NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Menanamkan Benih Perlawanan

Malamnya, hawa pengap bercampur bau obat gosok menyengat hidung begitu Sukma dan Syaiful melangkah masuk.

Di atas amben bambu reyot yang beralas tikar pandan robek, Mak Karman duduk bersandar lemas.

Lebam ungu kehitaman menghiasi pelipis kanannya, bibirnya pecah, dan lengannya dibalut kain perca seadanya.

Bik Pon, adik iparnya yang setia, sedang menyuapkan bubur encer ke mulut Mak Karman dengan telaten.

Bayangan temaram dari lampu teplok minyak tanah menari-nari di dinding anyaman bambu, menambah kesan suram ruangan itu.

"Mbakyu Sukma... kok repot-repot ke mari malam-malam?" sapa Bik Pon, suaranya bergetar.

Ia buru-buru meletakkan mangkuk bubur ke atas dipan dan menarik kursi kayu pendek untuk Sukma.

"Duduk dulu, Mbakyu. Maaf, rumahnya berantakan tenan iki."

"Ndak usah repot-repot, Pon." Sukma menahan tangan Bik Pon yang hendak berjalan ke dapur.

"Aku cuma mampir sebentar. Mau lihat kondisinya Mak Karman. Ya Allah... kok sampai koyok ngene tho, Mak?"

Mak Karman memaksakan senyum getir. Ujung bibirnya berkedut menahan perih.

"Ndak apa-apa, Mbakyu Sukma. Iki wes nasibku. Namanya juga numpang hidup di rumah mertua. Sing penting... matur nuwun pisan ya, Mbakyu, buat pentol daginge semalam. Ya Allah, seumur hidupku baru ngerasain daging seenak itu. Anak-anakku sampai nangis keenakan."

Air mata Mak Karman menetes perlahan, bukan karena sakit fisik, tapi karena rasa haru yang mendalam.

Bik Pon ikut mengangguk cepat. "Iya, Mbakyu. Gusti Allah sing mbales kebaikanmu. Yanto anakku sampai ndak mau cuci tangan saking wanginya bau kaldu sapi."

Sukma menghela napas panjang. Hatianya mencelos. Di masa depan, daging sapi adalah hal biasa. Tapi di era 90-an yang serba sulit ini, apalagi bagi keluarga miskin seperti mereka, sepotong daging adalah kemewahan tak ternilai.

Tangannya merogoh tas selempang kain yang ia bawa, lalu menarik keluar sebuah bungkusan plastik hitam.

"Iki, Mak. Ada sedikit rezeki." Sukma meletakkan bungkusan itu di pangkuan Mak Karman.

"Isinya gula merah setengah kilo sama roti sobek lima biji. Ojo ditolak lho. Dulu Mak Karman sama Bik Pon sering ngasih singkong ke Sigit pas bocah iku kelaparan. Iki dudu sedekah, iki balas budi."

Mak Karman membelalak kaget. Tangannya yang gemetar meraba bungkusan itu. "Gusti... iki terlalu mewah, Mbakyu. Gula merah sekarang harganya mahal tenan. Kulo ndak enak..."

"Wes to, terima wae." Sukma menepuk pelan punggung tangan Mak Karman.

"Sembunyikan sing rapat. Jangan sampai Mbah Yem atau Sumi tahu. Apalagi Kang Sardi."

Menyebut nama Kang Sardi, raut wajah Bik Pon langsung berubah sinis.

"Bener iku, Mbak. Lek sampai Mas Sardi tahu, pasti dirampas buat dituker rokok klobot nang warung! Mbakyu Sukma lihat sendiri kelakuane wong iku... istrine dipukuli emake dewe, de'e malah enak-enakan ngopi!"

Mak Karman menunduk dalam, air matanya menetes lebih deras membasahi tikar.

Rasa malu sebagai seorang istri yang tak dibela suaminya sendiri benar-benar menghancurkan harga dirinya.

Sukma menatap lekat wajah hancur perempuan di depannya itu. Logika masa depannya memberontak.

Di tahun 2026, laki-laki macam Sardi sudah pasti habis digugat cerai dan diviralkan di media sosial.

Tapi ini tahun 1990 di pelosok desa. Nilai patriarki dan dominasi mertua masih sangat kental.

"Mak Karman," panggil Sukma lembut, tapi suaranya membawa ketegasan yang tak terbantahkan.

Mak Karman mendongak, menatap Sukma dengan mata sembab.

"Koen tahu kenapa Mbah Yem berani mukul Koen sampai koyok ngene?" tanya Sukma.

Mak Karman menggeleng lemah. "Karena aku nyimpen pentol daging trus ndak ngasih buat mertuaku, Mbakyu..."

"Bukan." Sukma memotong cepat. "Mbah Yem berani mukul Koen karena dia tahu Kang Sardi ndak bakal belain Koen! Dia tahu Koen ndak punya harga diri di mata suamimu sendiri!"

Kata-kata Sukma meluncur tajam seperti pisau bedah, membelah luka lama yang selama ini dikubur Mak Karman. Bik Pon menahan napas, tak berani menyela.

"Mak Karman, dengar baik-baik." Sukma mencondongkan tubuhnya, menatap lekat bola mata perempuan malang itu.

"Mungkin Koen merasa wajar dihajar karena ini rumah mertuamu. Tapi ingat, Yani... anak perempuanmu yang masih kecil itu... dia lihat ibunya dipukuli sampai berdarah-darah. Koen mau Yani tumbuh mikir kalau perempuan itu wajar dipukuli sama keluarga suaminya?"

Mak Karman terkesiap. Bayangan wajah Yani yang pucat pasi dan gemetar di pojokan kamar tadi pagi berkelebat di benaknya. Tangis Yani bahkan tak bersuara saking takutnya.

"Yani... anakku..." Mak Karman terisak pilu.

"Koen harus berani ngomong, Mak!" tekan Sukma.

"Kalau Kang Sardi minta jatah makan enak, suruh dia kerja sing bener! Jangan cuma ngarep keringetmu! Kalau Mbah Yem mulai ringan tangan lagi, Koen teriak! Biar tetangga denger! Koen dudu budak nang omah iki!"

Bik Pon mengangguk bersemangat, air matanya ikut menetes. "Bener omongane Mbakyu Sukma, Mbak Karman! Koen ndak dewean. Ada aku. Koen kudu wani ngelawan demi anak-anak!"

"Aku... aku wedhi, Mbakyu..." Mak Karman berbisik putus asa.

"Nek aku diusir piye?"

"Diusir? Bagus!" Sukma menyela tegas.

"Mending Koen bawa anak-anakmu minggat, numpang di gubuk pinggir sawah, tapi waras dan tenang! Timbang nang kene, makan ati, awak bonyok kabeh! Koen gelem Yani gedenya dinikahi wong lanang koyok Sardi?!"

Tamparan realita itu telak menghantam Mak Karman. Ia membayangkan Yani, putri kecil kesayangannya, mengalami nasib serupa di masa depan.

Seketika, raut wajah memelas Mak Karman perlahan mengeras. Tangannya mengepal kuat di atas pangkuannya. Ada percikan keberanian yang baru saja tersulut di sana.

"Ndak, Mbakyu. Aku ndak mau Yani nasibnya koyok aku." Suara Mak Karman tak lagi bergetar.

Sukma tersenyum tipis.

Puas.

Ia tahu, mengubah mentalitas perempuan tertindas di era ini tak bisa instan. Tapi menanamkan benih perlawanan demi anak adalah cara paling jitu.

"Bagus. Lekas sembuh, Mak Karman. Uang dari Bu Kades tadi pagi dilarungkan buat kebutuhanmu sama anak-anak wae. Lek Sardi minta, ojo dikasih!" pesan Sukma final.

Malam semakin larut. Sukma pamit pulang setelah memastikan bungkusan gula dan roti disembunyikan Bik Pon di dalam lipatan baju kotor.

Ia menggandeng tangan kecil Syaiful, berjalan menyusuri jalan setapak desa yang hanya diterangi cahaya bulan sepotong.

Pohon-pohon bambu berderit ditiup angin malam, menciptakan bayangan-bayangan aneh di atas tanah berdebu.

"Ibu... aku takut..." Syaiful mencengkeram erat jari ibunya. Balita itu berjalan setengah berlari, berusaha menyamai langkah Sukma.

"Ndak ada apa-apa, Le. Cuma suara angin," hibur Sukma, tangannya mengelus kepala Syaiful pelan.

Tiba-tiba, dari balik semak belukar rimbun di dekat poskamling kosong, sebuah bayangan hitam melesat keluar.

Brukk!!

Bayangan itu tersandung akar pohon asam yang menonjol dan jatuh telungkup menghantam tanah berbatu tepat di depan kaki Sukma.

"Astaghfirullah!" Sukma terlonjak mundur, refleks menarik Syaiful ke belakang tubuhnya. Jantungnya berdetak liar.

Logikanya langsung memikirkan kemungkinan begal atau preman kampung.

Syaiful menjerit tertahan, menyembunyikan wajahnya di balik daster Sukma.

"Ibu! Ono hantu cebol!" tunjuk Syaiful gemetar.

Sosok yang jatuh itu merintih tertahan. Ia tak bangkit, hanya menggeliat kesakitan memegangi pergelangan kakinya.

Sukma menyipitkan mata, menembus kegelapan. Posturnya terlalu kecil untuk ukuran orang dewasa.

Perlahan, sosok itu mengangkat kepalanya. Sinar rembulan menerangi separuh wajahnya yang berlumur debu dan keringat dingin.

Mata Sukma membelalak.

"Gito?!"

1
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
SENJA
pinter sukma 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!