Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Denyut Dua Dunia
Pelarian dari Hotel Majapahit menyisakan jejak api di langit Jakarta. Di dalam mobil SUV hitam yang dipacu Maya melintasi jalur tikus pinggiran kota, keheningan terasa mencekam. Arga duduk di kursi belakang, mendekap Pedang Patah Mahendra di pangkuannya. Tangannya gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena perang batin yang berkecamuk di dalam sel-sel tubuhnya.
Energi emas dari Mustika Macan Kencana yang liar kini dipaksa bersentuhan dengan energi biru dingin dari Pedang Mahendra. Dua kekuatan itu seperti air dan minyak yang dipaksa menyatu dalam satu wadah: tubuh Arga.
"Arga, tanganmu..." Sari berbisik, suaranya sarat dengan kecemasan.
Sari meraih tangan Arga. Ia bisa melihat pembuluh darah di lengan Arga menonjol, berpendar antara emas dan biru secara bergantian. Suhu tubuh Arga meningkat drastis, hingga uap tipis muncul dari kulitnya yang kotor oleh debu marmer.
"Jangan... jangan sentuh dulu, Sari," erang Arga. Suaranya serak, puitis namun tersiksa. "Ada badai yang sedang berebut takhta di dalam dadaku. Pedang ini... ia mengenali darahku, tapi ia membenci monster di dalamnya."
Sari tidak menarik tangannya. Ia justru menggenggam jemari Arga lebih erat, menggunakan kelembutan jemarinya sebagai jangkar bagi kesadaran Arga yang mulai hanyut. "Jika kau dewa perang, maka aku adalah bumi yang menopangmu. Kau tidak akan hancur, Arga. Tidak malam ini."
Sentuhan Sari memberikan efek yang aneh. Resonansi energi yang tadinya kacau perlahan mulai melambat. Kemistri di antara mereka bukan lagi sekadar pelindung dan yang dilindungi, melainkan dua bagian dari satu frekuensi yang berusaha saling menyeimbangkan.
“Inang... gadis ini... dia adalah peredam yang sempurna,” suara Macan Kencana terdengar sayu, seolah ikut tunduk pada kelembutan Sari.
"Kita sampai," Maya memutar kemudi dengan tajam, membawa mereka masuk ke sebuah hanggar pesawat tua di kawasan industri Tangerang. "Ini tempat persembunyian terakhir Abah. Sensor termal Mahendra tidak akan bisa menembus dinding timbal tempat ini."
Abah sudah menunggu di sana dengan peralatan pemindai frekuensi kuno. Ia segera memerintahkan Arga untuk meletakkan pedang itu di atas meja isolasi.
"Pedang ini bukan sekadar senjata, Arga," Abah menyesap kopi hitamnya, matanya yang satu menatap lekat pada bilah yang patah itu. "Ini adalah 'Kunci Logistik'. Keluarga Mahendra menggunakannya untuk menyegel data di server fisik yang tidak terhubung ke internet. Itulah sebabnya Indra Mahendra sangat menginginkannya. Di dalamnya ada kode enkripsi untuk membuka Brankas Hitam."
"Apa isinya?" tanya Maya, jarinya sudah siap di atas keyboard.
"Daftar nama asli para pendiri 'Sembilan Elit' dan kontrak asli pemindahan aset Mahendra yang dilakukan secara ilegal melalui penipuan tanda tangan ayahmu," jawab Abah.
Arga berdiri, meski kakinya masih goyah. Ia merasakan asimilasi dua kekuatan tadi mulai meninggalkan luka dalam di sarafnya. "Buka datanya, Abah. Aku ingin melihat wajah pengkhianat itu secara digital."
Abah menempelkan pemindai ke hulu pedang. Cahaya biru meledak, memproyeksikan hologram di tengah hanggar. Namun, bukan data yang muncul pertama kali, melainkan rekaman audio yang terdistorsi.
“...Jika kau mendengar ini, Arga, berarti kau telah berhasil mengambil kembali kehormatan kita. Jangan percaya pada Indra. Dia tidak bekerja sendirian. Ada kekuatan di luar Sembilan Elit yang mengatur papan catur ini...”
Suara itu... suara ayah Arga. Arga mematung. Matanya berkaca-kaca, sebuah pemandangan langka bagi sang dewa perang jalanan. Metafora kesedihan itu terasa nyata; seperti hujan yang turun di tengah gurun kering jiwanya.
Tiba-tiba, radar Maya berbunyi nyaring.
"Sial! Indra Mahendra tidak mengejar kita dengan pasukan!" teriak Maya. "Dia menggunakan Sinyal Pelacak Resonansi! Dia baru saja mengunci lokasi kita melalui energi pedang yang kau aktifkan tadi!"
Suara deru mesin helikopter tempur terdengar dari kejauhan, membelah kesunyian malam Tangerang. Cahaya lampu sorot mulai menyapu atap hanggar.
"Arga, kita tidak punya waktu untuk asimilasi sempurna!" Abah menyerahkan sebuah suntikan berisi cairan perak. "Ini adalah Akselerator Merkuri. Ini akan memaksa energi pedang dan Mustika menyatu secara instan, tapi harganya adalah rasa sakit yang belum pernah kau bayangkan. Kau bisa lumpuh, atau kau bisa menjadi Dewa sejati selama satu jam."
Arga menatap suntikan itu, lalu menatap Sari yang berdiri di sudut dengan belati terhunus, siap mati bersamanya.
"Berikan padaku," kata Arga dingin. "Aku lebih baik mati sebagai dewa yang menghancurkan mereka, daripada hidup sebagai mangsa yang terus berlari."
Arga menusukkan suntikan itu ke lehernya.
“AAAAARRRRGGGGHHH!”
Raungan Arga bukan lagi suara manusia. Itu adalah raungan macan purba yang beradu dengan denting baja surgawi. Tubuhnya diselimuti aura platinum—perpaduan emas dan biru. Kekuatan dewa perang telah mencapai puncaknya.
"Sari, Maya, Abah... tetap di belakangku," Arga mengangkat Pedang Patah yang kini memiliki "bilah cahaya" biru yang memanjang dari patahannya.
Pintu hanggar diledakkan dari luar. Pasukan elit Mahendra masuk, namun mereka berhenti seketika. Di depan mereka, Arga Satria berdiri dengan mata yang bersinar platinum, memegang pedang cahaya yang seolah-olah mampu membelah realitas.
"Mari kita selesaikan ini," ujar Arga. Suaranya bergema, menggetarkan seluruh hanggar seperti lonceng kematian.