NovelToon NovelToon
Kilat Di Atas Arrinra

Kilat Di Atas Arrinra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: Anton Firmansyah

Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: MALAM HOROR DI ISTANA

Langit di atas Ibukota Arrinra seolah ikut merasakan ketegangan yang mendidih di dalam tembok istana. Malam itu, bulan purnama tertutup oleh awan tipis yang menyerupai cakaran raksasa. Angin berhembus kencang, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang busuk—bau kamboja yang menyengat, padahal tidak ada pohon kamboja yang tumbuh di sekitar Paviliun Cendana, tempat Anton Firmansyah menginap.

Serena Arrinra berdiri di koridor gelap, matanya yang perak berkilat dalam kegelapan. Ia telah menanggalkan gaun kebesarannya. Kini, ia mengenakan pakaian tempur ninja berwarna biru gelap, dengan pedang Raijin tersampir di pinggangnya. Ia bisa merasakan getaran di udara; frekuensi energi yang sangat rendah namun mematikan.

"Paman Bram," bisik Serena tanpa menoleh.

Sosok Paman Bram muncul dari bayangan pilar. "Hamba di sini, Yang Mulia. Seluruh pengawal elit telah ditempatkan di perimeter luar, tapi seperti yang Anda duga... pedang tidak akan berguna melawan apa yang akan datang malam ini."

"Menteri Laksmana benar-benar nekat," gumam Serena, rahangnya mengeras. "Dia pikir dengan menggunakan para dukun dari wilayah Barat, dia bisa menghentikan pernikahan ini. Dia lupa bahwa petir adalah pemurni segala kegelapan."

"Hati-hati, Serena. Santet Kutukan Tujuh Turunan bukan main-main. Mereka tidak mengincarmu karena mereka tahu kekuatanmu. Mereka mengincar Anton. Dia hanyalah manusia biasa, tidak memiliki perlindungan batin."

"Itu sebabnya aku akan menjadi perisainya malam ini. Paman, jaga pintu utama. Jangan biarkan siapapun—siapapun—masuk ke paviliun ini, bahkan jika mereka membawa perintah tertulis dari dewan menteri."

Di Dalam Kamar Anton

Anton sedang duduk di tepi tempat tidur mewahnya. Ia mengenakan baju tidur sutra yang diberikan pelayan, namun ia merasa sangat tidak nyaman. Tangannya yang biasa memegang linggis dan semen kini terasa kaku memegang kain mahal.

Pintu terbuka pelan. Serena masuk, menguncinya dari dalam.

"Serena? Ada apa? Kenapa kau berpakaian seperti itu lagi?" tanya Anton, segera berdiri. "Dan... kenapa lampunya berkedip-kedip?"

Serena mendekati Anton, meletakkan tangannya di bahu pemuda itu. "Anton, dengarkan aku baik-baik. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Kau harus tetap berada di tengah lingkaran yang akan kubuat. Apapun yang kau dengar, siapapun yang memanggil namamu, jangan keluar dari lingkaran itu. Mengerti?"

Anton menelan ludah, melihat keseriusan di mata Serena. "Apakah para bangsawan itu mengirim pembunuh?"

"Lebih buruk dari pembunuh fisik. Mereka mengirim hantu-hantu hitam hasil santet. Mereka ingin membuktikan bahwa alam menolakmu bersanding denganku."

Serena kemudian menarik pedang Raijin. Ia menggoreskan ujung pedang ke lantai marmer, membentuk lingkaran sempurna yang mengelilingi Anton dan tempat tidur. Ia lalu merapalkan mantra kuno yang dipelajarinya di Puncak Ijen.

“Ohm, Tuhan guntur, lindungi bumi...”

Seketika, garis di lantai itu berpendar dengan cahaya biru neon. Percikan listrik kecil menari-nari di udara, membentuk kubah transparan yang menyelimuti Anton.

"Wow," gumam Anton, mencoba menyentuh dinding energi itu.

"Jangan disentuh! Itu listrik tegangan tinggi bagi siapapun yang memiliki niat jahat," peringat Serena.

Tiba-tiba, suhu ruangan merosot drastis. Napas mereka mulai mengeluarkan uap. Dari sudut-sudut ruangan yang gelap, asap hitam mulai merayap masuk melalui celah-celah jendela yang terkunci rapat.

"Mereka datang," desis Serena.

Serangan Makhluk Astral

Suara tawa melengking yang parau terdengar dari atap ruangan. “Hihihi... darah lumpur... darah lumpur tidak pantas di istana emas...”

Sesosok makhluk astral muncul dari langit-langit. Tubuhnya menyerupai mayat yang sudah membusuk, namun matanya kosong dan tangannya panjang dengan kuku hitam yang meneteskan cairan gelap. Ini adalah Genderuwo Ireng, hasil kiriman dukun politik Laksmana.

"Serena!" teriak Anton ketakutan saat makhluk itu terjun ke arahnya.

CRAAAAK!

Makhluk itu menghantam kubah listrik Serena dan terpental kembali ke atap. Suara raungannya memekakkan telinga, bukan seperti suara manusia, melainkan seperti gesekan logam yang berkarat.

"Hanya itu kemampuan dukun-dukunmu, Laksmana?" tantang Serena ke arah kegelapan. Ia tahu para dukun itu sedang melakukan ritual di tempat lain dan menggunakan makhluk ini sebagai medium.

Asap hitam semakin tebal. Kini tidak hanya satu, tapi muncul belasan bayangan hitam menyerupai anak kecil dengan kepala gundul dan mata merah—Tuyul Santet. Mereka merangkak di dinding, mengeluarkan suara tawa yang mengejek.

"Serena, mereka banyak sekali!" Anton memeluk bantal, mencoba tetap tenang di tengah lingkaran.

"Tetap di sana, Anton! Jangan bergerak!"

Serena melesat. Tubuhnya bergerak secepat kilat, meninggalkan jejak cahaya biru di udara. Ia menebas bayangan-bayangan itu dengan pedang Raijin. Setiap kali pedangnya menyentuh bayangan, terjadi ledakan listrik kecil yang menghanguskan makhluk-makhluk itu menjadi abu hitam.

Namun, hantu-hantu itu seolah tidak ada habisnya. Saat satu musnah, dua lainnya muncul dari bayangan furnitur.

"Mereka menyedot energiku melalui emosi ketakutanmu, Anton!" teru Serena sambil menendang salah satu hantu yang mencoba menggigit kakinya. "Jangan takut! Anggap saja mereka hanyalah debu semen yang harus kau bersihkan!"

Anton menarik napas dalam. "Debu semen... baiklah. Mereka cuma debu!"

Anton menutup matanya, mulai merapalkan doa-doa sederhana yang biasa ia ucapkan sebelum bekerja di proyek jembatan. Anehnya, saat ketakutan Anton mereda, cahaya kubah pelindung Serena justru semakin terang.

Manipulasi Pikiran

Tiba-tiba, hantu-hantu itu berhenti menyerang fisik. Mereka berubah bentuk. Kabut hitam di depan kubah Anton bergumpal, membentuk sosok seorang wanita tua yang sangat dikenal Anton.

"Anton... anakku..." suara itu terdengar sangat lembut dan penuh kerinduan.

Anton membuka matanya. Ia terbelalak. "Ibu?"

"Anton, ikut Ibu, Nak. Tempat ini bukan untukmu. Lihatlah wanita itu," sosok ibunya menunjuk ke arah Serena yang sedang bertarung. "Dia bukan manusia. Dia monster petir. Dia akan menghancurkanmu. Mari pulang ke gubuk kita yang tenang..."

"Ibu? Tapi Ibu sudah meninggal sepuluh tahun lalu..." Anton mulai melangkah menuju tepi lingkaran, tangannya terjulur.

"Anton, TIDAK! Itu ilusi!" teriak Serena. Ia mencoba mendekat, namun sepasang tangan hitam raksasa muncul dari bawah lantai, mencengkeram kakinya. "Argghh!"

"Ayo, Nak... hanya satu langkah lagi. Keluar dari lingkaran itu dan Ibu akan membawamu jauh dari rasa sakit ini," rayu sosok ibu palsu itu.

"Anton, jangan dengarkan dia!" Serena berteriak, ia melepaskan ledakan listrik dari tubuhnya untuk menghancurkan tangan hitam yang membelitnya. "Ingat apa yang kita bangun! Ingat jembatan itu! Ingat anak-anak yatimmu!"

Anton berhenti tepat di garis listrik yang berpendar. Ia menatap wajah ibunya yang tampak begitu nyata, namun ia melihat sesuatu yang salah. Di balik mata ibunya, ada kilatan kebencian yang sama dengan mata Menteri Laksmana.

"Ibuku selalu bilang..." Anton berujar pelan, suaranya mulai mantap. "Bahwa aku harus menjadi pria yang jujur. Dan pria yang jujur tidak akan meninggalkan wanitanya di tengah badai karena rasa takut."

Anton meludahi sosok itu. "Kau bukan ibuku! Kau hanya kotoran politik!"

Seketika, sosok ibunya berubah menjadi tengkorak yang menjerit dan meledak menjadi asap hitam.

Puncak Ritual: Sang Banaspati

Marah karena tipu muslihat mereka gagal, para dukun di luar istana mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Di tengah kamar, asap hitam berkumpul membentuk bola api raksasa yang tidak panas, melainkan memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Dari dalam bola api itu muncul Banaspati Geni, raja dari segala santet kiriman.

"Serena Arrinra..." suara Banaspati itu bergetar, meruntuhkan beberapa hiasan dinding. "Kau menantang takdir darahmu. Malam ini, kau akan melihat kekasihmu hangus menjadi abu."

Banaspati itu meluncurkan bola-bola api hitam ke arah kubah Anton. Setiap hantaman membuat seluruh paviliun bergetar hebat. Retakan mulai muncul di lantai marmer, memutus garis lingkaran yang dibuat Serena.

"Lingkarannya retak!" teriak Anton.

Kubah listrik mulai berkedip-kedip dan memudar. Serena tahu ia harus mengambil risiko besar.

"Anton, pegang tanganku!" Serena melompat masuk ke dalam lingkaran yang mulai hancur.

"Tapi kau bilang jangan disentuh!"

"Sekarang tidak apa-apa! Aku akan menyalurkan energiku langsung ke tubuhmu agar kau memiliki perlindungan batin sementara!"

Serena menggenggam tangan Anton erat-erat. Anton merasakan sensasi luar biasa—seolah-olah ada jutaan jarum kecil yang menusuk kulitnya, diikuti dengan rasa hangat yang menjalar ke jantungnya. Rambutnya berdiri tegak karena listrik statis.

"Sekarang, rasakan kekuatanku!" Serena mengangkat pedang Raijin tinggi-tinggi. "Wahai Langit Arrinra, pinjamkan aku murkamu!"

Atap paviliun tiba-tiba tersambar petir dari luar. Petir itu menembus atap, mengenai bilah pedang Serena, dan terpantul ke seluruh penjuru ruangan.

BOOOOOOMMM!

Ledakan cahaya putih yang menyilaukan memenuhi kamar. Suara teriakan makhluk-makhluk astral itu menghilang, digantikan oleh suara guntur yang memekakkan telinga.

Kemenangan Di Balik Reruntuhan

Beberapa saat kemudian, suasana menjadi sunyi. Asap hitam telah lenyap. Suhu ruangan kembali normal. Kamar itu kini berantakan; jendela pecah, perabotan hangus, dan atapnya berlubang besar.

Serena jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal. Energinya terkuras habis. Anton segera menangkapnya.

"Serena! Kau tidak apa-apa?" Anton memeluknya erat.

Serena tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya di dada Anton yang bidang. "Kita berhasil, Anton. Kutukan itu telah patah. Dan karena aku membalikkan serangannya tadi, para dukun yang mengirimnya pasti sedang muntah darah sekarang."

"Maafkan aku," bisik Anton. "Karena aku, kau harus menderita seperti ini."

"Jangan minta maaf. Ini adalah harga yang harus kubayar untuk memilih jalan yang benar," sahut Serena. "Besok, seluruh kekaisaran akan tahu bahwa tidak ada setan atau politik manapun yang bisa memisahkan kita."

Tiba-tiba, pintu paviliun didobrak. Paman Bram masuk dengan pedang terhunus, diikuti beberapa pengawal. Ia terpaku melihat kondisi kamar yang hancur lebur.

"Yang Mulia! Kami mendengar suara ledakan..." Bram berhenti bicara saat melihat Serena berada di pelukan Anton. "Apakah... apakah sudah selesai?"

"Sudah, Paman," Serena berdiri dengan bantuan Anton, meski kakinya masih sedikit lemas. "Tangkap Menteri Laksmana besok pagi. Gunakan bukti sisa-sisa abu hitam ini. Katakan padanya, jika dia ingin bermain dengan api, aku adalah badai yang akan memadamkannya."

Bram menunduk hormat. "Siap, Yang Mulia. Tapi... bagaimana dengan pernikahan? Rakyat akan bertanya-tanya tentang lubang di atap ini."

Serena menatap Anton, lalu kembali menatap Bram. "Katakan pada rakyat, semalam alam telah menguji sang calon mempelai pria, dan alam telah memberikan restunya melalui sambaran petir. Kita akan mengadakan pesta yang paling meriah dalam sejarah Arrinra."

Diplomasi di Balik Luka

Malam horor itu berakhir, namun dampaknya baru saja dimulai. Di kediamannya, Menteri Laksmana memang ditemukan jatuh pingsan dengan darah hitam keluar dari telinganya—akibat dari serangan balik Serena. Faksi bangsawan konservatif kini kehilangan pemimpin dan ketakutan.

Anton membantu Serena berjalan menuju balkon yang kini hancur sebagian. Mereka menatap fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur Ibukota Arrinra.

"Anton," panggil Serena lembut.

"Ya?"

"Setelah ini, tidak akan ada lagi rahasia. Semua orang tahu kau adalah kelemahanku, tapi mereka juga tahu bahwa untuk menyentuhmu, mereka harus melewati petirku."

Anton menggenggam tangan Serena. "Dan aku akan belajar, Serena. Aku tidak ingin hanya dilindungi. Aku akan belajar bagaimana caranya menjadi pendamping yang kuat bagimu, meski tanpa kekuatan sihir. Aku akan menjadi fondasi jembatanmu, agar kau tidak jatuh saat badai datang lagi."

Serena tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak ia turun dari Gunung Ijen, ia merasa benar-benar aman. Bukan karena kekuatannya sendiri, tapi karena ada seseorang yang sudi berbagi beban takhta yang berat itu bersamanya.

Malam horor di istana telah membuktikan satu hal: kasta hanyalah ciptaan manusia yang ketakutan, sementara cinta adalah kekuatan yang diakui oleh semesta. Persiapan Pernikahan Agung pun dimulai, menandai awal dari era baru bagi Kekaisaran Ser seluas 2 juta kilometer persegi tersebut.

1
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!