Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Rasa takut Dina
"Apa kita berjalan saja mencari rumah warga yang bisa memberikan pertolongan?" Vera tidak mungkin hanya diam di dalam mobil mogok ini.
"Mau tidak mau memang kita harus meminta bantuan dari para warga karena di dalam mobil juga bukan solusi untuk menunggu." jawab Dina dengan nada yang sangat cemas.
"Aku yang akan keluar untuk mencari bantuan dan kalian diam saja dulu di mobil ya." Vera memutuskan agar dia saja yang keluar.
"Kenapa kita tidak keluar bareng saja biar tidak berpencar?" ujar Dina.
"Mau membawa Arum susah karena kita tidak tahu juga rumah warga mana yang mau membantu." Vera memberikan alasan yang tepat.
"Tapi aku takut bila hanya berdua di dalam mobil saja dengan Arum, Kak." jujur Dina.
"Ini hanya sebentar saja aku pergi untuk mencari bantuan karena tadi di sana juga sudah ada rumah warga kan, kau di dalam mobil ini sambil baca doa biar pikiran mu itu bisa tenang." suruh Vera.
Mau tidak mau maka Dina harus menuruti saran dari Vera agar dia diam saja di dalam mobil dan tidak keluar, kalau mereka langsung keluar bareng maka pasti memang agak rumit karena entah Vera atau Dina harus menggendong Arum yang sudah tidak sanggup lagi berjalan akibat tubuh dia yang terasa begitu lemas.
Ini Vera saja yang memutuskan untuk keluar dari mobil dan meminta bantuan dari warga yang kebetulan ada di sekitar sini dan nanti dia akan mengajak warga itu menuju mobil agar bisa membantu mereka bertiga, mereka memang salah masuk gang karena yang ini adalah gang kosong dan jarang rumah warga.
Walau ada rumah warga tapi tetap saja rumah itu kosong sehingga mereka harus mencari rumah yang berisi dan meminta bantuan dari mereka semua, angin malam yang begitu dingin menerpa tubuh Vera namun gadis ini tidak memperdulikan karena dia harus menyelamatkan sang adik yang tengah sakit keras dan harus membutuhkan bantuan.
Dina sendiri merasa kasihan melihat Vera yang di luar sana sedang berjalan sambil membawa ponsel untuk menerangi jalan karena keadaan di sekitar lorong ini memang begitu gelap, rasa ingin menemani namun tidak mungkin juga meninggalkan Arum sendirian di dalam mobil ini karena nanti justru akan timbul masalah lain yang membuat mereka semakin ribet.
Tampak jelas sebenarnya bahwa Vera juga sedang ketakutan di luar mobil itu ketika berjalan mencari bantuan dari para warga, pasti rasa takut itu ditahan hanya karena dia ingin menyelamatkan sang adik sehingga saat ini hati Dina begitu tersentuh dengan kebaikan yang di miliki oleh Kakak tertua dia.
Arum masih saja terus merintih karena dia tidak bisa menahan rasa sakit yang ada di dalam tubuh ini dan bagian pundak juga terasa begitu panas mencekam, Dina sendiri sampai bingung karena tubuh Arum terasa begitu panas dan dia tadi lupa membawa kompres sehingga rasa panas itu semakin menyala saja di kepala atau bahkan tubuh Arum.
Sejak tadi Arum tidak mau diam dan terus saja merintih memanggil Ibu mereka karena memang gadis ini adalah gadis yang cukup manja di dalam keluarga, mana Elma juga baru meninggal dua hari yang lalu sehingga sudah pasti rasa itu sangat kehilangan di dalam diri Arum sekarang.
"Tenang dulu ya, Kak Vera sedang mencari bantuan." bujuk Dina mengelus kepala sang adik.
"Dia tidak mau aku sembuh, Kak." Arum kembali bersuara.
"Mana ada begitu, Kak Vera saja berjalan meminta bantuan demi kamu." bantah Dina.
"Dia menatap ku lagi, gigi dia panjang sekali." Arum mulai menunjuk tidak jelas.
"Rum, jangan begitu dong." Dina meraih tangan sang adik karena mulai takut.
"Dia mau aku mati saja bersama dengan yang lain, Ibu juga ada di sana." Arum kembali melantur karena pandangan dia dan Dina jelas saat ini begitu berbeda.
"Arum jangan menakuti Kakak seperti itu." Dina rasa ingin menangis karena rasa panik yang timbul di dalam hati.
"Ibu di dalam kolam darah itu, apa aku juga akan masuk ke dalam sana ya?" Arum bertanya sesuai dengan yang dia lihat.
"Baca doa dan ingat dengan Allah, ayo sebut astagfirullah astagfirullah." Dina berusaha mengajak sang adik agar dia mengingat nama Tuhan mereka.
Namun Arum malah diam saja seolah dia tidak mendengar apa yang di katakan oleh Dina barusan sehingga Dina semakin panik tidak karuan, suasana di kawasan ini juga terasa begitu berbeda dan Arum masih saja merintih kesakitan seperti itu beserta dengan suara dia yang melantur karena dia mengatakan bahwa ada sosok yang sedang melihat ke arahnya.
Wuussssh.
Wuuussssh.
"Suara apa itu?" Dina semakin gemetar karena dia mendengar suara angin yang sangat kencang.
"Kak air darah itu mendidih dan kelihatan sangat panas sekali." Arum kembali membuka suara.
"Rum Kakak minta tolong kamu jangan berbicara tentang itu dulu ya." ujar Dina dengan nada yang ingin menangis.
"Ibu menjerit kesakitan karena terkena air itu, Kak." Arum mulai menangis karena dia tidak tega melihat Elma yang mendapat siksa.
"Itu cuma halusinasi kamu saja karena sekarang lagi demam, itu tidak nyata ya." bujuk Dina walau dalam hati dia juga sudah sangat ketakutan.
"Tidak, Kak! Ibu memang nyata karena dia ada teman yang menemani di dalam air darah itu mereka sedang disiksa." Arum tetap sangat kekeh.
"Ya Allah bagaimana ini? aku harus bagaimana untuk bisa menjalankan mobil dan pergi dari sini!" bukan main Dina panik sekarang karena dia sudah di landa rasa takut luar biasa.
Braaaaaak.
Belum hilang rasa takut yang ada di dalam hati malah sekarang di atap mobil terdengar ada suara yang hinggap di sana dengan hentakan begitu besar, Dina semakin gemetar dan jantung ini seolah mau lepas dari dalam rongga akibat rasa takut yang memacu di dalam diri sehingga untuk menatap keluar mobil saja tidak berani.
"Kunci, mobil harus di kunci biar tidak ada yang masuk." Dina bergerak cepat.
"Dia sudah masuk juga kok, Kak." jawab Arum yang masih tetap terbaring.
"ARUM TOLONG LAH, AKU SUDAH SANGAT TAKUT SEKARANG!" bentak Dina karena dia memang sangat ketakutan.
"Dia ikut kita sejak dari rumah, selalu dia akan ikut dengan kita." ujar Arum lagi.
Siapa yang tidak stress bila dalam kondisi seperti ini dan justru teman yang ada di dalam mobil malah berulang kali mengatakan bahwa ada yang ikut dengan mereka, ini bila tidak mengingat harum adalah adik dia sendiri maka sudah pasti Dina akan kabur dari dalam mobil ini untuk mengejar Vera.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen kalian ya.
siti oh siti seperti namaku 🤣
othor ada di benua mana🤔🤔
wah kiara udah dtg aja kerumah Darto tuk mnyelidiki kasusnya vera..
ayo para member bantu Kiara membuka rahasianya Darto
mantap lah Kiara mah,langsung sat set tanpa nanti dulu👍👍🔥👻