Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Multivitamin Kesehatan
Alarm berdering nyaring dari arah nakas, suaranya menembus kesadaran Aura yang terbaring pasrah. Ia membuka perlahan matanya yang terasa seberat timah. Seketika, rasa dingin marmer merayap menembus kulitnya.
Aura terkejut saat menyadari dirinya terbangun di atas lantai tanpa sehelai alas, tepat di depan pintu kamarnya yang terbuka lebar. Rambutnya terikat asal, dan tanpa kacamata, pandangannya agak kabur.
Rasa panik mendadak merayapi dada. Aura bergegas bangkit, melangkah gontai menuju pintu utama apartemen. Tidak terkunci. Jantungnya berdentam liar. Apa yang terjadi semalam? Siapa yang membuka kuncinya, dan apa yang telah ia lakukan selama mengalami blackout?
Dengan tubuh gemetar, ia kembali ke kamar, meraih kacamata tipis di meja nakas, lalu menyambar ponselnya.
Puluhan notifikasi membanjiri layar. Yang pertama kali menyita perhatiannya adalah pemberitahuan dari akun gosip sosial media yang menandai namanya secara masif.
"PENULIS AURA CLARISSA AKAN MENIKAH DENGAN DARREL GORGE, CUCU KONGLOMERAT ROBERT GORGE PEMILIK SAHAM TERBESAR DI NEGERI INI!"
Kolom komentar membludak oleh makian dan spekulasi:
@NetizenA: Aura Clarissa? Siapa sih, gak terkenal banget.
@NetizenB: Pasti ceweknya cewek matre. Gak kebayang sekaya apa Darrel, kok mau-maunya sama penulis gak punya nama.
@NetizenC: Fix didukunin sih. Padahal kakaknya aja nikah sama Sofie yang mantan model terkenal dan anak keluarga terpandang.
Brak!
Aura mematikan layar ponselnya. Tangannya bergetar hebat. Namanya kini hancur dihakimi publik akibat pengakuan sepihak pria yang baru ia kenal beberapa hari lalu itu.
Ponselnya kembali bergetar. Lima pesan beruntun masuk dari Daffa. Salah satunya berisi:
'Temui aku di kafe Jingga siang ini. Kamu sudah baca beritanya, kan? Apa yang sudah kamu lakukan sampai Darrel luluh padamu, cewek sialan?!'
Aura membalikkan ponselnya, tak sanggup lagi membaca pesan-pesan bernada merendahkan itu. Dadanya sesak. Ia tak paham mengapa orang-orang menganggapnya semurah itu. Berawal dari Darrel yang menganggapnya liar, lalu Daffa yang menyerapahnya.
Tanpa membalas apa pun, Aura beranjak menuju kamar mandi dengan kepala yang kian berdenyut pening.
......
"Gila! Calon istri Darrel Gorge!" seru Santi dengan mata berbinar di studio kerja mereka siang itu.
Aura tak memedulikannya. Jemarinya tetap fokus mengetik di atas keyboard laptop.
"Dukun dari mana coba? Dasar netizen gila," cerocos Santi lagi sembari membaca kolom komentar di ponselnya.
"Mbak... tolong jangan dibaca lagi. Aku capek banget dengernya," potong Aura pelan.
Santi mematikan ponselnya, lalu menatap Aura heran. "Ra, lo itu udah ditunjuk Darrel jadi calon istri! Ngapain masih capek-capek nulis kalau buku lo sendiri gak pernah viral?"
Aura menghentikan ketikannya, menatap Santi dalam-dalam. "Mbak, ini bukan cuma soal viral, ini soal kebiasaan. Kalau gak nulis, aku mau ngapain? Aku bukan anak miliarder yang cuma duduk diam bisa ngasilin duit."
Santi berdehem pelan. Matanya melirik ke arah seseorang yang berjalan mendekat dari belakang kursi Aura.
Darrel muncul dengan kaus hitam santai, celana kasual, dan wajah yang tampak segar seperti biasa. Bedanya, kali ini ia tidak mengenakan kemeja formalnya.
"Pak Darrel...?" kaget Aura.
"Mbak Santi," sapa Darrel santai, mengabaikan kehadiran Aura lalu mendudukkan diri di sebelah gadis itu. "Bagaimana Mbak, apa naskahnya sudah siap cetak?"
Santi bingung melihat interaksi dingin itu, namun tetap menjawab, "Sudah Pak, mau saya kirim file kotornya sebelum editing biar Bapak bisa minta revisi?"
"Ah, tidak usah. Saya percaya sama Mbak Santi," sahut Darrel cepat.
"Pak Darrel...?" panggil Aura lagi. Memastikan kalau lelaki disebelahnya tidak sedang mengabaikannya.
"Ya?" Darrel akhirnya berpaling, menatap Aura datar. Tatapan mereka bertabrakan, membuat Aura refleks melemparkan pandangannya ke arah lain karena canggung.
"Eh, maaf Aura... apa keadaanmu sudah membaik?" tanya Darrel mendadak. Pria itu merogoh saku celananya, lalu menggeser sebuah botol obat herbal tepat ke hadapan Aura.
"Saya harus kembali ke kantor, ada rapat mendadak," lanjut Darrel dingin. Ia langsung berbalik dan melangkah pergi begitu saja.
Santi dan Aura saling bertukar tatap bingung. Aura kemudian menunduk, mengamati botol yang ditinggalkan Darrel di atas meja:
'MULTIVITAMIN KESEHATAN HERBAL'