Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Fajar menyingsing di atas air pasang muara Pesisir Tiram. Cahaya matahari pagi berwarna tembaga kusam menembus kabut laut, membiaskan bayangan tiang dermaga kayu lapuk ke dinding seng klinik kontainer Dok Han.
Di dalam ruangan berbau alkohol dan minyak telon itu, suara erangan tertahan kembali terdengar.
Dok Han duduk di kursi besi putarnya, kedua ibu jarinya yang kapalan menekan keras jalur urat di pergelangan tangan kiri Sora. Minyak urut herbal berwarna cokelat tua berbau rempah menyengat digosokkan kasar ke kulit yang membiru lebam. Otot-otot tangan kiri Sora yang sempat membeku akibat penalti sistem kasino kini perlahan mulai mengendur, meski jemarinya masih bergetar lemah setiap kali ditekuk.
“Saraf ulnarismu sempat kejang kaku,” kata Dok Han ketus sambil menambah tekanan jempolnya pada pangkal otot telapak tangan hingga Sora mengernyit menahan sakit. “Bagus. Pintar sekali. Kalau kamu memang mau setor nyawa, bilang dari awal biar saya gak usah repot menjahit kelingkingmu tempo hari. Tinggal suruh Rusli penggal lehermu di atas meja rolet, selesai urusan.”
Di sudut ruangan dekat pintu keluar, Gani duduk meringkuk di atas drum oli bekas. Tubuh montir itu masih gemetar, wajahnya pucat pasi. Tangannya yang kotor oleh jelaga memegang cangkir seng berisi teh tawar hangat, tetapi air di dalam cangkir itu terus beriak karena tangannya yang bergetar tanpa henti.
“Saya… saya gak mau ikut lagi, Sor,” bisik Gani, suaranya parau dan terputus-putus. “Tadi malam… pas lonceng kuningan itu bunyi… saya lihat bayangan parang Rusli dari celah cerobong dapur. Panjangnya setengah meter, ada gerigi di punggung pisaunya. Kalau Rusli naik satu anak tangga lagi ke atap, leher saya sudah putus!”
Gani menaruh cangkir sengnya ke lantai dengan bunyi berdebuk canggung. Matanya menatap Sora dengan rasa gentar yang meluap.
“Kita ini cuma orang kecil, Sor! Kamu mantan bandar, saya montir rongsokan, Maya cuma anak warnet! Kita gak bakal bisa melawan kasino sebesar ruko Tiga Naga! Mereka punya aparat, punya algojo, punya uang sekoper! Kalau kita memaksakan masuk malam audit, kita semua bakal dibantai di ruang bawah tanah!”
Maya yang bersandar di samping meja bedah dengan laptop terbuka di pangkuannya meniup permen karetnya dengan gusar. Pletuk. Gelembungnya meletus, namun kali ini tidak ada seringai cuek di wajah gadis itu. Kantung matanya makin gelap karena semalaman memantau frekuensi aparat yang sempat bergerak di sekitar ruko pasca alarm lonceng berbunyi.
“Gani benar, Sor,” sahut Maya pelan, suaranya terdengar lelah. “Lu bilang jadwal patroli Rusli selalu jam tiga subuh. Karena asumsi lu itu, script looping CCTV gua kedaluwarsa pas lu masih di atas meja rolet. Kalau Rusli gak teralihkan sesaat gara-gara jendela darurat, kita bertiga tamat tadi malam.”
Maya menatap Sora lurus. “Lu hampir bikin kita semua mati cuma gara-gara lu merasa paling tahu isi kepala musuh lu.”
Ruangan kontainer itu hening. Hanya derak kipas angin gantung tua yang berputar berat di atas kepala mereka.
Dok Han melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Sora, lalu mengambil handuk basah untuk mengelap sisa minyak urut. Dokter tua itu tidak menengahi; ia membiarkan kata-kata itu mengendap, menunggu bagaimana pemuda di hadapannya menyikapi kesalahannya.
Sora duduk tegak di atas meja periksa. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara asin muara mengisi dadanya yang sesak.
Sora tidak mencari alasan. Ia tidak berdalih soal kawat pemicu yang tak terduga.
“Kalian benar,” kata Sora. Suaranya tenang dan tegas mengakui kelalaiannya.
Gani dan Maya tertegun sejenak, tidak menduga Sora akan menerima kritik itu begitu lugas.
“Aku meremehkan Rusli,” lanjut Sora, menatap Gani dan Maya bergantian. “Aku pikir kebiasaan lima tahun gak bakal pernah berubah. Aku pikir dengan membaca angka di meja judi, aku bisa menebak semua langkah manusia di lapangan. Itu kesombonganku. Dan gara-gara kesombongan itu, Bang Gani hampir celaka dan jejak IP Maya hampir terbongkar.”
Sora menurunkan kakinya ke lantai semen, lalu menatap Gani.
“Kalau Bang Gani mau mundur sekarang, aku gak bakal menahan. Uang lima ratus ribu di saku jaketku ini hakmu buat bayar modul yang sudah kamu rakit. Kamu bisa bawa pulang buat keluargamu di kampung.”