NovelToon NovelToon
Terjebak Perjodohan

Terjebak Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mamoruuu

Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.

Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.

Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perdebatan Singkat

Setelah berendam dan berpakaian dengan baju yang disiapkan Michi—sebuah gaun pendek berwarna biru muda dengan renda halus di bagian lengan—Rara merasa tubuhnya masih belum nyaman. Setiap langkahnya terasa berat karena pikiran yang masih berkutat pada pertemuan tadi dengan Aksara.

"Siap sudah, Nona," ujar Michi sambil menyesuaikan aksesoris kecil di rambut Rara. "Nona sangat cantik," sambungnya memuji membuat Rara tersipu.

"Ayo kita ke meja makan, Tuan sudah menunggu."

"Haruskah kita kesana? Rasanya energiku sudah habis untuk bertemu dia lagi." Keluh Rara mencari alasan.

"Ayolah, Nona. Yakinlah, Tuan tidak semenyeramkan yang Nona bayangkan." Michi tersenyum meyakinkan.

Rara mengangguk walau sebenarnya ia sangat tidak menginginkan pertemuan itu lagi. Tapi, perutnya memberontak, rasa lapar mengalahkan segalanya.

Saat memasuki ruang makan, mata Rara langsung tertuju pada sosok lelaki yang sedang membaca koran di tepi meja besar yang penuh dengan hidangan.

Aksara mengangkat kepala, senyum hangat muncul di wajahnya saat melihat Rara. "Kamu sudah datang. Duduklah."

Rara duduk dengan posisi badan yang sangat tegak, seperti sedang duduk di depan kepala desa di kampung halamannya. Ia melihat berbagai macam hidangan di depan mata—dari nasi hangat, berbagai olahan ayam, buah-buahan hingga makanan manis yang ia tidak tahu nama nya.

"Aku tidak bisa makan semua ini sendirian," ucap Rara pelan.

"Aku juga akan makan bersamamu. Selain itu, ini hanya sebagian kecil dari hidangan yang biasa disiapkan setiap hari," jawab Aksara sambil mulai menyajikan makanan ke piring Rara, ia mengambilkan nasi, dan beberapa lauk pauk. Hal itu sengaja ia lakukan sendiri tanpa menyuruh para pelayannya.

Rara segera menolak. "Aku bisa mengambilnya sendiri!"

Aksara hanya tersenyum dan tetap melanjutkan apa yang ia lakukan. "Seperti yang kubilang, kamu istriku. Layak untuk diperlakukan dengan baik."

"Katakan saja, aku hanya orang desa yang tiba-tiba hidup dalam kemewahan." Ucap Rara dengan nada sedikit tinggi, membuat beberapa pelayan yang ada di sekeliling melihat ke arah mereka.

Aksara menatap Rara lembut. "Jangan berkata begitu tentang dirimu sendiri. Latar belakangmu bukan sesuatu yang perlu kamu sungkani. Itu bagian dari kamu yang membuatmu spesial."

Kata-kata itu membuat Rara terdiam. Tak pernah ada orang yang berkata seperti itu padanya. Di desa, ia bukanlah siapa-siapa, hanya gadis miskin yang setiap hari harus berkutat dalam kejamnya kehidupan, malah sering direndahkan.

"Aku tidak mau jadi beban bagimu," ucap Rara dengan suara yang hampir tak terdengar.

"Aku tidak melihatmu sebagai beban. Aku melihatmu sebagai pasangan hidupku yang belum mengenalku dengan benar," jawab Aksara dengan tatapan yang serius. "Kan aku sudah bilang, sebelum kita menikah, aku pernah melihatmu, melihat kegigihan mu, ketulusan mu dan banyak hal yang membuat aku jatuh cinta."

Rara membuka mata lebar. Ia menyimak dengan seksama apa yang dikatakan Aksara.

"Kamu memang tidak tau. Dalam diam, aku selalu mencari tahu tentangmu sejak hari itu. Ini memang terdengar lancang, tapi aku melakukan itu untuk memastikan kamu baik-baik saja sampai waktu yang terbaik itu tiba."

Rara merasa wajahnya semakin panas. Tangannya secara tidak sengaja menggenggam ujung gaun. Jantungnya berdebar dengan pola yang berbeda dari biasanya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba saja, semua kemarahan dan ketidakpercayaannya terhadap Aksara mulai goyah. "Ada apa dengan perasaanku ini?"

Pintu ruang terbuka dengan lembut, seorang pria berpakaian jas hitam masuk ke ruangan dan menghampiri Aksara, dia Brian—pria muda dengan wajah serius yang selalu menemani Aksara dalam pekerjaan. Susana yang tadinya hangat berubah menjadi hening.

"Maaf mengganggu, Tuan. Ada rapat penting yang harus segera Anda hadiri." Ucap Brian.

Aksara menghela napas dan berdiri. Ia menoleh ke arah Rara. "Aku harus pergi sebentar. Michi akan menemani kamu jika kamu ingin melihat sekeliling rumah, atau mungkin kamu ingin kembali ke kamar."

Rara mengangguk pelan. "Aku ingin berjalan-jalan saja. Mungkin bisa membantu aku mengenal tempat ini."

"Baiklah. Jangan terlalu jauh." Ucap Aksara dengan nada yang sedikit khawatir sebelum pergi bersama Brian.

Michi mendekat dengan senyum. "Sarapan terlebih dahulu, Nona, baru setelah itu aku tunjukkan taman belakang yang indah. Banyak bunga yang sedang mekar sekarang."

"I—iya." Jawab Rara. Matanya membuntuti punggung Aksara yang perlahan semakin menjauh dan menghilang di balik pintu.

Setelah selesai sarapan, Rara berdiri dan mengikuti Michi keluar. Di dalam hatinya, pertanyaan baru muncul,

Bisakah aku benar-benar belajar mencintai lelaki yang sudah menaruh perhatian pada ku jauh sebelum kami menikah? Tapi hal yang serba cepat ini tidak bisa membuat perasaan ku berubah secara cepat juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!