NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUDAK DUNIA ATAU PEJUANG IBADAH

Aku menatap pintu gudang yang baru saja tertutup rapat. Keheningan mendadak terasa mencekik, hanya menyisakan suara ulat-ulat yang mengunyah media pakan, terdengar seperti detak jam yang mengejar tenggat waktu.

"Fokus, Hafiz. Fokus," bisikku pada diri sendiri.

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir bayangan Zahra yang tadi sempat membuat akal sehatku nyaris menguap. Aku harus membuktikan bahwa aku adalah pejuang ibadah, bukan budak dunia yang hanya mengejar gairah.

Tiga hari berikutnya adalah neraka dunia yang kupilih sendiri. Aku benar-benar tidak memberikan tubuhku waktu untuk protes; 20 jam sehari kuhabiskan untuk mengurus 50 kilogram ulat pesanan Pak Bima.

Media pakan harus diganti setiap beberapa jam agar ulat-ulat itu tetap sehat dan gemuk. Aku mengaduk campuran ampas kelapa dan kulit pisang fermentasi sampai telapak tanganku pecah-pecah dan berdarah.

Keringat dingin terus mengucur, membasahi kaos marbotku yang kini tak pernah kering. Mataku mulai memerah karena kurang tidur, dan kepalaku terasa seperti dipukul palu godam setiap kali aku membungkuk.

"Mas Hafiz, istirahat dulu. Wajahmu sudah seperti mayat hidup," tegur Pak Mamat saat melihatku mengangkut kotak ulat ke rak teratas.

Aku hanya menggeleng lemah, tidak punya energi bahkan untuk sekadar bicara. Dalam pikiranku hanya ada satu target: senin depan, pesanan ini harus siap tanpa cacat.

Malam keempat, tubuhku mulai memberikan sinyal bahaya yang lebih serius. Sendi-sendiku terasa linu, dan pandanganku mulai kabur, berbayang setiap kali aku menatap lampu pijar di atap gudang.

Aku memaksakan diri keluar dari gudang saat jam menunjukkan pukul 03.30 pagi. Tugas rutin marbot tidak boleh terabaikan; selasar masjid harus tetap mengkilap sebelum jamaah subuh datang.

Aku menyeret kakiku menuju keran air, mengisi ember, dan mulai mengayunkan alat pel. Setiap gerakan terasa berat, seolah-olah ada beban besi yang diikatkan di pergelangan tanganku.

"Satu baris lagi... hanya satu baris lagi," gumamku, mencoba menyemangati diri sendiri.

Dunia di sekitarku berputar hebat. Lantai masjid yang putih bersih itu seolah-olah miring ke arahku.

Lututku lemas, membentur lantai dengan keras. Aku mencoba berpegangan pada tiang masjid, namun jemariku tidak sanggup mencengkeram.

Pandanganku menggelap, suara gemericik air di kolam masjid terdengar menjauh. Aku tumbang, jatuh terjerembap di atas lantai yang baru setengah kupel.

Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan, mungkin hanya beberapa menit. Saat aku membuka mata, udara dingin subuh menusuk pori-poriku, tapi ada aroma yang kukenali.

Bukan aroma ulat, bukan aroma detergen lantai. Itu aroma sabun melati yang lembut.

Aku memaksakan diri untuk bangun dengan sisa tenaga yang ada. Di depan pintu gudang, aku melihat sebuah botol kaca berisi cairan kecokelatan dan sebuah bungkusan daun pisang yang masih hangat.

Aku merangkak mendekat, tanganku gemetar saat meraih botol itu. Ada secarik kertas kecil yang terselip di bawahnya.

“Minum jamu ini, Mas. Ini racikan Ibu untuk menambah stamina. Jangan paksa tubuhmu sampai hancur. Aku butuh kamu tetap hidup untuk menang.”

Tidak ada nama, tapi aku tahu siapa pemilik tulisan tangan rapi itu. Cairan jamu pahit itu mengalir di tenggorokanku, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

Aku melahap nasi bungkus di dalamnya dengan rakus. Setiap suapan terasa seperti suntikan nyawa baru bagiku. Zahra adalah oksigen di tengah polusi keputusasaanku.

Azan subuh berkumandang, merobek kesunyian desa. Aku berdiri di barisan paling belakang, mencoba tetap tegak meski seluruh ototku berteriak minta ampun.

Aku bisa merasakan tatapan tajam dari arah depan. Kyai Abdullah berdiri di sana, mengimami salat dengan suara yang tenang namun berwibawa.

Selesai salat, aku tidak langsung kembali ke gudang. Aku duduk bersila, menundukkan kepala dalam zikir yang panjang.

Aku tahu Kyai sedang mengamatiku dari kejauhan. Beliau berdiri di ambang pintu masjid, memperhatikan bagaimana aku yang gemetar hebat tetap berusaha khusyuk.

Beliau tidak menghampiriku, tidak juga menyapa. Beliau hanya berdiri di sana dengan tasbih yang terus berputar di jemarinya, matanya menunjukkan perpaduan antara keraguan dan rasa kagum yang disembunyikan.

"Hafiz," sebuah suara berat memecah lamunanku saat aku hendak berdiri.

Aku menoleh, Kyai Abdullah sudah berada beberapa langkah di sampingku. Aku segera menunduk hormat.

"Kamu terlihat sakit. Tidurlah sebentar," ucap beliau singkat.

"Saya harus menyelesaikan pesanan, Kyai. Janji saya pada jemaah dan kas masjid harus ditepati," jawabku dengan suara serak.

Kyai terdiam sejenak, menatap mataku yang merah dan cekung. Beliau menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti kepasrahan.

"Dunia itu dikejar untuk dicukupi, bukan untuk mematikan hati. Jangan sampai ulat-ulat itu membuatmu lupa cara bersujud dengan tenang," nasihat beliau sebelum akhirnya berlalu pergi.

Aku tertegun. Kalimat itu bukan kemarahan, tapi peringatan seorang ayah kepada anaknya.

Hari senin yang menentukan pun tiba. Pak Bima datang dengan mobil SUV-nya, tepat waktu seperti janjinya.

Aku mengangkut 50 kilogram ulat kandang kualitas super ke dalam mobilnya. Ulat-ulat itu gemuk, bergerak aktif, dan memiliki warna yang sehat—hasil dari riset malam-malamku bersama Zahra.

"Luar biasa, Hafiz! Kamu benar-benar menepati janji!" Pak Bima menepuk pundakku dengan keras, membuat tubuhku yang lemas hampir terjatuh.

Ia mengeluarkan dompetnya, menyerahkan sisa pembayaran yang jumlahnya cukup besar bagiku saat ini. Aku menerimanya dengan tangan yang masih kotor.

"Oh ya, ada satu hal lagi," Pak Bima memakai kacamatanya kembali. "Berita soal kualitas ulatmu sudah menyebar di komunitas burung kicau Jabodetabek."

Jantungku berdegup kencang. Firasatku mengatakan sesuatu yang besar akan datang.

"Minggu depan, saya tidak butuh 50 kilogram lagi," ucap Pak Bima sambil menghidupkan mesin mobilnya.

Aku mengerutkan kening. "Maksud Bapak?"

"Saya butuh 200 kilogram per minggu. Dan ada tiga rekan saya yang juga ingin memesan dalam jumlah yang sama," lanjutnya dengan seringai lebar.

Duniaku serasa berhenti berputar sejenak. 200 kilogram? Ditambah pesanan rekan-rekannya?

Itu berarti dalam seminggu aku harus memproduksi hampir satu ton ulat kandang. Kapasitas gudang tuaku tidak akan mungkin sanggup menampung itu.

"Kirim no rekeningnya, Hafiz. Uang mukanya akan saya transfer sore ini. Jangan sampai stoknya kosong!" Pak Bima melambaikan tangan dan meluncur pergi meninggalkan debu yang berterbangan.

Aku berdiri mematung di tengah pelataran masjid. Pesanan yang membengkak ini bukan lagi sekadar angin segar, ini adalah badai yang siap menenggelamkanku.

Di kejauhan, aku melihat Gus Farid berdiri di depan rumahnya, menatapku dengan tatapan gelap. Ia pasti mendengar percakapan tadi.

Senyum liciknya mengembang, seolah ia baru saja melihat mangsa yang masuk ke dalam perangkap yang ia siapkan. Aku tahu, pesanan yang membengkak ini akan menjadi celah baginya untuk menghancurkanku lewat aturan-aturan pesantren yang lebih ketat.

"Satu ton..." gumamku lirih.

Tanganku mengepal kuat. Aku harus segera menemui Zahra, tapi aku tahu Kyai Abdullah kini sedang menungguku di ruang tengah dengan daftar pertanyaan yang mungkin jauh lebih sulit daripada mengurus seribu kotak ulat.

Pesanan ini membengkak melampaui logika, dan aku sadar, ini adalah awal dari kekacauan yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!