NovelToon NovelToon
Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

"Jadi… itu maksudnya."

Amane menggigit bibirnya di balik tempat persembunyian.

"Ugh… aku sampai berpikir sejauh itu."

Ia menutup wajahnya dengan satu tangan.

"Mungkin aku harus introspeksi diri…"

Sementara itu, di depan sana Kai akhirnya menghela napas lega.

"Iya, iya… ujung-ujungnya itu toh."

Ia menggaruk pipinya dengan canggung.

"Oke, kalau kamu nggak masalah sama aku, aku ikut…"

Tak lama kemudian mereka tiba di toko kue yang dimaksud.

Keduanya duduk berhadapan di area outdoor, di bawah payung besar dengan meja kayu kecil di antara mereka.

Marina melihat ke arah Kai.

"Kai, kamu nggak pesan bom-bomnya?"

Yang ia maksud adalah dessert viral yang ukurannya hampir sebesar kepala.

Kai langsung menggeleng.

"Tidak. Aku cukup yang kecil saja."

Ia menunjuk potongan kue yang ukurannya normal.

"Ukuran sebesar itu aku tidak akan bisa menghabiskannya."

Tak lama kemudian pesanan mereka tiba.

Marina langsung mulai makan dengan lahap.

Sendoknya bergerak cepat.

Pipinya bahkan sedikit menggembung karena mulutnya penuh kue.

"Ngomong-ngomong…"

Ia berbicara sambil masih mengunyah.

"Violet sudah kembali."

Kai mengangkat alis.

"Violet?"

Ia berpikir sebentar.

"Oh… kalau tidak salah dia wakil ketua White Snow, ya?"

Marina mengangguk.

"Betul."

Senyumnya terlihat tulus.

"Akhirnya lukanya sudah sembuh."

Kai tersenyum tipis.

"Ooo… syukurlah kalau begitu."

Marina menyendok lagi kuenya.

"Jadi akhirnya aktivitas White Snow bisa dimulai lagi."

Wajah Kai terlihat ikut senang.

"Oh begitu."

"Itu kabar bagus."

Ia bergumam pelan.

"Syukurlah… dengan begini aku bisa sedikit tenang."

Namun Marina tiba-tiba menunduk sedikit.

Ekspresinya berubah murung.

"Tapi…"

"Waktu bersama Kai akan semakin berkurang."

"Kita pasti jadi jarang ketemu…"

Kai terdiam sebentar.

"Marina…"

Ia menatap gadis itu dengan sedikit heran.

"Dia sampai segitunya menganggap ku teman…"

gumam Kai dalam hati.

Namun beberapa detik kemudian Marina kembali ceria seperti biasa.

"Kai!"

Ia menunjuk mulutnya sendiri.

"Aku minta satu suap dong."

Kai langsung menghela napas.

"Boleh saja sih."

"Tapi balikin dulu momen terharu ku tadi."

Ia lalu mendorong piringnya ke arah Marina.

"Nih… sisanya buat kamu semua."

Mata Marina langsung berbinar.

"Beneran nih?"

"Kalau gitu kamu boleh nyicipin punyaku juga!"

Ia memotong sedikit kuenya.

Ia mengarahkan sendok itu ke arah mulut Kai.

"Aaaa."

Wajah Kai langsung menegang.

Pipinya memerah.

"Ga-gak usah… biar aku ambil sendiri."

"Udah, nggak apa-apa."

Sendok itu semakin dekat.

Kai semakin gugup.

Di kejauhan—

Amane yang mengintip dari balik bangunan juga ikut memerah.

"I-ini…!"

Ia menutup mulutnya.

Sementara itu Kai akhirnya menyerah.

"I-iya iya, aku mengerti…"

Ia membuka mulutnya.

Namun tepat sebelum sendok itu masuk—

sebuah suara terdengar dari belakang mereka.

"Dasar mesum."

Suara itu dingin dan tajam.

"Segera menjauh dari master sekarang."

Mereka berdua menoleh.

Seorang gadis berdiri di sana.

Ia membawa tongkat dan mengenakan jubah penyihir berwarna ungu.

Dia adalah Cecil, salah satu anggota White Snow.

Marina langsung berdiri.

Kai juga ikut berdiri perlahan.

"Tenanglah, Cecil."

Marina berkata santai.

"Kai ini temanku."

Namun Cecil justru menunjuk Kai dengan tajam.

"Jangan tertipu, Master!"

"Laki-laki itu berniat memperdaya Master!"

Kai hanya menatapnya dengan wajah datar.

Mulut Cecil masih terus berbunyi tanpa henti.

Marina menoleh ke Kai.

"Iyakah?"

Kai menoleh balik.

"Nggak, woi."

"Sudah kubilang tidak kan," kata Marina santai.

Cecil menggenggam tangannya dengan kesal.

"Hadeh… gampang banget sih percaya sama orang mesum seperti itu."

Ia menatap Marina dengan ekspresi khawatir berlebihan.

"Sebegitu percayanya kah Master padanya?"

Ia bahkan memeluk tubuhnya sendiri dramatis.

"Master itu orang yang sangat polos dan imut!"

Kai menatapnya lama.

Lalu bergumam pelan.

"Oh… jadi dia muridnya Marina."

Ia menghela napas.

"Dari ucapannya sih sepertinya dia sudah sinting."

Cecil kembali berteriak.

"Pokoknya setelah ini ada rapat darurat!"

(Itu bohong.)

"Jadi kita pulang sekarang!"

Marina terlihat ragu.

"Eh? Tapi…"

Kai hanya tersenyum kecil.

"Nggak usah dipikirkan."

"Jujur… aku memang agak sedih sih."

Marina langsung menatap meja.

"Kuenya…"

Ia melihat kue yang belum selesai dimakan.

Kai tertawa kecil.

"Salahku juga tadi malah baperan."

"Marina memang begitu orangnya tidak pernah berubah."

Marina menyentuh bibirnya.

"Padahal belum selesai ku makan…"

Ia lalu menatap Kai lagi.

"Terus… aku juga sedih harus pisah sama Kai."

Kai menatapnya.

Kali ini wajahnya benar-benar datar.

"Makasih ya."

"Tapi kalau dibilang begitu… malah bikin tambah nyesek."

Kai kemudian berjalan pulang sendirian.

"Hadeh…"

Ia menghela napas.

"Kalau terus dikejar gerombolan orang mencolok seperti itu…"

"Aku tidak akan bisa bergerak sebagai penyihir lagi."

Ia menatap langit.

"Padahal selain hari itu…"

"Aku bahkan belum bisa beraktivitas seperti biasa sebagai penyihir."

Ia berhenti berjalan sejenak.

"Demi tujuanku…"

Ia bergumam pelan.

"Mbak yang satu itu juga harus…"

Yang dimaksud Kai—

adalah Amane.

Ia sedang bersembunyi di balik sebuah kotak besar.

Tepat satu meter di belakang Kai.

Kai masih berbicara sendiri.

"Kalau aku tidak bergerak sesuai rencana…"

"Tujuanku bisa gagal."

Ia menatap ke depan.

"Jadi aku harus segera melakukan sesuatu padanya."

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti.

Di depan jalan berdiri seorang pria besar.

Tubuhnya kekar.

Ia membawa pedang besar yang hampir setinggi tubuhnya.

Kai tersenyum tipis.

"Sepertinya aku tidak perlu mencari cara…"

"untuk membuat dia keluar."

Pria itu menatapnya tajam.

"Woi bocah , kau Kai, kan?"

Kai melipat kedua tangannya lalu di letakkan ke belakang kepala dengan santai.

"...Maaf."

"Anda siapa, ya?"

Ia melirik sedikit ke belakang.

"Lagipula tidak sopan memanggil nama orang tanpa salam."

Pria itu tertawa kecil.

Lalu menancapkan pedangnya ke tanah.

Ia mengangkat kedua tangannya ke depan.

"Ups. Maaf soal itu."

Kai menyipitkan mata.

"Perasaan ini…apakah itu sihir?"

Pria itu tersenyum.

"Selama orang itu menunjukkan ketertarikan."

Ia mengangkat kedua tangannya lebih tinggi.

"Bahkan kalau aku serius…"

"kau mungkin tidak akan mati kok."

Kai menatap pria besar itu dengan sedikit heran.

"Apa yang akan dia lakukan dari jarak sejauh itu…"

gumamnya pelan.

Pria itu justru terlihat sangat bersemangat.

"Kalau begitu, biar ku perkenalkan diriku."

Ia menyeringai lebar.

"Meski agak terlambat."

Pria itu melesat maju.

Tanah di bawah kakinya retak saat ia menendang tanah dengan kekuatan penuh.

Pedang besar di tangannya terangkat tinggi.

Kai masih berdiri diam.

Bahkan ia tidak mengambil posisi bertahan.

Sebaliknya, kepalanya sedikit menoleh ke belakang.

"..."

Lalu ia bergumam pelan.

"Jadi… apa yang akan kau lakukan, Mbak yang di belakang?"

DUUM!

Benturan keras menggema di udara.

Wajah pria besar yang tadinya penuh percaya diri langsung berubah terkejut.

"Apa—?!"

Pedangnya tertahan di udara.

1
Khai
hai semua,
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!