Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frekuensi yang salah
Malam di Kota Medan selalu punya cara sendiri untuk terasa menekan. Bagi Faris, deru bising knalpot sepeda motor dari arah Jalan Sisimangaraja yang berjarak dua blok dari kamar kosnya adalah satu-satunya penanda bahwa dunia luar masih bernapas. Namun, di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter di kawasan Teladan itu, waktu seolah berhenti setiap kali jarum jam melewati angka dua pagi.
Faris membalikkan tubuhnya ke kiri, membuat dipan kayu murah berdecit keras. Udara malam Kota Medan lembap dan gerah, padahal kipas angin berdiri merek lokal di sudut ruangan berputar dengan dengungan konstan yang bising. Keringat dingin membasahi tengkuk dan pelipisnya.
Ia kembali menatap langit-langit kamar yang cat putihnya mulai mengelupas, meninggalkan bercak-bercak cokelat akibat resapan air hujan dari atap yang bocor. Insomnia ini bukan lagi sekadar gangguan tidur biasa. Sudah hampir tiga minggu Faris terjebak dalam siklus gila ini: mata terasa seperti diganjal pasir, kepala berdenyut berat, namun kesadarannya menolak untuk padam.
Penyebab utamanya jelas: beban di pundaknya. Sebagai mantan staf lapangan distributor beras yang baru saja di-PHK dua bulan lalu, tabungannya kian menipis. Tagihan kos bulan ini sudah menunggak lima hari, dan pesan WhatsApp dari bapak kos—Pak Rusli—sudah mulai berganti nada, dari yang semula ramah menjadi ancaman halus untuk mengosongkan kamar.
Faris mendesah berat, lalu menjangkau ponsel pintarnya yang tergeletak di samping bantal. Layar AMOLED-nya menyala terang, menusuk pupil matanya yang melebar di dalam gelap. Pukul 02.11 WIB.
Ia membuka aplikasi media sosial secara refleks. Jarinya mengusap layar tanpa benar-benar mencerna apa yang ia lihat. Video-video pendek berdurasi belasan detik lewat begitu saja—potongan komedi, berita politik yang bising, hingga konten-konten mistis yang sengaja dibuat untuk memancing komentar netizen.
Faris berhenti pada sebuah unggahan rekaman suara dari sebuah forum diskusi daring. Judul unggahannya cukup mencolok: “Jangan Pernah Menekan Nomor Ini di HP Mati atau Tanpa Kartu SIM.”
Faris terkekeh pendek. Sebagai orang yang rasional, ia selalu menganggap cerita-cerita mitos urban seperti ini hanyalah rekayasa pembuat konten untuk mengejar algoritma dan viewers. Ia membaca sekilas kolom komentar di bawahnya.
“Kawan kosan aku pernah iseng nyoba pas jam 2 malam. Besoknya dia tak bangun-bangun, matanya melotot ke atas.”
“Bohong ah, aku udah nyoba nomor 0000 tak ada apa-apa, cuma nada sibuk.”
“Bukan cuma 0000. Kalau kau panggil pas frekuensi jaringan lagi kosong di jam keramat, yang ngangkat bukan operator.”
Faris menggelengkan kepala. "Ada-ada saja orang sekarang," gumamnya pelan dengan logat Medan yang tipis. Suaranya terdengar serak karena kurang minum.
Ia bermaksud menutup aplikasi tersebut dan mencoba memejamkan mata lagi. Namun, ketika jempol kanannya hendak mengetuk tombol Home, aplikasi tersebut freeze atau membeku. Layar ponselnya tidak merespons. Faris mengetuk layar beberapa kali dengan gemas.
Tiba-tiba, layar berubah menjadi hitam selama dua detik, lalu secara otomatis membuka aplikasi Telepon bawaan sistem.
Tampilan dialer ponsel memenuhi layar. Di tengah keheningan kamar yang hanya diisi suara baling-baling kipas angin, layar ponsel Faris mulai bertingkah aneh. Pendar cahayanya berkedip-kedip halus, seolah tegangan baterainya mendadak drop, padahal indikator di pojok kanan atas menunjukkan angka 68%.
Jempol Faris terangkat, hendak menekan tombol back. Tetapi, tepat sebelum ujung jarinya menyentuh kaca, sebuah sensasi aneh menjalar di sepanjang lengan kanannya. Rasa kesemutan yang hebat, dingin dan menjalar cepat dari siku hingga ke ujung jari.
Tek.
Ibu jarinya bergerak sendiri. Tanpa perintah dari otaknya, jarinya mengetuk angka 0.
Satu angka muncul di layar hitam tersebut.
Faris membelalakkan mata. "Eh, apa-apaan ini?" katanya, berusaha menarik tangannya kembali. Namun, otot-otot di jarinya seperti terkunci, mengalami kejang halus yang memaksanya menunduk kembali ke arah ponsel.
Tek. Tek. Tek.
Tiga ketukan cepat menyusul.
0-0-0-0
Empat angka nol berjejer rapi di kolom pemanggil. Faris merasakan jantungnya berdetak kencang, memukul dadanya dengan hantaman yang menyakitkan. Ada kepanikan asing yang tiba-tiba menyergap, jenis ketakutan naluriah yang biasa dirasakan hewan ketika berhadapan dengan pemangsa di kegelapan.
"Hapus, hapus!" bisiknya pada diri sendiri. Jarinya bergerak menuju tombol silang merah di sudut kanan bawah.
Tetapi bukannya menghapus, refleks motoriknya yang seolah dibajak justru menekan tombol panggil berwarna hijau.
Dialing: 0000...
Panggilan dimulai.
Faris tersentak. Ia mencoba menekan tombol merah untuk mematikan panggilan, tetapi layar ponselnya sama sekali tidak merespons sentuhan. Layar itu mengunci total. Panggilan tetap berjalan.
Tuuung...
Suara nada sambung keluar dari speaker bawah ponsel. Nada itu tidak seperti suara nada sambung telepon pada umumnya. Frekuensinya sangat rendah, berkumandang berat dan bergema di dalam kamar kosnya yang sempit, seolah-olah suara itu dipancarkan dari dalam lorong bawah tanah yang dalam dan basah.
Faris menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar. Keringat dingin kini menetes dari dahinya, jatuh tepat di atas kaca layar yang berkilat.
Tuuung...
Dering kedua baru saja dimulai ketika nada sambung itu mendadak terputus di tengah jalan dengan suara benturan keras.
Klek.
Sambungan terhubung. Timer panggilan di layar mulai berjalan: 00:01.
"Ha... halo?" suara Faris tercekat di tenggorokan. Ia memegang ponsel itu agak jauh dari wajahnya, tidak berani mendekatkannya ke telinga.
Hening. Tidak ada suara operator yang memberitahukan bahwa nomor yang dituju tidak terdaftar. Tidak ada pula suara musik penunggu panggilan.
Lalu, suara itu mulai terdengar.
Bukan suara manusia. Itu adalah suara napas. Sangat lambat, sangat berat, dan terdengar sangat basah—seperti suara seseorang yang mencoba bernapas dengan paru-paru yang terisi air. Setiap kali napas itu diembuskan, terdengar derit halus seperti gesekan antar jaringan daging yang membusuk.
Hhhahhh... hhhahhh...
Faris merasakan bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak. Udara di dalam kamar kosnya mendadak merosot drastis. Kipas angin masih berputar, namun angin yang berembus kini terasa seperti keluar dari dalam lemari pendingin jenazah. Penuh dengan bau amis yang samar—bau darah basi yang sudah mengering.
"Siapa ini? Jangan main-main kau ya!" panggil Faris dengan nada tinggi, mencoba menutupi ketakutan yang mulai melumpuhkan persendiannya.
Dari speaker ponsel, suara napas berat itu mendadak berhenti.
Sebagai gantinya, muncul suara ketukan. Tek... tek... tek...
Bukan ketukan pintu. Itu adalah suara ketukan kuku yang keras dan tajam, digesekkan secara perlahan di permukaan kaca. Suara itu begitu jernih, seolah-olah pemilik kuku itu sedang berdiri tepat di sisi lain layar ponselnya, mencoba menggaruk kaca dari dalam.
Faris panik. Ia menekan tombol Power berulang kali untuk mematikan ponsel secara paksa. Tidak ada reaksi. Ia mencoba memencet kombinasi tombol volume down dan power untuk force restart, tetapi ponsel pintar itu benar-benar mengabaikan semua perintah fisik.
Timer panggilan di layar terus berjalan: 00:45.
Tiba-tiba, lampu indikator kecil di bagian atas layar—yang biasanya berwarna hijau saat panggilan berlangsung—berubah warna menjadi merah pekat. Redup, lalu berkilat-kilat liar.
Bzzzzzt!
Layar ponsel mati total. Menjadi hitam pekat, licin, dan memantulkan bayangan ruangan di belakang Faris.
Faris menghela napas lega secara prematur. "Mati pun akhirnya..." bisiknya sambil menurunkan tangan.
Namun, saat matanya menatap pantulan hitam di layar ponsel yang kini berfungsi seperti cermin kecil, dadanya seolah dihantam godam besar. Udara tertahan di paru-parunya.
Di dalam pantulan layar ponsel yang serba hitam itu, Faris melihat kamarnya. Ia melihat bagian belakang kepalanya sendiri, dipan kayu, dan dinding kamar yang mengelupas.
Tetapi, ia tidak sendirian di dalam pantulan itu.
Tepat di belakang bahu kirinya, melayang sesosok bentuk humanoid yang sangat tinggi dan bungkuk. Kepala sosok itu miring ke kiri dengan sudut yang mustahil—lehernya tampak patah total, membuat telinga kirinya hampir menyentuh bahunya sendiri. Wajahnya tidak memiliki kulit; hanya tumpukan daging merah kehitaman yang koyak dan meleleh, dengan dua rongga mata yang hitam pekat tanpa bola mata.
Yang paling mengerikan, tangan kanan sosok itu yang panjang, kurus kering, dan berwarna abu-abu kehitaman sedang terangkat. Jari-jarinya yang membengkok dengan kuku-kuku memanjang seperti pisau sedang memegang sebuah objek persegi panjang gelap, ditempelkan ke sisi kepalanya yang miring.
Sosok itu sedang menelepon. Tepat di belakang Faris.
Faris membeku total. Seluruh nalurinya melarangnya untuk menoleh ke belakang, tetapi otaknya terus menjerit bahwa benda dingin yang kini mulai menyentuh tengkuknya adalah nyata.
Ia bisa merasakannya secara fisik. Sebuah embusan udara yang sangat dingin dan berbau busuk menusuk kulit leher belakangnya. Tetesan cairan kental dan lengket jatuh perlahan, mengenai kerah kaos oblongnya yang tipis.
Tek.
Ponsel di tangan Faris bergetar hebat. Layar yang semula mati mendadak menyala kembali, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat (SMS) dari nomor pengirim yang tidak masuk akal.
Pengirim: 0000
Panggilan tersambung. Jangan matikan ponselmu, atau aku harus mengetuk pintumu dari dalam.
Faris menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering seperti gurun. Di dalam pantulan layar ponsel, sosok berdaging koyak di belakangnya perlahan-lahan membuka mulutnya yang lebar dan tidak berbibir, memperlihatkan deretan gigi hitam yang runcing dan tidak teratur.
Mulut sosok itu bergerak, membisikkan sesuatu tanpa suara di pantulan layar.
Namun, di telinga kiri Faris—telinga fisiknya di dunia nyata—sebuah suara berbisik dengan sangat jelas, basah, dan bergema langsung di dalam tempurung kepalanya:
"Terima kasih sudah mengangkatnya..."
Detik berikutnya, sebuah cengkeraman dingin seperti es melingkari leher Faris dari belakang, menarik kepalanya ke atas secara paksa.