NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Pintu yang Terbuka

Pagi itu, untuk pertama kalinya, Huang Shen membuka pagar kebun dengan tangannya sendiri.

Bocah itu sudah menunggu di luar sejak entah kapan, berdiri dengan posisi khas yang sudah Mu Qingxue hapal: berat badan bertumpu di satu kaki, tangan lain memegang bilah pagar, leher menjulur ke depan mencoba melihat ke dalam. Saat Huang Shen membuka pintu pagar, bocah itu mundur satu langkah karena kaget, lalu matanya langsung berbinar-binar.

Huang Shen tidak mengucapkan apa pun. Hanya melangkah ke samping dan bocah itu masuk seperti air yang akhirnya menemukan celah. Kakinya berlari kecil-kecil ke arah bedengan sayuran, berjongkok di depan tanaman tomat yang mulai berbuah, lalu mendongak ke arah Huang Shen dengan ekspresi seseorang yang baru saja mendapat hadiah tapi tidak yakin apakah boleh membukanya.

“Aku boleh pegang tidak, Kak Huang Shen?”

Huang Shen sudah berjalan kembali ke cangkulnya. “Yang penting jangan dicabut.”

“Iya!” Bocah itu tidak mencabut. Tapi tangannya menyentuh setiap tanaman dengan cara yang membuat Mu Qingxue, yang mengamati dari pintu dapur, harus menahan senyum agar tidak ketahuan terlalu senang.

Setelah hari itu, bocah itu datang setiap pagi.

Adapun kehadirannya mengisi bagian-bagian rumah kayu itu yang selama tiga tahun tidak pernah terisi. Suara langkah kaki yang terburu-buru. Berceloteh tanpa jeda tentang hal-hal yang dilihatnya di jalan. Suara sendok yang diketuk-ketukkan ke tepi mangkuk karena tidak sabar menunggu makanan.

Manakala Huang Shen pergi untuk “bekerja”, bocah itu merengek pada Mu Qingxue. “Kemana Kak Huang Shen? Kapan pulang? Aku mau tanya caranya menanam labu.”

“Nanti malam,” jawab Mu Qingxue, dan bocah itu menggembungkan pipi tapi tetap duduk di beranda sambil menunggu.

Dia sudah punya mangkuk sendiri di meja makan. Sudah tahu di mana letak kain lap dapur. Sudah hafal bahwa Huang Shen tidak suka kalau ada yang bicara terlalu keras di pagi hari. Sudah belajar bahwa cara terbaik berada di dekat Huang Shen adalah dengan tidak meminta terlalu banyak sekaligus.

Sementara Mu Qingxue merawatnya seperti yang sudah lama ingin dia lakukan tapi tidak punya wadahnya. Memastikan bajunya tidak basah kena embun pagi. Menyiapkan makanan sedikit lebih banyak dari biasanya. Mengingatkannya pulang sebelum langit gelap, dan menatap punggungnya pergi dengan perasaan yang tidak punya nama tapi terasa seperti kehilangan kecil setiap sore.

Huang Shen pun membiarkan semua itu terjadi.

Tidak berkomentar. Tidak melarang. Tidak pula tersenyum.

Matanya sesekali mengikuti bocah itu ketika anak itu bergerak di kebun, bukan dengan cara seorang yang menikmati pemandangan, tapi dengan cara yang lain. Cara yang Mu Qingxue tidak langsung mengenalinya, tapi kalau sudah dikenali, akan sulit untuk dilupakan.

Seperti seseorang yang mengamati sesuatu untuk dipahami sepenuhnya sebelum diputuskan.

Hingga suatu malam, setelah bocah itu tertidur di ruang tamu dengan selimut yang diambilkan Mu Qingxue dari dalam lemari, Huang Shen duduk di kursi dekat jendela.

Mu Qingxue baru meletakkan lampu minyak di meja ketika Huang Shen bicara.

“Gagak itu bukan kejadian biasa.”

Mu Qingxue duduk. Dia ingat malam itu. Ribuan burung mati berserakan di halaman, bulu-bulu hitam yang menutupi tanah sampai pagi. Gulungan kertas kecil yang Huang Shen bawa masuk dengan tangan yang tidak berubah ekspresinya sedikit pun.

“Sekte Iblis Hitam?” tanyanya lirih.

“Mereka mengirim pesan. Dan mereka mengirim sesuatu yang lain.” Huang Shen memandang ke arah pintu ruang tamu yang tertutup. “Sekte itu punya teknik yang disebut Penyamaran Iblis. Mereka bisa menanamkan ruh kecil ke dalam manusia. Bukan mengambil alih. Hanya menempel dan membuat pembawanya tidak sadar bahwa mereka membawa sesuatu, dan membuat ruh itu bisa melihat, mendengar, dan melaporkan.”

Mu Qingxue menunggu. Dadanya sudah lebih dulu mengerti ke mana arah kalimat itu.

“Bocah itu,” tutur Huang Shen begitu datar. “Bukan anak biasa.”

Keheningan lantas turun di antara mereka seperti sesuatu yang berat.

“Tidak mungkin,” tampik Mu Qingxue, suaranya keluar lebih keras dari yang dia rencanakan. Dari dalam ruang tamu tidak ada suara karena bocah itu masih tidur. “Dia hanya anak empat belas tahun. Dia datang ke sini karena penasaran, karena—”

“Karena dikirim,” tukas Huang Shen. “Atau lebih tepatnya, karena ruh itu membawanya ke sini. Anak itu sendiri tidak tahu. Tapi Sekte Iblis Hitam tahu semuanya.”

Mu Qingxue menatap pintu ruang tamu itu.

Mengingat caranya melambaikan tangan dari balik pagar. Mengingat tawanya saat pertama kali diizinkan masuk ke kebun. Mengingat suaranya memanggil “Kak Huang Shen” dengan nada yang tidak pernah terdengar seperti penyamaran.

“Kau yakin?”

Huang Shen tidak perlu menjawab itu.

“Kau tidak bisa.” Mu Qingxue seketika berdiri. “Dia hanya anak kecil. Apapun yang ditanam di dalam dirinya, itu bukan salahnya. Kau tidak bisa membunuhnya karena—”

“Aku sengaja membiarkan dia masuk,” sela Huang Shen. Tidak ada nada marah apalagi pembelaan diri. Hanya fakta yang diletakkan di atas meja seperti benda yang memang miliknya sejak awal. “Agar aku bisa membunuhnya.”

Mu Qingxue tidak bergerak selama beberapa detik. Lalu kakinya tidak lagi kuat menopang semuanya.

Dia turun ke lantai dengan sadar, lututnya menyentuh papan kayu yang sudah hafal bentuk kakinya, dan tangannya meraih ujung jubah Huang Shen yang tergantung tenang di samping kursinya.

“Kumohon,” tangisnya. “Dia tidak tahu apa-apa. Dia memanggil namamu. Dia belajar tidak mencabut tanamanmu. Dia… .” suaranya pecah di tengah. “Dia senang di sini. Itu nyata. Aku tahu mana yang nyata dan yang tidak. Ampunilah anak malang itu.”

Huang Shen tidak menarik jubahnya. Tapi juga tidak duduk.

“Ada cara lain,” lanjut Mu Qingxue, mencari-cari sesuatu di antara kata-kata yang berhamburan. “Kau bisa keluarkan ruhnya. Kau bisa biarkan dia pergi. Kau bisa—”

“Ruh itu sudah terlalu dalam,” papar Huang Shen. “Mencabutnya akan membunuh pembawanya sama saja dengan membunuhnya langsung.”

“Maka biarkan dia pergi!” cecar Mu Qingxue, air matanya kini ketara sekali jatuh. “Biarkan ruh itu pergi bersamanya! Sekte itu sudah tahu lokasimu, apa bedanya kalau… .”

“Bedanya adalah ruh itu sudah melihat segalanya di sini. Termasuk sesuatu yang tidak boleh dilihat.”

Mu Qingxue pun tidak bisa menjawab itu.

Dia tahu apa yang dimaksud. Gerbang. Tekniknya. Cara kerjanya. Semua yang selama tiga tahun dijaga lebih rapat dari rahasia mana pun.

Oleh karena itu, tangannya mengencangkan genggamannya di jubah itu. “Kumohon,” ulangnya, lebih pelan, lebih serak. “Kumohon, Huang Shen. Bukan karena aku tidak mengerti. Tapi karena aku tidak bisa melihatmu melakukan ini.”

Huang Shen menatapnya dari atas, matanya yang merah itu memandang ke bawah dengan cara yang tidak berubah sedikit pun sejak kalimat pertama.

Lalu dia melangkah.

Jubahnya lepas dari genggaman Mu Qingxue karena dia berjalan, bukan karena ditarik. Langkahnya melewatinya, melewati meja, melewati lampu minyak yang membuat bayangannya memanjang di dinding.

Mu Qingxue tidak bangkit. Tidak ada tenaga untuk itu.

“Jangan… .” bisiknya. Hanya itu. Diulang lagi. “Jangan… .”

Langkah Huang Shen berhenti di depan pintu ruang tamu, menyentuh gagangnya dan memutarnya.

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
DanaBrekker: Memang di novel ini sengaja aku buat bertahap penjelasan kultivasinya, mengikuti perjalanan Huang Shen 😄

Tapi kalau mau lihat urutan lengkapnya bisa lihat di bawah ini ;

1. Pemurnian Qi
2. Pembentukan Dasar
3. Inti Emas
4. Jiwa Baru
5. Pembentuk Jiwa
6. Transformasi Jiwa
7. Manusia Abadi
8. Emas Keabadian
9. Keabadian Agung
10. Dewa Purba
11. Puncak Keabadian

Huang Shen saat ini di Inti Emas level 8. Terima kasih atas pertanyaannya. 👍
total 1 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!