NovelToon NovelToon
Alunar Baya: Garis Batas Jantung

Alunar Baya: Garis Batas Jantung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.

Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.

"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.

"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.

Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Kapten Penjaga Apel

Suasana pagi yang biasanya tenang. Justru kali ini dipenuhi suara Oka yang sedang merayu Alunar. 

"Biar saya saja yang bawa embernya, Dokter Alunar yang cantik," tawar Oka dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin sambil melirik ke arah koridor. Berharap apa yang dirinya lakukan tertangkap Sagara. 

"Eh, tidak usah repot-repot, Sersan Oka. Saya bisa bawa sendiri embernya. Ini tidak terlalu berat,” tolak Alunar sambil menahan ember di tangannya. 

"Siap, tidak ada kata repot untuk dokter secantik Anda! Jangankan ember, masa depan kita saja siap saya pikul," timpal Oka cepat sambil mengedipkan sebelah matanya. Meluncurkan rayuan gombal khas prajurit muda.

Alunar mengedipkan kedua matanya berulang kali mendengar ucapan aneh Oka.

“Apakah Anda sehat, Sersan? Tidak habis dari hutan, kah? Saya takut Anda kerasukan sesuatu,” ucap jujur Alunar bingung. 

Belum sempat Oka menjawab pertanyaan Alunar. Dari belakang tampak Arisandhi yang baru saja keluar dari ruang logistik langsung ikut bergabung. Sengaja memasang badan tegapnya d samping Alunar. 

"Heh, Sertu Oka! Singkirkan pesonamu yang pas-pasan itu. Biar saya saja yang bantu dokter Alunar menjemur kainnya," potong Arisandhi dengan nada bergurau yang lantang.

Sama halnya dengan Oka, Arisandhi pun juga sesekali melirik ke arah koridor. 

"Siap, Letnan! Tapi saya yang datang duluan membantu Ibu dokter cantik!" protes Oka tidak mau kalah, sambil memegangi ember milik Alunar dengan erat.

"Kalian berdua ini ada-ada saja. Kenapa harus rebutan? Bagaimana kalau tugasnya dibagi dua?" saran Alunar sbil tersenyum cantik, hingga membuat Oka dan Arisandhi terpesona sesaat.

"Siap, saya setuju dengan keputusan bijak Ibu dokter cantik!" seru Arisandhi penuh semangat.

"Sertu Oka! Lettu Arisandhi!"

Suara menggelegar Sagara menghentikan perdebatan tidak penting antara Oka dan Arisandhi. 

"Siap, Komandan!" jawab Oka dan Arisandhi serempak sambil memberikan hormat untuk Sagara yang kini berjalan mendekat. 

Sagara berdiri sambil melihat ember yang menjadi rebutan. Memberikan tatapan jijik yang dibuat-buat. 

"Apa yang sedang kalian berdua lakukan? Mengapa kalian menelantarkan tugas kedinasan hanya untuk urusan jemuran?" tanya Sagara murka.  

Alunar yang merasa tidak nyaman langsung mencoba menengahi. 

"Maaf, Kapten Sagara yang terhormat. Mereka berdua hanya berniat membantu saya," potong Alunar dengan nada membela.

Sagara langsung menoleh ke arah Alunar. Matanya menyipit dengan amarah siap meledak. 

"Saya tidak berbicara dengan Anda, dokter Alunar yang terhormat. Ini urusan internal kedisiplinan pasukan saya. Bukan urusan Anda," ketus Sagara. 

Kini, tatapan Sagara ke arah Oka dan Arisandhi dengan rahang mengeras. Bisa dipastikan jika anak buahnya akan mendapatkan hukuman. 

"Oka! Apakah tugas menyisir ban truk taktis di gudang belakang sudah selesai?" tanya Sagara menuntut. 

"Siap, sudah selesai sejak subuh tadi, Komandan!" jawab Oka dengan tegas.

"Kalau begitu, sekarang kamu pergi ke bagian barat! Bersihkan seluruh rumput liar yang tumbuh di dekat pagar menggunakan pisau sangkur!" perintah Sagara yang membuat Oka mengerutkan keningnya kurang paham. 

"Siap! Bersihkan rumput pakai sangkur, Komandan?" tanya Oka memastikan pendengarannya tidak salah.

"Kamu tuli, Sersan? Laksanakan sekarang!" bentak Sagara. 

"Siap! Laksanakan, Komandan!" 

Oka langsung menyerahkan ember logistik medis ke Arisandhi dengan wajah memelas. Lalu berlari cepat menuju gudang belakang untuk mengambil sangkur.

Setelah kepergian Oka, kini Sagara  menatap tajam Arisandhi yang sejak tadi sedang menahan senyum melihat perilaku aneh Sagara. 

Arisandhi tahu betul apa yang sedang terjadi pada Sagara. Ini bukan masalah kedisiplinan, melainkan masalah cemburu buta yang dibungkus dengan seragam militer.

"Dan kamu, Letnan Arisandhi! Sebagai Wakil Komandan Pos, mengapa kamu malah ikut-ikutan bertingkah tidak jelas?" tanya Sagara menekan suaranya. 

"Siap, Komandan. Saya hanya memastikan bahwa dokter Alunar mendapatkan fasilitas bantuan yang layak sesuai dengan instruksi kemanusiaan," jawab Arisandhi dengan nada bicara yang sengaja dibuat sesantai mungkin. Sengaja memancing reaksi Sagara. 

"Fasilitas bantuan tidak termasuk dengan tebar pesona dan senyum-senyum tidak jelas di halaman markas, Letnan!" semprot Sagara. 

"Sekarang, berikan ember itu ke pemiliknya! Lalu temui saya di ruang komando!" 

"Siap, perintah dilaksanakan, Komandan!" sahut Arisandhi dengan sikap hormat yang sempurna. Lalu menyerahkan ember di tangannya ke Alunar.

“Aman, dok,” ucap Arisandhi kepada Alunar.

Kini di tempat itu hanya ada Alunar dan Sagara. 

“Sebenarnya apa masalah Anda dengan saya  Kapten?” tanya Alunar menatap tajam Sagara. 

“Seminggu ini Anda menyiksa saya dengan pekerjaan berat. Dan sekarang saat ada anggota yang mau membantu, Anda malah menghukum mereka dengan alasan yang dicari-cari. Anda ini aneh!" ketus Alunar meluapkan kekesalannya. 

Sagara menatap Alunar dengan tidak kalah sengit. Kini mereka berdua saling menatap 

"Masalah saya adalah kedisiplinan, dokter. Pos ini adalah area militer perbatasan yang ketat. Bukan tempat untuk mencari perhatian atau panggung drama kota," balas Sagara.

"Saya tidak mencari perhatian! Saya hanya bekerja!" sanggah Alunar dengan mata yang berkilat marah.

“Tapi apa yang Anda lakukan berbanding terbalik dengan ucapan, dokter.” 

"Terserah Anda, Kapten Berhati Batu!" tambah Alunar pergi menjauh. 

***

Siang harinya ketengan konyol kembali berlanjut di kantin Poskotis. Arisandhi sengaja memancing amarah Sagara. 

Arisandhi yang baru saja mengambil jatah makan siangnya sengaja datang menghampiri meja Alunar. Membawa semangkuk kecil berisi buah apel merah yang segar. 

"Boleh saya duduk di sini, dokter Alunar?" tanya Arisandhi dengan senyum ramah yang menawan.

"Tentu saja, Silahkan duduk, Letnan.” 

Arisandhi dengan semangat duduk di tepat di hadapan Alunar. 

“Oh iya, bagaimana dengan hukuman Sersan Oka? Apakah beliau masih memotong rumput hingga sampai saat ini?" tanya Alunar khawatir.

"Ah, jangan khawatir soal Oka, dok. Dia sudah biasa memotong rumput pakai sangkur kalau Kapten kita sedang kumat sifat anehnya," kelakar Arisandhi dengan nada bergurau.

"Oh, ya? Benarkah?” 

“Benar, oh iya. Saya memiliki sesuatu untuk Anda. “

“Apa?” 

“Anggap saja sebagai permintaan maaf atas sikap kaku pos kami selama seminggu ini," ucap Arisandhi sambil menyodorkan mangkuk berisi apel merah segar. 

"Wah, buah apel! Terima kasih banyak, Letnan. Anda baik sekali, berbeda jauh dengan kapten Anda yang menyebalkan itu," puji Alunar tulus dengan binar mata cerah, bersiap untuk mengambil buah tersebut.

Namun, sebelum Alunar sempat menyentuh permukaan buah apel itu. Tiba-tiba buah itu berpindah tempat.

TAK!

"Logistik buah-buahan ini dikirim khusus untuk keperluan pasokan nutrisi darurat tim patroli hutan, Letnan Arisandhi," cetus Sagara dengan nada suara yang sangat dingin dan berwibawa.

"Izin, Komandan. Tapi Dokter Alunar juga bagian dari tim satgas kita yang kelelahan bekerja seminggu penuh. Beliau berhak mendapatkan satu buah apel," bantah Arisandhi sengaja memanaskan suasana hati Sagara.

"Semua logistik makanan ekstra di pos ini harus melalui pemeriksaan kelayakan dan kebersihan oleh Komandan terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada warga sipil!" dalih Sagara mencari-cari alasan militer yang terdengar sangat konyol bagi siapapun yang mendengar.

Alunar yang sudah kehilangan kesabaran langsung berdiri dari kursinya. Lalu menatap Sagara dengan pandangan mata penuh kekesalan. 

"Pemeriksaan kebersihan untuk sebuah buah apel yang utuh, Kapten? Anda bercanda? Bilang saja Anda memang sengaja tidak suka melihat saya senang di pos ini!" tuduh Alunar dengan suara lantang yang membuat beberapa prajurit di meja lain mendadak diam dan pura-pura sibuk mengunyah makanan mereka.

Sagara membalas tatapan Alunar. Berusaha keras menjaga agar suaranya tidak bergetar karena rasa malu yang mulai menyerang ego militernya. 

"Ini aturan baku keamanan pos, dokter Alunar. Jika Anda tidak suka dengan aturan pemeriksaan saya, Anda tidak perlu memakan buah ini," ketus Sagara lagi dengan nada keras.

"Baik! Ambil saja semua apel itu untuk Anda makan sendiri sampai kenyang, Kapten Sagara yang Terhormat!" balas Alunar berang dengan nada suara yang penuh dengan kekesalan mendalam. Ia langsung menyambar buku catatannya dari atas meja. Lalu pergi begitu saja dengan rasa kesal. 

Arisandhi yang ditinggalkan sendirian bersama Sagara di meja kantin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan tawa agar tidak pecah di depan umum. Ia menatap Sagara dengan pandangan meledek yang sangat jelas.

"Pemeriksaan kebersihan apel, Bang? Serius? Alasanmu benar-benar semakin kreatif setiap harinya," sindir Arisandhi dengan nada suara berbisik yang santai namun menusuk tepat ke hati Sagara.

Sagara meletakkan mangkuk apel itu kembali ke atas meja nampan Arisandhi dengan kasar hingga menimbulkan suara berdenting. 

BRAK..! 

"Diam kamu, Letnan! Habiskan makananmu lalu segera lakukan patroli  luar sekarang juga!" perintah tegas Sagara. Lalu meninggalkan Arisandhi seorang diri.

“Semoga Abang bisa hidup tanpa diliputi rasa dendam dan kebencian,” ucap Arisandhi penuh harap. 

1
ika
dredeg aku....
syora
alhamdulillah alunan slamat
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
Danny Muliawati
jangan terlalu benci nanti cinta loh 😜
Danny Muliawati
pasti jodoh ini mah 😄
ika
who is?
musuh siapa ini?
ika
akhir nya update juga...
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
Cichio23: siap kakak
total 1 replies
ika
hahaha....

kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
ika
ga sabar nunggu mereka jadian 🤭🤭🤭
ika
jreng jreng jreng....

silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
syora
benci bd tipis sm cinta
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
ika
wes ta lah ...
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
syora: setujuuuuu pkai👍👍👍👍👍tar klau alunan bnr" bnci blik
habis dah saga
total 1 replies
ika
lanjut kan saja Sagara...
mpe kpn kamu seperti itu???
syora
setuju posisi blh kapten tp klau nggak bs profesional buat apa
Fatimah Zubaedah
duh Sagara...Awas nanti jatuh cinta,cinta kepada alunar
ika
ayahmu yg jahat Sagara, kamu ga tau kan cerita nya?
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
Cichio23: Masa sih, Kak? Othor loh belum tahu🤭😄
total 1 replies
syora
padahal kamu blm tahu almarhum ayah dl seperti apa
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
ika
tegang cuy....
Fatimah Zubaedah
tahan nafas thorr bacanya😄
syora
aduhhh kapten saga jgn trlalu menuruti ego
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi
ika
ngeri ya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!