Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 29
Air mata Bu Rina akhirnya menetes, melintasi pipinya yang mulai dimakan usia. Ia mengusapnya kasar dengan saputangan, menatap Kevin dengan pandangan nanar yang dipenuhi kekecewaan luar biasa.
"Mama menerima dan menyayangi Dilara sejak dia masuk ke rumah ini seperti anak kandung Mama sendiri, Kevin!" seru Bu Rina, suaranya pecah menahan tangis yang membuncah.
"Wanita itu tidak pernah sekalipun mengeluh. Saat kamu pulang malam, dia menunggumu di meja makan sampai tertidur. Saat kamu dingin, dia tetap tersenyum dan mencium tanganmu. Dan apa balasanmu? Kamu ucapkan talak tanpa perasaan dan kamu menghancurkan perasaan dia demi wanita yang dulu pernah meninggalkanmu begitu saja!"
"Kalau kamu memang tidak bisa mencintai Dilara, setidaknya kamu bicarakan baik-baik dengan Dilara dan kami. Jangan mengambil keputusan seperti itu, Mama tidak percaya jika anak yang Mama lahirkan dan rawat sepenuh hati bisa menyakiti hati wanita sedalam itu. Apa kamu yakin akan bahagia dengan wanita yang kamu percaya jika kamu mencintainya? Bagaimana kalau nantinya kamu bahkan akan merasakan sakit yang jauh lebih besar dari yang di rasa oleh Dilara?"
"Ma, Kevin minta maaf..." bisik Kevin, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Maaf?!" Pak Hendra menghempaskan korannya ke atas meja glass hingga cangkir teh di sampingnya berdenting keras. Ia melepaskan kacamata bacanya, menatap Kevin dengan mata memerah yang memancarkan ketegasan mutlak.
"Maaf kamu tidak ada harganya lagi, Kevin! Kamu tahu apa yang paling membuat Papa malu sebagai seorang ayah? Kamu tumbuh menjadi pria yang tidak punya pendirian! Pria pecundang yang tega menginjak-injak harga diri wanita mulia hanya demi nostalgia masa lalu yang dangkal!"
"Papa..."
"Jangan panggil Papa kalau kamu masih mempertahankan ego picikmu itu!" bentak Pak Hendra, berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Kevin. Ia menunjuk tepat di depan dada putranya.
"Dengar Kevin! Papa bertahun-tahun membangun bisnis dan nama baik keluarga ini dengan kejujuran dan kehormatan. Tapi kamu? Kamu hancurkan nama baik keluarga ini dalam semalam hanya karena bujuk rayu wanita manipulatif dan keluarganya! Dengan alasan kalau dia sakit!"
"Kevin ke sini justru karena butuh bantuan Papa dan Mama..." rintih Kevin pasrah, menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak sanggup menatap mata ayahnya.
"Tadi... Tante Widya dan Asha menuntut mahar fantastis. Mereka minta logam mulia setengah kilogram, satu unit apartemen di Kemang atas nama Asha, dan satu set perhiasan berlian penuh untuk akad."
Bu Rina tertawa sumbang,sebuah tawa penuh kepahitan yang menembus jantung Kevin.
"Luar biasa. Setengah kilo emas? Apartemen di Kemang? Mereka sedang menjual anak gadisnya atau sedang memerasmu, Kevin?"
"Tante Widya bilang itu sebagai bukti keseriusan dan ganti rugi atas harga diri Asha, Ma..." cicit Kevin membela diri dengan suara yang makin lemah.
"Arus kas perusahaan Kevin sedang terpakai untuk ekspansi. Kevin tidak bisa menarik dana tunai sebesar itu secara mendadak tanpa menggoyahkan operasional kantor. Bisakah... bisakah Papa bantu menutupinya dulu memakai dana simpanan keluarga?"
Pak Hendra menatap Kevin dari atas ke bawah dengan tatapan penuh keprihatinan dan hinaan.
"Kamu benar-benar sudah hilang akal, Kevin."
"Pa, tolong... Jika Kevin tidak bisa penuhi, Tante Widya dan Asha mengancam akan membatalkan pernikahan dan membeberkan ini ke seluruh relasi bisnis Papa..."
"Biarkan mereka batalkan! Biarkan seluruh dunia tahu!" potong Pak Hendra melengking, suaranya bergema menembus tiap sudut rumah yang sepi.
"Papa tidak akan pernah mengeluarkan sepeser pun uang keluarga untuk menuruti pemerasan berkedok mahar dari keluarga Asha! Tidak satu rupiah pun!"
"Tapi Pa, Kevin bakal ditertawakan dan dibilang tidak mampu..."
"Lalu bagaimana dengan Dilara?!" sela Bu Rina tajam, berdiri menghampiri Kevin dengan dada busung menahan amarah.
"Saat kamu menikahi Dilara satu tahun lalu, apa kamu ingat apa yang dia minta sebagai mahar?!"
Kevin membisu. Lidahnya terasa kelu bagai tertancap paku.
"Dia cuma minta seperangkat alat shalat dan cincin emas sederhana yang beratnya tidak sampai lima gram!" tangis Bu Rina kembali pecah, menunjuk wajah Kevin.
"Dia bilang sama Mama, 'Mama, Dilara tidak butuh harta Mas Kevin. Yang penting Mas Kevin bimbing Dilara jadi istri yang baik dan niat ibadahnya jujur.' Kamu ingat kalimat itu, Kevin?! Kamu ingat betapa tulusnya mata wanita itu saat mengucapkannya?!"
Air mata Kevin menetes deras membasahi pipinya. Bayangan Dilara yang tersenyum lembut memegang mukena saat akad nikah mereka setahun lalu mendadak berputar hebat di ingatannya, menyiksa batinnya tanpa ampun.
"Bandingkan dengan wanita yang kamu dewa-dewakan sekarang!" lanjut Bu Rina dingin, menyapu air matanya kasar.
"Belum sah jadi istrimu saja sudah menguras hartamu dan menekan keluargamu. Apakah itu wanita yang kamu sebut cinta sejatimu? Kamu menukar emas permata dengan loyang berkarat, Kevin!"
"Mama... Kevin bingung... Kevin terjepit..." rintih Kevin, meremas rambutnya sendiri seraya berlutut di lantai dingin, memegang tepi celana ibunya.
"Kevin menyesal... Kevin sadar Kevin salah sama Dilara... Tapi Kevin sudah terlanjur melangkah terlalu jauh dengan Asha..."
Pak Hendra menarik napas panjang, menatap putranya yang berlutut di lantai tanpa sedikit pun rasa iba.
"Jika kamu merasa terjepit, tanggung akibatnya sendiri sebagai seorang pria," ucap Pak Hendra dingin dan penuh penekanan.
"Cari uangnya sendiri. Jual mobilmu, jual aset pribadimu. Tapi jangan pernah coba-coba menyentuh kas perusahaan keluarga atau meminta bantuan Papa. Dan satu hal lagi yang harus kamu ingat..."
Pak Hendra menggantung kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata Kevin yang rapuh.
"Jika kamu tetap memaksakan pernikahan transaksi harta ini bersama Asha... jangan pernah berharap Papa dan Mama akan sudi melangkahkan kaki untuk hadir di acara pelaminanmu. Kami tidak akan pernah merestui pernikahan yang berdiri di atas tangisan dan luka seorang wanita seikhlas Dilara."
Setelah mengucapkan kalimat pemungkas itu, Pak Hendra membalikkan badan dan berjalan tegas menuju kamar utama. Bu Rina menatap Kevin yang bersimpuh di lantai untuk terakhir kalinya dengan pandangan dingin yang menghancurkan.
"Pulanglah ke rumahmu yang kosong itu, Kevin," bisik Bu Rina pelan sebelum berbalik pergi.
"Rasakan bagaimana dinginnya rumah tanpa doa dan keikhlasan dari seorang istri."
Pintu kamar utama tertutup rapat dengan dentuman halus.
Kevin terpaku sendirian di atas lantai pualam yang dingin. Ruang keluarga yang dulu hangat kini terasa seperti kuburan yang sunyi. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak sendirian di tengah kegelapan malam, merasakan kehancuran mutlak atas keputusan bodohnya yang telah mencampakkan wanita terbaik demi sebuah sangkar emas yang kini meremukkan hidupnya.
waras cobaa ,aneh si Kevin ini,di telan sma asha GK ada gebrakan nya sma skli