NovelToon NovelToon
Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:50.2k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.

Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

***

Atmosfer di dalam kamar utama vila tersembunyi itu seketika membeku. Kehadiran Wiliam di ambang pintu dengan pendar mata sehitam jelaga dan aura intimidasi yang pekat membuat jeritan Clara terhenti di udara. Pria paruh baya itu berdiri tegap, menatap dingin putri tunggalnya yang sedang diliputi histeria, lalu mengalihkan pandangannya pada Lyn yang terkulai lemas di atas peraduan.

"Wiliam..." bisik Lyn parau di antara isak tangisnya.

Namun, sebelum kata-kata selanjutnya lolos dari bibir Lyn, cengkeraman rasa sakit yang luar biasa dahsyat mendadak menghantam area perut bawahnya. Tubuh gadis itu membungkuk drastis. Wajahnya yang semula pucat kian memutih bagaikan kertas, sementara peluh dingin membasahi kening dan pelipisnya dalam hitungan detik.

"Aghh... nkh... perutku...!" jerit Lyn melengking, meremas kain gaun sutranya di bagian perut dengan jemari yang gemetar hebat.

Di balik kain gaun malam bernuansa merah muda pucat yang dikenakannya, noda kemerahan pekat perlahan merembes, menandakan flek pendarahan yang kembali muncul akibat guncangan emosional yang terlalu berat.

"Evelyn!"

Ketenangan dingin yang selama ini menjadi topeng baja Wiliam seketika runtuh total. Pria berkuasa yang tak pernah panik dalam situasi apa pun itu mendadak melangkah lebar, mengabaikan Clara sepenuhnya, lalu berlutut di tepi ranjang dan menyambar tubuh ringkih Lyn ke dalam dekapannya.

"Evelyn! Bertahanlah, Little Lady!" suara berat Wiliam bergetar hebat, memancarkan kepanikan liar yang belum pernah terlintas di wajah mewahnya. Pria itu menoleh ke arah pintu dan berteriak dengan nada menggelegar. "DOKTER! PANGGIL TIM MEDIS SEKARANG! CEPAT!"

"Papa..." bisik Clara dengan suara yang pecah dan bergetar kaku.

Clara berdiri mematung beberapa langkah di samping tempat tidur. Air matanya menetes makin deras saat menyaksikan bagaimana ayahnya—pria yang selama ini menjadi sosok paling dihormatinya—sama sekali tidak menoleh padanya. Pria itu tidak menanyakan perasaannya, tidak peduli pada tangisannya, dan sepenuhnya dibutakan oleh kepanikan demi keselamatan wanita yang telah mengkhianati persahabatannya.

"Papa... Papa benar-benar tidak peduli padaku...?" rintih Clara dengan tawa pahit yang hancur, melangkah mundur satu tapak demi satu tapak. "Papa cuma memikirkan wanita itu... dan anak haram itu...?"

Wiliam sama sekali tidak memalingkan wajahnya. Tangannya yang besar menggenggam erat telapak tangan Lyn yang membeku dingin, sementara jemarinya yang lain menekan tombol pemanggil darurat di kepala ranjang bertubi-tubi. Bagi Wiliam saat ini, denyut nadi Lyn dan janin di rahimnya adalah satu-satunya hal yang menentukan poros dunianya.

"Papa... aku benci Papa! Aku benci kalian berdua!" jerit Clara histeris untuk terakhir kalinya, meraup air matanya yang meluap, lalu memutar tubuh dan berlari keluar dari kamar seraya meratapi kehancuran dunianya.

Langkah kaki Clara bergaung kencang menyusuri lorong dan anak tangga, meninggalkan vila dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Tak berapa lama, tim dokter spesialis dan perawat pribadi menerobos masuk ke dalam kamar dengan membawa peralatan medis darurat. Keadaan di dalam kamar berubah menjadi krisis penuh ketegangan.

"Tuan Besar, mohon mundur sedikit! Nona Evelyn mengalami kontraksi henti dan pendarahan berulang!" seru dokter wanita itu seraya memasangkan selang oksigen dan menginjeksikan obat penguat dosis tinggi ke dalam jalur infus Lyn.

"Pastikan dia dan anakku selamat!" bentak Wiliam penuh nada ancaman, matanya berkilat merah oleh amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. "Jika sampai terjadi sesuatu pada mereka, kalian semua tidak akan pernah bisa bekerja di negara ini lagi!"

Di tengah deru napasnya yang terengah-engah dan masker oksigen yang membuhi wajahnya, Lyn meraih ujung lengan kemeja Wiliam dengan sisa-sisa tenaganya. Air mata Lyn menetas deras melintasi pelipisnya.

"W-Wiliam... hiks..." bisik Lyn serak di balik masker, suaranya terputus-putus oleh sengal napas.

Wiliam langsung membungkuk, menangkup pipi pucat Lyn dengan kedua tangannya yang hangat. "Aku di sini, Sayang. Jangan takut. Dokter sedang menangani anak kita. Kamu akan baik-baik saja."

"B-bukan... bukan soal saya..." rintih Lyn, menatap lurus mata sehitam jelaga milik Wiliam dengan pendar keputusasaan yang mengiris hati. "C-Clara... Wiliam... kejarlah Clara... hiks!"

Wiliam berkerut tajam, rahang tegasnya mengeras kaku. "Jangan memikirkan hal lain saat kondisimu kritis seperti ini, Evelyn! Clara sudah dewasa, dia bisa mengurus dirinya sendiri—"

"TIDAK, WILIAM!" jerit Lyn serak, menggunakan seluruh sisa tenaganya untuk memukul dada bidang Wiliam dengan telapak tangannya yang gemetar. "Dia sedang emosional! Dia menyetir mobil dengan kecepatan tinggi di jalanan perbukitan yang curam! Bagaimana kalau terjadi kecelakaan?! Bagaimana kalau Clara melakukan hal nekat?!"

Lyn terbatuk pelan, grafik pemantau detak jantung di samping ranjang berbunyi kian cepat, menandakan tingkat stresnya yang melonjak berbahaya.

"Tuan Wiliam, mohon tenangkan pasien!" sela dokter panik. "Tingkat stres Nona Evelyn memicu pendarahan kian parah! Pasien butuh ketenangan mutlak!"

"Wiliam... saya mohon..." tangis Lyn pecah, meremas jemari Wiliam seraya menatap pria itu dengan pandangan memohon yang amat mendalam. "Kejar Clara... pastikan dia aman... Saya tidak akan bisa dimaafkan oleh Tuhan kalau sampai terjadi sesuatu pada Clara gara-gara kita... Tolong, Wiliam... pergilah menyusul anakmu!"

Wiliam mematung kaku di tepi ranjang. Pria berkuasa itu berada di persimpangan batin yang teramat menyiksa. Naluri posesifnya menjerit untuk tetap berada di samping ranjang ini, memeluk Lyn dan memastikannya tak tersentuh oleh apa pun. Namun, menyaksikan betapa histerisnya Lyn atas keselamatan Clara—yang justru memperburuk kondisi pendarahannya—Wiliam menyadari ia tak punya pilihan lain.

Pria tua itu menghembuskan napas panjang yang amat berat. Ia membungkuk, mendaratkan kecupan lama dan hangat di kening Lyn yang basah oleh peluh dingin.

"Aku akan mengejarnya," bisik Wiliam serak, nada suaranya bergetar oleh campuran antara kecemasan dan kepatuhan pada wanitanya. "Tapi kamu harus berjanji padaku, Evelyn... tutup matamu, tenanglah, dan biarkan dokter bekerja. Aku akan kembali membawakan kabar bahwa Clara aman."

Lyn mengangguk pelan dalam pasrah, membiarkan jemarinya terlepas dari cengkeraman kemeja Wiliam.

Wiliam bangkit berdiri, menatap tim dokter dengan pendar mata yang dingin dan mematikan. "Jaga dia. Jika kondisinya memburuk sedikit saja, kepala kalian taruhannya."

"Baik, Tuan Besar!"

Wiliam memutar tubuhnya, melangkah lebar keluar dari kamar utama dengan terburu-buru. Di luar ruangan, ia menyambar jasnya dan berseru tegas kepada pengawal senior di lorong.

"Siapkan mobil sekarang! Pelacak GPS mobil Clara... cari lokasinya dalam hitungan detik!" perintah Wiliam tajam seraya melangkah cepat menuju pelataran depan.

Sementara di atas ranjang kamar utama, Lyn memejamkan matanya rapat-rapat di bawah naungan masker oksigen. Air matanya terus merembes perlahan membasahi bantal sutra. Di dalam kepasrahan dan rasa sakit fisik yang melilit rahimnya, Lyn hanya bisa berdoa agar persahabatan yang telah hancur ini tidak menelan korban jiwa di atas jalanan dingin perbukitan.

Bersambung....

1
Mutaharotin Rotin
😍😍😍
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰 suka ceritanya
ollyooliver
knp gak panggil mami papi aja..kalau mami papa apa bedanya kay dengan clara yg punya ibu sambung pdhl kaay itu anak kandung evelyn dan william
D_wiwied
Clara sdh ketemu jodohnya, smg Julian benar-benar orang baik
D_wiwied
hanya di dunia halu hamilpun bisa request kembar 😆😆
beybi T.Halim
entah lah., pertama kaki,lalu tangan,gas lah kita baca aja daripada mikir..walau pusing🙈
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading 😚🫶
total 1 replies
D_wiwied
gelagatnya calonnya Clara nih 😆🤭
ollyooliver
wah si kecil yang sudah dewasa🤏😄
ollyooliver
sudah suami istri punya anak pula masih pake "saya". formal ya
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
😍😍😍😍
D_wiwied
alamat bs punya adik nih kaysan, si daddy main sembur aja 😆😆🤭
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
😍😍😍😍🫣🫣
Arum Dyah
jangan end dlu lo kak... tau² udh umur 4th aja kan🤣🤣
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
👍🥰👍🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰 mampir baca
Arum Dyah
kalo perlu dibikin season ke 2🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!