Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 26
Deru halus mesin supercar mereda begitu kendaraan mewah itu berhenti tepat di pelataran parkir khusus eksekutif Altamas Group. Zemima melangkah keluar dengan keanggunan mutlak. Setiap pijakan tumit sepatu hak tingginya berdentang mantap di atas lantai granit, memancarkan aura dominasi yang sukar dibantah. Beberapa karyawan yang melintas di lobi utama menunduk hormat saat menyadari siapa sosok wanita anggun yang baru saja masuk melalui pintu lift khusus direksi.
Pintu lift berdenting lembut di lantai teratas. Begitu Zemima melangkah menuju ruang kerja utamanya yang megah dan berdinding kaca transparan, seorang wanita muda berpenampilan sangat profesional sudah berdiri menunggunya dengan sebuah map kulit tebal di tangan.
"Selamat pagi, Bu Zemima," sapa Maya, asisten pribadinya yang paling dipercaya, memberi salam dengan bungkukan khidmat.
"Pagi, Maya," balas Zemima datar seraya melepas kacamata hitamnya dan menyerahkan tas ke atas meja kerja. Ia menyandarkan tubuh di kursi eksekutif berbalut kulit hitam.
"Bagaimana hasil penelusuran yang aku minta beberapa hari kemarin? Apa sudah ada hasilnya?"
Maya melangkah mendekat, membuka map tebal itu dan meletakkannya dengan presisi di hadapan Zemima. Matanya menunjukkan raut keseriusan yang tinggi.
"Semua informasi mengenai wanita bernama Dina sudah terkumpul lengkap, Bu. Dan dugaannya sangat tepat, dia bukan sekadar 'istri sepupu jauh' seperti yang disampaikan Pak Arsyad dan keluarganya kepada Anda."
Zemima menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Ia membuka halaman pertama laporan tersebut yang berisi foto-foto kedetakatan Arsyad dan wanita bernama Dina itu.
"Jelaskan ringkasannya."
Maya mengangguk pelan, jemarinya menunjuk sebuah pasfoto wanita berparas manis namun terkesan polos di lembar pertama.
"Dina Safitri, dua puluh dua tahun. Empat bulan lalu, dia mendadak mengajukan pengunduran diri dari anak perusahaan Altamas, kantor tempat Pak Arsyad bertugas. Alasan resminya adalah masalah keluarga, tetapi catatan internal menunjukkan hal yang jauh berbeda."
Zemima menyesap cangkir espresso hangat yang sudah disiapkan di mejanya, matanya meneliti rekam jejak kerja Dina.
"Lanjutkan."
"Sebelum resign, Dina adalah Staf Khusus di divisi yang dipimpin langsung oleh Pak Arsyad," jelas Maya dengan nada penuh penekanan.
"Berdasarkan penelusuran tim kita terhadap para staf dan rekaman CCTV internal selama delapan bulan terakhir, kedekatan mereka sudah menjadi rahasia umum di kantor cabang. Bahkan dari awal proyek Surabaya akan di resmikan dia pernah ikut ke sana. Dan setelah dia resign juga ikut menyusul Pak Arsyad ke sana dengan penerbangan berbeda, dan tinggal di kamar hotel yang sama... Maaf, Bu... Kalau informasinya terlalu menyakitkan!"
"Tak masalah, Maya! Jangan mengasihani, saya!" jawab Zemima berusaha tegar dan tenang di depan Maya.
Padahal sesungguhnya dalam dadanya bergemuruh. Dan tangannya gemetar menahan amarah. Dugaannya ternyata benar, sekuat-kuatnya Zemima, tetaplah dia seorang wanita yang memiliki perasaan yang lembut dan rasa sakit yang sama dengan perempuan lainnya saat tahu di khianati oleh suami yang dia percaya dan cintai selama ini.
Maya membalik halaman laporan, menampilkan deretan foto dokumentasi, salinan manifes perjalanan dinas, hingga lembaran lembur kantor.
"Pak Arsyad sering kali membawa Dina dalam perjalanan dinas luar kota, termasuk proyek Surabaya, Bali, dan Makassar. Bahkan untuk urusan yang tidak membutuhkan staf khusus, Pak Arsyad selalu memastikan Dina yang mendampinginya. Saksi mata dari rekan sejawat menyebutkan bahwa Pak Arsyad sangat protektif pada Dina, sering membelikan makan siang khusus, hingga memberikan bonus tunjangan yang jauh di atas standar staf biasa."
Zemima terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang membuat ruangan megah itu terasa mendadak mencekam. Jemari lentiknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca.
"Pria yang sangat dermawan pada bawahannya," gumam Zemima tajam.
"Lalu, kenapa dia mendadak resign empat bulan lalu?"
Maya memajukan tubuhnya sedikit, suaranya memelan namun sarat informasi krusial.
"Empat bulan lalu adalah tepat saat Dina diketahui hamil, Bu. Berdasarkan catatan medis dari klinik swasta yang dibiayai menggunakan rekening pribadi Pak Arsyad... usia kehamilannya saat ini memasuki bulan tujuh. Tepat setelah tes kehamilan itu keluar, Pak Arsyad mengurus pengunduran diri Dina secara sepihak, menyewakan unit apartemen sementara untuknya, sebelum akhirnya memindahkannya ke rumah ibunya dengan alibi 'istri sepupu jauh yang ditinggal bekerja suami'."
"Ceroboh sekali! Membayar biaya rumah sakit dengan menggunakan kartu pribadi! Mungkin karena dia mengira aku wanita yang paling bucin dan bodoh karena dia hanya tahu aku seorang staff biasa saja! Beruntung aku menahan diri tak mengatakan kalau aku adalah pemilik perusahaan cabang tempat dia mengais rezeki!"
Zemima meletakkan cangkir espressonya. Suara denting keramik beradu meja bergema nyaring di dalam ruangan. Tatapannya kini benar-benar membeku, mengintai foto wajah Arsyad dan Dina yang berdampingan di dalam berkas.
"Bagus sekali permainan suamiku itu," bisik Zemima manis, namun pendar kemarahan di matanya tak lagi bisa disembunyikan.
"Dia memanfaatkan fasilitas perusahaan, menggunakan uang operasional kantor untuk memanjakan selingkuhannya, lalu membawa wanita hamil itu ke rumah ibunya sendiri untuk disembunyikan dari mataku."
"Apakah Anda ingin saya membocorkan bukti perlakuan khusus dan penyalahgunaan wewenang ini ke komite etik kantor cabang sekarang, Bu? Jika laporan ini diturunkan, posisi promosi Pak Arsyad sebagai calon Pimpinan Cabang akan dipastikan gugur seketika, bahkan dia bisa dipecat secara tidak hormat," tawar Maya tegas.
Zemima mengibaskan tangannya pelan, menyunggingkan senyum paling anggun yang pernah ada.
"Jangan dulu, Maya. Itu terlalu cepat dan terlalu mudah buat Arsyad."
Zemima bangkit dari kursi kerjanya, melangkah menuju dinding kaca devider yang menampilkan pemandangan megah gedung-gedung pencakar langit kota dari lantai atas.
"Biarkan dia menikmati mimpinya menjadi Pimpinan Cabang sebentar lagi. Biarkan dia tetap merasa bahwa alibi 'cemburu buta' yang dia tuduhkan padaku pagi ini adalah sebuah kebenaran. Biarkan dia sibuk panik memikirkan siapa sebenarnya aku di Altamas Group."
Ia membalikkan badan, menatap Maya dengan binar mata penuh rencana pembalasan.
"Kumpulkan seluruh data alokasi dana dan bukti pengeluaran pribadi Arsyad untuk Dina dan kelaurganya yang diambil dari anggaran proyek. Pastikan semua tercatat rapi. Termasuk bukti pengelapan dana perusahaan dan proyek untuk menyicil mobil dan motor yang etrparkir di rumah mereka,"
"Baik, Bu... Dan ada informasi lain, Bu... Minggu ini, keluarga Pak Arsyad akan mengadakan acara tujuh bulanan di rumahnya..."
"Ck! Lalu statusnya dengan Arsyad apa? Apa mereka sudah menikah?"
"Sepertinya mereka tidak menikah, karena tak ada catatan pernikahan siri juga, Bu!"
"Astaga! Keduanya sangat bajingan! Jadi mereka pasangan kumpul kebo? Bahkan tak sayang kepada anak yanga bahkan tak tahu salah dan dosanya? Tujuh bulanan di rayakan, tapi menikah tidak! Sungguh miris! Ah, aku menyasal sekali mencintai pria seperti itu, Maya!"