanya.
"DIRA! LO DIUNDANG KE ACARA PELUNCURAN TURNAMEN NASIONAL!"
Nadira menoleh.
"Terus?"
Dimas menyeringai.
"ASTRAL juga diundang. Termasuk Vex."
Nadira memejamkan mata.
Tentu saja.
Semesta rupanya punya selera humor yang buruk.
Di markas ASTRAL, Raka sedang menghadapi masalah yang sama.
Bedanya, ia tidak punya editor yang bisa diajak mengeluh.
Manajer timnya, Arman, berdiri di depan meja sambil menjelaskan jadwal acara peluncuran turnamen.
"Besok malam, kita hadir untuk sesi media dan pengenalan tim. Ada wawancara singkat dengan beberapa jurnalis."
Raka mengangguk sambil memeriksa jadwal di tablet.
"Baik."
"Termasuk Nadira Prameswari."
Jari Raka berhenti bergerak.
Arman mengangkat alis.
"Ada masalah?"
"Tidak."
"Bagus. Karena setelah foto kalian viral, pihak penyelenggara meminta kalian berada dalam satu sesi wawancara."
Raka mengangkat wajah.
"Kenapa?"
"Karena publik tertarik."
"Publik seharusnya tertarik pada turnamennya."
"Publik tertarik pada apa pun yang bisa mereka jadikan bahan pembicaraan."
Raka mengembuskan napas.
Ia sudah menghadapi lawan yang lebih sulit daripada Nadira. Ia pernah bermain dalam pertandingan final dengan jutaan orang menonton, menghadapi tekanan sponsor, dan memimpin tim saat semuanya hampir berantakan.
Namun, menghadapi seorang jurnalis yang bisa membuatnya kehilangan kata-kata ternyata membutuhkan strategi tersendiri.
"Batalkan sesi bersama," katanya.
Arman menatapnya datar.
"Kenapa?"
"Karena itu tidak relevan."
"Raka, kamu boleh menjadi kapten tim yang hebat. Tapi kamu tidak bisa mengatur semua hal hanya karena tidak menyukainya."
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Arman benar.
Dan Raka paling tidak suka ketika orang lain benar saat ia sedang kesal.
"Baiklah," jawabnya akhirnya. "Saya akan hadir."
"Bagus."
"Tapi kalau dia bertanya soal kehidupan pribadi saya, saya tidak akan menjawab."
Arman mengangguk.
"Itu hak kamu."
Setelah manajernya pergi, Raka membuka ponselnya lagi.
Ia menemukan unggahan yang sama, lengkap dengan komentar-komentar yang membuat kepalanya pening.
Salah satu komentar berbunyi:
Vex kelihatan lebih bahagia waktu sama cewek itu daripada waktu menang turnamen.
Raka mendengus.
Omong kosong.
Ia jauh lebih bahagia saat memenangkan pertandingan.
Jelas.
Namun, tanpa sadar, ia membuka percakapannya dengan Nadira.
Pesan terakhir perempuan itu masih terpampang di layar.
Kadang saya membiarkan orang lain menang supaya mereka bahagia.
Raka menggeleng kecil.
"Mustahil."
Ia meletakkan ponselnya, lalu kembali berlatih.
Anehnya, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia justru menantikan sebuah acara media.
Bukan karena turnamennya.
Bukan karena sponsor.
Melainkan karena ia ingin melihat apakah Nadira akan tersenyum lagi saat mereka bertemu.
Dan itu, menurut Raka, merupakan masalah yang jauh lebih serius daripada rumor internet.