Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pagi berikutnya, sebuah amplop tebal berwarna krem dengan lambang emas tergeletak di meja Alex, dibawa langsung oleh kurir khusus yang menolak menyerahkannya ke siapa pun selain Alex sendiri.
Alex membuka amplop itu, menemukan sebuah kartu undangan dengan tulisan kaligrafi rapi.
"Dengan hormat mengundang Bapak Alex untuk menghadiri Malam Amal Tahunan Keluarga Nusantara."
Bima yang kebetulan berada di ruangan itu menghampiri, matanya membelalak begitu membaca nama di kartu undangan.
"Pak... ini undangan dari Keluarga Nusantara?" Bima bertanya, suaranya nyaris tidak percaya.
"Kau kenal nama itu?" Alex bertanya, alisnya terangkat.
"Kenal? Pak, semua orang di dunia bisnis kenal nama itu," Bima menjawab cepat, duduk di kursi seberang meja Alex. "Keluarga Nusantara itu bisa dibilang keluarga nomor satu di dunia. Bukan cuma soal kekayaan, tapi soal pengaruh."
"Sebesar apa pengaruhnya?" Alex bertanya, semakin tertarik.
"Gini, Pak," Bima menjelaskan, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Keluarga Nusantara itu terkenal karena mereka gak pernah mempromosikan produk sembarangan. Setiap barang yang mereka endorse, selalu barang paling berkualitas di kelasnya. Konsumen di seluruh dunia percaya penuh sama standar mereka."
"Berarti kalau ada produk jelek, mereka gak akan mau pasang nama mereka di situ?" Alex bertanya, memastikan pemahamannya.
"Sama sekali gak akan, Pak," Bima menjawab tegas. "Ada cerita, dulu ada perusahaan minuman besar yang nawarin uang berkali-kali lipat cuma buat dapat endorsement mereka. Ditolak mentah-mentah karena kualitas produknya dianggap gak memenuhi standar. Sejak itu, nama Nusantara jadi semacam jaminan kualitas tak tertulis di mata publik."
"Berapa lama biasanya proses buat dapat endorsement dari mereka?" Alex bertanya lagi.
"Setahu saya, banyak perusahaan yang nunggu bertahun-tahun cuma buat dapat kesempatan presentasi produk ke tim mereka, Pak," Bima menjawab, menggeleng pelan seolah masih tidak percaya dengan keberuntungan yang tiba-tiba mereka dapatkan. "Dan kita baru berdiri sebulan, langsung diundang ke acara pribadi keluarganya."
"Jadi kalau mereka promosikan produk kita..." Alex bertanya, ikut tertarik.
"Penjualan kita bisa meledak berkali-kali lipat dari sekarang, Pak," Bima menyambung, matanya berbinar membayangkan kemungkinan itu. "Bukan cuma soal angka. Reputasi kita juga langsung naik kelas. Orang-orang bakal percaya Renata itu produk premium yang layak dipercaya, bukan cuma merek baru yang kebetulan viral."
Alex menatap kartu undangan itu lama, jarinya mengetuk meja pelan.
"Kenapa mereka tiba-tiba mengundang kita? Perusahaan kita masih terlalu baru buat dilirik keluarga sebesar itu," Alex bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Mungkin mereka lihat potensi kita, Pak," Bima menjawab, mengangkat bahu. "Atau mungkin mereka penasaran sama fenomena Renata yang bisa naik secepat ini."
"Atau ada alasan lain yang belum kita tahu," Alex menambahkan, matanya menyipit sedikit. Setelah semua yang terjadi dengan Ibu Ratna dan Om Yusuf, dia sudah belajar untuk tidak terlalu cepat percaya pada kebaikan yang datang tanpa penjelasan jelas.
"Menurut Bapak ini jebakan?" Bima bertanya, sedikit tegang.
"Belum tentu," Alex menjawab, tersenyum tipis. "Tapi gak ada salahnya tetap waspada, sambil tetap terbuka sama kesempatannya."
Alex menyimpan kartu undangan itu kembali ke amplopnya. 'Keluarga sebesar itu gak akan mengundang tanpa alasan jelas.'
"Siapkan Reina juga," Alex akhirnya berkata. "Kalau memang ini kesempatan buat kerja sama besar, aku butuh dia buat jelasin soal produk kalau ditanya detail teknis."
"Baik, Pak," Bima menjawab, senyumnya melebar. "Ini kesempatan besar, Pak. Jangan sampai disia-siakan."
"Kau juga ikut," Alex menambahkan. "Aku butuh orang yang paham soal negosiasi bisnis kalau nanti masuk pembicaraan kerja sama lebih detail."
"Siap, Pak," Bima menjawab cepat, tidak menyembunyikan semangatnya. "Ini pertama kalinya saya bakal masuk acara sekelas itu. Saya harus siapin jas terbaik saya."
Alex menatap keluar jendela, memikirkan kemungkinan yang terbentang di depannya—sebuah pintu menuju panggung yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan sejak perusahaan ini berdiri.
'Kalau memang ini kesempatan, aku gak akan sia-siakan.'
Bima berdiri, hendak keluar ruangan, tapi berhenti sejenak di ambang pintu. "Pak, satu lagi. Biasanya acara-acara kayak gini formalnya ketat banget. Jangan sampai kita salah langkah, bisa jadi bahan gunjingan seumur hidup di kalangan bisnis."
"Aku bukan orang yang gampang salah langkah, Bima," Alex menjawab, tersenyum tipis penuh percaya diri.
"Saya tahu, Pak. Cuma mengingatkan aja," Bima menjawab, tertawa kecil sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan, meninggalkan Alex sendirian dengan kartu undangan yang masih tergenggam di tangannya.