NovelToon NovelToon
The Character!! Kembali Menjadi Figuran

The Character!! Kembali Menjadi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menjadi NPC
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: dopamine girl's

Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.

Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:

Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Saat ini Vian tengah sibuk bermanja dengan kedua orang tuanya. Tubuh mungilnya bersandar manja di dada bidang Daddy, sementara Mommy dengan telaten menyuapi potongan buah kecil-kecil ke mulutnya. Matanya fokus menatap tayangan animasi di televisi, benar-benar larut dalam dunianya sendiri… sampai seruan seseorang memecah ketenangan itu.

“Mom! Dad!! Persiapannya udah selesai!”

Suaranya lantang, familier, dan jelas sekali itu suara Revano dari ruangan seberang.

“Ayo, Vian,” ajak Daddy sambil menatap anaknya yang masih nyaman bergelung di pangkuan.

Vian memandang bingung. Ia sudah terlalu nyaman di posisi itu. “Kemana?” gumamnya.

Diana tersenyum, mengalihkan perhatian Vian sepenuhnya. “Ikut yuk. Ada yang mau Mommy dan Daddy tunjukin. Spesial buat anak Mommy yang imut ini.”

Vian mengangguk kecil. Ia berdiri pelan, lalu mengikuti langkah mereka dengan telaten. Kedua tangannya digenggam hangat, ia berada tepat di tengah-tengah mereka.

Apa-apaan posisi ini?! batinnya.

Ia merasa seperti bayi yang baru belajar jalan.

Dan baru saja ia ingin melontarkan protes kecilnya, langkahnya terhenti. Matanya membulat besar. Mulutnya sedikit terbuka. Ia tertegun, belum sepenuhnya memproses apa yang ada di depan mata.

“Selamat datang kembali, Tuan Muda!!”

Semua pegawai berdiri rapi, memenuhi ruangan besar itu. Wajah mereka tersenyum, mata mereka ikut berbinar jelas. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri Revano. Tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya menatap Vian dengan sorot mata yang hangat tapi mengandung kerinduan yang dalam.

Tepukan lembut di bahu membuat Vian tersentak dari lamunannya. Ia menoleh, melihat Daddy dengan ekspresi yang masih belum ia pahami seluruhnya.

“Selamat datang. Ini penyambutan kecil untuk pangeran kecil Daddy. Terima kasih sudah berjuang,” ucapnya lembut.

Mata Vian langsung berkabut. Tubuhnya terasa memanas oleh gejolak aneh—senang, sedih, bingung, semuanya campur aduk.

“Makasih, Daddy…” katanya lirih sambil menutupi wajahnya. Ia tidak ingin ada yang melihat sesuatu yang hampir pecah dari matanya.

“Sayang, seharusnya kami yang berterima kasih,” bisik Diana pelan.

Diana dan Rangga saling bertukar pandang sejenak sebelum secara bersamaan merengkuh tubuh kecil Vian ke dalam pelukan hangat mereka.

Hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan bagi semua orang di mansion. Para pekerja, baik staf luar maupun dalam, ikut merayakan kebahagiaan itu. Mereka mengadakan pertunjukan kecil, nyanyian lembut mengalun sebagai melodi penyambutan—penuh kenyamanan dan tawa yang pecah di sana-sini. Ikatan terasa mulai erat. Tidak ada canggung, tidak ada jarak.

Namun di sisi lain mansion, jauh dari riuh pesta…

Lampu-lampu dimatikan, hanya menyisakan kilau kecil dari hiasan tembok. Ruangan itu redup dan dingin, barang-barang berantakan tanpa arah. Di sana, seorang gadis kecil meringkuk di lantai marmer. Kasur empuk dan mewah ia abaikan lebih memilih dingin nya lantai yang menyelimuti tubuhnya.

Matanya sembab. Tidak ada tangis. Tidak ada isak.

Hanya ada kesunyian… yang perlahan menjerat.

Malam itu, seolah mansion itu memiliki dua dunia.

Satu dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan.

Satu lagi tenggelam dalam kesepian seorang anak kecil yang perlahan putus asa

Tak ada yang menoleh pada sisi lainnya. Yang bahagia tetap bahagia. Yang sedih tetap tenggelam dalam sepinya. Hingga matahari terbit yang menjadi membuka lembaran baru cerita ini.

---

Ashilla menuruni tangga perlahan. Seragam sekolah melekat rapi di tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, dihiasi jepit bintang di kedua sisi poni membuatnya terlihat cantik dan modis seperti biasanya.

Ruang makan sudah rapi. Tidak ada bekas pesta semalam. Tidak ada balon, tidak ada hiasan, tidak ada spanduk besar bertuliskan selamat datang. Yang tersisa hanya ketenangan pagi dan hidangan yang tersusun rapi di atas meja panjang.

Belum ada siapa-siapa.

Hanya dirinya dan keheningan.

Ia duduk manis sambil memainkan ponsel. Tawa kecil kadang keluar… sampai langkah-langkah mulai terdengar.

“Good morning, girl!” seru Diana.

Ia mengusap lembut rambut Ashilla sebelum duduk di sebelahnya.

Rangga datang sambil menggendong Vian yang masih setengah mengantuk. Ia menempatkan Vian duduk di tengah antara Ashilla dan Revano sebelum duduk di kursi kebanggaannya.

“Pagi, Mom,” balas Ashilla.

“Pagi, girl,” sambung Rangga.

“Pagi, Dad,”

Ia lalu menoleh ke dua laki-laki di sampingnya. “Pagi, Vian. Pagi bang Vano.”

“Pagi juga,” jawab mereka hampir bersamaan.

Sarapan pagi berlangsung hangat dan nyaman. Ashilla menjadi yang paling aktif bercanda, membuat suasana ramai. Vian sesekali ikut bercerita kecil. Revano sesekali menimpali. Semuanya terasa seperti keluarga yang utuh.

Setelah sekitar dua puluh menit, Rangga bersiap ke kantor. Ashilla dan Revano bersiap berangkat sekolah bersama, sedangkan Vian, karena baru mulai sekolah besok ia akan di rumah dengan Mommy.

“Abang jaga kakaknya baik-baik ya. Jangan ngebut,” pesan Mommy pada Revano yang sudah memakai helm full-face dan memegang stang motor kesayangannya.

Lalu ia menoleh pada Ashilla. “Kakak juga jangan nakal. Belajar yang baik.”

“Mom, kapan aku pernah nakal?” Ashilla memonyongkan bibir.

Diana pura-pura berpikir. “Hmm… Mommy ingat-ingat dulu deh. Apa benar kamu anak baik?”

“Mommy~!” protesnya kecil.

Diana tertawa sebelum mengusap kepala dua anaknya pelan. “Iya, iya. Kalian kan anak Mommy yang paling baik.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!