Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Permohonan Amanda
Setelah mendapat chat dari Amanda, Kamil langsung masuk ke dalam kamar. Antara kaget dan senang, karena semenjak terakhir ngobrol di parkiran sepeda, mereka tidak berkomunikasi lagi.
[Kamil: Aku lagi gak sibuk, Man. Emang ada perlu apa?" Kamil menjawab chat Amanda.]
[Amanda: Pokoknya ada hal penting, Mil. Bisa gak kita ketemuan skr?]
[Kamil: boleh banget. Di mana?]
[Amanda: Di apartemenku aja, biar lebih private.]
[Kamil: Wah, jadi penasaran ni.]
[Amanda: Sudah, aku tunggu sekarang.]
[Kamil Ok.]
Kamil menutup pintu kamarnya pelan, seolah ingin memastikan tak ada siapa pun yang mengganggu momen kecil yang tiba-tiba terasa penting itu. Ponselnya masih berada di genggaman, layar chat dengan Amanda belum juga ia tutup.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada rasa kaget, tapi juga semacam harapan yang diam-diam tumbuh tanpa izin. Ia membaca ulang pesan Amanda.
[Ada hal penting.]
Kata-kata itu sederhana, tapi cukup untuk membuat pikirannya berkelana ke mana-mana. Apa yang penting sampai harus bertemu langsung? Dan kenapa di apartemennya? Private, katanya.
Kamil menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya.
"Kenapa jadi deg-degan begini…” gumamnya pelan.
Ia bangkit dari tempat duduk, membuka lemari, lalu memandangi deretan pakaian seolah itu bisa memberinya jawaban. Tangannya sempat berhenti pada satu kemeja, lalu berpindah ke yang lain. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan jadi memikirkan penampilan hanya untuk bertemu Amanda.
Setelah memilih pakaian, ia bergerak lebih cepat. Ada rasa tidak sabar yang mulai mengambil alih. Pertemuan ini terasa… berbeda.
Sementara itu, pikirannya terus dipenuhi kemungkinan. Apakah Amanda ingin memperbaiki hubungan mereka?
Atau justru… ada masalah besar yang ingin ia ceritakan?
Kamil terdiam sejenak, menatap bayangannya di cermin. Ada sedikit keraguan yang menyelip di antara rasa penasarannya.
"Terserah apa pun itu…” bisiknya lirih. "Aku harus datang.”
Tanpa membuang waktu lagi, ia meraih kunci mobil dan melangkah keluar kamar. Langkahnya mantap, meski hatinya masih dipenuhi tanda tanya.
Satu hal yang pasti—
pertemuan hari ini akan mengubah sesuatu.
"Pa, aku keluar dulu, ada perlu." Kamil pamit ke papanya. "Kamu itu ya, ngobrol sama papa aja belum beres, malah pergi." "Maaf Pa, ini lebih urgent." "Terserah kamu lah."
Kamil sempat terdiam setelah ucapan papanya, tapi kali ini ia tidak ingin memperpanjang. Ada sesuatu yang jauh lebih mendesak menunggunya.
Tanpa banyak kata, ia melangkah keluar rumah.
Pagi itu masih terasa segar. Sinar matahari belum terlalu terik, menyelinap lembut di antara pepohonan dan memantul di permukaan jalan yang mulai ramai. Udara pagi membawa sedikit kesejukan, kontras dengan perasaan Kamil yang justru tidak setenang itu.
Begitu masuk ke dalam mobil, ia langsung menyalakan mesin. Suara halusnya mengisi keheningan yang sejak tadi menekan pikirannya.
Ia melirik ponselnya sekilas.
Pesan Amanda masih terbuka.
"Aku tunggu sekarang."
Kamil mengembuskan napas pelan, lalu mulai melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.
Jalanan pagi dipenuhi aktivitas. Orang-orang berangkat kerja, beberapa pedagang mulai membuka lapak, dan suara kendaraan saling bersahutan. Semua tampak berjalan normal—terlalu normal, sampai-sampai terasa berbanding terbalik dengan kegelisahan di dalam diri Kamil.
Tangannya menggenggam setir sedikit lebih erat.
Pikirannya terus berputar.
Kenapa harus sekarang?
Kenapa harus di apartemen?
Dan… apa sebenarnya yang begitu penting?
Ia menggeleng pelan, seolah ingin mengusir semua pertanyaan yang tidak ada jawabannya itu.
Lampu merah membuatnya berhenti. Kamil menatap lurus ke depan, matanya sedikit menyipit karena cahaya matahari yang mulai meninggi. Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya.
Ia mengetukkan jarinya pelan di setir—tanda ia mulai tidak sabar.
Begitu lampu berubah hijau, mobilnya kembali melaju.
Gedung apartemen Amanda mulai terlihat dari kejauhan. Tinggi dan tenang, berdiri di tengah hiruk pikuk kota yang semakin sibuk. Semakin mendekat, jantung Kamil kembali berdetak lebih cepat.
Perasaan itu datang lagi—
campuran antara penasaran, gugup, dan firasat yang sulit dijelaskan.
Mobilnya akhirnya masuk ke area parkir.
Kamil mematikan mesin, tapi tidak langsung turun. Ia menatap sejenak ke arah gedung di depannya, seolah mencoba menenangkan diri.
Tangannya sempat mengepal pelan.
"Semoga bukan hal buruk…” gumamnya lirih.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Setelah itu, tanpa ragu lagi, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Pagi itu terasa cerah—
tapi bagi Kamil, semuanya terasa seperti sedang menuju sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.
Langkah Kamil terdengar mantap namun berpacu dengan pikirannya sendiri. Sepanjang perjalanan menuju unit apartemen Amanda, dadanya dipenuhi rasa penasaran yang tak biasa. Pesan Amanda tadi terasa janggal—tidak seperti dirinya yang biasanya tegas dan terkontrol. Ada sesuatu yang salah, dan Kamil bisa merasakannya bahkan sebelum ia sampai di depan pintu.
Ia berdiri sejenak di depan pintu apartemen itu, menarik napas pendek, lalu menekan bel. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka.Amanda berdiri di sana. Namun bukan Amanda yang ia kenal.
Matanya sembab, seperti sudah lama menangis. Wajahnya pucat, tanpa riasan, dengan garis lelah yang jelas terlihat. Rambutnya pun tak serapi biasanya, tergerai asal seakan ia tak peduli lagi pada penampilannya.
"Masuk," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.
Nada suaranya membuat dada Kamil terasa mengencang.
Tanpa banyak tanya, ia melangkah masuk. Begitu pintu tertutup di belakangnya, belum sempat ia berkata apa pun—
Amanda tiba-tiba menubruknya.
Tubuh perempuan itu bergetar dalam pelukannya. Tangisnya pecah begitu saja, tanpa ditahan lagi, seolah selama ini ia menahan semuanya sendirian.
Kamil terkejut. Tubuhnya sempat kaku sesaat.
Ini pertama kalinya Amanda—yang selama ini terlihat begitu kuat—terlihat serapuh ini.
"Man… Man, ada apa?" suaranya melembut, meski masih terdengar gugup. Tangannya perlahan memegang bahu Amanda, mencoba menjauhkan sedikit untuk melihat wajahnya. Namun Amanda justru semakin erat memeluknya.
"Aku… aku ada masalah besar, Mil…" suaranya terputus-putus di sela tangis. "Tolong… bantu aku…"
Kalimat itu seperti jatuh begitu saja, berat, penuh keputusasaan.
Jantung Kamil berdetak semakin cepat. Ada sesuatu yang serius. Sangat serius.
Ia menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum menenangkan Amanda.
"Iya… iya, aku pasti bantu," ucapnya cepat, refleks. "Tenang dulu… kita cari jalan keluar bareng-bareng."
Tangannya bergerak pelan, menepuk punggung Amanda, berusaha memberi rasa aman.
"Tapi… kita gak bisa ngobrol sambil berdiri begini," lanjutnya lebih lembut. "Duduk dulu ya… biar kamu juga lebih tenang."
Amanda tak langsung menjawab. Pelukannya masih erat, seolah Kamil adalah satu-satunya pegangan yang ia punya saat ini.
Sementara itu, Kamil hanya bisa diam sesaat, membiarkan Amanda menangis di dadanya.
Di balik sikap tenangnya, jantungnya berdetak tak karuan.
Ia tak pernah membayangkan—pertemuan mereka setelah sekian lama justru akan seperti ini. Bukan canda, bukan perdebatan… tapi tangis dan sebuah permintaan tolong yang terasa begitu berat.
Dan entah kenapa, firasatnya mengatakan—apa pun yang akan Amanda katakan nanti, hidup mereka berdua mungkin tidak akan sama lagi setelah hari ini.
_____________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
mantappp