NovelToon NovelToon
Sang Perebut Takdir Istri Kontrak Sang Taipan

Sang Perebut Takdir Istri Kontrak Sang Taipan

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Reinkarnasi / Balas Dendam / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: Gena Jim

Dikhianati dan ditikam dari belakang oleh kekasih sekaligus rekannya sendiri, Laras—pembunuh bayaran paling ditakuti di dunianya—mati sambil bersumpah membalas. Tapi maut bukan akhir. Sebuah "kesempatan kedua" melemparkan jiwanya menembus waktu, ke dalam tubuh seorang wanita di abad ke-21: Kirana, istri kontrak yang lemah, hamil, dan dihina, menikah dengan taipan sedingin es yang menganggapnya sampah.

Suaminya, Raka Prawira, mengira ia masih perempuan cengeng yang dulu membiusnya demi mengikat pernikahan. Keluarga kandung Kirana memerasnya. Ibu mertuanya menganggapnya pemburu harta. Dan di balik imperium bisnis megah keluarga Prawira, tersembunyi dunia penyelundupan senjata, pengkhianatan, dan persaingan warisan berdarah.

Sayang sekali bagi mereka semua—perempuan yang kini menghuni tubuh itu bukan lagi Kirana yang mereka kenal. Ia seorang ahli racun, strategi, dan pertumpahan darah. Satu per satu, mereka yang pernah menginjaknya akan belajar satu pelajaran mahal: tak ada yang mengkhianati wanita ini lalu hidup untuk menceritakannya.

Dari ruang rapat hingga baku tembak di jalan tol, dari perang dingin pernikahan kontrak hingga gairah yang perlahan membakar—saksikan sang perebut takdir mengubah hidup yang seharusnya menghancurkannya menjadi takhta miliknya sendiri.

Sanggupkah sang taipan yang tak pernah mencintai siapa pun bertahan dari perempuan paling berbahaya yang pernah tidur di ranjangnya... apalagi setelah jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gena Jim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

KIRANA:

Bu Marni masuk ke kamar beberapa menit kemudian, dan di tangannya ia membawa keranjang berisi garam mandi dan minyak-minyak yang beraroma bunga-bunga eksotis.

Ia berhenti mendadak saat melihatku. Saat ini aku sedang berlutut di lantai, dikelilingi tas-tas bermerek yang bahkan tak bisa kuucapkan namanya, memilah-milahnya menurut ukuran dan kilaunya.

"Nyonya... Sedang apa Nyonya?"

Tanyanya heran dan terkejut.

"Menginventaris, Bu Marni."

Jawabku tanpa menatapnya sambil menimang sebuah tas emas yang berkilau begitu terang sampai menyakiti mataku.

"Benda yang ini berharga? Apa akan menghasilkan banyak uang untukku?"

Bu Marni mengerjap bingung.

"Ini Birkin edisi terbatas, Nyonya... Tuan Prawira membawakannya dari perjalanan terakhirnya ke London setelah Nyonya... Yah, setelah Nyonya menangis tiga hari berturut-turut karena kakak Nyonya punya yang persis sama."

Aku melepas tawa kering lalu menarik napas panjang... Betapa menyedihkannya pemilik lama tubuh ini.

"Bagus sekali... Letakkan di tumpukan barang yang tak mau kulihat lagi, dan sekarang, siapkan air mandi itu, aku perlu berpikir tanpa bau parfum manis ini menyerbu paru-paruku."

Perempuan itu mengangguk lalu berlalu ke kamar mandi.

Sementara aku mendengar air mengalir, kuambil telepon, dan berkat maraton menontonku di rumah sakit, aku tahu ada aplikasi untuk menjual barang.

Dengan beberapa ketukan dan memanfaatkan memori jari-jari Kirana, aku menemukan sebuah situs barang-barang mewah.

"Kita lihat berapa harga semua barang mewah jelek ini."

Bisikku sambil memotret cepat jam tangan dan perhiasan yang kutemukan di kotak perhiasan.

Setengah jam kemudian, aku terendam dalam bak mandi yang menyemburkan gelembung ke mana-mana... Ini seribu kali lebih baik daripada mandi di sungai membeku setelah sebuah penyergapan.

Aku menyandarkan kepala di tepi bak dan memejamkan mata sambil termenung.

"Kurang dari setahun."

Kataku pada diriku sendiri.

"Waktu yang cukup untuk mengumpulkan emas secukupnya, melahirkan makhluk kecil ini, lalu menghilang dari kehidupan lelaki tampan bertubuh bagus ini... Aku tak percaya aku akan pergi tanpa mencicipi sedikit patung itu."

Aku berpikir sambil merasakan tubuhku mulai memanas berlebih, dan kuturunkan tanganku perlahan menyusuri dada, merasakan sensasi menyengat seperti aliran listrik... Tapi tindakanku terputus oleh ketukan keras di pintu kamar mandi.

"Kirana, boleh aku tahu kenapa ada tiga orang dari rumah lelang di pintu masuk menanyakan soal koleksi mantel bulu?"

Suara Raka menggelegar menembus kayu pintu, sarat amarah yang tertahan.

Aku tersenyum dalam hati... Betapa cepat dan cekatannya mereka.

"Aku sedang sibuk, Tuan Prawira!"

Teriakku dengan suara merdu, menikmati kejengkelannya.

"Dan katakan pada mereka aku tak mau menerima kurang dari delapan puluh persen dari nilai aslinya, itu semua barang nyaris baru."

Kudengar keheningan bak kuburan dari seberang pintu, dan aku membayangkan wajahnya dengan urat di dahi yang nyaris meledak.

Pintu terbuka dengan kasar dan aku menutupi diri dengan busa tepat pada waktunya, tapi aku tak mengalihkan pandangan.

Aku menatapnya lekat dengan penuh tantangan.

"Kamu jadi lebih gila daripada sebelumnya?"

Tanyanya, tak peduli aku sedang berada di dalam bak mandi, sementara matanya menyala oleh amarah.

"Kamu tak boleh menjual hadiah-hadiah yang kuberikan padamu, kita punya citra yang harus dijaga."

"Kamu sendiri yang bilang tak akan memberiku satu rupiah pun."

Kuingatkan ia dengan ketenangan yang membuatnya salah tingkah.

"Dan karena aku tak berniat mati kelaparan saat kontrak ini berakhir, aku sedang mencairkan aset, lagi pula..."

Kubuat isyarat ke arah kamar merah muda yang tampak lewat pintu terbuka.

"Kamar itu penghinaan bagi mata... Kalau kamu mau citra, cari saja seorang model, aku cuma sedang berbisnis."

Raka melangkah maju sambil mengepalkan tinju.

"Kamu tak akan menjual apa pun, akan kuperintahkan agar tak ada lagi orang yang boleh masuk."

"Coba saja."

Aku menantangnya sambil menyandarkan dagu di telapak tangan.

"Tapi ingat, secara hukum barang-barang ini milikku, kalau kamu menghalangiku, aku harus mencari cara lain untuk mendapatkan uang... Dan aku yakin kalangan pers, atau apa pun sebutannya... Pasti akan sangat senang mengetahui detail 'kontrak' pernikahan kita."

Senyum terbentuk di bibirku dan keheningan kembali menguasai ruangan, tapi kali ini ini adu keteguhan hati.

Raka memandangiku seolah aku serangga aneh yang baru saja bermutasi di depan matanya.

"Kamu bukan Kirana."

Ia melontarkannya tiba-tiba dengan suara rendah dan berbahaya.

"Ia bahkan tak akan tahu cara mengeja kata 'bisnis'... Siapa kamu sebenarnya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!