Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Undangan di Bagikan Di sekolah.
Hari Kamis pagi itu, atmosfer di dalam kelas XI-IPA 2 berubah menjadi medan pertempuran gosip paling panas sepanjang sejarah SMA Taruna Bakti. Baru saja bel masuk berbunyi lima menit yang lalu, wali kelas mereka, Bu Retno, masuk tidak sendirian. Beliau diikuti oleh dua orang kurir berpakaian batik rapi yang membawa beberapa kotak beludru hitam besar kotak yang sangat Aletha kenali sejak makan malam menegangkan tadi malam.
Aletha duduk membeku di bangkunya. Tangannya meremas tali ransel di bawah kolong meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Ya Tuhan, ini beneran terjadi. Tamat riwayat gue, batin Aletha menjerit histeris, ingin rasanya ia mendadak menghilang atau menyublim jadi udara.
Di meja sebelah, Langit duduk dengan posisi santai khasnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada, menatap lurus ke arah papan tulis dengan ekspresi tripleks yang sedingin es. Tidak ada kepanikan, tidak ada keraguan, seolah-olah badai yang siap mengguncang sekolah ini hanyalah acara hiburan pagi biasa baginya.
"Selamat pagi, Anak-anak," sapa Bu Retno, berdehem pelan untuk menenangkan riuh rendah bisikan murid-murid.
"Sebelum kita memulai materi pelajaran hari ini, Ibu diminta oleh pihak yayasan dan keluarga besar perwakilan wali murid untuk membagikan sebuah pengumuman penting sekaligus kabar bahagia dari dua teman sekelas kalian."
Bu Retno memberi isyarat kepada kedua kurir. Kotak beludru dibuka, dan lembaran-lembaran undangan tebal berwarna pastel dengan ukiran tinta emas yang megah mulai dibagikan satu per satu ke setiap meja murid.
Set. Set. Set.
Begitu lembaran undangan mewah itu mendarat di atas meja, keheningan total mendadak menyergap ruang kelas selama tiga detik. Ratusan pasang mata tertuju pada barisan huruf timbul berlapis emas di atas kertas mahal tersebut.
The Engagement of Arkalangit Saghara Voss & Aletha Lizyora Vall.
"DEMI APA?!"
Fika menjadi orang pertama yang berteriak histeris hingga berdiri dari bangkunya, membuat lembaran undangannya hampir terlempar. Suara teriakannya seketika memicu ledakan kehebohan masal di dalam kelas. Murid-murid langsung berhamburan dari tempat duduk mereka, saling menunjukkan undangan, lalu menatap ke arah Aletha dan Langit dengan tatapan mata yang dipenuhi syok berat, tidak percaya, dan histeria tingkat tinggi.
"Gila! Ini beneran?! Langit sama Aletha?!"
"Bukannya selama tiga tahun ini mereka musuh bebuyutan kayak Tom and Jerry?!"
"Ternyata gosip balapan liar semalam sama Tommy itu karena ini?!"
Rendy, sang ketua kelas, mematung di mejanya sambil memandangi undangan emas itu dengan dahi berkerut dalam. Ia melirik kaku ke arah Langit, teringat bagaimana cowok tegap itu mengusirnya dari kelompok Kimia kemarin dengan aura protektif yang kelewat mengerikan. Sekarang semuanya masuk akal.
"Letha! Lo berutang penjelasan sepanjang jalur pantura sama gue!" bisik Fika heboh, setengah merangkak ke meja Aletha dengan mata melotot sempurna.
Aletha tidak mampu menjawab. Wajahnya sudah sewarna kepiting rebus yang matang sempurna, terasa sangat panas di bawah tatapan ratusan mata teman-temannya. Ia melirik tajam ke arah Langit, menuntut pertanggungjawaban lewat matanya.
Langit perlahan menurunkan tangannya dari dada. Ia berdiri dari kursinya dengan gerakan lambat namun penuh wibawa. Tubuh tingginya yang menjulang langsung menarik perhatian penuh dari seisi kelas yang semula ribut. Hawa dingin yang pekat menguar dari tubuh tegapnya, otomatis membungkam histeria massal itu dalam sekejap.
"Urusan pertunangan ini adalah keputusan resmi dari kedua keluarga besar kami sejak lama," ucap Langit dengan nada suara bariton yang teramat tenang, berat, dan menggema jelas di setiap sudut ruang kelas. Ia meletakkan satu tangan panjangnya di atas tepi meja Aletha sebuah gerakan posesif yang sangat tegas untuk menandai batas wilayahnya di depan umum.
"Jadi, gue harap nggak ada lagi gosip sampah atau pertanyaan tidak penting yang mengganggu ketenangan tunangan gue di sekolah. Paham?"
Mendengar penegasan sedingin es namun sarat akan proteksi absolut dari mulut sang juara umum, seisi kelas XI-IPA 2 langsung bungkam seribu bahasa. Nyali mereka menciut seketika melihat kilat mata hazel milik Langit yang tidak menerima bantahan apa pun.
Bu Retno tersenyum maklum, lalu mengetuk meja guru dengan penggaris.
"Sudah, sudah. Anak-anak, kembali ke tempat duduk masing-masing. Kita ucapkan selamat untuk Langit dan Aletha, lalu kita mulai pelajaran Biologi."
________________________
Saat jam istirahat tiba, lembaran undangan emas itu ternyata sudah menyebar tidak hanya di kelas mereka, melainkan ke seluruh penjuru mading sekolah. Berita pertunangan musuh bebuyutan spek dewa ini resmi menjadi topik nomor satu di SMA Taruna Bakti.
Aletha berjalan cepat membelah koridor menuju arah toilet, berusaha menghindari serbuan pertanyaan dari murid-murid lain. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di dekat belokan laboratorium ketika ia melihat Reza dan beberapa sisa anak buah geng motor Griffin sedang berdiri mengerumuni mading, menatap undangan emas itu dengan wajah mengeras penuh dendam.
Reza menoleh, matanya menajam saat mendapati kehadiran Aletha.
"Jadi ini alasan Tommy hancur berantakan semalam, Letha? Karena lo lebih milih terikat sama cowok borjuis ini?" desis Reza penuh kebencian, melangkah maju hendak menghadang.
Set.
Sebuah bayangan tinggi besar mendadak menyelinap masuk ke dalam ruang di antara mereka. Langit berdiri kokoh bagai benteng pertahanan yang tak tertembus, memblokade tubuh mungil Aletha sepenuhnya di belakang punggung tegapnya yang luas.
"Gue kira peringatan gue semalam dan undangan emas di mading itu sudah cukup membuat otak kecil lo paham arti kata batas wilayah, Reza," ucap Langit dengan suara rendah yang sedingin kutub utara. Mata hazel-nya menatap langsung ke manik mata Reza dengan intimidasi yang mutlak.
"Menjauh. Atau gue pastikan sanksi hukum keluarga Voss berlaku untuk lo hari ini juga."
Reza mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga bergetar hebat. Namun, melihat sorot mata membunuh dari Langit dan mengingat kekuasaan absolut keluarga Voss, ia terpaksa menelan ludah dengan susah payah, melangkah mundur, lalu berbalik pergi bersama anak buahnya dengan kekalahan telak.
Setelah gerombolan itu pergi, Langit membalikkan tubuhnya perlahan. Ia menatap Aletha yang masih terengah-engah menahan cemas di balik punggungnya. Dengan gerakan lembut yang tak terduga, jari panjang Langit menjentik dahi Aletha dengan pelan.
"Jangan melamun terus, Kurcaci. Tugas lo sebagai babu hari ini adalah menemani gue ke kantin. Gue laper," sahut Langit dengan nada datarnya yang kembali normal, namun ada binar hangat yang tersembunyi di balik matanya.
Aletha memegangi dahinya yang dijentikkan, menatap musuh bebuyutannya yang kini resmi berstatus tunangan publiknya, dengan bibir mengerucut sebal. Namun di dalam dadanya, badai debaran yang teramat manis dan membahagiakan resmi meledak tanpa bisa ditahan lagi. Badai emas di sekolah hari ini mungkin sangat mengguncang, tapi di samping Langit, Aletha tahu ia berada di tempat teraman di dunia.