“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 — Ciuman di Balik Pintu
Hujan kembali mengguyur Roma ketika Bianca Elena Laurent berdiri di depan jendela Villa Vieri. Lampu-lampu taman memantulkan cahaya keemasan di atas jalan setapak yang basah, sementara angin malam menggoyangkan pepohonan cemara di halaman.
Sejak makan malam keluarga berakhir, satu kalimat terus terngiang di benaknya.
Malam itu, seseorang seharusnya mati.
Dante telah mengatakannya dengan wajah yang begitu serius hingga Bianca yakin pria itu tidak sedang mengarang cerita. Namun, ketika ia mencoba bertanya lebih jauh, Dante justru meninggalkannya dengan seribu pertanyaan baru.
Siapa yang seharusnya mati malam itu?
Mengapa dokter yang menangani Elena dibayar oleh seseorang dari keluarga Vieri?
Dan apa hubungan semua itu dengan Adrian?
Bianca mengambil ponselnya. Pesan dari nomor tak dikenal masih tersimpan di sana, bersama foto buram Dante di depan sebuah mobil hitam.
Ia ingin mempercayai suaminya, tetapi kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diberikan hanya karena sebuah ciuman atau pelukan hangat.
Terlebih lagi, di dunia Dante Vieri, kebohongan mungkin lebih berharga daripada nyawa manusia.
Ketukan terdengar dari pintu.
“Bianca?”
Suara Dante membuatnya segera menyimpan ponsel.
“Masuk.”
Dante muncul dengan kemeja hitam dan celana panjang gelap. Ia tampak lelah, tetapi tatapan biru safirnya tetap tajam seperti biasa.
“Aku ingin bicara tentang makan malam tadi.”
Bianca menyilangkan tangan di depan dada.
“Bagus. Aku juga punya banyak pertanyaan.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, siapa yang seharusnya mati pada malam ibuku meninggal?”
Dante terdiam.
Keheningan itu sudah cukup untuk membuat Bianca merasa bahwa ia sedang berdiri di depan pintu menuju sebuah rahasia besar.
“Aku belum memiliki seluruh jawabannya,” kata Dante akhirnya. “Tetapi aku tahu kematian Elena bukan kecelakaan biasa.”
Bianca menelan ludah.
“Sejak kapan kau tahu?”
“Sejak aku menemukan surat ayahku.”
“Dan kau baru memberitahuku sekarang?”
“Aku tidak ingin memberimu dugaan yang belum bisa kubuktikan.”
Bianca tertawa hambar.
“Kadang-kadang, Dante, aku merasa kau lebih takut pada kebenaran daripada pada musuh-musuhmu.”
Dante melangkah mendekat.
“Mungkin karena kebenaran itu bisa menghancurkan orang yang masih hidup.”
“Termasuk dirimu?”
Tatapan mereka bertemu.
“Termasuk aku.”
Jawaban itu membuat Bianca kehilangan kata-kata sesaat. Ia berharap Dante akan membantah, menyatakan bahwa ia tidak bersalah, atau setidaknya memberikan alasan untuk menenangkan pikirannya.
Namun, pria itu memilih kejujuran yang tidak lengkap.
Dan justru itulah yang membuatnya semakin sulit dipercaya.
Dante berbalik hendak pergi, tetapi Bianca tiba-tiba memanggilnya.
“Tunggu.”
Ia berhenti di dekat pintu.
“Ada apa?”
Bianca menatap punggung pria itu sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Apakah ciuman kita malam itu juga bagian dari kesepakatanmu?”
Dante berbalik perlahan.
“Ciuman yang mana?”
“Jangan berpura-pura tidak mengerti.”
Dante menatapnya beberapa detik, lalu kembali mendekat.
“Tidak,” jawabnya. “Itu bukan bagian dari kesepakatan.”
“Lalu apa artinya?”
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.”
“Untuk seorang pria yang selalu memiliki jawaban, kau cukup buruk dalam menjelaskan perasaanmu sendiri.”
Dante mengembuskan napas pelan.
“Aku terbiasa mengetahui apa yang kuinginkan, Bianca. Aku bisa memutuskan arah bisnis, mengatur pengamanan, dan menghadapi orang-orang yang ingin menjatuhkanku. Tetapi ketika menyangkut dirimu, aku tidak selalu yakin apakah keputusan yang kuambil akan melindungimu atau justru membahayakanmu.”
Bianca menatapnya tanpa berkedip.
“Dan kau pikir menyembunyikan semuanya akan membuatku aman?”
“Tidak lagi.”
Jawaban itu terdengar begitu tulus hingga Bianca merasakan pertahanannya sedikit demi sedikit runtuh.
Dante mengangkat tangan, tetapi tidak langsung menyentuhnya.
“Aku boleh mendekat?”
Bianca mengangguk kecil.
Pria itu berdiri di hadapannya, cukup dekat hingga Bianca dapat melihat pantulan lampu kamar dalam mata birunya.
“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa hidup bersamaku akan mudah,” ujar Dante. “Aku juga tidak bisa menjanjikan bahwa semua orang di sekitarku akan berhenti mencoba menyakitimu.”
“Setidaknya, jangan menjadi salah satu dari mereka.”
Dante menundukkan kepala sedikit.
“Aku akan berusaha.”
Bianca tahu itu bukan janji yang sempurna.
Namun, untuk pertama kalinya, Dante tidak terdengar seperti seorang Don yang memberikan perintah. Ia terdengar seperti seorang pria yang mengakui keterbatasannya.
Dan pengakuan itu terasa lebih berbahaya bagi hati Bianca daripada segala ancaman yang pernah diterimanya.
Dante mengulurkan tangan.
Bianca menatap jemarinya sejenak sebelum menyambutnya.
Sentuhan mereka sederhana, tetapi tidak ada lagi alasan untuk berpura-pura bahwa kedekatan di antara mereka tidak berarti apa-apa.
“Aku ingin kau tahu satu hal,” kata Bianca. “Aku tidak akan berhenti mencari kebenaran tentang ibuku.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau mencoba menghalangiku, aku akan tetap mencari jalan lain.”
“Aku juga tahu.”
“Dan jangan berharap aku akan menjadi istri penurut hanya karena kita sudah menikah.”
Kali ini, Dante tersenyum.
“Percayalah, Bianca. Itu tidak pernah menjadi harapanku.”
Bianca ikut tersenyum kecil.
Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri berhadapan, tangan masih saling menggenggam. Tidak ada pertengkaran, tidak ada ancaman, dan tidak ada nama keluarga yang harus dipertahankan.
Hanya ada mereka berdua.
Kemudian Dante melirik pintu kamar yang masih terbuka.
“Sepertinya kita perlu memastikan tidak ada orang yang mendengarkan percakapan kita.”
Bianca mengangkat alis.
“Sejak kapan kau peduli jika seseorang mendengarmu berbicara tentang perasaan?”
“Sejak aku menyadari bahwa keluargaku memiliki terlalu banyak orang yang senang menggunakan informasi sebagai senjata.”
Dante berjalan menuju pintu, memeriksa lorong, lalu menutupnya.
Bunyi klik dari kunci terdengar pelan.
Ketika ia kembali, Bianca masih berdiri di tempat yang sama.
“Sekarang tidak ada yang bisa mendengar kita,” katanya.
Bianca memiringkan kepala.
“Apakah itu berarti kau akan mengatakan sesuatu yang tidak ingin diketahui dunia?”
“Ya.”
“Aku mendengarkan.”
Dante berhenti di hadapannya.
“Aku ingin menciummu lagi.”
Jantung Bianca berdetak semakin cepat, tetapi ia tidak mengalihkan pandangan.
“Kalau begitu, tanyakan dengan benar.”
Dante tersenyum samar.
“Bolehkah aku menciummu, Bianca?”
Bianca mengangguk.
“Boleh.”
Dante mendekat perlahan, memberi Bianca kesempatan untuk berubah pikiran. Namun, perempuan itu justru melingkarkan tangannya di bahu pria tersebut dan menyambut bibirnya.
Ciuman mereka bermula lembut, hampir seperti pertanyaan yang belum selesai. Namun, ketika Bianca membalasnya, keraguan yang tersisa perlahan mencair.
Dante merangkul pinggangnya dengan hati-hati. Satu tangannya menyentuh sisi wajah Bianca, sementara Bianca membiarkan jemarinya menyusuri bahu pria itu.
Di balik pintu yang tertutup, dunia mereka terasa jauh dari intrik keluarga Vieri.
Tidak ada Luciano.
Tidak ada Isabella.
Tidak ada ancaman terhadap Adrian.
Hanya dua orang yang akhirnya mengakui bahwa ketertarikan mereka telah berkembang menjadi sesuatu yang tidak lagi dapat mereka abaikan.
Ketika mereka berpisah, Dante menempelkan dahinya pada dahi Bianca.
“Aku seharusnya menjauh darimu,” bisiknya.
Bianca tersenyum tipis.
“Kau sudah mengatakannya sebelumnya.”
“Dan aku masih belum berhasil melakukannya.”
“Kalau begitu, mungkin kau perlu berhenti mencoba.”
Dante tertawa pelan, lalu mengecup keningnya.
Ia tidak memaksa lebih jauh. Sebaliknya, ia menunggu hingga Bianca sendiri merapatkan jarak di antara mereka.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama di sofa dekat jendela, berbicara dalam suara rendah dan sesekali bertukar ciuman singkat. Ketika Dante akhirnya berpamitan untuk kembali ke ruang kerjanya, Bianca mengantarnya hingga ke pintu.
Sebelum pergi, pria itu menggenggam tangannya.
“Mulai sekarang, aku akan berusaha memberitahumu apa yang benar-benar kuketahui.”
Bianca menatapnya serius.
“Dan aku akan berusaha memercayaimu. Tetapi jangan membuatku menyesal.”
Dante mengecup punggung tangannya.
“Aku akan mengingatnya.”
Lalu ia keluar, meninggalkan Bianca dengan perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan sejak memasuki Villa Vieri.
Namun, kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung lama.
Beberapa menit setelah Dante pergi, ponsel Bianca bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Kau baru saja mencium pria yang menyembunyikan pembunuh ibumu.”
Bianca membeku.
Pesan kedua menyusul.
“Jika kau ingin tahu apa yang terjadi di balik pintu ruang kerja Alessandro, periksa laci ketiga di meja Dante.”
Bianca menatap pintu kamarnya.
Ia baru saja berjanji akan berusaha memercayai suaminya.
Tetapi bagaimana jika orang yang mengirim pesan itu mengetahui sesuatu yang bahkan Dante sendiri belum berani mengakuinya?
Bianca menggenggam ponsel erat-erat.
Di luar, hujan kembali turun, menyelimuti Villa Vieri dengan kegelapan.
Dan di ujung lorong, pintu ruang kerja Dante masih menyisakan celah cahaya.
Bianca tahu ia seharusnya tidur.
Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya apakah ciuman yang terasa begitu tulus tadi benar-benar mendekatkannya kepada Dante—atau justru membuatnya semakin sulit melihat kebohongan yang tersembunyi di balik mata biru pria itu.
jangan lupa mampirr🤭