Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 : Bela Diri Tingkat Tinggi
"Maafkan kelancangan kami, Guru Wu yang agung dan terhormat!" seru Mei Lin sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga hidungnya nyaris menyentuh lumpur. Gadis-gadis Asrama Selatan lainnya ikut bersujud berkali-kali dengan wajah pucat pasi. "Kami tersesat saat mencari jamur spiritual! Kami bersumpah demi Dewa Langit tidak sengaja mengintip... maksud kami, tidak sengaja melihat arena latihan ini! Kami akan segera pergi!"
Tanpa menunggu jawaban Guru Wu yang urat lehernya masih berkedut-kedut menahan amarah, kedelapan gadis itu langsung berdiri dan mengambil langkah seribu. Namun, sebelum benar-benar menghilang di balik rimbunnya Hutan Bambu Mutiara, Lin Yue masih sempat menoleh ke belakang. Gadis berbaju kuning yang kini penuh noda lumpur itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, melambaikan tangan dengan penuh semangat ke arah Shen Yuan dan Shen Rui, mengabaikan tatapan membunuh dari sang Guru.
Melihat lambaian itu, kumatlah sifat jahil Shen Rui. Bukannya diam agar suasana mereda, Yui justru membalas lambaian Lin Yue dengan gaya yang sangat feminin. Ia mengedipkan sebelah matanya dengan centil, menggoyangkan pinggulnya sedikit ke kiri dan ke kanan, lalu melambaikan tangannya dengan gemulai layaknya selir kerajaan yang sedang melepas kepergian rajanya bertempur.
"Da-daaah, Nona-nona manis! Hati-hati jangan sampai menginjak cacing tanah!" teriak Yui dengan nada suara yang sengaja dibuat melengking manja.
"SHEN RUI!"
Ledakan suara Guru Wu seketika membungkam deru air terjun. Tongkat bambu di tangannya dipukulkan ke atas permukaan air, menciptakan gelombang kejut yang membuat murid-murid di sekitarnya terhuyung mundur.
Yui langsung menghentikan lambaian centilnya, berdehem pelan, dan memasang wajah polos tanpa dosa.
"Berhenti bermain-main seperti badut sirkus pinggiran!" raung Guru Wu, menunjuk lurus ke arah sebuah batu hitam datar yang berada tepat di tengah-tengah aliran sungai yang paling deras. "Naik ke Batu Ujian sekarang juga! Murid lain minggir! Aku ingin melihat apakah kau benar-benar menyerap esensi kitab bela diri Bangau Membelah Arus yang kuajarkan bulan lalu, atau otakmu itu hanya berisi es serut dan perempuan! Jika kau gagal melakukan kuda-kuda dasar dengan benar, aku akan menggantungmu terbalik di atas tebing selama tiga hari tiga malam!"
Yui menghela napas panjang dan dramatis, seolah ia adalah manusia paling tertindas di seluruh Benua Timur. "Baiklah, baiklah, Guru yang mudah darah tinggi. Aku akan serius."
Dengan gerakan yang harus diakui sangat ringan dan gesit, Yui melompat dari tempatnya. Ujung jari kakinya hanya menapak riak air dua kali sebelum akhirnya mendarat dengan mulus di atas Batu Ujian yang berlumut dan sangat licin.
"Mulai!" perintah Guru Wu tegas.
Yui menarik napas. Ia mengangkat satu kakinya, menyilangkan telapak kaki kanannya tepat di atas lutut kaki kirinya yang menjadi tumpuan. Kedua telapak tangannya dirapatkan dan ditarik ke depan dada membentuk segel bunga teratai yang kuncup. Postur klasik Bangau Emas Berdiri Menantang Langit.
Satu detik. Dua detik.
Tiba-tiba bahu Yui bergetar. "Pffft..."
"Shen Rui!!!" teriak Guru Wu semakin kesal.
Pemuda itu gagal menahan tawanya. "Maaf, Guru, tapi lumut di batu ini menggelitik telapak kakiku! Hahaha! Rasanya seperti digigit ratusan ikan kecil! Hahaha!"
Guru Wu memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut hebat. "Fokus, dasar bocah tengil! Jangan bergerak!"
Di tepian sungai yang berumput, Wang Jian dan antek-anteknya mulai tertawa meremehkan. Mereka duduk bersila sambil menunjuk-nunjuk Yui yang masih cengengesan di atas batu.
"Turun saja, Pangeran Es Palsu!" seru Wang Jian dengan nada mencemooh yang sengaja dikeraskan. "Kau tidak punya keseimbangan sama sekali! Seekor bebek lumpuh bahkan berdiri lebih gagah daripadamu! Menyerah saja dan minta hukuman gantung, itu lebih pantas untuk pecundang sepertimu!"
"Benar!" timpal Li Mo. "Menyedihkan sekali! Shen Yuan setengah mati menahan aliran air, sementara adiknya bahkan tidak bisa menyeimbangkan diri di atas batu licin tanpa tertawa seperti orang gila!"
Mendengar ocehan itu, tawa Yui seketika berhenti. Ia menoleh perlahan ke arah rerumputan. Mata birunya yang biasanya dipenuhi kilau kejahilan, kini meredup, tergantikan oleh tatapan sedingin badai salju di puncak Pegunungan Utara.
"Kalian sungguh sekumpulan katak di dalam sumur yang berisik," ucap Yui. Suaranya tidak keras, namun entah bagaimana mampu menembus gemuruh air terjun dan terdengar sangat jelas di telinga setiap orang, membawa tekanan udara yang aneh.
Yui menurunkan kakinya sejenak, menatap lurus ke arah Wang Jian. "Kau jangan menertawakanku, Babi Hutan berotak udang. Simpan tawamu itu. Kau akan melihatnya nanti. Jangan berkedip, karena matamu yang sempit itu pasti akan copot melihat apa yang bisa kulakukan dengan satu tarikan napas."
Wang Jian baru saja hendak membalas makian itu, tapi Shen Yuan yang duduk tak jauh darinya memancarkan aura angin yang sangat tajam, seolah memperingatkan siapapun untuk tutup mulut.
Di atas Batu Ujian, Yui memejamkan matanya. Hembusan napasnya mendadak berubah sangat panjang dan teratur.
Dan sejak detik itu, tidak ada lagi satu pun percakapan yang terdengar.
Yui kembali mengangkat kaki kanannya, meletakkannya di atas lutut kiri. Kedua tangannya merapat di depan dada. Namun kali ini, tidak ada tawa. Tidak ada getaran. Pemuda yang selalu malas-malasan itu mendadak berdiri kokoh layaknya sebuah gunung abadi yang tak bisa digoyahkan oleh badai terkuat sekalipun.
Udara di sekitar Air Terjun Cermin Naga tiba-tiba terasa berat. Hawa dingin yang biasanya menyertai elemen es Yui menghilang tanpa jejak. Sebagai gantinya, riak air di bawah kaki Yui mulai mendidih perlahan, mengeluarkan uap tipis.
Perlahan, Yui membuka matanya. Tidak ada lagi pendar biru di sana. Sekilas, ada kilatan cahaya perak yang sangat kuno melintasi pupilnya. Ia mulai menggerakkan tangannya. Bukannya mempraktikkan jurus dasar Bangau Membelah Arus yang diajarkan Guru Wu, tangan Yui menari di udara dengan pola yang sangat rumit, kuno, dan mematikan.
Setiap ayunan lengannya meninggalkan jejak residu energi di udara. Bukan energi es berwarna biru. Melainkan pendar cahaya berwarna merah tua, semerah darah yang terbakar api, namun memancarkan kilau perak yang sangat menyilaukan persis seperti cahaya bulan purnama di tengah malam.
Guru Wu terbelalak, mundur selangkah hingga kakinya memercikkan air. 'Gerakan apa itu?! Itu bukan jurus Perguruan Cang Yue! Dan elemen macam apa itu? Api tapi memancarkan cahaya rembulan?!' batin sang Guru dengan jantung berdebar tak karuan.
Yui sepenuhnya tenggelam dalam zona meditasinya. Otaknya benar-benar kosong, tubuhnya bergerak berdasarkan insting murni yang mengalir dari garis keturunan leluhur kekaisarannya kekuatan asli yang bahkan belum disadari oleh dirinya sendiri. Gerakannya mengalir seperti air yang tenang, namun menyimpan daya hancur layaknya letusan gunung berapi.
Uap merah keperakan menyelimuti seluruh tubuh telanjangnya. Kabut air terjun yang menghantamnya langsung menguap sebelum menyentuh kulitnya. Yui menarik lengan kanannya ke belakang, memutar pinggangnya, dan energi merah bulan itu berkumpul di kepalan tangannya hingga memadat sekeras berlian.
Dengan satu raungan napas yang panjang, Yui mengayunkan tinjunya ke arah hulu sungai, lurus menembus tirai air terjun.
WUSSSSH!
Sebuah pilar energi berwarna merah dan perak melesat dari kepalan tangannya. Energi itu membelah air terjun menjadi dua bagian yang terpisah seketika, menghentikan aliran air yang deras ke bawah selama beberapa detik.
Pilar energi itu tidak berhenti. Serangan mematikan itu melesat lurus menghantam tebing batu di seberang sungai. Di sana, terdapat sepuluh buah batu raksasa purba masing-masing berukuran lima kali lipat lebih besar dari kereta kuda pengangkut gandum.
BLLLLAAAAAAMMMMMM!!!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh lembah. Tanah bergoyang keras hingga membuat beberapa murid junior jatuh terduduk. Gelombang kejut dari hantaman itu menyapu sungai, menciptakan tsunami kecil yang menghempaskan Wang Jian dan teman-temannya hingga bergulingan ke lumpur rumput.
Debu batu dan kabut air bercampur menjadi satu, membubung tinggi menutupi langit pagi.
Ketika debu itu perlahan-lahan disapu oleh hembusan angin milik Shen Yuan, pemandangan di seberang sungai membuat semua orang berhenti bernapas. Kesepuluh batu raksasa purba yang telah ada di sana selama ratusan tahun... kini telah lenyap tak bersisa. Bukan hancur menjadi kerikil, melainkan benar-benar menguap menjadi debu pasir yang sangat halus.
Di atas Batu Ujian, Yui menarik kembali tangannya perlahan. Ia menurunkan kakinya, memutar lehernya hingga berbunyi krek, lalu menghembuskan napas panjang. Cahaya merah bulan di tubuhnya memudar seketika, kembali menjadi kulitnya yang biasa. Pemuda itu mengusap hidungnya dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arah pinggir sungai dengan wajah datarnya yang sok bosan.
Keheningan yang mencekam menyelimuti Lembah Cermin Naga. Bahkan suara air terjun yang kembali jatuh terasa tidak senyata kejadian barusan.
Detik berikutnya, semuanya termasuk guru Wu sampai membuka mulut mereka lebar-lebar saking terkejutnya dengan gerakan bela diri yang di miliki Shen Rui.
***
Masih ingat Likeeee