NovelToon NovelToon
Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Action
Popularitas:502
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: INTROSPEKSI DAN KETANGGUHAN DI SEKOLAH

Malam semakin larut. Para tamu jamuan makan malam telah meninggalkan mansion. Di dalam kamar utama yang temaram, Arsen berdiri di dekat jendela besar, memunggungi Clara. Keheningan di antara mereka terasa tebal dan menekan, membawa beban dari ucapan Tuan Haryo tentang kebiasaan refleks dan kemiripan wajah yang tak masuk akal itu.

"Bagaimana ibumu bisa memiliki kebiasaan memegang cangkir seperti itu?" tanya Arsen dingin, memecahkan kesunyian. Suaranya rendah dan dalam, sarat akan penyelidikan yang terendam.

Clara yang berdiri di dekat pintu menundukkan kepalanya, meremas jemarinya yang dingin. "A-aku tidak tahu, Arsen. Sejak kecil... aku hanya meniru apa yang biasa dilihat dari ibuku. Aku tidak pernah berpikir itu hal yang aneh."

Arsen berbalik perlahan, menatap Clara dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lalu kenapa Tuan Haryo begitu yakin kamu mirip dengan almarhumah ibuku? Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluargamu, Clara?"

"Aku tidak menyembunyikan apa pun!" bisik Clara gemetar, menatap mata tajam Arsen. "Ibuku hanya wanita biasa yang bekerja keras untuk hidup kami! Aku tidak tahu kenapa semua orang selalu menghubung-hubungkan aku dengan keluargamu!"

Melihat kepolosan bercampur kejujuran yang terpancar dari mata Clara, Arsen memejamkan matanya sejenak. Ia meraup wajahnya dengan kasar, merasakan gejolak frustrasi yang membakar dadanya. Ia tidak ingin mencurigai gadis ini, namun fakta-fakta ganjil di sekitarnya terus menghantui pikirannya.

"Cukup," cetus Arsen akhirnya. "Tidur sekarang."

Arsen merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu menarik Clara ke dalam dekapannya seperti biasa—mencari kedamaian dan penawar insomnianya di tengah badai pertanyaan yang belum terjawab.

Keesokan harinya di SMA Garuda Bangsa, kehebohan acara jamuan semalam dan desas-desus kedekatan Clara dengan Arsen menyebar luas. Kehadiran Clara sebagai asisten pribadi yang selalu menempel di sisi Arsen menuai badai kecemburuan dari siswi-siswi kaya.

Siang itu, saat Arsen dipanggil ke ruang direksi sekolah untuk rapat yayasan, Clara melangkah menuju loker di lantai dua untuk mengambil buku pelajaran. Koridor lantai dua yang sepi mendadak dikepung. Tiga siswi dipimpin oleh Siska—putri seorang pengusaha penyokong dana sekolah—menghadang langkah Clara.

"Jadi ini cewek murahan yang belakangan ini sok dekat sama Tuan Muda Arsen?" desis Siska sinis, menatap Clara dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan.

Dua temannya langsung mendorong tubuh lemah Clara ke dinding loker hingga menimbulkan suara dentuman keras.

Brak!

"Kalian mau apa?" tanya Clara tenang, menahan rasa sakit di bahunya. Meski fisiknya rapuh akibat anemia, mata cokelat Clara menatap mereka tanpa ada rasa takut sedikit pun.

"Nggak usah sok suci!" bentak Siska, menyambar tas sekolah Clara dan membalikkan isinya hingga buku-buku dan obat penambah darah Clara berhamburan di lantai. "Berapa sih harga kamu sampai Arsen mau melunasi utang keluargamu yang melarat itu? Kamu cuma parasit!"

Siska mengangkat tangannya, bersiap melayangkan tamparan keras ke wajah Clara.

Namun, sebelum jemari Siska menyentuh kulitnya, Clara memiringkan kepalanya dengan cepat dan menepis lengan Siska dengan sentakan tegas.

"Jangan pernah sentuh aku," tegas Clara dengan suara nyaring dan dingin, melangkah maju hingga Siska yang justru terkejut dan mundur satu langkah.

Clara menatap ketiga siswi itu satu per satu dengan keteguhan yang membakar. "Aku bekerja untuk Arsen karena kesepakatan yang sah, bukan untuk meminta kasihan dari kalian. Kalau kalian cemburu karena Arsen tidak pernah menoleh pada kalian walau sedetik pun, itu masalah kalian sendiri—bukan salahku!"

"Kamu... berani-beraninya!" jerit Siska emosi, hendak memukul lagi.

"Lakukan saja," potong Clara tajam tanpa berkedip. "Tapi ingat satu hal: tempat ini dipasangi kamera CCTV. Kalau kalian menyakitiku, bukan hanya status kalian yang dikeluarkan dari sekolah ini, tapi nama baik keluarga kaya kalian juga akan hancur karena kasus perundungan."

Ketiga siswi itu membeku di tempat. Mereka tidak menyangka gadis rapuh ini memiliki keberanian dan kecerdasan setajam itu saat diintimidasi.

Di ujung koridor, di balik pilar beton yang gelap, Arsen berdiri terpaku.

Arsen yang baru selesai rapat berniat menyusul Clara. Saat melihat Clara dihadang, Arsen hampir saja melangkah keluar untuk menghabisi ketiga siswi itu. Namun, langkahnya terhenti saat menyaksikan bagaimana Clara berdiri tegak membela dirinya sendiri.

Mata pekat Arsen memancar penuh pendar takjub. Di dunia para elit yang dipenuhi kepalsuan dan kelemahan batin, Clara hadir bagai bunga karang yang tak hancur dihantam gelombang. Keberanian, harga diri, dan ketangguhan gadis itu membuat rasa kagum dan obsesi di dada Arsen kian membakar mendalam.

"Kurang ajar... Awas kamu ya!" ancam Siska gemetar sebelum akhirnya kabur bersama dua temannya karena panik.

Clara berlutut perlahan, merapikan buku-bukunya yang berhamburan di lantai dengan tangan yang bergetar tipis menahan sisa adrenalinya.

Sebuah bayangan tegap menutupi tubuh Clara. Arsen melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapan Clara. Tanpa mengacuhkan keangkuhannya, tangan tegap Arsen bergerak membantunya memungut botol obat yang tergeletak.

Clara menengadah, terkejut. "Arsen? Kamu... sejak kapan di sana?"

Arsen tidak menjawab. Tangannya terangkat, mengusap lembut helaian rambut Clara yang sedikit berantakan. Tatapan Arsen begitu hangat dan intens—sebuah tatapan pesona dan kekaguman yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.

"Kamu tidak memerlukan bantuanku untuk menghadapi serangga-serangga itu," bisik Arsen dengan suara serak yang memikat. "Kamu luar biasa, Clara."

Dada Clara berdegup kencang saat melihat senyum tipis yang terukir di bibir Arsen—senyuman tulus yang makin menegaskan betapa berbahayanya pria ini bagi hatinya, tepat sebelum badai rahasia besar keluarga mereka akhirnya terbongkar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!