Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
Staf toko dengan sigap mengeluarkan sebuah cincin solitaire dengan berlian besar yang berkilau sempurna di atas nampan beludru. Julian meraih cincin itu, lalu dengan gerakan tanpa bantahan, ia menyelipkannya ke jari manis Elena.
Ukurannya pas, dan kilau mewah berlian itu memang terlihat sangat kontras di jemari lentik Elena membuat tangan gadis itu tampak mahal dan sepenuhnya "ditandai".
Namun, sebelum Elena sempat menarik tangannya atau melayangkan protes, suasana privat di butik mewah itu mendadak dipecahkan oleh getaran singkat dari ponsel yang tergeletak di atas meja kaca di hadapan Julian.
Layar ponsel Julian menyala terang. Dua notifikasi pesan masuk muncul secara beruntun, terpampang begitu jelas hingga bisa dilihat sekilas oleh mereka berdua.
Pesan pertama datang dari Claire. Sebuah foto berformat preview yang dikirimkan—sebuah photo auto-delete bernuansa intim, pap bugil yang sengaja dikirimkan Claire untuk memancing perhatian Julian di tengah kesibukannya.
Belum sempat Julian merespons atau buru-buru menekan layar ponselnya, notifikasi kedua menyusul detik itu juga. Kali ini dari Ibu Julian, mengirimkan pesan teks panjang yang mengingatkan.
"Jules, lusa kalau kamu sudah sampai Jakarta, langsung urus jadwal fitting baju pengantin sama Claire ya. Jangan ditunda-tunda lagi, waktunya makin mepet."
Keheningan yang mencekam langsung merayap di antara mereka berdua.
Julian, yang sedetik lalu masih memasang raut wajah penuh kuasa dan dominasi, mendadak membeku. Darahnya terasa berdesir dingin.
Rasa panik yang luar biasa merayap menghantam dadanya, bukan karena foto dari Claire, melainkan karena timing yang sangat buruk ini terjadi tepat di depan mata Elena di detik yang sama saat ia baru saja memakaikan cincin mewah ke jari sahabat yang diam-diam paling ia gilai.
Julian buru-buru meraih ponselnya, berniat langsung mematikan layar atau menghapus notifikasi itu dengan gestur canggung. "El, itu—"
Namun, reaksi Elena justru jauh di luar dugaan.
Gadis itu tidak marah. Tidak ada lagi rona cemberut atau mata yang berkaca-kaca karena emosi. Elena malah melirik sekilas ke arah layar ponsel Julian yang menampilkan pesan dari sang ibu dan preview foto dari Claire, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman yang terasa begitu tenang, teramat rasional, dan justru menyayat hati Julian hingga ke akar.
"Tuh kan, apa aku bilang," bisik Elena pelan, menarik tangannya perlahan dari genggaman Julian, meski cincin berlian mahal itu kini masih melingkar sempurna di jari manisnya.
Elena mendongak, menatap mata Julian yang kini diliputi kepanikan terselubung.
"Ibu kamu udah ngingetin, Claire juga udah nungguin di sana," lanjut Elena dengan suara yang terdengar sangat lembut, tanpa ada secercah rasa cemburu pun di dalamnya.
"Jangan buang waktu lebih lama lagi di sini buat ngurusin aku, Jules. Lusa kamu harus balik ke Jakarta, siapin pernikahan kamu. Hidup kamu yang sebenarnya udah menunggu di sana."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Elena, ringan dan tanpa beban sebuah pengingat telak yang menghantam ego Julian berkeping-keping, menegaskan bahwa sekeras apapun Julian mencoba mengikat dan menguasai Elena hari ini, kenyataan hidup mereka tetap berada di jalur yang berbeda.
Julian menyelesaikan transaksi pembayaran cincin berlian itu dengan gerakan cepat, mencoba mengalihkan gemuruh panik dan harga dirinya yang tersenggol akibat notifikasi pesan tadi.
Tanpa mengucap sepatah kata pun soal Claire atau ibunya, ia langsung menuntun Elena keluar dari butik perhiasan tersebut, menggenggam jemari gadis itu yang kini sudah dihiasi cincin berlian baru.
Sebelum mereka benar-benar melangkah keluar dari pusat perbelanjaan, Julian mengajak Elena mampir ke sebuah restoran. Tanpa ragu, ia memesankan sepaket pizza favorit Elena dengan crust tebal dan keju melimpah yang selalu sukses memperbaiki suasana hati gadis itu.
Tak berhenti di situ, Julian juga memesan seporsi salad sayur segar beserta tenderloin steak dengan tingkat kematangan sempurna, memastikan Elena memiliki pasokan makanan enak yang melimpah untuk dibawa pulang.
Elena hanya bisa menggeleng pelan melihat tumpukan kantong belanjaan dan makanan di tangan Julian. Senyum tipis yang sarat akan rasa terima kasih sekaligus kepasrahan mengulas di bibirnya.
"Jules, ini kebanyakan... kamu beneran mau bikin aku makin gendut ya?" gurau Elena pelan saat mereka melangkah menuju area basement.
Julian tak tertawa. Ia hanya menoleh, menatap Elena dengan sorot mata yang teramat dalam dan sarat akan kepemilikan yang makin intens. "Biar kamu nggak perlu pusing mikirin makan malam. Aku mau kamu kenyang dan nyaman."
Mereka tiba di area parkir bawah tanah yang remang dan dingin. Julian membukakan pintu untuk Elena, menata semua kantong belanjaan mulai dari tas mewah, perhiasan, hingga tumpukan makanan di kursi belakang dengan rapi. Setelah memastikan Elena duduk aman di dalam kabin, Julian melangkah mengitari kap mobil dan masuk ke kursi kemudi.
Mesin mobil Lexus putih itu berderum halus saat dinyalakan. Lampu utama menyorot dinding basement yang dingin ketika Julian memutar kemudi, membawa kendaraan mewah itu membelah jalanan Medan menuju perjalanan pulang.
Di dalam kabin yang tenang diiringi aroma makanan yang hangat, keheningan di antara mereka terasa makin pekat sebuah hitungan mundur yang kian menyiksa menuju lusa, saat Julian harus merelakan tubuh dan raganya terbang kembali ke Jakarta.
ayo tor lanjutin update nya