Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Kekerasan Vs Kelincahan
Malam yang seharusnya menjadi ajang pembuktian kekuatan diri bagi murid Kelas 1-A dan 1-B seketika berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam. Bau asap belerang yang menyesakkan dada menyapu hutan, menenggelamkan aroma pinus yang segar. Dari puncak bukit tempatnya berlatih, Mitsuki berdiri mematung. Matanya yang kuning tajam menyipit, memindai kegelapan yang kini diterangi oleh jilatan api biru yang menari-nari di lereng gunung.
"Gas beracun di sektor utara, api biru di sektor timur," gumam Mitsuki, napasnya tetap teratur meskipun adrenalinnya mulai meningkat. "Dan getaran di sana... itu bukan Quirk biasa. Itu adalah kemarahan yang tidak terkendali."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Mitsuki melesat. Ia tidak berlari seperti manusia biasa; ia meluncur di antara dahan pohon dengan kelenturan yang mustahil, tubuhnya seolah-olah menjadi bagian dari bayangan hutan. Pikirannya langsung tertuju pada satu titik Gua tempat Kota menyendiri.
Di sebuah tebing curam yang menghadap ke arah kamp, Kota berdiri membeku. Di hadapannya, sesosok pria raksasa dengan tubuh yang dipenuhi bekas luka dan mata palsu yang mengerikan berdiri sambil menyeringai. Pria itu adalah Muscular, anggota Vanguard Action Squad yang dikenal karena kegilaannya pada pertumpahan darah.
"Oh? Jadi kau anak kecil yang fotonya ada di daftar?" suara Muscular berat dan parau. Ia menggerakkan bahunya, dan seketika, ribuan serat otot keluar dari bawah kulitnya, melapisi lengannya hingga menjadi sebesar batang pohon. "Mana pahlawan-pahlawan itu? Aku bosan membunuh orang yang tidak melawan!"
"J-jangan mendekat!" teriak Kota, suaranya bergetar hebat. Ia melempar sebuah batu kecil yang hanya memantul di dada Muscular.
Muscular tertawa terbahak-bahak. "Hanya itu? Kalau begitu, matilah dengan cepat!"
Muscular melesat maju, tinju raksasanya siap menghancurkan tubuh kecil Kota. Namun, tepat sebelum hantaman itu terjadi, sebuah bayangan biru pucat meluncur dari langit-langit gua.
Sret!
Mitsuki mendarat di depan Kota, lengannya memanjang dan melilit pinggang anak itu, menariknya mundur dalam sekejap tepat saat tinju Muscular menghantam lantai gua hingga hancur berkeping-keping.
Mitsuki menurunkan Kota di sudut yang aman. "Tetaplah di sini, Kota-kun. Jangan tutup matamu. Lihatlah bagaimana 'kekuatan' yang kau benci sebenarnya bisa digunakan."
Mitsuki berbalik menghadap Muscular. Aura kuning tipis mulai keluar dari tubuhnya. Ini bukan lagi sekadar latihan; ini adalah konfrontasi antara efisiensi ninja melawan kekuatan otot mentah.
"Siapa kau? Anak UA juga?" tanya Muscular, matanya yang palsu berputar liar. "Kau terlihat kurus. Apa kau yakin bisa menahan satu pukulanku?"
"Aku tidak berencana menahannya," jawab Mitsuki datar. "Menahan seranganmu adalah pemborosan energi. Aku lebih suka membiarkanmu memukul udara sampai kau lelah."
Muscular meraung dan menyerang lagi. Kecepatannya luar biasa untuk ukuran raksasa, namun Mitsuki bergerak seperti air. Ia meliuk, merunduk, dan melakukan backflip di atas kepala Muscular dengan presisi milimeter. Setiap kali Muscular menyerang, Mitsuki hanya menggeser tumitnya beberapa sentimeter untuk menghindar.
"BERHENTI BERGERAK, KECOA!" Muscular semakin emosi. Ia menambah lapisan ototnya hingga menutupi seluruh tubuhnya seperti baju besi organik.
Mitsuki menyadari bahwa serangan fisik biasa tidak akan menembus lapisan otot setebal itu. Ia harus menggunakan sesuatu yang menembus ke dalam.
“Dia mengandalkan serat otot eksternal untuk perlindungan,” batin Mitsuki. “Tapi sistem saraf pusatnya tetap berada di bawah sana. Jika aku bisa mengirimkan getaran frekuensi tinggi, regenerasi ototnya tidak akan berguna.”
Mitsuki merendahkan kuda-kudanya. Tangan kanannya mulai mengeluarkan percikan listrik biru yang berderit nyaring, namun kali ini suaranya lebih tinggi, hampir seperti kicauan ribuan burung.
"Senpō: Hebi Mikazuchi - Denso" (Teknik Sage: Petir Ular - Transmisi Saraf).
Muscular melompat ke udara, berniat menghancurkan seluruh area gua dengan berat tubuhnya. Saat itulah Mitsuki menyerang. Ia tidak memukul dada Muscular; ia menyentuhkan dua jarinya ke pergelangan kaki Muscular saat ia masih di udara.
ZZZZZT!
Petir biru itu tidak meledak, melainkan merayap masuk di antara celah-celah serat otot, mencari jalur saraf yang menuju ke otak. Muscular mendadak kaku di udara. Otot-ototnya yang tadinya mengembang seketika mengalami kontraksi yang menyakitkan dan tidak terkendali.
Bruk! Muscular jatuh menghantam tanah, tubuhnya berkedut hebat.
"A-apa yang kau lakukan padaku?!" raung Muscular, mencoba bangkit namun kakinya tidak mau menuruti perintah otaknya.
"Aku hanya memberikan instruksi yang salah pada sistem sarafmu," ucap Mitsuki. "Ototmu kuat, tapi mereka butuh sinyal untuk bekerja. Dan sekarang, aku adalah penguasa sinyal itu."
Dilema di Tengah Pertempuran: Peran Murid Lain
Sementara Mitsuki menahan Muscular, di bagian lain hutan, kekacauan mencapai puncaknya.
Todoroki dan Bakugo terjebak dalam kepungan api biru Dabi. Todoroki mencoba menciptakan dinding es, namun api itu begitu panas hingga esnya mencair sebelum sempat mengeras. Bakugo tampak frustrasi karena tidak bisa melihat musuh di balik asap.
Itsuka Kendo dan Tetsutetsu dari Kelas 1-B sedang berjuang menembus gas beracun milik Mustard. Kendo menggunakan tangannya yang membesar untuk menciptakan kipas angin raksasa, sementara Tetsutetsu mengandalkan tubuh bajanya untuk menahan peluru Mustard.
Shoji dan Midoriya sedang berlari mencari Bakugo, namun mereka dikejar oleh Dark Shadow milik Tokoyami yang telah kehilangan kendali akibat kegelapan hutan dan stres mental.
Mitsuki bisa merasakan semua kekacauan ini. "Kota-kun, pahlawan profesional akan segera sampai di sini. Aku harus pergi membantu yang lain."
"Tunggu!" Kota memegang ujung jaket Mitsuki. Matanya tidak lagi penuh kebencian, melainkan ketakutan dan harapan. "Kenapa... kenapa kau menyelamatkanku? Aku membenci pahlawan!"
Mitsuki berhenti sejenak, menoleh ke arah anak itu. "Aku tidak menyelamatkanmu karena aku seorang pahlawan, Kota. Aku menyelamatkanmu karena kau adalah teman temanku. Dan di duniaku, melindungi rekan adalah satu-satunya hukum yang tidak boleh dilanggar."
Tiba-tiba, sebuah suara ledakan besar terdengar dari arah tempat Bakugo berada. Mitsuki merasakan energi Bakugo tiba-tiba terbungkus oleh sesuatu yang dingin dan hampa seperti teknik ruang-waktu.
"Target diamankan," sebuah suara terdengar melalui radio penjahat yang terjatuh dari saku Muscular.
"Bakugo-kun..." gumam Mitsuki.
Ia menyadari bahwa seluruh serangan ini, api biru, gas beracun, dan monster otot di depannya, hanyalah pengalih perhatian. Tujuan utama Liga Penjahat adalah menculik Katsuki Bakugo.
Mitsuki menatap Muscular yang mulai pulih dari efek kejutnya. "Aku tidak punya waktu lagi untuk bermain denganmu."
Mitsuki melakukan segel tangan terakhir. "Fūton: Shinkūgyoku!" (Elemen Angin: Peluru Hampa).
Ia menembakkan tekanan udara yang sangat tajam tepat ke arah mata palsu Muscular, menghancurkan keseimbangan visualnya sepenuhnya. Di saat Muscular limbung, Mitsuki menggunakan teknik Body Flicker untuk menghilang dari gua, meninggalkan Muscular yang meraung frustrasi dalam kegelapan.
Mitsuki melesat menuju koordinat terakhir Bakugo. Ia tahu, jika ia membiarkan Bakugo tertangkap, maka keseimbangan Kelas 1-A akan hancur, dan "Matahari" yang ia jaga Izuku Midoriya akan tenggelam dalam penyesalan yang mendalam.
Di pinggir hutan, Mitsuki bertemu dengan Izuku yang napasnya sudah hampir habis, tubuhnya penuh luka setelah menyelamatkan murid lain dari Dark Shadow.
"Mitsuki-kun! Bakugo! Mereka mengejar Kacchan!" teriak Izuku panik.
Mitsuki mendarat di samping Izuku, memegang bahunya agar ia tenang. "Aku tahu. Todoroki dan Tokoyami juga sudah di sana. Izuku, gunakan sisa kekuatanmu untuk mengikuti instruksiku. Kita akan melakukan satu serangan gabungan terakhir untuk merebutnya kembali."
Di kejauhan, Mr. Compress berdiri di atas dahan pohon, memegang dua kelereng biru kecil yang berisi Bakugo dan Tokoyami. Di sampingnya, Dabi tersenyum dingin.
"Ayo pergi, sebelum ular itu sampai di sini," ucap Dabi.
Namun, sebelum mereka bisa masuk ke gerbang kabut Kurogiri, sebuah bayangan panjang melesat dari bawah. Lengannya memanjang seperti ular raksasa, mencoba mencengkeram kelereng di tangan Mr. Compress.
Pertempuran untuk masa depan Kelas 1-A baru saja mencapai titik puncaknya.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen