Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Tap tap tap.
Langkah kaki Nisa terdengar sangat tenang menyusuri lorong panjang menuju aula laboratorium sains.
Husen berjalan tepat di samping siswi genius itu dengan ekspresi wajah yang sangat rileks.
Bara dan Rico ikut mengekor di belakang mereka berdua sebagai bentuk dukungan penuh dari Divisi Debat.
"Gue masih merinding inget muka melongo anak Pelita Bangsa tadi waktu kalah debat."
"Lu harus menang juga di sini, Nisa, biar kita bisa ngerayain kemenangan ganda hari ini."
Bara berucap dengan nada penuh semangat sambil meninju udara kosong di depannya.
Nisa hanya menoleh sedikit ke belakang dan menganggukkan kepalanya pelan merespons ucapan ketua kelasnya.
"Kalian sudah membuka jalan dengan sangat baik di babak pertama tadi."
"Sekarang giliranku yang akan membersihkan sisa sampah dari Akademi Cakrawala di ruangan ini."
Krieet.
Pintu aula laboratorium yang terbuat dari kaca tebal itu terbuka otomatis saat mereka mendekat.
Suasana di dalam ruangan ini jauh lebih dingin dan sunyi dibandingkan dengan arena debat sebelumnya.
Terdapat puluhan meja panjang berbahan baja anti karat yang sudah dilengkapi dengan berbagai komponen elektronik.
Setiap meja dibatasi oleh sekat kaca transparan agar para peserta tidak bisa saling menyontek hasil karya.
"Perwakilan dari SMA Garuda Kelam, meja Anda ada di nomor urut tiga belas."
Seorang panitia wanita berseragam rapi menunjuk ke arah sudut ruangan dengan wajah sedikit meremehkan.
Nisa langsung berjalan menuju meja tersebut tanpa memedulikan tatapan sinis dari panitia itu.
Husen dan murid lainnya diarahkan untuk duduk di tribun penonton yang jaraknya hanya beberapa meter dari meja peserta.
Baru saja Nisa meletakkan tas peralatannya, seorang pria berkemeja biru muda menghampiri mejanya.
"Wah, wah, lihat siapa yang berani menampakkan diri di arena orang-orang pintar hari ini."
Pak Budi berdiri di seberang meja Nisa dengan senyuman licik yang sangat khas.
Di sebelahnya berdiri seorang siswa berkacamata tebal yang merupakan perwakilan utama dari Akademi Cakrawala.
"Saya pikir kamu sudah membusuk di sekolah rongsokan itu dan melupakan impianmu menjadi ilmuwan, Nisa."
"Ternyata kamu masih punya muka untuk menantang sekolah lamamu sendiri di sini."
Nisa tidak mengangkat wajahnya sama sekali dan terus sibuk mengeluarkan obeng kecil dari dalam tasnya.
"Saya di sini bukan untuk menantang sekolah lama saya, Pak Budi."
"Saya di sini untuk mengambil kembali medali emas yang seharusnya menjadi milik saya dua tahun lalu."
Wajah Pak Budi sedikit menegang mendengar sindiran telak tentang pencurian makalah yang dia lakukan di masa lalu.
Siswa di sebelah Pak Budi tertawa meremehkan sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Lu jangan mimpi di siang bolong, Nisa."
"Gue udah rakit ratusan robot di laboratorium Cakrawala yang fasilitasnya miliaran rupiah."
"Lu yang cuma belajar dari barang rongsokan mana mungkin bisa ngalahin kecepatan tangan gue."
Nisa akhirnya mendongakkan kepalanya dan menatap tajam ke mata siswa sombong tersebut.
"Fasilitas miliaran rupiah tidak akan ada gunanya jika otak penggunanya hanya seharga lima ratus perak."
"Kita buktikan saja nanti siapa yang karyanya berakhir di tempat sampah."
Siswa itu langsung mendelik marah namun Pak Budi segera menepuk bahunya pelan untuk menahannya.
"Biarkan saja dia banyak bicara sekarang, Leo."
"Kita lihat apakah alat rakitannya nanti bisa menyala atau malah meledak membakar wajahnya sendiri."
Pak Budi menyeringai licik lalu menarik muridnya menjauh kembali ke meja nomor satu di barisan depan.
Teng teng!
Suara bel kecil dipukul oleh ketua dewan juri yang duduk di panggung utama ruangan tersebut.
"Selamat siang para ilmuwan muda Kota Arunika."
"Topik Olimpiade Sains Terapan babak penyisihan ini adalah Efisiensi Energi Terbarukan."
"Tugas kalian adalah merakit sebuah generator mini dari komponen yang sudah disediakan di atas meja."
Dewan juri menekan tombol waktu di layar besar yang menunjukkan angka enam puluh menit.
"Generator siapa yang mampu menyalakan lampu daya tinggi paling lama dengan putaran paling sedikit, dialah pemenangnya."
"Waktu kalian dimulai dari sekarang!"
Srek srek kletek!
Suara komponen logam yang bergesekan dan dibongkar pasang langsung memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Puluhan peserta mulai merakit kumparan tembaga, magnet, dan kabel dengan kecepatan yang sangat luar biasa.
Husen memperhatikan gerakan tangan Nisa dari tribun penonton dengan tatapan yang sangat fokus.
Gerakan Nisa sangat efisien, tidak ada satupun gerakan tangannya yang membuang waktu secara sia-sia.
"Tangan Nisa cepet banget bergeraknya, udah kayak mesin pabrik aja."
Rico bergumam kagum sambil terus memperhatikan jalannya perlombaan dari kursi penonton.
Husen mengangguk setuju karena dia tahu persis potensi Nisa adalah tingkat dunia berdasarkan informasi sistem.
Namun, entah mengapa firasat Husen tiba-tiba merasa tidak enak melihat senyum licik Pak Budi yang terus melirik ke arah meja Nisa.
Husen memfokuskan pandangannya ke arah meja nomor tiga belas tempat Nisa sedang bekerja keras.
Ting!
Husen langsung mengaktifkan skill Mata Penilai miliknya di dalam pikiran tanpa mengeluarkan suara.
Sring.
Pandangan mata Husen menembus detail setiap objek yang ada di atas meja besi milik siswinya tersebut.
Sebuah tulisan peringatan berwarna merah terang mendadak muncul melayang tepat di bawah meja Nisa.
[Peringatan Bahaya Terdeteksi!]
[Objek: Kabel Induk Stop Kontak Meja Nomor 13]
[Status: Sabotase. Lapisan karet pelindung telah disayat tipis dan sengaja disatukan dengan kutub positif]
[Dampak: Jika dicolokkan ke stop kontak, akan terjadi korsleting ledakan kecil yang membahayakan tangan peserta dan menghancurkan seluruh komponen di atas meja]
Mata Husen langsung membelalak lebar membaca informasi darurat yang disajikan oleh sistemnya.
"Brengsek, mereka benar-benar bermain sangat kotor sampai berani membahayakan nyawa anak muridku."
Husen mengumpat pelan dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya sangat erat.
Dia melihat Nisa baru saja selesai merakit inti kumparan generatornya dan bersiap menyambungkan kabel utama.
"Aku tidak boleh berteriak dari sini, itu hanya akan membuat Nisa didiskualifikasi karena dianggap menerima bantuan dari luar."
"Aku harus menggunakan koneksi pikiran ini lagi sebelum dia menyentuh kabel itu."
Husen menajamkan tatapannya ke arah Nisa dan mengaktifkan Skill Komunikasi Empatik tingkat lanjut.