Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Sulaman Lima Kelopak
Mereka datang ke keputren pada tengah malam, melalui jalan yang tak seorang pun akan menduganya.
Wirabhaya memimpin, membawa lentera kecil yang hampir tak bercahaya. Ia menuntun mereka menyusuri lorong sempit di balik dapur istana, melewati gudang beras yang berbau apak, lalu menaiki tangga batu tersembunyi di balik rumpun bambu. Sekar berjalan tepat di belakangnya dengan punggung tegak dan tangan terkepal. Raka menyusul paling akhir, merasa seperti penyusup yang kebetulan membawa surat undangan.
"Kenapa saya harus ikut?" bisiknya pada Wirabhaya sepanjang jalan.
"Karena Nyai Sekar menuntutnya."
"Aku tidak menuntut," kata Sekar tanpa menoleh. "Aku hanya bilang aku tak akan pergi kalau dia tak ikut."
"Itu menuntut."
"Itu memberi syarat."
Wirabhaya menghela napas dan tak melanjutkan. Raka memilih menatap tanah supaya tak terlihat tersenyum.
Taman yang mereka masuki akhirnya adalah sebuah halaman kecil tertutup tembok bata tinggi, ditumbuhi pohon-pohon sawo dan bunga tanjung. Di tengahnya berdiri sebuah paviliun mungil, lampu minyak bergoyang pelan di tiangnya. Di dalam, seorang perempuan duduk menunggu di atas tikar, punggungnya menghadap pintu.
Wirabhaya berhenti di ambang taman dan membungkuk dalam-dalam. "Gusti Putri. Tamu yang Gusti nantikan telah tiba."
Perempuan itu tidak langsung menoleh. Bahunya yang anggun naik dan turun dalam satu tarikan napas panjang, seperti seseorang yang sedang mengumpulkan keberanian setelah dua puluh dua tahun.
Lalu ia berdiri dan berbalik.
Ia tidak muda. Usianya mungkin empat puluhan, rambutnya yang hitam bergelung rapi dihiasi sebuah tusuk emas sederhana, wajahnya halus dengan garis-garis halus di sudut mata. Ia mengenakan kain biru tua bertabur titik-titik emas dan kemben putih sederhana, tak tampak mencolok, namun cara berdirinya, kepala tegak, tangan terlipat, pandangan lembut tapi tajam, memancarkan sesuatu yang tak bisa dipelajari. Wibawa yang lahir dari darah.
Ia menatap Sekar dan seluruh wajahnya berubah.
Raka sempat melihatnya. Sekejap, seluruh ketenangan terlatih itu runtuh, dan yang tersisa hanyalah seorang perempuan yang menatap hantu yang ia rindukan selama separuh hidupnya.
"Kau mirip sekali dengannya," bisiknya.
Sekar tak bergerak. "Dengan siapa, Gusti?"
"Dengan kakakku." Suara perempuan itu bergetar. "Matamu. Alismu. Caramu mengangkat dagu saat kau takut tapi tak mau kelihatan." Ia tersenyum, dan air mata jatuh begitu saja ke pipinya. "Dia dulu begitu juga. Setiap kali ayah menegurnya."
Wirabhaya menunduk dan berbicara pelan pada Raka dan Sekar: "Beliau Gusti Putri Dyah Wiyat, Rajadewi Maharajasa. Adik Sri Jayanegara. Saudari Ratu Tribhuwana."
Raka merasakan perutnya berputar. Jadi inilah orang yang mencari Sekar selama dua puluh dua tahun: bibinya sendiri.
"Gusti," kata Sekar, suaranya lebih keras dari yang Raka duga, "aku tidak tahu apakah aku bisa memercayaimu."
"Aku tidak menyalahkanmu." Rajadewi menyeka air matanya dengan ujung kain. "Kau tidak punya alasan memercayai siapa pun di istana ini. Aku hanya minta satu hal: dengarkan aku sebentar. Lalu kau boleh memutuskan."
Sekar menimbang lama, lalu mengangguk pelan.
Mereka duduk melingkar di atas tikar. Seorang dayang tua membawa teh hangat lalu segera menghilang. Rajadewi bercerita pelan, sesekali berhenti untuk mengatur napas.
"Dyah Wirasti adalah sahabatku," katanya. "Bukan sekadar selir kakakku. Kami tumbuh bersama di keputren. Dia gadis Kediri yang pemalu, hanya berani berbicara kalau berdua denganku." Matanya menerawang. "Ketika dia hamil, kakakku sudah sakit parah, dan para pejabat mulai gelisah. Anak itu bisa menjadi ancaman bagi siapa pun yang ingin merebut takhta. Aku menyembunyikannya di kamar belakang, berpura-pura ia sakit."
"Dan malam itu..." bisik Sekar.
"Malam itu istana dipenuhi darah." Rajadewi menggenggam tangannya sendiri erat-erat. "Aku mendengar jeritan, tapi tak bisa meninggalkan kamar ibunda. Ketika aku akhirnya berlari ke kamar Wirasti, dia sudah tiada. Dan bayinya sudah hilang." Suaranya pecah. "Aku mencari ke seluruh sudut istana. Aku bertanya pada setiap dayang. Tak seorang pun tahu."
"Karena Ayah..." Sekar menelan ludah. "Karena Rakai Wiratanu membawaku lari."
"Ya. Aku baru tahu namanya bertahun-tahun kemudian." Rajadewi menunduk. "Setiap tahun aku mengirim orang ke selatan, ke timur, ke desa-desa terpencil. Mencari seorang bayi perempuan dengan mata kakakku. Tak pernah ada hasilnya. Aku sudah hampir menyerah, sampai Mahapatih datang kemarin dan berkata..." Ia berhenti, lalu tersenyum dengan mata basah. "...dan berkata bahwa aku harus menyiapkan teh untuk tamu istimewa."
Sekar menatap tangannya sendiri. Lama sekali. Raka melihat jemarinya sedikit gemetar, dan ia ingin menyentuhnya, tetapi menahan diri.
"Bagaimana aku tahu kau tidak sekadar mengaku?" tanya Sekar akhirnya, pelan. "Cincin itu hilang. Aku tak punya bukti."
Rajadewi tidak menjawab. Ia bangkit, berjalan ke sebuah peti kayu kecil di sudut paviliun, dan mengeluarkan selembar kain tua yang terlipat rapi dalam lapisan daun kering. Ia membukanya perlahan.
Selembar kain katun putih, sudah menguning di tepi, dan di sudutnya tersulam dengan benang merah yang pudar: sekuntum bunga kecil berkelopak lima.
Sekar menarik napas tajam. Wajahnya memucat.
"Itu..." Suaranya hampir tak keluar. "Itu pola yang diajarkan Ayah padaku."
"Pola ini milik Wirasti. Dia menyulamnya di setiap kain yang ia buat. Satu kuntum, lima kelopak, selalu di sudut." Rajadewi menyodorkan kain itu. "Aku menyimpan ini selama dua puluh dua tahun. Sepertinya Wiratanu pernah menyimpan kain Wirasti yang lain, dan mengajarkannya padamu tanpa kau tahu asalnya."
Sekar menerimanya dengan tangan gemetar. Ia mengusap sulaman itu dengan ibu jari, perlahan, seperti menyentuh sesuatu yang bisa hancur. Dan Raka, yang duduk di sampingnya, tiba-tiba teringat sapu tangan di sakunya, sapu tangan dengan bunga lima kelopak yang Sekar berikan padanya di tepi sungai.
Ia merogohnya, mengeluarkannya, dan meletakkannya di samping kain tua itu.
Dua sulaman. Persis sama.
Sekar menatap keduanya. Lalu bahunya berguncang, dan air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh, tanpa suara, bertetesan di atas kain kuning pudar itu.
Rajadewi tidak berkata apa-apa. Ia hanya merengkuh keponakannya dengan kedua lengan, dan Sekar menyandarkan kepala di bahunya, menangis seperti anak kecil yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Raka memalingkan wajah. Ia merasa seperti sedang menyaksikan sesuatu yang terlalu suci untuk dilihat orang asing. Wirabhaya, di sampingnya, hanya memandang ke arah pepohonan, rahangnya mengeras menahan sesuatu.
Lama kemudian, setelah tangis mereda dan teh hampir dingin, Rajadewi akhirnya bicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih berat.
"Ada satu hal lagi yang harus kau ketahui, Nak. Satu hal yang mungkin akan menjelaskan semuanya."
"Apa itu?"
"Tentang cincin itu." Rajadewi menarik napas panjang. "Cincin matahari itu tidak sendirian."
Raka merasakan seluruh tubuhnya menegang.
"Raden Wijaya menempa dua cincin yang sama, jauh sebelum kerajaan ini berdiri. Satu untuk pewaris takhta, satu untuk keturunan sah yang kelak diperlukan sebagai penyeimbang. Itu pesan beliau: dua cincin, dua garis, agar kerajaan tak pernah jatuh ke tangan satu orang." Matanya beralih pada Raka, seakan menimbang apakah ia bisa dipercaya. "Salah satunya dipakai kakakku. Setelah dia wafat, cincin itu disematkan pada anaknya. Cincin yang kalian kenal."
"Dan yang satunya?" tanya Wirabhaya pelan.
Rajadewi menatapnya.
"Yang satunya," katanya, "kini berada di jari Baginda Rajasanagara."
Hening mencekam. Sebuah kunang-kunang lewat di antara mereka, berkelip pelan dan hilang.
Dan Raka, yang selama ini bertanya-tanya mengapa Hendar begitu ngotot ingin bertemu raja muda itu secara pribadi, akhirnya mengerti.
"Bukan ramalan," bisiknya. "Dia tidak ingin bertemu raja karena ramalan."
"Dia ingin cincin yang kedua," kata Mpu Kalandara, yang entah sejak kapan telah berdiri di gerbang taman, wajahnya pucat dalam cahaya lentera. "Dan cincin itu ada di jari seorang anak enam belas tahun."
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹