NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2: Keberangkatan ke Bandung

Waktu sudah menunjukkan pukul 5.47. Udara pagi terasa berat karena bercampur dengan firasat buruk yang belum sepenuhnya pergi.

Motor kutitipkan di area parkir kosan. Saat kuserahkan kunci kepada Jefry untuk diberikan kepada penjaga kos, ada perasaan aneh, seperti aku sedang meninggalkan bagian dari diriku sendiri di tempat yang seharusnya tidak kupilih.

Kami memesan taksi online menuju stasiun. Tak butuh waktu lama, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang. Mesinnya menyala pelan, nyaris tanpa suara.

Begitu pintu terbuka, rasa janggal langsung menyergap.

Interior mobil itu dipenuhi pernak-pernik yang membuat hatiku tidak tenang. Dari spion tergantung beberapa jimat kain kecil berwarna kusam, manik-manik hitam, dan sebuah gantungan berbentuk kepala boneka retak tanpa mata. Dashboardnya penuh foto-foto lama yang sudah menguning, sebagian wajahnya tercoret tinta hitam.

Aku dan Shinta saling berpandangan sebelum masuk.

"Ke stasiun Halim ya, Pak," kata Jefry singkat begitu duduk di depan.

Sopir itu hanya mengangguk.

Tidak menyapa, tanpa menoleh. Matanya hanya menatap arah depan, pucat, misterius.

Ia mengenakan jaket gelap dan topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Dari kaca spion, aku sempat menangkap pantulan matanya, kosong, datar, seperti kolam air mati.

Mobil melaju tanpa suara radio. Tanpa obrolan basa-basi yang biasanya dipaksakan para sopir.

Jefry menghela nafas keras. "Pak, dingin banget mobilnya."

Tidak ada jawaban.

"Pak?" nada Jefry mulai naik.

Sopir itu akhirnya bersuara, pendek dan pelan. "Saya suka dingin."

Hanya itu.

Aku merasa suhu di dalam mobil memang turun. Nafasku terlihat samar di kaca jendela. Mataku sulit beralih dari gantungan seperti jimat yang terus bergerak pelan, meski mobil melaju di jalan yang rata.

Ada momen singkat ketika aku merasa, kami tidak hanya berempat di dalam mobil. Untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman, aku memalingkan wajah ke jendela.

Lampu-lampu kota berkelebat seperti garis cahaya penganti matahari yang belum muncul. Di antara pantulan itu, aku tanpa sengaja malah melihat bayangan seseorang duduk di kursi paling belakang, kepalanya menunduk, rambutnya panjang menutupi wajah.

Aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.

Tapi sosok dari bayangan yang tadi ku lihat, menghilang begitu saja. Hanya ada kotak perkakas dan bungkusan terpal kecil yang aku tidak ketahui pasti kenapa tergeletak di sana.

"Mas Bagas," bisik Shinta dengan suara bergetar. "Perasaan aku nggak enak banget."

Aku hanya mengangguk, lidahku terasa kelu.

Kami tiba di stasiun lebih cepat dari perkiraan. Sopir itu menghentikan mobil dengan halus. Tidak menoleh, tanpa mengucapkan apa pun.

Jefry turun sambil menggerutu. "Aneh banget sopir itu. Nggak ada attitude-nya."

Ia menoleh ke Shinta. "Rate bintang dua aja. Biar kapok."

Shinta ragu sesaat, lalu mengangguk pelan sambil membuka aplikasi di handphonenya.

Aku berdiri sebentar di samping mobil. Saat aku hendak menutup pintu, sopir itu akhirnya menoleh ke arahku.

Senyumnya tipis, mengangguk pelan.

Seketika saja aku merasa merinding, mempertanyakan apa maksud senyuman itu. Mobil itu melaju pergi sebelum aku sempat bertanya apa pun.

Di layar handphone Shinta, rating dua bintang sudah terkirim.

Entah kenapa, pikiranku terasa makin berat.

"Woi!"

Aku terkejut karena ada yang menepuk pundakku.

"Bengong aja," ujarnya lagi.

Ternyata itu adalah Hendra yang sudah tiba duluan di stasiun.

"E-eh, Bang Hendra, udah lama bang sampainya?" jawabku basa-basi.

Saat ini aku bersama yang lain menunggu di ruang tunggu stasiun. Suasananya terasa hampa meskipun cahaya terang menyinari seluruh sudut.

Lampu putih memantul di lantai mengkilap, membuat mataku sedikit perih karena mataku yang silinder. Penumpang lain duduk berjajar, sebagian tertidur, sedangkan yang lain sibuk dengan smartphone. Suara pengumuman terdengar bergema, terdistorsi oleh langit-langit tinggi.

Aku berdiri, "Gua ke toilet dulu ya."

Shinta menatapku sekilas.

"Tapi jangan lama-lama lo, Gas. Sebentar lagi kita check in," pesan Jefry.

Setengah berjalan, aku mengangguk. "Iya bang, kencing doang kok."

Toilet umum terletak di ujung lorong. Sepi, bau disinfektan menusuk hidung, bercampur wangi pengharum yang menjadi khas toilet umum. Beberapa urinoir berjajar di dinding kiri.

Seperti biasa, aku melewatinya.

Aku memang tidak pernah memakai urinoir. Ada rasa malu yang tak bisa kujabarkan, seakan aku sedang dipertontonkan. Biasanya aku selalu memilih bilik tertutup.

Setelah masuk ke salah satu bilik, aku mengunci pintunya.

"Klik."

Suara itu biasanya menenangkan.

Aku menyelesaikan urusanku dengan cepat. Saat hendak keluar, tanganku memutar kunci.

Tidak bergerak.

Aku mencoba lagi, masih tertahan.

"Tenang," gumamku dalam hati.

Tapi gestur tubuhku berkata lain. Aku berusaha untuk memutar lebih kuat.

Tidak bisa juga.

Saat itulah lampu toilet tiba-tiba saja mati.

Sekejap, semuanya gelap.

Aku berdiri kaku, nafasku langsung memburu. Dalam kegelapan total, aku bisa mendengar detak jantung sendiri. Dari luar bilik, terdengar suara air menetes, pelan, teratur, seperti hitungan mundur.

Plok.

Plok.

Plok.

Langkah kaki muncul dengan sangat jelas. Sepertinya ia mengenakan sepatu berbahan dasar keras sehingga ketika menghentak lantai mengeluarkan suara nyaring.

"Halo?" suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

"Ada orang?"

Tidak ada jawaban.

Aku meraba dinding, mencoba mencari apapun yang bisa ku temukan. Ujung jariku menyentuh sesuatu yang lembab. Terlalu basah untuk sekadar tembok.

Seketika itu juga aku langsung menarik tangan dengan cepat. Mengambil handphone dari kantong, menyalakan fitur lampunya.

Tapi begitu mengarahkan ke bagian yang tadi kusentuh, tidak ada apa-apa. Namun aku yakin, di kegelapan ini, merasakan kehadiran sesuatu yang lain.

Aku menelan ludah. Pikiranku melayang ke Delia dan Rafa. Memikirkan kembali semua firasat yang kupaksa bungkam.

"Ya Allah," bisikku.

Dret.. Dertt..

Bunyi handphone yang kupegang bergetar. Delia memanggil.

Tiba-tiba saja lampu toilet menyala kembali.

"Krek.. Takk.."

Kunci itu bergerak sendiri. Aku termenung sebentar, lalu mendorong pintu toilet tersebut.

Setelah berhasil terbuka, aku terhuyung keluar bilik sambil mengangkat panggilan dari Delia.

Dengan nafas terengah, aku terkejut karena di situ ada beberapa orang yang kemudian melihat ke arahku dengan tatapan aneh.

"Halo?!" teriak Delia di telepon karena aku tak menjawabnya.

Aku tersadar, kemudian merespon Delia. Ia memarahiku karena tidak memberikan kabar. Aku pun baru teringat kalau belum membuka handphone sama sekali sejak tiba di kosan Jefry.

Ketika keluar dari lorong toilet, ada perasaan yang sangat lega ku rasakan.

Tak butuh waktu lama untuk aku kembali ke ruang tunggu, dengan wajah pucat. Panggilan telepon dari Delia sudah ku akhiri.

"Hampir aja gua susul lo, lama amat sih?" keluh Jefry.

"Maaf, Bang. Toiletnya bermasalah tadi," jawabku singkat.

Tak lama kemudian, pengumuman keberangkatan terdengar. Kereta cepat whoosh tujuan Bandung akan segera diberangkatkan.

Kami berdiri dan berjalan menuju peron. Hendra bercanda ringan, Jefry sibuk mengecek handphone, Shinta berjalan di sampingku tanpa banyak bicara.

Saat kami melangkah masuk ke dalam kereta, pintu Whoosh terbuka perlahan.

Udara dingin menyambut, aku melangkah masuk terakhir.

Dan tepat sebelum pintu menutup, aku yakin merasakan sesuatu lewat di belakangku.

Tapi saat aku menoleh, tidak ada siapapun di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!