NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Di Antara Kebenaran dan Dendam

Pukul sepuluh malam, Celine Wang berdiri di depan bangunan tua di kawasan pelabuhan Shanghai. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan genangan air di sepanjang jalan dan aroma garam yang terbawa angin dari laut.

Bangunan itu dahulu merupakan gudang arsip milik Shengyuan Financial Group. Dindingnya kusam, sebagian jendelanya pecah, dan papan nama perusahaan yang menggantung di atas pintu telah berkarat. Tempat itu tampak seperti bangunan yang sengaja dilupakan oleh dunia.

Namun, seseorang baru saja mengirimkan alamatnya kepada Celine.

Seseorang yang mengetahui bahwa ia sedang mencari Shen Yiran.

Celine merapatkan mantel hitamnya. Di dalam tasnya terdapat salinan surat dari Shen Yuxin, foto perjalanan Evelyn Zhao, serta dokumen transaksi 0917. Ia tidak membawa dokumen asli. Setelah berdiskusi dengan Daniel Zhou, mereka sepakat bahwa tidak ada alasan untuk menyerahkan bukti penting kepada orang yang identitasnya belum diketahui.

Daniel menunggu di dalam mobil beberapa puluh meter dari lokasi, sementara seorang petugas keamanan swasta yang mereka sewa mengawasi pintu belakang.

Celine tahu ia harus berhati-hati.

Namun, ia juga tahu bahwa setiap menit yang terbuang memberi kesempatan kepada seseorang untuk menghilangkan bukti sekali lagi.

Ia melangkah mendekati pintu.

Terkunci.

Ketika tangannya menyentuh gagang pintu, terdengar suara benda jatuh dari dalam bangunan.

Celine membeku.

“Siapa di sana?” serunya.

Tidak ada jawaban.

Ia mundur satu langkah, lalu memeriksa ponselnya. Pesan dari nomor tak dikenal masih terpampang di layar.

Jika kau ingin mengetahui mengapa Shen Yiran menghilang, datanglah sebelum tengah malam.

Tidak ada nama. Tidak ada jaminan keselamatan.

Celine menarik napas panjang.

Untuk sesaat, ia ingin berbalik dan pergi. Ia bisa meminta Daniel mengurus semuanya melalui jalur hukum, menunggu sampai bukti terverifikasi, dan menghindari risiko yang tidak perlu.

Namun, pikiran lain segera menyusul.

Bagaimana jika orang yang mengirim pesan itu hanya memiliki kesempatan malam ini? Bagaimana jika Shen Yiran sedang berada dalam bahaya, dan Celine adalah satu-satunya orang yang bisa menemukan jejaknya?

Ia membenci bagaimana rasa bersalah selalu menemukan cara untuk memaksanya bergerak.

Dahulu, ia mengorbankan terlalu banyak hal demi mempertahankan pernikahannya. Kini, ia tidak ingin mengorbankan keselamatannya hanya karena merasa bertanggung jawab atas penderitaan orang lain.

Celine mengirimkan pesan kepada Daniel.

Ada suara dari dalam. Aku belum masuk. Tetap bersiap dan jangan mendekat sebelum aku menghubungimu.

Baru setelah menerima balasan Daniel, ia mencoba pintu samping. Pintu itu tidak terkunci.

Di baliknya, lorong gelap membentang menuju ruang penyimpanan utama.

Celine menyalakan senter ponselnya dan melangkah masuk.

Di dalam gudang, debu menutupi lemari besi dan rak-rak kayu yang telah lapuk. Sebagian besar dokumen sudah rusak akibat kelembapan. Namun, di sudut ruangan, sebuah meja tampak jauh lebih bersih daripada benda-benda lainnya.

Di atas meja itu tergeletak sebuah kotak logam kecil.

Celine mendekat dengan waspada.

Di tutup kotak terdapat tulisan tangan yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Untuk orang yang masih mengingat Shen Yiran.

Ia membuka kotak tersebut.

Isinya hanya tiga benda: foto seorang perempuan muda, selembar halaman perjanjian pengalihan aset, dan kaset perekam suara lama.

Celine mengambil foto itu terlebih dahulu.

Perempuan di dalamnya berdiri di depan gedung Shengyuan, mengenakan blus putih sederhana. Wajahnya mirip dengan foto yang pernah diperlihatkan Shen Yuxin, tetapi kali ini terlihat jelas. Di belakang foto tertulis sebuah tanggal, lima belas tahun lalu, serta kalimat singkat.

Jika sesuatu terjadi kepada Ayah, William harus menerima salinan ini.

Celine menelan ludah.

William.

Nama ayahnya tertulis di sana.

Ia kemudian memeriksa halaman perjanjian. Bagian atasnya memuat kode transaksi 0917, sedangkan bagian bawah menunjukkan bahwa sejumlah aset Shengyuan dipindahkan melalui perusahaan perantara sebelum akhirnya masuk ke rekening yang terhubung dengan Wu Group.

Namun, nama penerima akhir telah disobek.

Seseorang telah mengambil bagian paling penting dari dokumen itu.

Celine mengepalkan tangannya.

“Selalu saja bagian yang hilang,” gumamnya.

Ia hampir memasukkan dokumen tersebut ke dalam tas ketika menyadari ada tulisan kecil di balik halaman.

Salinan kedua disimpan oleh orang yang membawa Yiran pergi.

Celine membaca kalimat itu berulang kali.

Evelyn.

Jika Evelyn benar-benar membawa Shen Yiran meninggalkan Shanghai, perempuan itu mungkin memiliki salinan asli atau setidaknya mengetahui siapa yang menyimpannya.

Tiba-tiba, terdengar bunyi langkah kaki dari lorong.

Celine segera mematikan senter dan bersembunyi di balik lemari besi.

Dua orang memasuki ruangan.

“Apakah kotaknya sudah diambil?” tanya seorang laki-laki.

“Belum. Orang yang mengirim pesan itu mungkin belum datang.”

“Kalau begitu, cari. Kita tidak boleh membiarkan halaman itu jatuh ke tangan Celine Wang.”

Darah Celine terasa dingin.

Mereka mengetahui namanya.

Salah seorang laki-laki mendekati meja. Ketika menyadari kotak logam telah terbuka, ia mengumpat pelan.

“Dia sudah di sini.”

Celine menggenggam ponselnya, tetapi tidak berani menyalakan layar. Ia menunggu sampai kedua laki-laki itu bergerak ke sisi lain ruangan, lalu menyelinap menuju pintu samping.

Salah satu dari mereka melihat bayangannya.

“Hei!”

Celine berlari.

Ia menerobos lorong, mendorong pintu, lalu keluar menuju jalan belakang. Suara langkah kaki mengejarnya, semakin dekat.

Sebelum salah seorang laki-laki berhasil meraih lengannya, sebuah mobil berhenti mendadak di dekat pagar gudang.

Daniel membuka pintu penumpang.

“Celine, masuk!”

Celine melompat ke dalam mobil. Daniel segera menginjak pedal gas, meninggalkan gudang di belakang mereka.

Baru setelah mereka berbelok dua kali, Celine menyadari tangannya gemetar.

Daniel meliriknya.

“Kau terluka?”

“Tidak.”

“Syukurlah.” Daniel menatap jalan di depan. “Aku melihat dua orang masuk melalui pintu belakang. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi mereka sendirian.”

Celine memejamkan mata sejenak.

Ia ingin berterima kasih. Namun, yang muncul justru rasa marah terhadap dirinya sendiri.

Ia telah berjanji akan berhati-hati, tetapi tetap membiarkan rasa penasaran membawanya terlalu jauh.

“Aku hampir tertangkap karena sebuah halaman dokumen,” katanya lirih.

“Bukan hanya dokumen. Mereka takut pada apa yang mungkin dibuktikan dokumen itu.”

Celine memandang kotak logam di pangkuannya.

“Kalau begitu, aku harus memastikan bukti ini tidak menjadi alasan bagi mereka untuk menyakiti orang lain.”

Mereka berhenti di kantor Daniel hampir satu jam kemudian.

Setelah memastikan dokumen tersimpan dengan aman, Daniel memutar kaset perekam menggunakan perangkat lama yang masih berfungsi.

Suara berdesis memenuhi ruangan.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara perempuan muda.

“Jika rekaman ini ditemukan, berarti aku tidak berhasil menemui William.”

Celine langsung menegakkan tubuh.

Suara itu terdengar tegang, tetapi jelas.

“Ayah percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan perjanjian. Namun, mereka telah mengubah angka-angka, memindahkan aset, dan membuatnya seolah-olah orang yang menolak justru menjadi pengkhianat.”

Terdengar bunyi kertas dibalik.

“Aku sudah memberikan salinan dokumen kepada orang yang berjanji akan membantu. Jika William menerima bukti itu, ia akan tahu siapa yang mengambil uang Shengyuan. Tetapi aku tidak tahu apakah orang itu masih bisa dipercaya.”

Rekaman berhenti sejenak, lalu suara perempuan itu kembali terdengar.

“Jika sesuatu terjadi kepada William, jangan biarkan mereka menyalahkan orang yang tidak bersalah.”

Setelah itu, kaset hanya berisi desisan panjang.

Daniel menghentikan pemutaran.

“Suara itu mungkin milik Shen Yiran,” katanya. “Tetapi kita perlu pemeriksaan lebih lanjut sebelum memastikannya.”

Celine tidak menjawab.

Kalimat terakhir itu terasa seperti pukulan yang diarahkan tepat ke dadanya.

Jangan biarkan mereka menyalahkan orang yang tidak bersalah.

Selama berbulan-bulan, ia membayangkan bagaimana rasanya jika akhirnya menemukan orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Ia membayangkan akan menatap mereka tanpa gentar, memperlihatkan bukti, lalu menyaksikan kebohongan mereka runtuh.

Namun, bagaimana jika orang yang selama ini ia curigai ternyata hanya menutupi kesalahan orang lain?

Bagaimana jika Alexander mengetahui sebagian rahasia itu, tetapi tidak mengetahui semuanya?

Dan bagaimana jika Evelyn, yang begitu ingin ia seret ke hadapan hukum, pernah mencoba menyelamatkan Shen Yiran sebelum akhirnya memilih melindungi dirinya sendiri?

Celine menunduk, menatap kedua tangannya.

Ia menyadari bahwa kemarahan membuat segala sesuatu tampak sederhana. Ada penjahat, ada korban, dan ada seseorang yang harus membalas penderitaan korban.

Kenyataannya jauh lebih rumit.

“Aku takut,” katanya akhirnya.

Daniel tidak menyela.

“Aku takut menemukan kebenaran, Daniel. Bukan karena aku tidak ingin tahu siapa yang membunuh ayahku. Aku takut karena semakin banyak yang kutemukan, semakin sulit bagiku untuk menentukan siapa yang benar-benar bersalah.”

Ia mengangkat wajah. Matanya memerah, tetapi suaranya tetap tenang.

“Aku tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan kehidupan seseorang hanya karena aku terlalu membenci keluarganya.”

Daniel menggeser kotak tisu ke arahnya.

“Kau boleh marah, Celine. Kau boleh membenci mereka. Tetapi selama kau masih mempertanyakan bukti dan berusaha memisahkan kebenaran dari keinginanmu sendiri, kau belum kehilangan dirimu.”

Celine mengambil selembar tisu.

Ia tidak merasa lebih lega. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak memaksa dirinya berpura-pura kuat.

“Aku ingin tahu siapa yang bertanggung jawab,” katanya. “Tapi aku ingin bisa hidup dengan keputusan yang kuambil setelah mengetahuinya.”

“Kalau begitu, kita lanjutkan dengan bukti. Bukan dengan dendam.”

Celine mengangguk.

Menjelang tengah malam, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Sekarang kau tahu bahwa Shen Yiran mencoba menyerahkan bukti kepada ayahmu.

Pesan berikutnya menyusul.

Namun, orang yang menerima dokumen itu bukanlah William Wang.

Celine membaca kalimat tersebut dengan napas tertahan.

Sebuah foto kemudian muncul di layar. Foto itu memperlihatkan seorang laki-laki berdiri di samping mobil hitam pada malam kematian William. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, tetapi cincin di tangannya terlihat jelas.

Cincin keluarga Wu.

Di bawah foto tertulis satu kalimat.

Tanyakan kepada Alexander siapa yang menerima dokumen Shen Yiran sebelum William meninggal.

Celine menatap layar tanpa bergerak.

Ia teringat Alexander yang baru-baru ini mulai menyerahkan dokumen kepada Daniel. Ia teringat permintaan maafnya, penyesalannya, dan caranya berusaha membantu tanpa lagi menuntut tempat dalam hidupnya.

Untuk sesaat, ia ingin menelepon Alexander dan menuntut jawaban.

Namun, ia menahan diri.

Ia tidak akan membiarkan sebuah pesan anonim menentukan siapa yang harus ia curigai.

Celine meneruskan foto itu kepada Daniel untuk diperiksa, lalu mematikan layar ponselnya.

Di luar jendela, hujan kembali turun.

Ia masih ingin membalas semua luka yang ditinggalkan masa lalu. Ia masih merindukan ayahnya dengan rasa sakit yang tidak pernah benar-benar berkurang. Dan ia masih belum sepenuhnya terbebas dari perasaan terhadap pria yang pernah menghancurkan hatinya.

Namun, malam itu, Celine membuat keputusan baru.

Ia akan mencari kebenaran sampai akhir.

Bukan agar Alexander menyesal. Bukan agar keluarga Wu hancur. Dan bukan agar dirinya bisa merasa menang.

Ia akan melakukannya karena ayahnya berhak mendapatkan keadilan.

Dan karena perempuan yang telah terluka begitu dalam itu masih ingin percaya bahwa keadilan tidak harus lahir dari kebencian.

Meski untuk mempertahankan keyakinan itu, ia mungkin harus menghadapi kenyataan yang paling tidak ingin diketahuinya.

Bahwa orang yang pernah dicintainya bisa saja menjadi bagian dari rahasia yang selama ini ia buru.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!