Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbaikan
"Apakah aku terlalu kasar padanya?" gumam Davin meski samar tetapi masih terdengar oleh Mila.
"Kamu gak salah Vin, tidak sepantasnya Aliqa pergi tanpa memberi tahu suami kemana tujuannya kan. Seharusnya Aliqa menghubungi mu, memberi kabar kemana dia akan pergi!" Mila berniat untuk memanas-manasi Davin agar pria itu semakin kesal dengan kelakuan Aliqa.
Ucapan Mila membuat Davin merasa bersalah, tidak sepantasnya Davin memarahi Aliqa, bagaimana Aliqa akan memberikan kabar kemana dia pergi, karena Aliqa tak memiliki nomor ponsel Davin.
"Aku yang salah, seharusnya aku bisa bertanya secara baik-baik kepada Aliqa," ucap Davin lirih.
"Jangan menyalahkan dirimu Vin, kamu tidak bersalah sama sekali. Lebih baik kita segera kembali ke kamar Vin, aku merasa lelah." Mila beranjak dari duduknya, kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju anak tangga.
Mila telah berjalan beberapa langkah, namun dia kembali membalikan tubuhnya dan menatap ke arah Davin, " Sayang, apa kau akan terus berada disitu?"
"Tidak, aku mau ke kamar." Davin beranjak kemudian mengekori Mila untuk menuju kamar mereka.
Sesampainya di kamar Davin merebahkan tubuhnya di atas kasur bersebelahan dengan Mila. Davin memikirkan bagaimana perlakuan kasarnya terhadap Aliqa, Davin merasa bersalah. Pria itu begitu kesal, entah kesal kepada Aliqa yang tak berada di dalam rumah atau kesal kepada Mila yang ketika suaminya pulang Mila masih betah berada di dalam kamar. Davin kesal karena tak ada yang menyambut kepulangannya, sehingga ketika Aliqa telah kembali emosinya dia tumpahkan kepada Aliqa.
Mila melingkarkan lengannya ke pinggang milik Davin, sementara itu Davin tetap fokus dengan pemikirannya, tak menghiraukan Mila yang kini telah memeluk dirinya.
Tak berselang lama Davin menyingkirkan tangan Mila, Davin beranjak dari atas ranjang.
"Mau kemana Vin?"
"Menemui Aliqa, aku merasa bersalah telah memarahinya!" Davin melangkahkan kakinya, namun pergelangan tangannys segera di tahan oleh Mila.
"Besok saja Vin, mungkin Aliqa sedang ingin sendiri," ucap Mila lembut.
"Aku harus menemuinya sekarang, aku telah kasar kepadanya. Seharusnya aku bisa bersikap lebih lembut kepadanya." Davin menyingkirkan tangan Mila yang menahannya, kemudian beralalu meninggalkan Mila yang kini tengah terduduk ditepian ranjang.
Mila meremas seprei kesal, sepertinya akan sangat sulit memisahkan Davin dan Aliqa. Mila tau kali ini Davin mencintai Aliqa namun sayangnya Davin belum menyadari bahwa Davin mencintainya.
Davin berdiri di depan pintu kamar Aliqa, dia mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu kamar Aliqa.
"Tok tok tok"
Davin mengetuk pintu kamar Aliqa namun tak ada jawaban dari dalam kamarnya.
"CKLEK"
Davin mencoba untuk langsung membuka pintu kamarnya, namun Davin tak menyangka bahwa kini pintu kamar Aliqa dikunci. "Apakah Aliqa semarah itu kepada ku." gumam Davin.
Sementara itu Mila memperhatikan Davin dari kamarnya, Mila merasa kesal karena Davin mencoba untuk meminta maaf kepada Aliqa, Mila tak mau mereka menjadi semakin dekat.
Davin masih mencoba untuk mengetuk pintu Aliqa dan berharap Aliqa akan membukanya.
"Al, buka pintunya Al." Davin mengetuk pintu seraya memanggil nama Aliqa.
"Al maafkan aku, aku telah berlaku kasar kepada mu, aku menyesal Al!" ucap Davin lirih.
Aliqa yang berada didalam kamarnya merasa tak tega mendengar Davin tak menyerah untuk bertemu dengannya. "Mungkin Mas Davin benar-benar menyesal," gumam Aliqa, kemudian menyeka buliran air mata yang telah membasahi pipinya.
Terdengar suara kunci pintu yang tengah di buka, tak berselang lama pintu pun terbuka menampakan Aliqa yang berdiri di baliknya dengan mata yang sembab karena terlalu banyak menangis.
Davin langsung memeluk sosok Aliqa yang berada di hadapanya seraya terus mengucapkan kata maaf.
"Maafkan aku Al, seharusnya aku bisa bertanya pada mu secara baik-baik," ucap Davin lirih.
Aliqa melihat Mila sedang memperhatikan dari kamarnya, terlihat kilatan emosi dari dalam matanya. Aliqa mengurai pelukan Davin dan masuk kedalam kamarnya, kemduian duduk ditepian ranjang.
Aliqa merasakan bagaimana perasaan Mila, pasti wanit itu cemburu melihat kedekatannya dengan Davin. Bagaimana tidak karena Aliqa pun merasakan cemburu ketika melihat Davin begitu perhatian kepada Mila. Bukan hal mudah berada dalam satu rumah dengan mencintai lelaki yang sama.
"Al apa kau tak memaafkan ku?" Davin menutup pintu sebelum mengikuti Aliqa masuk kedalam kamarnya kemudian duduk di tepian ranjang bersisian dengan Aliqa.
"Tak apa Mas, aku memang salah tak menitip pesan kepada Mila kemana aku akan pergi." Aliqa menjawab pertanyaan Davin dengan pandangan mata tetap lurus kedepan.
Davin meraih tangan Aliqa dan mengusapnya lembut, "Sebenarnya kamu kenapa?"
"Kenapa apanya Mas? Aku mau mandi Mas gerah."
"Al, ada apa? Tak biasanya kamu mendiamkan ku. Coba cerita sama aku, kenapa kamu tiba-tiba pergi dari rumah?"
"Aku gak kenapa-kenapa!"
"Apakah Mila berlaku buruk pada mu?" Davin memikirkan cincin yang dikenakan oleh Mila, bisa jadi Aliqa melihatnya dan merasa kesal.
"Tidak Mas."
"Apakah kau melihat cincin yang dikenakan Mila?"
Aliqa hanya diam dan tak menjawab pertanyaan Davin.
"Apakah benar begitu? Apa karena itu kau kesal?"
"Tidak Mas, tidak sepantasnya aku merasa kesal atas hal itu, aku telah mengembalikannya pada mu. Tidak seharusnya aku merasa cemburu jika Mas memberikannya pada Mila."
"Aku tak pernah memberikannya Al, Mila yang menemukannya dari dalam laci dan kemudian mengenakannya."
"Tapi Mila bilang Mas yang memberikannya sebagai hadiah karena Mila sedang mengandung anak Mas," Aliqa menatap lekat manik mata Davin dan tak menemukan kebohongan di dalamnya.
Tak seharusnya aku percaya begitu saja dengan yang Mila katakan, mungkin saja Mila hanya ingin memanas-manasi ku dan membuat hubungan ku dengan Mas Davin merenggang.
"Apa kau mempercayai ku? Kamu tak perlu merasa cemburu, karena aku akan bersikap adil kepada kalian."
"Iya Mas, maafkan aku karena telah membuat mu kesal."
"Al, boleh kah aku meminjam ponsel mu?"
"Tentu saja boleh Mas." Aliqa mengambil ponsel yang berada di atas meja di samping tempat tidurnya, kemudian memberikannya kepada Davin.
Terlihat Davin mengetikan sebuah nomor di ponsel milik Aliqa, kemudian menyimpannya di dalam kontak. Setelah selesai Davin mengembalikan ponsel kepada Aliqa.
"Ini no telpon ku, kau bisa memberi kabar jika kau akan pergi, dan kau bisa menghubungi ku kapan pun kau mau." Davin tersenyum manis ke arah Aliqa membuat Aliqa menjadi salah tingkah.
"Terimakasih Mas." Aliqa membalas senyuman Davin.
"Bagaimana bisa Mila berbuat kekanak-kanakan seperti itu dengan sengaja membuat Aliqa merasa cemburu," gumam Davin dalam hati.
"Mas aku mandi dulu sudah gerah, lebih baik Mas kembali ke kamar Mila, lagi pula tadi malam Mas sudah tidur bersama ku. Mas jangan bilang apapun kepada Mila mungkin karena Mila sedang mengandung makanya dia memerlukan perhatian lebih dari mu,"
"Baiklah."
Davin akhirnya keluar dari kamar Aliqa, bagaimana bisa Aliqa begitu baik kepada Mila, setelah perlakuan Mila terhadapnya.