Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Sang Putra Mahkota
Atmosfer kawah raksasa Arena Utama Kota Teratai Hitam berada di titik didih tertinggi. Deklarasi identitas asli Hu Jin sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur yang terbuang masih bergema membelah angkasa, meremukkan nyali para pengkhianat.
Di atas Tribun VIP, para tetua Klan Lei dan kroni-kroni korup Zhao Feng gemetar hebat. Melihat Tiga Sekte Besar menolak menjadi tameng mereka, Tetua Agung Klan Lei membelalakkan mata dalam kepanikan penuh kegilaan.
"Cepat! Aktifkan Formasi Pemindah Ruang! Kita harus kabur dari sini!" teriak Tetua Klan Lei histeris, merogoh Jimat Geometris Darah dari balik jubahnya.
Pendar merah sihir mulai menyelimuti tubuh para pejabat korup itu. Namun, sebelum susunan formasi sihir selesai terbentuk—
SRING
Hu Jin tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Ia hanya mengayunkan telapak tangan kanannya yang dilapisi oleh setetes energi Seni Pedang Sembilan Es Kuno dan Tulang Kaisar ke arah tribun Klan Lei.
"Domain Es: Penjara Abadi," desis Hu Jin dingin.
CRACK BUMMMMMMM
Gelombang badai es biru-emas meluncur menembus udara bagaikan kilat! Dalam hitungan detik, formasi pemindah tempat milik Klan Lei membeku seketika. Kristal-kristal es tebal merambat cepat, membungkus tubuh puluhan pejabat korup dan pengawal Klan Lei hingga menjadi patung es yang kaku.
Dengan satu hentakan jari Hu Jin, senjata dan jimat sihir di tangan mereka hancur berkeping-keping menjadi debu, melumpuhkan seluruh kekuatan Qi mereka. Eksekusi keadilan yang begitu cepat, bersih, dan mematikan!
Melihat dominasi dan ketegasan sang Putra Mahkota, Pemimpin Kota Teratai Hitam berdiri tegap, mengacungkan pedang keagungannya ke udara.
"Mulai detik ini, Kota Teratai Hitam dan seluruh aliansi sekte independen menyatakan dukungan penuh atas legitimasi Pangeran Hu Jin!" seru Pemimpin Kota dengan suara membahana. "Siapa pun dari faksi luar yang mencoba mengintervensi atau menyerang Pangeran Hu Jin secara licik, akan berhadapan dengan seluruh kekuatan kami!"
Tetua Agung Sekte Awan dan para petinggi Sekte Teratai turut mengangguk tegas, menjadikan Sekte Besar sebagai tameng politik tak tertembus bagi Hu Jin. Sorak-sorai ratusan ribu rakyat kecil di tribun pecah mengguncang langit, menyerukan nama "Pangeran Hu Jin" dengan kebahagiaan yang meluap-luap!
Malam itu, diiringi pengawalan rahasia dari utusan Jenderal Gu yang telah menunggu di luar tembok kota, Hu Jin bersama Qian Renxue memimpin rombongan bergerak cepat menembus kegelapan Pegunungan Angin Barat. Ratusan ribu batu roh dan bahan medis langka dari hadiah arena diangkut menggunakan kereta-kereta sihir tersembunyi—sumber daya berharga yang menjadi bahan bakar utama kebangkitan pasukan perlawanan.
Setelah menempuh perjalanan melintasi lembah-lembah terjal, rombongan akhirnya tiba di sebuah celah jurang tersembunyi yang dijaga ketat oleh ribuan prajurit berzirah hitam.
Inilah Markas Persembunyian Rahasia Lembah Angin Barat.
WUUUUUSH
Saat keberadaan Hu Jin terdeteksi, ribuan prajurit loyalis Kerajaan Timur yang bersiaga di sepanjang tebing batu serta-merta berlutut dengan satu kaki! Tombak-tombak besi mereka dihentakkan ke tanah secara serempak, menghasilkan dentuman berwibawa yang menggetarkan lembah.
"Selamat datang kembali, Putra Mahkota!" seru ribuan prajurit dengan suara bariton yang membakar malam.
Di garis depan barisan, berdiri dua sosok bertubuh tegap. Jenderal Gu berzirah tempur penuh, dan di sampingnya... berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan jubah kebangsawanan sederhana.
Raja Hu Yan.
Raja Hu Yan, yang telah pulih sepenuhnya dari racun dan luka lamanya berkat obat spiritual Qian Renxue, menatap sosok pemuda bertopi jerami yang melangkah mendekat dari balik kegelapan. Wajah sang Raja bergetar hebat. Matanya yang biasanya tajam bagaikan elang kini digenangi air mata yang tak sanggup dibendung.
Hu Jin menghentikan langkahnya beberapa meter di hadapan sang ayah. Ia melepaskan topi jeraminya, membiarkan rambut hitamnya terurai. Wajah tampannya yang sangat mirip dengan mendiang ibunya terpampang jelas di bawah pendar sinar rembulan.
Sejak kecil, Hu Jin hidup dalam kesendirian, tumbuh di Puncak Es tanpa pernah merasakan kehangatan pelukan orang tua. Rasa canggung dan luka masa lalu sempat membendung hatinya. Namun malam ini, melihat kerutan di wajah sang ayah dan pengorbanan tanpa batas demi memulihkan kerajaan, seluruh dinding dingin di dalam jiwa Hu Jin runtuh sepenuhnya.
Hu Jin melangkah maju. Untuk pertama kalinya, ia mengulurkan kedua tangannya dan memeluk erat tubuh Raja Hu Yan!
DEG.
Tubuh tegap Raja Hu Yan tersentak kaget. Namun di detik berikutnya, sang Raja membalas pelukan putra mahkotanya dengan sangat erat, menepuk-nepuk punggung Hu Jin dengan telapak tangannya yang kasar dan gemetar.
"Anakku... Hu Jin-ku..." bisik Raja Hu Yan dengan suara parau yang pecah oleh tangis kebahagiaan. "Kau... kau akhirnya kembali pada Ayah..."
Hu Jin menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah, mengembuskan napas hangat sambil tersenyum tulus. "Aku pulang, Ayahanda. Aku tidak akan membiarkan Ayah berjuang sendirian lagi."
Pemandangan tersebut membuat seluruh orang di dalam lembah tertegun. Jenderal Gu, para prajurit berzirah tegap, hingga pengawal yang terkenal dingin di medan perang menatap nanar momen mengharukan itu. Air mata haru menetes di wajah para prajurit tua tersebut.
Qian Renxue, yang berdiri di dekat kereta sihir, tersenyum lembut dengan tangan tertaut di depan dada, menyaksikan pemandangan terindah dalam hidup murid kesayangannya.
Setelah meluapkan emosi yang terpendam belasan tahun, Hu Jin mengurai pelukan. Ia berbalik menatap ribuan prajurit loyalis, lalu menatap Raja Hu Yan dan Jenderal Gu dengan pandangan mata berkilat emas penuh wibawa kaisar.
Hu Jin membuka peti penyimpanan sihir di belakangnya, menampilkan puluhan ribu batu roh tingkat tinggi dan obat-obatan pemurni meridian yang memancarkan pendar keemasan menyilaukan.
"Jenderal Gu!" panggil Hu Jin dengan suara tegas yang menggelegar di seluruh lembah. "Bagikan seluruh batu roh dan obat-obatan ini kepada setiap prajurit malam ini juga! Murni Dantian mereka dan perkuat zirah serta senjata kita!"
Jenderal Gu menatap tumpukan harta bernilai jutaan emas itu dengan takjub, lalu membungkuk penuh hormat. "Siap melaksanakan perintah, Pangeran!"
Hu Jin mencabut Pedang Hitam Kuno dari punggungnya, menunjuk lurus ke arah langit selatan—ke arah tembok Kota Istana Kerajaan Timur.
"Prajurit sekalian!" seru Hu Jin, suaranya menusuk ke dalam jiwa. "Waktu untuk bersembunyi di dalam bayang-bayang telah usai! Besok, saat fajar menyingsing, kita akan bergerak maju menyapu seluruh pengkhianat dan merebut kembali takhta Kerajaan Timur!"
"SIAP! MEREBUT KEMBALI TAKHTA! HIDUP PANGERAN HU JIN! HIDUP KERAJAAN TIMUR!"
Gemuruh teriakan perang dari ribuan prajurit pecah membakar malam, menggetarkan tebing-tebing batu Lembah Angin Barat. Pasukan naga yang sempat tertidur kini telah bangkit sepenuhnya di bawah komando sang pangeran sejati, siap menerjang Kerajaan Timur dalam badai keadilan yang tak terhentikan!