“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
Malam semakin larut. Rintik hujan di luar jendela kaca rumah sakit terus memukul permukaan kaca dengan ritme monoton, seolah ikut merasakan kecemasan luar biasa yang tengah menyelimuti ruang perawatan khusus anak tersebut.
Nakula masih terbaring tak sadarkan diri. Sementara, Arunika duduk di kursi samping ranjang, menggenggam jemari mungil Nakula dengan penuh kelembutan. Tatapan matanya tak pernah lepas dari wajah pucat sang putra.
"Baru kali ini aku melihat putraku sendiri berada dalam kondisi separah ini," gumam Arjuna lirih, suaranya terdengar begitu rapuh.
Pria itu mendongak perlahan, menatap wajah Nakula yang masih dihiasi lebam. "Bangunlah, Nakula... Papa sudah pulang menemanimu."
Tak ada jawaban. Jari-jari kecil itu tetap terkulai lemas di dalam genggaman sang ayah.
Arunika berjalan pelan menghampiri suaminya, lalu menyentuh pundak kokoh pria itu. "Tenangkan dirimu, Mas," ucapnya dengan nada menenangkan. "Semuanya pasti akan baik-baik saja. Nakula adalah anak yang kuat, bukan?"
Arunika melanjutkan bujukannya. "Kalau kau belum makan malam, makanlah dulu sedikit. Sejak tiba di rumah sakit tadi, kau belum memasukkan makanan apa pun ke dalam perutmu."
Namun Arjuna menggeleng pelan tanpa menoleh. "Bagaimana mungkin aku bisa bernapsu makan kalau putraku saja belum mau membuka matanya sampai sekarang?" Nada bicara itu begitu lemah, sarat akan rasa bersalah yang teramat dalam.
Arunika mengembuskan napas panjang. Ia tahu betul, memaksa pria keras kepala seperti Arjuna saat ini adalah hal yang percuma.
Ruangan kembali terasa canggung. Tanpa bisa dicegah, pikiran Arjuna melayang kembali ke masa lalu. Beberapa tahun silam, di hari ketika Alana, mendiang istrinya, mengembuskan napas terakhirnya. Saat itu, dengan penuh keyakinan, ia menitipkan pengasuhan Nakula kepada Ratna dan Wina. Dan selama bertahun-tahun, apa yang selalu mereka laporkan padanya?
"Nakula baik-baik saja, Arjuna."
"Dia anak yang sehat."
"Dia penurut dan tidak pernah rewel."
Arunika yang berdiri di dekatnya memperhatikan perubahan ekspresi suaminya. Ia tahu suaminya sedang dihantam rasa bersalah yang hebat.
"Kenapa sekarang keadaannya bisa menjadi separah ini?"
Belum sempat Arunika menjawab pertanyaan itu, tubuh kecil Nakula mendadak bergetar hebat di atas ranjang.
"Nakula!" seru Arjuna panik setengah mati.
Perawat yang bertugas langsung berlari masuk membawa alat medis.
"Dokter! Demam pasien mendadak naik drastis!"
Tak lama kemudian, dokter spesialis anak masuk memeriksa. Termometer digital menunjukkan angka yang sangat tinggi, suhu tubuh Nakula melonjak drastis. Di dalam ketidaksadarannya, bibir kecil bocah itu mulai bergerak-gerak gelisah.
"Jangan... tolong jangan..." igau Nakula lemah. Air mata hangat menetes dari sudut matanya yang tertutup rapat. "Bibi... aku takut..."
Arjuna membeku di tempatnya. "Nakula, ini Papa."
"Aku tidak mau..."rintih Nakula semakin lirih. "...tidur di gudang lagi... gelap..."
Deg!
Jantung Arjuna seakan berhenti berdetak seketika.
Gudang? Apa maksud dari ucapan putranya? Bukankah selama ini keluarganya hidup berkecukupan di rumah besar yang nyaman?
Arunika hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mata suaminya. Ia tahu persis, igauan itu bukanlah mimpi kosong.
Dokter selesai memeriksa kondisi vital bocah itu dan menghela napas berat.
"Demam tinggi ini dipicu oleh kelelahan ekstrem serta trauma psikis yang sangat berat. Kami sudah memberikan suntikan penurun panas."
Arjuna mengangguk kaku. "Trauma psikis?"
"Ya," ucap sang dokter belum beranjak pergi. "Sebelumnya, Tuan Arjuna, ada beberapa hal penting yang ingin saya tanyakan pada anda."
"Silakan, Dok. Katakan saja."
Dokter membuka lembar rekam medis dan menatap Arjuna serius. "Saat perawat membersihkan tubuh putra ansa tadi, kami menemukan banyak sekali bekas luka lama di tubuhnya."
Alis Arjuna bertaut tajam. "Luka lama? Maksud Dokter apa?"
"Ada beberapa bekas memar yang sudah mulai menguning di bagian lengan atasnya. Bekas benturan benda tumpul di punggung. Dan beberapa bekas cubitan yang sudah sembuh di tubuhnya. Itu semua di luar luka-luka baru yang didapatnya hari ini."
Suasana di dalam ruang rawat mendadak aneh. Dokter menatap Arjuna dengan serius.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi sebagai tenaga medis, saya harus bertanya... Apakah anak anda sering mengalami tindak kekerasan fisik di dalam rumahnya sendiri?"
Pertanyaan itu menghantam kepala Arjuna bagaikan sambaran petir di siang bolong. "Kekerasan...?" suara Arjuna tercekat, nyaris tak keluar dari kerongkongannya. "Itu sama sekali tidak mungkin!"
Dokter tidak mendebat. "Saya hanya menjalankan tugas menyampaikan apa yang kami temukan secara medis. Luka-luka itu jelas tidak terjadi dalam satu hari. Sebagian besar sudah berusia beberapa minggu, bahkan ada yang diperkirakan sudah berbulan-bulan."
Arunika memberanikan diri bersuara pelan. "Mas..."
Arjuna mematung. Tatapannya perlahan beralih menatap wajah babak belur Nakula. Selama ini, ia mati-matian menjaga keamanan negara di perbatasan, tapi siapa yang sangka di dalam rumahnya sendiri, di tempat yang seharusnya menjadi surga paling aman bagi anaknya, darah dagingnya justru mengalami siksaan keji?
"Kalau semua ini benar, berarti selama ini aku menitipkan anakku pada orang yang salah?" lirihnya dengan tangan terkepal erat.