Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Konten Makeup Gendis
Setelah perjuangan fisik menimba air yang menguras tenaga kemarin, Arka berharap hari ini ia bisa duduk tenang di teras sambil menikmati kopi instan dan sisa roti tawar yang mulai mengeras. Ia membayangkan Sabtu pagi yang damai tanpa pompa air yang meledak atau audit listrik yang menyiksa. Namun, harapannya hancur berkeping-keping saat pintu kamarnya diketuk dengan irama yang sangat ceria—terlalu ceria dan ritmis untuk ukuran jam sepuluh pagi di hari Sabtu yang seharusnya tenang dan malas.
"Arkaaa! Are you awake, Hero? Sang pahlawan air sudah bangun belum?" Suara Gendis terdengar manja namun mengandung nada paksaan yang tidak bisa dibantah, jenis nada yang biasanya menandakan bahwa Arka akan segera kehilangan hak atas waktu luangnya.
Gendis adalah penghuni kamar 3B, seorang mahasiswi seni rupa tingkat tiga yang lebih dikenal di dunia maya sebagai beauty vlogger dengan puluhan ribu pengikut di TikTok. Wajahnya selalu terlihat sempurna seolah sudah difilter secara real-time, setiap sudut kamarnya adalah studio mini dengan ring light yang selalu siap menyala dalam berbagai temperatur warna, dan aroma parfumnya—perpaduan vanila dan bunga melati—biasanya sudah tercium di koridor bahkan sebelum orangnya muncul dari balik pintu.
Arka membuka pintu dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. "Gendis? Ada apa lagi? Keran kamar mandi lo bocor lagi? Atau lampu meja rias lo mati kena korsleting?"
"Nggak, nggak, semuanya aman terkendali secara infrastruktur," Gendis menyelinap masuk ke kamar Arka tanpa permisi, membawa sebuah kotak makeup besar profesional yang isinya tampak lebih mahal daripada total harga seluruh perabotan di kamar Arka. "Gue butuh bantuan lo. Bukan buat benerin barang yang rusak secara fisik, tapi buat benerin statistik akun gue yang lagi agak turun grafiknya. Gue mau bikin konten 'POV: Cowok Maskulin Cobain Eyeliner Pertama Kali'."
Arka mematung, menatap kotak hitam besar itu seolah itu berisi bahan peledak. "Nggak. Jawabannya mutlak tidak, Gendis. Cari model lain saja."
"Ayo dong, Ka! Ini lagi viral banget di FYP! Orang-orang bosen liat model cowok yang emang udah biasa dandan atau berwajah feminin. Mereka mau liat reaksi cowok yang tangannya kapalan gara-gara menimba air kemarin, yang mukanya tegas, tapi matanya jadi 'tajam' gara-gara sentuhan winged eyeliner gue. Lo itu kan aesthetic banget sekarang di mata anak-anak kos, Ka! Rugged, hardworking, but secretly pretty!"
"Gue nggak pretty, Gendis. Gue cuma pria pengen minum kopi tanpa gangguan," protes Arka, mencoba mundur kembali ke kursinya, namun Gendis sudah lebih dulu menutup pintu kamar dengan tendangan tumitnya yang lincah.
Gendis tidak menyerah sedikit pun. Ia mulai mengeluarkan "senjata pemusnah massal" dari kotaknya: sebuah tabung kecil berwarna hitam pekat dengan aplikator runcing yang terlihat sangat mengancam dan presisi. "Cuma sepuluh menit, Ka. Gue cuma mau garis satu tarikan di kelopak mata lo. Satu konten ini bisa dapet ratusan ribu views, dan gue janji sebagai imbalannya, gue bakal kasih lo voucher makan di kafe 'Kopi & Senja' depan selama seminggu penuh. Gimana? Deal?"
Arka menimbang-nimbang tawaran itu. Voucher makan seminggu di kafe favoritnya terdengar sangat menggoda bagi dompetnya yang sedang sekarat akibat membeli suku cadang pompa air kemarin. "Seminggu penuh? Menu apa saja boleh dipesan?"
"Apa saja, Arka! Bahkan kalau lo mau pesan steak wagyu-nya tiap hari pun gue jamin!" Gendis menarik Arka ke arah kursi di depan ring light portabel yang sudah ia pasang di sudut kamar Arka dengan kecepatan kilat, seolah ia sudah merencanakan penyergapan ini sejak subuh.
"Oke, oke. Tapi jangan sampai ada penghuni lain yang tahu. Ini rahasia antara gue, lo, dan pengikut TikTok lo," gumam Arka pasrah, sambil menutup matanya dengan perasaan terhina saat Gendis mulai mendekatkan aplikator eyeliner ke wajahnya.
"Jangan gerak sedikit pun, Ka! Tahan napas! Fokus ke pikiran positif atau bayangin wagyu tadi!" Gendis bekerja dengan presisi seorang pelukis profesional yang sedang merestorasi karya agung. "Gue bakal bikin double wing yang bikin tatapan lo jadi lebih 'berbahaya' tapi tetap artistik. Ini bakal keren banget, sumpah, muka lo punya struktur tulang pipi yang bagus buat kontras hitam ini."
Selama proses itu, Arka merasa sangat konyol sekaligus rentan. Ia bisa merasakan ujung kuas yang dingin, basah, dan sedikit tajam menggelitik kelopak matanya yang sensitif. Ia terbiasa dengan oli mesin yang lengket, debu semen yang menyesakkan, dan karat besi yang kasar, tapi merasakan tinta hitam kosmetik menempel secara detail di kulitnya adalah jenis siksaan psikologis baru yang belum pernah ia bayangkan dalam mimpinya yang paling liar sekalipun.
"Selesai! Sekarang buka mata lo pelan-pelan, jangan berkedip terlalu cepat biar tintanya kering dulu," perintah Gendis dengan nada penuh kemenangan yang melengking.
Arka membuka matanya dan melihat ke arah cermin kecil yang disodorkan Gendis dengan ragu-ragu. Ia hampir tidak mengenali bayangan dirinya sendiri di cermin. Garis hitam yang tajam dan presisi memanjang dari sudut matanya, memberikan kesan misterius, dramatis, sekaligus sedikit liar pada wajahnya yang biasanya polos dan tampak kelelahan. Tatapannya memang terlihat lebih dalam, lebih gelap, seolah-olah ia baru saja keluar dari set film aksi noir atau baru saja turun dari panggung sebagai personel grup musik rock era 80-an yang pemberontak.
"Gue... gue kelihatan kayak orang yang baru aja begadang nonton anime genre horor selama tiga hari tanpa henti," keluh Arka, meski dalam hati kecilnya ia harus mengakui kalau hasil kerja Gendis memang sangat rapi dan mengubah auranya secara total.
"Lo kelihatan hot, Ka! Percaya deh sama selera gue! Sini, sekarang kita rekam reaksinya!" Gendis segera menyalakan kamera ponselnya di atas tripod mini. "Oke, Arka, sekarang coba tatap kamera dengan tatapan paling dingin dan acuh yang lo punya, terus perlahan-lahan kasih senyum tipis seolah-olah lo nggak tahu kenapa lo melakukan hal sekonyol ini. Action!"
Arka mengikuti instruksi Gendis dengan setengah hati, menekan rasa malu yang membuncah. Tapi entah bagaimana, kontras antara bahunya yang lebar, wajahnya yang maskulin, dan garis eyeliner yang tajam itu justru menciptakan visual yang sangat kuat di layar ponsel Gendis. Di tengah proses rekaman yang krusial itu, pintu kamar Arka yang ternyata tidak terkunci rapat didorong dari luar.
Ziva berdiri mematung di ambang pintu, bermaksud mengembalikan gelas minuman yang dipinjamnya kemarin. Gelas di tangannya hampir saja terlepas dari genggaman saat melihat pemandangan di depannya: Arka yang bertelanjang dada (karena Gendis bersikeras itu menambah 'vibe' maskulin yang kontras), duduk di bawah sorotan lampu putih yang menyilaukan dengan mata hitam yang sangat tajam, sementara Gendis sedang asyik merekamnya dari jarak hanya beberapa senti.
"Ar... Arka?" suara Ziva terdengar kecil, bergetar, dan penuh keheranan yang luar biasa. "Lo... lo lagi diapain sama Gendis?"
Arka langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, telinganya memerah padam hingga ke pangkal leher. "Ziv, ini nggak seperti yang lo pikirkan. Gue... gue cuma lagi ditipu dan disandera sama Gendis demi voucher makan siang."
Gendis malah tertawa lebar tanpa beban, merasa kontennya justru akan semakin organik dengan kehadiran Ziva. "Ziva! Sini liat! Arka keren banget kan? Gue nggak nyangka dia punya smize sekuat ini! Postingan ini bakal pecah dan viral! Judulnya: 'Wisma Lavender's Handyman Turns Into a Dark Prince'!"
Ziva berjalan mendekat dengan ragu, menatap wajah Arka dengan seksama dari jarak dekat. Ada rona merah tipis yang muncul di pipi Ziva saat ia melihat tatapan Arka yang kini terlihat jauh lebih intens dan berkarakter dengan riasan mata tersebut. "Lucu sih, Ka. Kamu... kamu kelihatan beda banget. Tapi kayaknya gaya eyeliner-nya memang cocok sama bentuk matamu. Jadi lebih... tegas."
"Tuh kan! Ziva yang paling jujur aja setuju!" seru Gendis penuh semangat sambil terus memutar kamera ponselnya untuk mengambil berbagai sudut.
Arka hanya bisa menghela napas panjang, membiarkan Gendis menyelesaikan pengambilan gambarnya sambil berdoa dalam hati agar tidak ada algoritma TikTok yang membawa video itu ke beranda teman-teman kuliahnya atau lebih buruk lagi, dosen pembimbing skripsinya. Baginya, menjadi pahlawan air dengan otot pegal kemarin jauh lebih mudah dijalani daripada menjadi model eksperimen hari ini. Namun, saat ia melirik Ziva yang tersenyum geli—sebuah senyum tulus yang jarang ia lihat—Arka merasa harga dirinya yang sedikit terluka itu mungkin memang sepadan dengan tawa kecil yang menghiasi wajah gadis pendiam itu.
"Oke, konten bungkus! Great job, Model!" Gendis berteriak girang sambil mulai merapikan peralatannya. "Siap-siap viral ya, Ka! Jangan lupa hapus pake cleansing oil ini, jangan coba-coba pake air biasa atau sabun muka kalau nggak mau muka lo belepotan kayak rakun kena hujan!"
Gendis pergi dengan langkah ringan dan senyum kemenangan, meninggalkan Arka yang masih duduk kaku di depan cermin, menatap sisa-sisa kegilaan Sabtu pagi itu, sementara Ziva masih tertawa kecil di ambang pintu, seolah enggan beranjak dari pemandangan aneh namun menarik tersebut. Menjadi satu-satunya pria di antara lima belas perempuan di Wisma Lavender memang tidak pernah membosankan, meski itu berarti ia harus merelakan kelopak matanya menjadi kanvas percobaan seorang influencer yang haus akan engagement.