Radit, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang rendah, mendadak mendapatkan sistem misterius yang mengubah nasibnya. Dari mahasiswa biasa, kini bangkit menjadi sosok bertopeng putih yang bengis. Seluruh kekuatan, duniah bawah, dan kejayaan diraihnya.
Di tengah puncak, ia kembali menemukan arti hidup melalui cintanya pada Rania. Namun, tragedi kampus merenggut segalanya. Amarah dan dendam bangkit kembali menghancurkan dunia.
Setelahnya pembalasan tersebut, Radit memulai hidup baru dan meninggalkan segalanya hanya demi satu hal. Dirinya yang kuat dan menemukan kembali cintanya yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ia menatap Cakrawala Timur.
" Kirim pesan. " Ujar nya dingin , seakan berbicara pada angin." Keluarga Megantara."
Di bayangan gedung beberapa eksekutif bayangan PT. ADITYA PUTRA berlutut. Satu lutut.
" Wilayah timur. " Lanjut Radit. " Bukan papan permainan kalian."
" Aku tidak akan menyerang lebih dulu .". Kata nya pelan . " Tapi jika satu mata lagi di kirim..."
Sorot mata nya mengeras .
" .... Aku akan datang sendiri."
Topeng putih berkilau sesaat, lalu aura di sekitar nya kembali hampa.
Jauh di pusat kediaman keluarga Megantara, sebuah lentera jiwa tiba - tiba padam. Para tetua terdiam.
" Utusan yang memata - matai hilang. " Gumam seseorang.
Keheningan berubah menjadi ketegangan .
" Topeng putih." Ucap tetua tertinggi dengan suara berat. " Ia bukan hanya sekedar Master."
Dan pada saat itu wilayah Timur mulai menyadari satu hal....
Aula inti keluarga Megantara terletak jauh di bawah tanah , terlindungi oleh lapisan formasi kuno. Api lentera jiwa berjajar di dinding... Masing - masing mewakili utusan penting keluarga.
Malam itu, satu lentera padam... Keheningan menelan aula. Para tetua duduk melingkar di meja batu hitam . Wajah mereka di selimuti bayangan, hanya sorot mata yang memantul kan api.
" Utusan timur." Ucap tetua ke dua dengan suara rendah. " Jiwa nya musnah . Bukan di bunuh secara fisik."
" Pemusnahan jiwa ?" Tetua ke tiga menyipit kan mata. " Teknik itu membutuh kan kontrol ranah yang jauh di atas master biasa.
Tetua pertama , pemimpin keluarga , mengetuk tongkat nya sekali .
" Laporan lengkap."
Seorang penanggung jawab intelejen maju satu langkah. " Jejak energi di lokasi hilang, hampir sempurna. Tidak ada residu teknik, tidak ada fluktuasi aura besar. Hanya satu hal..."
" Apa ?" Tanya tetua pertama.
" Tekanan ruang sesaat.". Jawab nya. " Seolah jarak di lipat. "
Ruangan kembali sunyi.
" Grandmaster. " Gumam seseorang.
Tetua ke dua menggeleng pelan. " Bahkan Grandmaster belum tentu bisa sebersih itu."
Tatapan para tetua tertuju ke lentera yang padam.
" Nama topeng putih kembali muncul." Lanjut tetua ketiga. " Orang yang sama. Yang mengganggu keseimbangan Barat, mendiri kan PT. AR ADITYA PUTRA. Dan kini menginjak timur."
Tetua pertama menutup mata sejenak.
" Berapa usia nya ?"
" Tidak di ketahui." Jawab petugas intelijen. " Namun gaya bertarung nya... Dingin , singkat dan penuh perhitungan."
Tetua ke empat mengepal kan tangan. " Jika kita diam, keluarga kelas dua akan mengira jika kita takut."
" Jika kita bergerak ceroboh .". Potong tetua ke dua. " Kita akan kehilangan lebih dari sekadar muka."
Tongkat tetua pertama kembali menghantam lantai.
" Cukup !!"
Semua suara Ter henti.
" Keluarga Megantara bertahan bukan karena kekuatan semata." Ucap nya berat. " Melain kan karena kesabaran."
Ia menatap petugas intelijen.
" Henti kan pengiriman mata mata ke PT . AR ADITYA PUTRA ."
Beberapa tetua terkejut.
" Sebagai ganti nya." Lanjut nya. " Kirim pengamat tidak langsung. Pantau pergerakan bisnis, bukan orang nya."
Tetua ke tiga mengangguk pelan. " Dan topeng putih ?"
" Kita perlakukan dia sebagai Variabel tingkat bencana ."
Jawab tetua pertama. " Tidak di singgung, tidak di provokasi."
Ia berhenti sejenak.
" Untuk sementara ."
Salah satu tetua muda bertanya ragu. " Bagai mana jika dia bergerak lebih jauh ke wilayah kita ?"
Sorot mata tetua pertama mengeras.
" Maka kita akan memutuskan ,apakah kita akan menjadikan nya sekutu, atau musuh yang harus di hancur kan dengan seluruh fondasi keluarga."
Api lentera bergetar. Di benak setiap tetua, satu kesadaran muncul bersamaan ... Jika topeng putih adalah seorang Grandmaster awal atau lebih . Maka satu kesalahan saja bisa mengakhiri ratusan tahun kejayaan keluarga Megantara.
Rapat berakhir tanpa teriakan. Namun ketegangan yang tertinggal... Jauh lebih mematikan.
Pagi itu, universitas kembali di penuhi suara kehidupan. Mahasiswa berdesakan di gerbang, beberapa orang terburu - buru mengejar kelas pagi, sebagian lain berhenti membeli kopi di kios kecil dekat taman. Tak ada yang tahu di antara mereka baru saja kembali seseorang yang membuat keluarga kelas satu wilayah timur mengadakan rapat darurat.
Radit melangkah masuk ke area kampus. Pakaian kasual, ransel sederhana, wajah tenang tanpa topeng. Ia berjalan menyusuri koridor fakultas seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Di kepala nya , tak ada gema pertarungan , tak ada darah. Tak ada rasa bersalah. Semua sudah ia letak kan rapi di satu sudut pikiran nya tempat yang hanya ia buka sat di perlukan.
" Radit !"
Suara ceria itu datang dari samping . Rania melambai kan tangan sambil berjalan cepat mendekat.
" Kau menghilang dua hari. Aku kira kau sakit."
" Tidak, hanya ada urusan keluarga." Jawab Radit singkat.
Namun kali ini nada suara nya lembut. Mereka berjalan bersama menuju kelas. Di sela langkah, Rania menatap nya sekilas. Seolah memastikan sesuatu.
" Kau baik-baik saja kan ?" Tanya nya pelan.
Radit berhenti sebentar. Untuk sesaat bayangan lentera jiwa yang padam terlintas di benak nya. Namun wajah nya tenang tetap tenang.
" Baik. ". Ujar nya. " Lebih baik dari sebelum nya."
Rania tersenyum percaya. Di ruang kuliah, Radit kembali duduk di bangku yang sama. Dosen mulai menjelas kan teori dengan penuh semangat. Mahasiswa lain sibuk mencatat, ada yang mengeluh pelan.
Semua terasa... Normal. Saat diskusi kelompok, salah satu mahasiswa bersuara keras.
" Eh Radit, pendapat mu apa ?"
Semua menoleh , dulu Radit akan memilih diam . Sekarang, ia akan berbicara.
" Pendekatan nya terlalu berisiko.". Kata nya tenang. " Jika ingin stabil, gunakan jalur jangka panjang."
Kelas terdiam sejenak.
" Masuk akal." Gumam seseorang.
Rania menatap nya dengan senyum kecil .
Istirahat siang mereka duduk di kantin kampus. Radit memesan makanan sederhana. Duduk berhadapan dengan Rania, mendengar kan cerita nya tentang tugas, tentang dosen yang cerewet, tentang rencana masa depan yang biasa namun hangat. Untuk pertama kali nya Radit benar - benar hadir.
Sore itu hujan turun tiba-tiba. Langit di sekitar kawasan kampus menggelap lebih cepat dari biasa nyam mahasiswa berlarian mencari tempat berteduh, sementara jalan kecil di belakang perpustakaan mulai sepi.
Radit baru saja berpisah dengan Rania, ketika langkah nya terhenti. Bukan karena suara, Melain kan karena ketidakwajaran.
Di ujung gang sempit yang menuju kawasan lama kota, ia merasakan fluktuasi, energi yang di tekan kasar... Ceroboh terburu-buru , dan penuh niat membunuh.
Kejaran , batin nya. Tangis tertahan terdengar, Radit melangkah masuk ke gang itu tanpa suara.
Di sana... Seorang anak laki-laki berusia sekitar enam belas tahun tersandung dan jatuh. Pakaian nya basah, napas nya terengah. Di leher nya tergantung liontin hijau tua dengan ukiran daun, simbol yang sangat di kenal di dunia bayangan.
Keluarga Candra, keluarga kelas satu bagian barat.
" Jangan lari lagi." Terdengar suara dingin dari belakang.
Tiga pria berpakaian hitam muncul dari balik bayangan. Di lengan mereka terukir simbol burung elang perak.
Organisasi Falcon. Pemburu bayaran. Spesialis penculikan dan penghilangan target berdarah bangsawan.
" Serahkan benda itu. ". Ujar salah satu dari mereka. " Kami hanya butuh warisan mu."
lanjut kk, tetap semangat ya. saran aja sih, kalau ada waktu, sebelum lempar up, sebaiknya swasunting dulu, biar nggak terlalu banyak typo. 😊🙏🙏
ada beberapa typo ya thor, kalau sempet, ayo kita revisi. 💪
ceritanya bagus Thor, langsung subscribe, satu vote, dan dua iklan, untukmu. 😊.
ayo kita saling mendukung ya😊