Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Gerbang besi tempa setinggi lima meter yang dihiasi ukiran mawar berduri menjulang angkuh di hadapan mereka. Saat Rolls-Royce hitam itu melaju perlahan memasuki pekarangan, Anya tak bisa menyembunyikan decak kagumnya—sekaligus rasa ngerinya.
"Gila. Ini rumah atau kastil drakula?" gumam Anya sambil menempelkan hidungnya ke kaca jendela mobil. Di luar sana, air mancur marmer yang megah memuntahkan air ke udara, sementara puluhan pria berjas hitam dengan earpiece dan pistol tersembunyi di balik jas mereka berdiri mengawasi setiap sudut pekarangan.
Kaelan yang duduk di sebelahnya hanya mendengus pelan, matanya tetap terpaku ke depan, sedingin es. "Ini Mansion Utama Klan Obsidian. Jangan bertingkah kampungan. Ingat kesepakatan kita."
Anya menarik hidungnya dari kaca dan bersedekap, gaya tomboynya kembali muncul meski ia kini dibalut gaun malam burgundy yang mewah. "Aku tahu, Tuan Mafia. Satu miliar menungguku. Kau cukup siapkan saja mental keluargamu."
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama berbahan kayu jati solid yang diukir rumit. Seorang pelayan tua dengan seragam rapi segera membukakan pintu untuk Kaelan, lalu beralih ke sisi Anya.
Kaelan melangkah keluar lebih dulu, auranya langsung berubah menjadi gelap dan mendominasi seketika kakinya menjejak tanah. Ia berbalik, mengulurkan tangannya yang besar ke arah Anya yang masih kikuk dengan sepatu stiletto tujuh sentimeternya.
"Pegang tanganku," perintah Kaelan pelan, suaranya tak sedingin tadi, nyaris terdengar seperti... permintaan.
Anya menatap uluran tangan itu, lalu menatap wajah tegas Kaelan. Sesaat, jantungnya yang biasa berdetak santai seperti lagu reggae, mendadak bertalu-talu seperti drummer band metal. Dengan ragu, tangan Anya yang terbiasa mengepalkan tinju dan mengangkat nampan berat itu, kini bertengger mungil di atas telapak tangan Kaelan yang hangat dan kokoh.
"Kalau aku jatuh dan kaki ini patah, kau harus bayar biaya rumah sakit di luar kontrak satu miliar kita," ancam Anya setengah berbisik.
Kaelan menarik sudut bibirnya, sebuah seringai yang sangat tipis hingga tak ada yang menyadarinya selain Anya. "Aku jamin kau tidak akan jatuh. Tapi kalau kau membuat malu, aku akan membuangmu ke kolam buaya peliharaan kakekku di belakang."
"Sialan," umpat Anya pelan, mengerat genggaman tangannya pada Kaelan seolah ingin meremukkan tulang pria itu. Tapi anehnya, genggaman Kaelan justru membalasnya dengan erat dan melindungi.
Mereka melangkah masuk ke dalam mansion. Langit-langit tinggi, lampu gantung kristal raksasa, dan lukisan-lukisan klasik menyambut mereka. Namun, bukan keindahan itu yang membuat bulu kuduk Anya meremang, melainkan atmosfer di dalam ruang makan utama.
Ruangan itu didominasi oleh meja mahoni panjang. Di sekelilingnya, duduk lima pria tua berwajah keras dan bersorot mata setajam silet. Mereka adalah para Tetua. Di ujung meja yang berlawanan dengan kursi Kaelan, duduk seorang wanita muda berambut pirang ikal dengan gaun putih yang anggun bagai malaikat. Isabella dari klan Vivaldi.
Suasana langsung senyap saat Kaelan masuk, masih menggenggam erat tangan Anya. Semua mata tertuju pada mereka, terutama pada Anya. Tatapan para Tetua beralih dari ujung rambut wolf-cut Anya yang edgy, turun ke bahunya yang tegap, lalu ke gaun burgundy yang menonjolkan auranya yang liar namun menawan.
Anya balas menatap mereka satu per satu. Ia tidak menunduk, tidak membuang muka. Ia menatap para mafia tua itu dengan rahang mengeras dan dagu terangkat, persis seperti yang Kaelan perintahkan, atau mungkin... memang begitulah sifat aslinya. Ia adalah Anya, si preman pasar.
"Kaelan," salah satu Tetua—Paman Arthur—memecah keheningan dengan suara serak yang menggelegar. "Kami sedang menunggumu dan Isabella untuk membicarakan tanggal pernikahan. Tapi kau... membawa pelacur dari mana ke ruang makan suci ini?"
Udara di ruangan itu mendadak turun beberapa derajat. Rahang Kaelan mengeras, matanya berkilat membunuh, dan ia baru saja akan membuka mulut untuk membalas ucapan pamannya.
Namun, sebelum Kaelan sempat bersuara, Anya sudah bertindak.
Gadis tomboy itu melepaskan genggaman tangan Kaelan dengan cepat. Ia berjalan mendekati meja, menarik sebuah kursi kosong dengan kasar hingga kaki kursi bergesekan keras dengan lantai marmer, menciptakan suara melengking yang memekakkan telinga.
SREEEK!
Semua orang terperanjat. Beberapa pengawal di sudut ruangan nyaris menarik pistol mereka. Isabella tersentak kaget sambil menutup mulutnya.
Anya duduk dengan santai di kursi itu, menyilangkan kakinya yang jenjang, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam langsung ke mata Paman Arthur.
"Dengar, Pak Tua," ucap Anya dengan nada suara rendah namun sangat jelas, sama sekali tidak gentar. "Pertama, aku bukan pelacur. Aku adalah wanita yang baru saja dipaksa menandatangani kontrak seumur hidup—maksudku, dinikahi oleh keponakanmu yang sok berkuasa itu. Kedua..."
Anya menunjuk hidung Paman Arthur, sebuah gestur yang sangat tabu dilakukan pada seorang Tetua.
"...kalau mulutmu yang bau tanah itu memanggilku pelacur sekali lagi, aku akan memastikan gigi palsumu tertelan sebelum kau sempat mengedipkan mata. Paham?"
Hening.
Kesunyian yang mematikan menyelimuti ruangan itu. Para Tetua membeku, wajah mereka pucat pasi bercampur merah padam menahan murka. Isabella menatap Anya dengan horor. Tak ada seorang pun dalam sejarah Klan Obsidian yang berani mengancam seorang Tetua.
Kaelan berdiri di tempatnya, matanya terpaku pada sosok Anya. Di balik wajah datarnya yang mematikan, jantung sang mafia berdetak liar. Sesuatu di dalam dadanya bergejolak. Rasa bangga? Kekaguman? Atau mungkin... ketertarikan yang gila?
Gadis tomboy di depannya ini bukan hanya tameng yang sempurna, tapi juga sebuah dinamit yang siap meledakkan seluruh aturan klan mafianya. Dan Kaelan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sangat menikmati pertunjukan ledakan itu.
"Nah, sekarang," Anya bersandar kembali ke kursinya dengan senyum miring yang sangat menyebalkan. "Di mana makan malamnya? Aku lapar sekali."
Kaelan mendengus pelan, menekan senyumnya yang nyaris merekah, lalu berjalan mendekati kursinya di ujung meja. "Bawakan makanan untuk istriku," perintah Kaelan dingin pada para pelayan yang masih gemetar. "Dan beri tahu koki, dia suka daging panggang ukuran besar. Well-done."
Malam itu, di tengah tatapan penuh kebencian dari para serigala tua, Kaelan tahu ia telah memenangkan pertempuran pertama. Dan Anya, si pelayan bar yang miskin, baru saja memulai masa jabatannya sebagai Nyonya Mafia yang paling ditakuti.