NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 4

Derit engsel pintu kayu yang lapuk menyambut kedatangan Shen Jue saat ia memasuki rumahnya. Suara sorak-sorai dan gelak tawa warga Desa Ping-an yang menggema dari alun-alun perlahan memudar, tergantikan oleh kesunyian gubuk reyotnya yang akrab. Cahaya matahari siang menembus celah-celah dinding bambu yang renggang, membentuk garis-garis terang yang berdansa lunak di atas lantai tanah yang lembap.

Shen Jue mendorong palang kayu pintu hingga terpasang rapat, mengunci dunia luar dari pandangannya. Ia menghembuskan napas panjang, membiarkan ketegangan di bahunya yang sempit mereda. Tubuh anak sepuluh tahun ini masih terasa sangat rapuh. Hanya berjalan beberapa ratus meter dari alun-alun desa saja sudah membuat betis kecilnya pegal dan keningnya berbintik keringat tipis.

Ia berjalan menuju sudut ruangan, lalu duduk bersila di atas tikar jerami yang sudah koyak di banyak bagian. Tempat ini dingin dan berdebu, tetapi baginya jauh lebih aman daripada berada di tengah lautan manusia yang penuh intrik serta penilaian dangkal.

Shen Jue memejamkan mata sejenak, memfokuskan jiwanya pada titik tengah dadanya. Ia memanggil dorongan energi bawaannya yang mulai terbiasa mengalir. Dalam sekejap, telapak tangan kanannya terasa hangat. Cahaya abu-abu kusam berkedip pelan, dan belati kecil berkarat itu kembali mewujud di atas jemarinya.

Di bawah sinar matahari siang yang masuk lewat celah atap, belati itu tampak semakin tidak meyakinkan. Lapisan karat merah kehitaman melapisi hampir seluruh bilahnya, menyisakan tekstur kasar seperti pecahan batu bata tua. Tidak ada kilauan tajam, tidak ada pendar cahaya elegan yang biasa menghiasi senjata-senjata tingkat atas di dunia ini.

Shen Jue mengangkat belati itu setinggi mata, memutarnya perlahan dengan jemarinya yang kurus.

"Di kehidupan lalu, aku telah menempa puluhan ribu senjata," gumam Shen Jue sangat pelan sambil mengelus permukaan bilah yang kasar dengan ibu jarinya. "Mulai dari besi meteorik hingga bijih emas murni dari dasar laut mati. Karat pada senjata biasa selalu menandakan kerapuhan materi fana. Tapi yang satu ini... sama sekali berbeda."

Sentuhan ibu jarinya tidak merasakan kerapuhan. Karat ini tidak rontok sedikit pun saat digores dengan tekanan sedang. Sebaliknya, saat Shen Jue mencoba menekan lebih keras, ia merasakan ada penolakan tak kasat mata dari lapisan cokelat tersebut. Karat ini bukan peninggalan kerusakan zaman, melainkan cangkang pelindung alami yang dibentuk oleh energi jiwa maut untuk menutupi kebenaran di baliknya.

Untuk membuktikannya lebih jauh, Shen Jue merangkak sedikit dan meraih sebatang ranting kayu kering yang tergeletak di samping tikarnya. Di dalam ranting mati itu, sebenarnya masih terdapat sisa-sisa jejak energi alami bumi yang sangat tipis dan tak kasat mata bagi orang biasa.

Shen Jue memegang ranting itu di tangan kiri, lalu perlahan mengarahkan mata belati berkaratnya ke bagian tengah kayu. Ia tidak mengayunkan belati itu dengan tenaga fisik atau kekuatan otot. Ia hanya menempelkan mata belatinya yang tumpul ke permukaan kayu dengan lembut.

Sesuatu yang luar biasa terjadi tanpa dentuman suara apa pun.

Tanpa perlu ditekan keras, bilah tumpul itu terbenam masuk ke dalam kayu dengan sangat mulus, seolah-olah kayu padat itu hanyalah gumpalan air cair. Lebih mengejutkan lagi, sisa-sisa energi alami yang mengalir samar di dalam ranting itu mendadak terputus seketika di titik tebasan belati. Tidak ada pecahan serat kayu yang mencuat, tidak ada suara retakan keras. Ranting itu terbelah dua dengan potongan yang begitu rapi, seolah-olah ruang di sekitar tebasan itu sendiri yang telah dipisahkan secara mutlak.

Shen Jue menyipitkan matanya, mengambil salah satu belahan ranting tersebut untuk diamati lebih dekat. Bagian bekas potongan itu tampak menghitam halus, seperti tersengat hawa dingin ekstrem yang membekukan seluruh aliran kehidupan di dalam sel kayu tersebut dalam sekejap mata.

"Bukan memotong materi," bisik Shen Jue dengan mata berbinar terkesima. "Belati ini memotong benang keterikatan energi."

Di Benua Tianwu, semua serangan dari Roh Senjata dan Roh Binatang bertumpu pada aliran energi spiritual yang menghubungkan sang pengguna dengan manifestasi roh mereka. Ketika seseorang mengayunkan pedang atau menggunakan cakar binatang, energi spiritual dipompa melalui saluran tubuh menuju senjata tersebut.

Jika belati kecil ini bisa memotong aliran energi alami tanpa hambatan materi, itu artinya saat bertarung nanti, Shen Jue tidak perlu membalas benturan kekuatan musuh secara langsung. Ia hanya perlu menyentuh jalur energi lawan, dan tebasan belatinya akan secara otomatis memutus saluran roh musuh, membuat serangan terkuat sekalipun menjadi hampa dan lumpuh seketika.

"Pantas saja pilar batu di alun-alun tadi mendadak kehilangan pendar energinya," batin Shen Jue sambil tersenyum tipis. "Pilar itu mencoba mengisap jiwaku untuk mengukur kekuatan, tapi belati ini malah memotong saluran penyerap energinya dari dalam."

Shen Jue mencoba melangkah lebih jauh. Ia berniat menyalurkan lebih banyak energi jiwanya ke dalam belati, ingin melihat apakah ia bisa membuang sedikit lapisan karat tersebut untuk memicu kekuatan aslinya. Namun, baru saja sebenang energi hitam pekat merambat dari lengannya menuju gagang belati, rasa pusing yang hebat mendadak menghantam kepala bagian belakangnya.

"Ugh..." lenguh Shen Jue sambil memegangi pelipisnya rapat-rapat.

Pandangannya mendadak membayang kabur. Belati di tangannya bergetar tidak stabil sebelum akhirnya menghilang, kembali masuk ke dalam jiwanya. Dada Shen Jue naik-turun dengan napas yang memburu kencang. Keringat dingin merembes keluar dari pori-pori kulitnya, membasahi pakaian linen abu-abunya yang kusam.

Ia menyandarkan punggungnya yang gemetar ke dinding bambu, membiarkan tubuhnya beristirahat. "Fisik anak sepuluh tahun yang kurang gizi ini adalah hambatan terbesarku saat ini. Jiwaku memang memiliki ingatan seorang master tempa, tapi wadah fana yang rapuh ini belum sanggup menampung beban energi Pedang Dewa Kematian."

Shen Jue memejamkan mata, membiarkan detak jantungnya yang berpacu kencang kembali melambat secara bertahap. Ia sadar betul, memformulasikan strategi analisis saja tidak akan pernah cukup. Ia harus melatih otot-otot tubuhnya, memperkuat saluran meridiannya yang kaku, dan mencari makanan bergizi untuk memulihkan daya tahan fisiknya. Jika ia memaksa melepaskan segel pedang itu sekarang, tubuh kecil ini akan hancur berkeping-keping oleh gejolak energi maut sebelum sempat mengalahkan musuh.

Setelah beberapa menit mengatur napas secara teratur, rasa mual akibat kelelahan energi perlahan memudar dari dadanya. Shen Jue membuka matanya kembali. Ketenangan yang dingin kembali memenuhi binar matanya yang gelap.

Ia mengusap peluh di keningnya menggunakan ujung lengan baju. "Setidaknya aku sudah memahami dasar dari kekuatanku. Langkah selanjutnya adalah mencari cara untuk—"

Kalimat Shen Jue terhenti di udara. Telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa mendekati gubuknya dari arah jalan tanah luar. Suara langkah kaki itu tidak sendirian; ada dua pasang sepatu bot kasar yang menginjak dedaunan kering dengan sembrono di pekarangan depannya.

"Shen Jue! Keluar kau, bocah sialan!" seru sebuah suara serak yang penuh nada keserakahan dan ancaman dari balik pintu gubuk.

Shen Jue tidak terkejut sama sekali. Sudut bibirnya justru melengkung membentuk senyuman tipis yang dingin. Ia mengenali suara itu—Paman Zhao, tetangga sebelah rumah yang terkenal rakus dan selalu mencari kesempatan untuk memeras orang-orang lemah di desa ini.

Shen Jue berdiri perlahan dari tikar jeraminya, menepuk-nepuk debu yang menempel di celananya dengan gerakan santai.

"Baru saja aku memikirkan bagaimana caranya mendapatkan makanan bergizi," gumam Shen Jue pelan sambil melangkah tenang menuju pintu. "Ternyata ada yang dengan sukarela datang membawakan jawabannya ke depan pintu."

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!